Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 18 - Mencari Pelaku



Nathan memberhentikan mobilnya di depan rumah mewah berwarna putih. Rumah Hades tepatnya. Ia menoleh ke arahku dan mengelus kepalaku pelan. Aku tersenyum dan berusaha melepaskan seat belt yang melilit di tubuhku.


"Persephone, kau benar sudah baik-baik saja kan?"


Aku mengangguk kecil. Ekspresi kekahwatiran memenuhi wajah Nathan. Jujur aku jadi merasa tidak enak. Ini pertama kalinya aku menunjukkan sisi lemahku di depan orang lain, selain Hades tentunya.


"Apa kau ingin aku menemanimu dulu disini?"


Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya, seraya mengangguk kecil. Aku sebenarnya malu, tetapi ini lebih baik daripada harus sendirian. Aku takut, ribuan tatapan mengerikan itu kembali menghantuiku. Seakan mereka ingin menarik jiwaku dan membunuhku dalam sepersekian detik. Memang agak lebay, tetapi seperti itu lah rasanya. Sangat menakutkan.


Nathan kembali mengelus rambutku dengan lembut. Darahku berdesir hebat merasakan betapa hangatnya sentuhan yang diberikannya. Bukan sentuhan layaknya sepasang kekasih, namun lebih seperti sentuhan ayahku. Menenangkan dan menghangatkan hatiku.


Cukup lama kami berada di posisi yang sama. Dinginya AC mobil membuatku sedikit menggigil hingga reflek menggertakkan gigi.


"Apa kau kedinginan?"


Aku mengangguk dengan masih menyenderkan pipiku di bahu kekarnya. Nathan melayangkan tangannya untuk mematikan AC mobil. Melihat hal itu aku segera menahan tangannya sembari menggelengkan kepala.


"Tunggu, kita turun aja"


Aku beranjak untuk membuka pintu mobil. Nathan ikut melakukan hal yang sama. Ia mematikan mesin mobilnya dan berjalan keluar sembari membopong tasku di pundaknya. Aku tersenyum kecil, Nathan tampak mengemaskan. Seperti saudara laki-laki yang melindungi adiknya.


Kami menghabiskan waktu berdua di dalam rumah Hades. Jangan mikir yang aneh-aneh ya, kami hanya menonton film sambil menyemil cantik.


kruyuk.. kruyukk..


Aku menutup wajahku yang memerah menahan malu. Bagaimana bisa suara cacing di perutku senyaring itu. Nathan yang mendengar langsung tertawa dengan kencang. Membuatku bertambah malu saja.


"Kau ingin makan tuan putri?"


Aku mengangguk dengan malu-malu. Nathan yang melihat wajahku yang semerah tomat kembali tertawa dengan lebih keras. Tolong berhenti mentertawakanku, inikan hal yang manusiawi.


"Mau ku buatin mie instant?"


Aku segera menggeleng dengan cepat. Aku tidak diperbolehkan makan makanan instant sejak kecil. Katanya organ pencernaanku tidak akan sanggup mengolahnya. Sepertinya kata lemah sudah melekat di dalam jiwa dan ragaku.


"Hm, ada bekal di tasku"


Aku menunjuk ke arah tasku yang sudah tergeletak di atas sofa. Nathan segera meraih dan merogoh isi tasku. Ia mengeluarkan sekotak makan yang berisi nasi dengan opor ayam. Harum opor ayam membuat cacing di perutku semakin meronta-ronta. Ternyata tak hanya aku yang merasa tergiur, buktinya sekarang Nathan tengah mengusap ujung bibirnya yang menyeces karena juga tak tahan akan harum semerbak itu.


"Ayo kita bagi dua"


Opor ayam masakkan Tante Zetha ludes dalam hitungan menit. Baik aku dan Nathan sama-sama tersenyum puas dan mengusap perut kami yang sudah kekenyangan.


"Nathan, terimakasih"


Ucapku sambil tersenyum tulus menghadapnya. Tiba-tiba saja Nathan menarik tanganku dan mendekapku erat. Aku sedikit terkejut melihat tindakannya yang secara tiba-tiba itu. Namun karena perasaan hangat mengalir ke tubuhku, aku jadi merasa tak berdaya untuk melepaskan pelukan itu.


