
"Persephone, bangun dong!"
Aku menggeliat kekanan dan kekiri saat merasakan sebuah tangan mungil mengguncang tubuhku. Siapa sih yang sedang menganggu tidur nyenyakku.
"Duh, ntar dulu bu, Persephone masih ngantuk"
Plak
Aku tersentak dan melotot ke arah gadis yang berdiri sembari bertolak pinggang di sampingku. Loh kok, ada Sarah. Aku lagi mimpi ya?
"Aku gamau anterin ke stasiun nih"
Aku menepuk jidatku dengan kasar seraya bangun dan bergegas membersihkan diri. Bodoh sekali Persephone, bisa-bisanya kau enak-enakan tidur. Aku bahkan lupa kalau sekarang aku sedang kabur dari rumah.
"Tolong ambilkan bajuku, Sarah!"
Teriakku dari dalam kamar mandi. Sarah datang mengetuk pintu dan menyodorkan satu set pakaian casual kepadaku.
Setelah selesai memakai pakaian dan mengikat rambutku berbentuk bun. Aku segera menarik koper menuju ruang tamu.
Tante Hana, ibu Sarah menyapaku dan menawarkan sarapan bersama terlebih dahulu. Kami bercengkrama dengan santai. Tentu saja Tante Hana tidak tau kalau aku sedang kabur, kalau tau mungkin dia sudah mengirimku kembali ke rumah.
"Jadi kamu akan tinggal lama di Jogjakarta?"
Aku mengangguk sembari mengunyah roti gandum berselai stroberi. Tante Hana taunya aku akan tinggal bersama pamanku di Jogjakarta, ini usul dari si cerdas Sarah. Entahlah dia cerdas atau memang pandai menipu.
"Wah sayang sekali ya, Sarah harus berjauhan dengan sahabatnya"
Aku terkekeh sembari melirik Sarah yang acuh tak acuh. Dasar anak itu, aku tau dia sedang menutupi kesedihannya karena harus terpisah denganku yang notabenya sahabat baiknya ini.
"Sudahlah ayo, nanti kau ketinggalan kereta"
Ucap Sarah setelah meneguk habis susu coklatnya. Aku mengangguk dan beranjak dari meja makan untuk menyalim tangan Tante Hana. Tante mencium kedua pipiku dan mengusap lembut pucuk kepalaku. Dia merapalkan doa di telingaku, agar sampai di tempat tujuan dengan selamat.
...
"Sarah, aku baru tau kalau kau bisa mengendarai motor"
Aku menatap jalanan yang ramai dengan orang-orang berpakaian kantor. Sarah tak bergeming, mungkin dia tidak mendengar suaraku. Kami masing-masing menggunakan helm kodok yang menutup pendengaran kami.
"Sarah kau tak apa-apa membolos sekolah, karena mengantarku?"
Sarah masih diam tak bergeming, membuatku geram dibuatnya. Aku menepuk helm sarah dengan keras. Dia menoleh dan memberhentikan motornya di tepi jalanan.
"Apa?"
Sarah melepas helmnya dan menatapku dengan rawut wajah yang kusut. Ada sisa-sisa air di kedua sudut matanya. Hatiku berdenyut, apakah Sarah menangisi kepergianku?
"Sarah?"
ucapku lirih sembari menyapu air matanya dengan ibu jariku.
"Kau harus menjaga diri dengan baik ya, selalu kabari aku"
Aku tersenyum tipis dan memeluk tubuhnya dari belakang. Perlahan air mataku ikut menetes membasahi pundak Sarah.
"Aku pasti akan selalu menghubungimu Sarah"
Sarah mengangguk dan melepaskan pelukanku. Dia kembali memakai helmnya seraya membalikkan badan dan menyalakan motor.
"Stasiunnya udah deket"
Sarah menjalankan motornya dengan kecepatan yang tinggi, membuatku beberapa kali terpekik saat dia menghentikan lajunya mendadak.
"Sarah pelan-pelan dong, aku masih mau hidup!"
Aku berteriak sembari menepuk pundaknya. Aku bisa mendengar suara kekehannya samar-samar, sepertinya dia memang sengaja ingin menakut-nakutiku.
...
"Sampai jumpa Sarah"
"Cepat atau lambat aku pasti akan kembali!"
Teriakku sebelum benar-benar masuk ke dalam kereta.
Aku mencari nomor bangku yang tertera dalam tiketku. Ternyata bangkuku tepat di samping jendela sebelah kanan, dan aku tidak duduk sendiri. Ada seorang gadis yang berpakaian rapih sembari asik membaca buku bersampul coklat disana.
"Permisi"
Dia menoleh dan tersenyum padaku. Ia memberiku ruang untuk masuk terlebih dahulu, dia juga membantuku untuk mengangkat koper ke dalam cabin.
"Terimakasih, namaku Persephone"
Aku mengulurkan tangan ke hadapan gadis itu. Dia menjabat tanganku seraya tersenyum manis.
"Namaku Carolina, salam kenal"
Kami saling bercakap-cakap selama perjalanan. Sudah 2 jam kami lewati dengan saling bertukar cerita. Carolina, gadis itu ternyata sedang merantau untuk mencari pekerjaan di Jogjakarta. Dia gadis yang sangat pemberani dan mandiri. Aku ingin menjadi sepertinya.
