
[Hades POV]
Aku termangu menatap wajah yang kian bertambah kusam di depan cermin. Jantungku terus berdetak tidak sabaran.
Pagi ini Ibuku, Zetha memberikan kabar yang sangat membahagiakan untukku. Persephone telah keluar dari tempat yang bagaikan neraka itu. Selama 3 bulan aku menunggu, akhirnya aku bisa kembali bertemu dengan gadis pencuri hatiku.
Aku membuka lemari menatap sebuah kotak merah yang telah lusuh, sudah 4 tahun lamanya dia mendekam disana. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan segalanya. Sebelum pergi, Agnes memang sempat menitipkan barang ini untuk Persephone, namun aku belum memiliki keberanian untuk memberikannya. Hingga hari ini, aku sudah siap. Aku sudah siap untuk membuka fakta yang selama ini ku kunci rapat itu.
Aku sudah tidak peduli bagaimana cara Persephone melihatku setelah ini. Yang pasti kali ini aku ingin berkata jujur. Aku sudah lelah berbohong dan menyimpan segalanya di benakku. Aku tidak mau bersikap egois lagi, aku juga ingin dia mengerti kondisiku.
"Hades, apakah kamu sudah siap?"
Aku menghela napas. Sembari menggenggam kotak itu aku keluar mendekati ibu yang dengan rapihnya menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna merah. Begitu juga dengan ayah yang memakai kemeja dengan warna senada. Mereka terlihat sangat serasi dan romantis, seperti pasangan ABG.
"Iya, ayo berangkat bu"
...
Aku turun dari mobil dan melangkah dengan gugup memasuki pekarangan rumah Persephone. Disini udaranya sangat sejuk, membuatku terlena melihat daun-daun yang berguguran jatuh mengotori halaman serta kursi kayu yang berdiri kokoh disana.
"Hades, kamu sedang melamunkan apa?"
Aku terlonjak, menatap ibu yang sudah berdiri mendahuluiku. Aku hanya meresponnya dengan gelengan kecil dan ikut berdiri di sampingnya sembari menekan tombol bel berwarna putih.
Ceklek..
"Wah, kalian sudah datang ayo masuk"
Tante Millen menyambut kehadiran kami dengan senyum yang hangat. Ia menggiring kami menuju meja makan yang penuh dengan berbagai hidangan lezat.
"Tante, dimana Persephone?"
Aku menatap sekeliling rumah berharap ada sosok gadis berambut perak disana. Namun, nyatanya aku tidak menemukan sosok itu. Apakah benar dia sudah kembali?
"Dia ada di atas, biar tante panggilkan ya?"
Aku mengangguk seraya melangkah dan menaruh kotak lusuh yang sedari tadi ku genggam di atas meja ruang tamu. Aku menatap gadis mungil yang juga berambut perak sedang duduk selojoran di atas sofa. Pipinya yang menggumpal bagaikan roti awan membuatku gemas ingin mengigitnya.
"Eughh"
Dia melengguh pelan saat kedua pipinya ku renyuk-renyuk. Sungguh gadis cilik ini mirip sekali seperti Persephone waktu kecil. Namun yang membedakan adalah gumpalan lemak yang menyelimuti tubuhnya yang mungil ini.
Dulu waktu Persephone masih kecil, tubuhnya sangat kurus bahkan seperti anak yang kekurangan gizi. Mungkin penyebabnya karena dia sangat rentan dengan penyakit.
"Hades, coba kau temui Persephone, dia sangat gugup untuk bertemu denganmu"
Aku menarik kedua tanganku dari gumpalan lemak di pipi Penelope, adik kandung Persephone. Aku bangkit berdiri dan menjalankan titah Tante Millen untuk menemui Persephone di atas sana. Sebenarnya tak hanya Persephone yang merasa gugup, aku pun juga merasakan hal yang sama.
Aku bingung harus beraksi seperti apa saat bertemu gadis yang selama ini bersemayam di pikiranku itu. Apakah aku harus bertingkah seperti biasanya untuk menghilangkan kecanggungan ini? Bertingkah seperti Hades yang menyebalkan di mata Persephone. Ah, terserahlah yang penting aku ingin melepas rinduku terlebih dahulu.
Aku segera mengetuk pintu kamar Persephone dengan hati-hati. Di dalam hati aku berdoa agar Persephone sudah merasa lebih baik. Kurasa 2 bulan sudah cukup untuk memulihkan pikirannya yang kacau akibat kematian Amelie.
Ceklek...
Jantungku berdetak tidak karuan menatap gadis berambut perak yang berdiri di hadapanku. Bagaikan adegan slow motion, aku memperhatikan setiap sudut wajahnya yang kurindukan. Mulai dari sepasang mata indahnya, hidung mancungnya, dan juga bibir merah ranumnya yang bagaikan candu itu.
Sial, aku ingin menciumnya. Tahanlah Hades!
Aku memalingkan wajah dan mengontrol ekspresiku agar tetap datar.
"Kau sudah ditunggu di bawah"
Ucapku datar sembari melemparkan pandangan ke arah tembok di sampingku.
"Iya"
Aku membuang napas legah saat melihat pintu berwarna putih itu kembali tertutup. Percayalah aku sudah mati kalau memiliki riwayat penyakit jantung. Suara detakannya bahkan terdengar nyaring di telingaku.
"Persephone, cepatlah!"
Teriakku yang tidak sabaran untuk kembali melihat wajahnya. Aku pasti sudah gila, bagaimana bisa aku kecanduan pada gadis lugu itu.
Ia kembali membuka pintu dan menatapku tanpa berkedip. Wajahnya perlahan mengkerut. Memangnya ada sesuatu di wajahku? Apakah aku bertambah jelek dengan wajah yang kusam ini?
