
"Baiklah kalian semua sudah boleh pulang. Ingat tolong di hafal lagi lagu mars sekolah, nanti kita akan menyanyikannya bersama saat upacara"
Murid-murid serentak mengangguk mendengar ucapan dari kakak kelas mereka. Aku yang sedari tadi memperhatikan kakak kelas itu tak sengaja melihat pin logo osis di saku seragamnya. Dia pasti salah satu anak teladan di sekolah, atau bahkan berprestasi. Tapi kalau dilihat dari wajahnya ia seperti anak brandalan. Ia memakai anting di telinga kanannya dan terdapat potongan garis tipis di alis kirinya.
"Hey, mau sampai kapan liatin saya?"
Suara bariton kakak kelas itu membuatku tersentak. Aku kembali tersadar dari lamunanku. Murid-murid telah berhamburan keluar dari kelas, bahkan Angelica pun sudah tak terlihat batang hidungnya.
"Ah, maaf kak"
Aku mulai memasukkan buku-buku ke dalam tas dan segera beranjak keluar dari kelas. Aku bahkan tak berani menatap mata tajam kakak kelas itu, sedikit terlihat menakutkan.
"Kamu yang punya nama unik itu ya, Persephone?"
Penekanan nama Persephone pada ucapannya membuatku sedikit menunduk takut.
"Iya kak"
Ah, suaraku sudah seperti tikus kejepit saking takutnya. Aku melirik sedikit ke arah kakak kelas itu, kini ia berdiri di depanku dengan tangannya yang menutupi mulut. Ia menahan tawa.
"Kenapa kau takut-takut begitu sih?"
Aku menjawabnya dengan gelengan. Aku ingin sekali cepat-cepat pergi dari ruangan ini, tapi apa daya ia menghalangi jalanku.
"Memangnya aku seperti akan makan orang?"
Aku kembali menjawabnya dengan gelengan.
"Kau ingat tidak namaku siapa?"
Kini aku terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan kakak kelas itu. Tadi siapa ya namanya, karena mengantuk aku jadi tidak mendengar dengan jelas saat perkenalan.
"Pastilah kau tak tau, orang sepanjang presentasi kau hanya melamun!"
Aku tersentak kaget mendengar suaranya yang kian meninggi. Ia membuat nyaliku semakin menciut saja.
"Ma..maaf kak"
Aku mengucapkan kata maaf dengan lirih berharap ia akan membiarkanku pergi dari ruang kelas sekarang.
"Namaku Hazel, ingat itu Persephone!"
Ia mengeser sedikit tubuhnya memberiku jalan. Aku segera mengangguk dan berjalan dengan cepat keluar dari ruang kelas. Aku terus berjalan tanpa sedikitpun melihat kebelakang. Aku takut harus melihat tatapan tajam dari kakak kelas yang bernama Hazel itu, tatapannya seakan dengan mudah dapat menerkamku.
...
Sesampainya di parkiran aku segera menuju mobil sedan putih yang sedang terparkir rapih. Aku menarik pintu belakang dan menjatuhkan badanku di kursi mobil.
"Pak, ayo pulang"
Pak kasim yang duduk di depan kemudi melirik ke arahku lewat cermin.
"Tunggu non, nyonya minta saya untuk menunggu tuan Hades juga"
"Hah, untuk apa pak?"
Aku menatapnya bingung, memangnya Hades tidak bisa mengemudikan mobilnya sendiri hingga harus menumpang di mobilku.
"Hmm, saya kurang tau non. Saya cuman disuruh ikut mengantarkannya saja"
Aku mengangguk pasrah. Pasti ini rencana ibu dan bibi Zetha agar aku terus berdekatan dengan Hades. Ah, menyebalkan sekali.
Ceklek
Suara pintu mobil yang ditarik membuatku menatap sepasang mata yang kini duduk di sebelahku. Ia menatapku dengan tatapan tajam seakan ini adalah ulahku.
"Kau kemanakan mobilku?"
Aku membalas tatapan tajamnya dengan rawut bingung. Mana ku tau mobilmu kemana kan sedari tadi aku juga bersekolah, dasar laki-laki aneh.
"Hey jawab, ini pasti ulahmu kan!"
"Kau ngomong apa sih, kau pikir aku mau satu mobil denganmu!"
Aku menjawabnya dengan ketus dan memalingkan wajah menghadap jendela mobil. Jalanan sore yang padat membuat hatiku semakin memburuk. Semakin lama berdekatan dengan Hades membuat jantungku tak terkontrol, ini pasti perasaan dendam terdalam.
"Ratu kau mulai sombong ya!"
"Kau tidak waras ya?"
Aku membalas ucapannya tanpa menoleh sedikitpun. Sayup-sayup terdengan hembusan nafasnya yang kasar. Aku tersenyum puas, ia pasti sedang menahan rasa kesalnya.