"Kau tidak perlu berterimakasih, ini menjadi tugasku untuk melindungimu"


Bisiknya lembut di telingaku. Aku tersenyum dan membalas pelukan itu dengan sama eratnya. Aku merasa beruntung dapat mengenal laki-laki ini. Ia seperti melengkapi diriku yang sudah hilang separuhnya. Ia seperti menghancurkan sisi kelamku dan mengantikannya dengan cahaya mentari. Nathan kau adalah raja matahariku.


...


Saat aku dan Nathan tengah asyik memainkan PS di ruang tamu, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Aku dan Nathan sama-sama menoleh kebelakang. Aku sedikit terkejut dengan pemandangan yang ku saksikan saat ini. Bagaimana bisa Hades, Angelica, dan bahkan Hazel kini berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Sejak kapan mereka menjadi dekat seperti ini. Bukankah sebelumnya Angelica tampak membenciku. Kenapa sekarang rawut wajahnya seakan cemas dengan keadaanku. Sungguh aku tidak bisa mengerti jalan pikirannya.


"Persephone, kamu baik-baik saja kan?"


Angelica segera berlari dan merengkuh tubuh kecilku ke dalam pelukannya. Aku tersenyum, sepertinya aku telah salah menilainya. Ternyata Angelica tidak membenci diriku.


"Aku baik-baik saja, apakah hari ini tugas sekolahnya banyak?"


Angelica segera mengerucutkan bibirnya. Ia telah berganti posisi duduk di sebelahku. Melihat ekspresinya membuatku tersadar. Sepertinya aku telah salah menanyakan hal ini kepada sang ratu molor. Bahkan setiap hari Angelica seperti benalu yang menumpang menyalin tugas milikku.


"Hm, lupakan pertanyaanku barusan. Kenapa kalian semua berkumpul disini? Dan sejak kapan kalian dekat dengan Kak Hazel?"


Aku memicingkan mata menatap mereka bergantian. Sebelum menjawab pertanyaanku, mereka mulai mencari posisi terenak di atas sofa empuk berwarna hitam. Setelah mulai merasa nyaman, Hazel membuka suaranya untuk menceritakan pertemuan mereka di sekolah.


- Flashback on -


Sepulang sekolah, Hazel mencari keberadaan gadis yang menamparnya saat istirahat. Ia ingin menanyakan kejadian penting yang sepertinya telah ia lewatkan. Sungguh ia tidak mengetahui hal apa yang telah menimpa Persephone. Ia sendiri terkejut dengan tamparan dan tatapan sinis adik kelas yang menuduhnya telah menyakiti gadis mungil berambut perak itu.


"Tunggu!"


Hazel menahan pergerakkan Angelica yang tengah terburu-buru keluar dari dalam kelasnya. Angelica memang bukan adik kelas yang menamparnya tadi, tetapi itu bukanlah sebuah masalah. Yang ia butuhkan sekarang adalah sebuah kebenaran mengenai hal yang telah menimpa Persephone.


"Tolong ceritakan padaku apa yang telah terjadi pada Persephone"


Melihat tatapan melas Hazel, Angelica sekuat tenaga menelan bulat-bulat amarah di dalam dirinya. Ia menghembuskan napas kasar dan menyuruh Hazel mengikutinya menuju UKS untuk menjemput Hades.


Waktu istirahat, Angelica memang sempat menengok laki-laki es balok itu. Mereka sudah sepakat untuk membantu Persephone menyelesaikan masalah yang tengah menimpanya. Dan juga menutup rapat mulut Angelica akan rahasia yang disembunyikan Hades selama ini.


Angelica mendekat dan menguncang tubuh Hades pelan. Hades yang merasa tidurnya terganggu segera mengerjapkan kedua matanya. Ia menatap Hazel dihadapannya dengan tatapan membunuh. Ia merasa amat marah pada kakak kelas itu karena telah membuat Ratunya tersakiti.


"Tenanglah Hades, sepertinya Kak Hazel tidak tau apa-apa mengenai kejadian ini"


Hazel segera mengangguk mengiyakan pernyataan Angelica. Ia mengambil ancang-ancang mundur beberapa langkah sebelum Hades membuat dirinya babak belur.