"Kak Carol, mari kita bertukar nomor telepon"
Aku menyimpan nomornya di kontak telepon genggamku, dan begitu pula dengannya yang menyimpan nomorku. Aku cukup senang dan tak menyangka akan mendapatkan teman yang lebih dewasa dariku. Dia bahkan memberiku beberapa tips sebagai anak rantau.
"Kau masih muda sekali, apakah ada masalah sehingga kau pergi dari rumah?"
Aku tersenyum kecut. Apakah aku harus menjelaskan alasan kepergianku pada orang yang baru ku temui ini? Sebenarnya alasanku cukup sepele bukan? ini hanya seputar masalah hati dan ego seorang manusia.
"Kalau kau tidak mau membertahuku juga tidak apa-apa, tetapi jangan terlalu larut dalam sebuah masalah. Terkadang kita harus terus melangkah maju dan melupakannya"
Aku tersenyum dan mengangguk. Carolina adalah sosok yang sangat menawan bagiku. Perkataannya seakan terngiang dan mengena di dalam hatiku. Aku harus terus melangkah maju. Aku tidak boleh terpaku pada masalah yang sudah berlalu. Aku harus mencoba melupakan Hades, kisah masa kecil kami yang kelam dan juga kematian Amelie.
Aku menatap keluar jendela. Aku melihat pepohonan dan juga sungai yang mengalir jernih. Aku ingin menjadi tumbuhan yang hidup dengan bebas. Menjadi dirinya sendiri tanpa harus takut pada pandangan orang lain.
Aku ingin menjadi Persephone yang berani dan tak mengenal rasa takut. Aku ingin menjadi Persephone yang berdiri kokoh sendiri tanpa bantuan orang lain. Aku ingin menjadi pribadi yang kuat tidak merengek dan mudah menangis. Aku ingin mencoba membuang semua rasa takut dan semua hal yang membelengguku. Aku ingin melangkah, meskipun harus meninggalkan orang yang ku sayangi. Meskipun harus merelakan hatiku saat ini.
Hades, kamu pasti senang bukan? Aku tidak akan lagi menjadi benalumu. Sekarang kita bisa hidup bebas, menemukan jati diri kita masing-masing. Hades, aku tinggalkan buku binder hitam milikku agar kau melihatnya. Agar kau mengetahui isi hatiku yang tak sempat ku sampaikan ini. Apakah kau melihatnya?
Aku sangat merasa senang, aku bahagia. Seakan aku telah memutar waktu sebelum kejadian menyakitkan itu datang menghantuiku. Aku telah membuang semua obat menjijikan itu. Aku terbebas dari dalam sangkar dingin yang sunyi. Aku terbebas dari pandangan orang-orang yang mengerikan itu. Aku sembuh, dan aku sangat bahagia sampai ingin berteriak rasanya.
Ku pejamkan mataku, aku bisa melihat mereka orang-orang yang ku sayangi ikut tersenyum bahagia. Hades, Nathan, dan Dylan tengah bermain PS dengan asyiknya. Angelica dan Nasya sedang berbincang-bincang mengenai laki-laki impian mereka. Ibu, Ayah, dan Penelope yang sedang makan bersama dengan tawa bahagia mereka. Tanpaku, mereka lebih bahagia. Dan aku juga ikut bahagia karenanya.
...
"Persephone aku ada roti, apakah kau mau?"
Aku mengusap kedua mataku yang baru saja terbuka. Leherku sakit sekali karena terlalu lama menyender pada posisi yang sama. Entah sudah berapa lama aku tertidur, mungkin sekitar 3 sampai 4 jam.
"Boleh kak, sekarang sudah jam berapa?"
Aku mengambil sepotong roti berisi keju dari tangan Carolina sembari tersenyum.
"Sudah jam 5, 2 jam lagi kita akan sampai"
Aku mengangguk seraya melahap roti keju itu. Aku kembali melempar pandanganku ke luar jendela. Ternyata sekarang kami sudah memasuki permukiman, aku bisa melihat rumah dan jalanan yang terselimuti mentari dari sini.
Ah, lagi-lagi hatiku terasa seperti ini. Berat, seakan ada berton-ton barang yang menimpanya. Aku tidak bisa menutupinya, sepertinya melangkah maju sulit bagiku yang terbiasa dimanja. Kalau aku bilang tidak rindu dan tidak sedih munafik namanya. Menjadi seseorang yang tak diinginkan kehadirannya cukup menyakitkan untukku. Aku ingin sekali menangis dan meraung. Tetapi aku tidak mau melakukannya, karena ini adalah pilihanku sendiri. Pilihanku untuk menjadi Persephone yang baru. Merajut lagi kehidupanku yang sebelumnya telah rusak.
Aku menatap pergelangan kiriku yang telah dihiasi gelang dengan liontin berbentuk bulan sabit. Mungkin dalam perjalanan ku ini, aku juga bisa bertemu lagi dengannya. Saudara sepupuku, Agnes. Aku ingin mendengar langsung permintaan maafnya kepadaku, bukan lewat surat atau omongan orang lain. Aku ingin kami kembali bermain seperti dulu. Aku juga penasaran dengan rupanya, mungkin sekarang dia sudah bertumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik. Ah, semoga Tuhan mempertemukan kami.
.
.
.
.
TBC🖤