"Kau sama menyebalkannya seperti waktu kecil"
Aku memutar bola mataku dengan jengkel. Bukannya yang selalu menyebalkan itu dirimu ya?
"Terserah"
Setelah aku mengucapkan satu kata itu ia terdiam. Sepanjang perjalanan kami sama-sama menatap keluar jendela berharap segera sampai di tempat tujuan.
Mobil melaju dengan cepat memasuki komplek perumahan elit. Aku termangu menatap taman komplek yang menjadi saksi betapa menyebalkannya laki-laki di sebelahku ini. Pak Kasim memberhentikan mobilnya tepat di sebuah rumah mewah bercat putih.
-Ilustrasi rumah Hades-
Setelah mengucapkan terimakasih pada Pak Kasim, Hades segera melangkah keluar. Ia tak menoleh ke arahku dan juga tak mengucapkan kata perpisahan. Aku menatap punggung lebarnya yang perlahan menjauh.
"Langsung pulang ya non?"
Aku mengangguk. Pak Kasim mulai menjalankan mobil keluar dari komplek perumahan ini. Aku menatap nanar rumah lamaku yang terlewati begitu saja. Setelah kejadian yang menimpaku waktu kecil, ibu dan ayah langsung menjual rumah kami dan pindah ke tempat yang cukup jauh. Kami pindah atas usul psikiater yang menangani kondisi psikisku yang terguncang waktu itu. Ia menyarankan agar membawaku mencari suasana yang baru sehingga aku sedikit demi sedikit melupakan kejadian waktu itu.
Kejadian yang membuatku gemetar setengah mati saat menatap orang lain, kejadian yang membuatku mengurung diri dari dunia luar, kejadian yang membuatku kehilangan kepercayaan. Pelaku dari kejadian ini apakah mendapat balasan yang setimpal dengan yang ku alami? tentu saja jawabannya tidak. Agnes dengan senang hati tertawa meninggalkan rumah kami bersama ayahnya. Hades dengan tatapan dinginnya bersikap tak acuh seolah ia tak peduli dengan keadaanku.
Manusia-manusia yang mengerikan itu telah menghancurkan masa kecilku.
Selang 30 menit aku mengutuk kedua orang itu di dalam hati, kini aku telah sampai di pekarangan rumahku. Rumah baru yang kutempati sekarang lebih luas dan lebih megah. Berbagai pepohonan yang rindang membuat hati lebih sejuk. Aku tersenyum seakan emosiku menguap terbawa oleh angin.
-Ilustrasi rumah Persephone-
"Aku pulang"
Teriakanku bergema ke seisi rumah. Aku menatap ibuku yang keluar dari kamarnya sambil menggendong Penelope, adikku.
"Apa kamu lapar Persephone?"
Aku menjawab ibuku dengan anggukan dan segera duduk di meja makan. Ia tersenyum merebahkan tubuh Penelope di sampingku. Aku mencubit kedua pipi adikku yang mengumpal seperti bakpao. Suara rengekan kecil keluar dari mulutnya setiap ku cubit gemas.
"Kau ingin soto ayam atau soto daging?"
"Soto daging saja ibu"
Ibuku tengah sibuk memotong daging, tomat dan kentang. Setelah itu ia menyiramkannya dengan kuah soto santan yang dia ambil dari panci. Bau soto yang menyeruak ke penciumanku membuat perutku semakin meronta-ronta.
"Nah, makanlah nak"
Ibu menaruh mangkuk berisi soto daging tersebut di hadapanku. Tanpa malu aku langsung melahap soto tersebut hingga tak bersisa.
"Enak sekali bu, apa aku boleh tambah?"
Ibuku mengangguk mengisi kembali mangkuk yang telah kosong dengan soto daging.
"Soto ibu memang yang terbaik"
Ibu tersenyum senang menatapku yang mengacuhkan kedua jempol ke arahnya. Penelope yang melihatku mengacuhkan jempol, ikut melayangkan kedua tangannya dan mengepalkan jarinya.
"Haha, Penelope begini caranya"
Aku tertawa sambil membantunya mengangkat kedua jempolnya di udara. Ia menyipitkan matanya dan tersenyum senang. Pipinya bertambah bulat mengikuti senyumnya yang kian melebar. Ah, adikku mengemaskan sekali.
Selesai bersantap aku menaiki tangga dan masuk ke kamarku. Aku merebahkan badanku di sofa dekat jendela yang menghadap ke pekarangan rumah. Hari pertamaku bersekolah di sekolah umum cukup berat. Beberapa kejadian dulu yang ku lupakan seperti kembali menghantuiku. Aku berharap amnesia saja sehingga tak perlu lagi merasa takut untuk berteman dengan orang lain, seperti sebelum kejadian itu.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya! 🖤