"Pagi ini aku ditarik Nadine, wakil osis untuk membantunya membuat proposal demo ekstrakulikuler di ruang osis"


Ucap Hazel cepat dengan sekali tarikkan napas. Tentu saja ia takut kalau-kalau Hades memberikan bogem mentah padanya, seperti Nasya yang tiba-tiba memberikan hadiah tamparan cantik di pipi kirinya.


"Nadine? Gadis yang berambut hitam legam itu?"


Hazel mengangguk menjawab pertanyaan yang diajukan Angelica.


"Bukankah dia cukup dicurigai?"


Tanya Angelica sambil mengusap-ngusap dagunya. Hades segera bangkit dari atas ranjang UKS. Ia tampak merapikan rambutnya yang acak-acakkan.


"Selebaran itu ditulis tangankan?"


Pertanyaan Hades ini membuat Angelica tersenyum kecut. Benar juga, selebaran itu adalah bukti kuat untuk mencari pelaku yang membuat Persephone menjadi biang bully. Tetapi sayangnya selebaran itu telah menjadi serpihan-serpihan kecil akibat amarahnya yang tak terkontrol.


"Selebaran itu sudah ku musnahkan"


Hades menghela napas kasar. Sementara Hazel hanya bisa menatap keduanya dengan bingung. Ia tidak mengerti selebaran apa yang sedang diperbincangkan kedua insan itu.


"Boleh ceritakan padaku dulu masalahnya?"


Ucap Hazel sembari menggaruk tengkunya yang tidak gatal. Angelica segera menceritakan segala hal yang menimpa Persephone pada Hazel. Hazel yang mendengar keseluruhan cerita itu tampak menahan geram.


"Aku tau siapa pelakunya"


Ucap Hazel singkat yang membuat Angelica dan Hades menatapnya dengan tatapan penasaran campur tidak percaya.


"Siapa?!"


Pekik Angelica yang sudah setara dengan suara teriakkan Mariah Carey.


"Pokoknya kita samperin Persephone dulu sekarang. Apa kau tau dia ada dimana?"


Hades mengangguk dengan cepat. Ia sudah mendapatkan pesan dari Nathan bahwa Persephone sudah aman bersamanya di rumah.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita semperin Persephone!"


Ucap Angelica yang dibalas dengan anggukan kedua laki-laki itu.


- Flashback off -


"Intinya kami saling bertemu saat mencari pelaku dari masalah ini"


Ucap Hazel singkat tanpa menceritakan pertemuan mereka secara detail. Aku hanya bisa mengangguk dengan antusias. Tentu saja aku juga ikut penasaran dengan hasil penyelidikan yang dilakukan mereka.


"Bagaimana, apakah kalian sudah tau pelakunya?"


Tanyaku sembari memasang wajah berbinar-binar berharap bahwa mereka telah menemukan pelaku dari masalah ini.


"Tentu, waktu kita sedang antri membeli minuman Kokoro aku melihat Lucy yang merupakan sahabat dekatnya Nadine juga berada disana"


Hazel menjawab pertanyaanku santai sembari melipat kakinya ala bos. Lucy, Nadine siapa lagi? Apa dia tidak bisa menceritakannya lebih spesifik?


"Jadi maksudmu ini ulah wakil ketua osis kita, Nadine?"


Tanya Hades yang memperjelas ucapan Hazel. Oh, Nadine itu wakil ketua osis. Kalau beginikan aku jadi tidak bingung sendiri.


"Bukan, biang masalahnya adalah Lucy. Dia adalah mantan gebetanku yang sebelumnya ku tolak. Sementara Nadine hanya berperan sebagai pembantu untuk mengalihkanku ke masalah osis"


Aku menghela napas mendengar penuturannya itu. Mengapa semuanya menjadi sangat rumit. Padahal aku hanya ingin lebih dekat dengan Hazel. Ternyata hal itu malah membuatku terjerat dalam masalah percintaannya. Apakah semerepotkan ini saat menjalin hubungan dengan orang lain. Kalau memang ia, aku lebih memilih menjadi anak yang tertutup seperti dulu. Terhindar dari segala masalah sosial dan hidup dalam ketentraman.


.


.


.


.


Gimana guys, apakah terlalu mudah bagi Hazel untuk menemukan pelaku dari masalah ini? Kalau memang ia tulis di komen dan tunggu kejutan di chapter selanjutnya ya! Makasih 🖤