"Jangan memandangiku"
Ucapku sembari berlalu dari hadapannya. Aku tidak mungkin menunjukkan wajah salah tingkah ini, sangat memalukan.
...
Aku melihat Persephone yang perlahan menarik bangku dan duduk di sampingku. Wajahnya ditekuk cemas membuatku jadi merasa bersalah. Apakah dia merasa tertekan karena berdekatan denganku? sebegitu bencinya kah dia padaku?
"Bagimana kalau pertunangan kalian dipercepat? Sepertinya minggu depan adalah waktu yang pas, tepat pada libur pengambilan rapot semester 1"
Aku menghentikan makanku sembari menatap Persephone yang melotot ke arah Paman Navero. Dia pasti merasa sangat tertekan. Bagaimana bisa Paman Navero membahas soal pertunangan disaat Persephone masih belum pulih.
"Aku gak setuju"
Ucapku singkat sembari menyenderkan badan ke peyangga kursi dan melipat kedua tanganku di depan dada untuk menghilangkan rasa gugup.
"Gak bisa, kami gamau mendunda lagi!"
"Ayah, Hades gamau!"
Aku menautkan kedua alisku dan memasang wajah cemberut. Persephone semakin gelisah, membuatku jadi tidak enak hati karenanya.
"Aku permisi dulu"
Kami semua terdiam memandangi Persephone yang melangkah naik menuju kamar tidurnya. Aku mengacak rambutku frustasi, semuanya jadi kacau karena ulah ayah dan Paman Navero.
"Ayah, tolong jangan paksa Hades seperti ini. Aku akan medekati Persephone tetapi secara perlahan. Aku ingin membuatnya nyaman bersamaku"
Aku berucap setengah berteriak membuat ayah mengatupkan tangannya di depan wajah.
"Kapan kamu akan jujur pada Persephone?"
Pertanyaan yang diajukan Tante Millen, membuatku teringat kontak lusuh yang ku tinggalkan di meja ruang tamu.
"Aku berniat mengatakannya hari ini, aku bahkan membawa titipan Agnes yang dia berikan padaku 4 tahun yang lalu"
Aku segera bangkit dan sedikit berlari mengambil kotak lusuh itu di meja ruang tamu. Aku menyerahkannya pada Tante Millen. Ini sudah waktunya dia tau, bahwa keponakannya itu sesungguhnya telah menyesali perbuatannya.
"Hades, tak seharusnya kamu menyembunyikan barang ini dari Persephone!"
Aku menunduk mendengar bentakan yang keluar dari mulut Tante Millen. Aku memang egois dan patut untuk disalahkan.
"Maaf, kali ini aku sudah siap untuk jujur padanya"
Ucapku lirih tanpa berniat untuk mengangkat kepalaku.
Aku tersentak kala merasakan sebuah tangan merengkuh tubuhku. Bau khas Persephone juga tercium dari tubuh Tante Millen, membuatku merasa nyaman dan hangat.
"Tante percaya padamu, cepat sana hampiri Persephone"
Aku mengangguk sembari tersenyum tipis. Aku melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Persephone. Sesampai di depan pintu kamarnya, aku memegang dada sembari menghembus nafas gugup. Come on Hades, u can do this!
"Persephone"
Aku mengetuk pintu kamar Persephone sembari meneriaki namanya dengan lembut.
Selama 5 menit aku mengulang hal yang sama, namun tetap tidak mendapatkan respon. Apa Persephone sedang mandi?
Tok.. Tok..
Aku kembali mengetuk pintu kamar tersebut. Sudah 15 menit berlalu, namun tetap tak ada jawaban dari dalam sana. Apa gadis itu sedang mengabaikanku?
Ceklek..
Aku membuka pintu kamar Persephone yang ternyata tak terkunci. Tanpa permisi aku melangkah masuk mencari sosok gadis berambut perak itu.
Aku terlonjak saat menatap baju-baju Persephone yang berserakan di atas ranjang dan juga karpet. Aku mengintip sedikit ke dalam lemari yang sudah kosong tak menyisakan satu barangpun. Tas dan aksesoris kesayangannya juga ikut menghilang bersamaan dengan pemiliknya.
Sial, kemana ratu?! Apakah dia melarikan diri dariku? Sebegitu tak sukanya kah kau ditunangkan denganku hingga menghindar seperti ini. Sungguh kekanak-kanakan sekali!
Aku menatap sebuah buku binder hitam yang tergeletak di atas nakas. Sejak kapan Persephone suka menulis diary.
Kalau saja dia menyayangiku
Dia tidak akan meninggalkanku
Bahkan untuk yang kedua kalinya
Kalau saja dia merindukanku
Dia pasti akan mencari seribu cara untuk bertemu denganku
Dia pasti akan memberiku kabar
Lewat surat atau apapun itu yang membuatku tak merasakan penderitaan ini
Menunggu ternyata adalah hal yang paling sulit
Ck, bodoh. Kau bodoh sekali Persephone!
Aku mengusap sudut kedua mataku yang sudah berlinang air mata. Aku benar-benar menyayangimu bodoh. Aku juga sangat-sangat merindukanmu hingga frustasi rasanya memikirkanmu setiap waktu.
Maaf kalau aku tidak pernah mengunjungimu. Maaf karena membuatmu terus menungguku. Aku bukannya tidak ingin, tetapi aku tidak bisa. Tempat itu menyisakan kejadian kelam yang terus menghantuiku setiap waktu.
Kau pasti akan mengetahui alasannya sebentar lagi. Aku tidak akan menyembunyikannya lagi. Kembalilah ratuku.
[Hades POV - END]
.
.
.
.
Hades terlalu Tsundere sih, makanya Persephone jadi salah paham terus ðŸ˜