Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 34 - Kisah Persephone dan Hades



Aku tersenyum saat membuka surat yang selalu dikirimkan untukku hampir setiap minggu. Di depan amplop tertulis nama pengirimnya. Sarah, sahabatku yang berada di Jakarta.


Memang agak aneh karena kami masih berkiriman surat pada jaman dimana teknologi sudah sangat canggih ini. Tetapi kami terpaksa melakukannya karena aku harus menonaktifkan handphone agar ayahku tidak bisa melacaknya. Aku masih belum siap untuk kembali pulang.


Sudah 2 tahun berlalu, seharusnya teman-temanku akan merayakan kelulusan mereka beberapa hari lagi. Ah, rasanya sedikit menyesakkan. Aku juga ingin melihat mereka yang terbalut gaun berwarna-warni bagaikan seorang putri dan jas yang melekat pas bagaikan seorang pangeran. Siapa pasangan yang akan bersanding dengan Hades di acara Prom Night? Sial, kenapa aku jadi merasa tidak ikhlas begini. Kalau aku tidak pergi, posisi itu seharusnya milikku!


"Persephone, ini buku yang kau minta"


Aku menoleh pada Michael yang secara tiba-tiba masuk ke dalam kamarku, sembari menyodorkan sebuah buku bersampul kuno.


"Ah, terimakasih kak"


Aku mengambil buku itu dengan hati-hati. Seraya membaca judul buku itu dengan perasaan yang tidak bisa ku artikan. Sakit dan rindu secara bersamaan, sebenarnya ada apa denganku?


"Aku tidak tau mengapa kau ingin membaca mitologi yunani, apakah karena namamu termasuk di dalamnya?"


Tanya Michael yang sudah mengambil tempat duduk disampingku dan menatapku lekat. Aku tersenyum pahit, aku hanya ingin mencari kebenaran antara kami, setelah mendengar cerita dari mulut Tante Zetha kemarin.


- Flashback on -


Di pagi yang terik ini, Persephone tengah sibuk membersihkan kandang kuda. Meskipun Paman Brian dan Tante Elena sudah sering melarangnya, Persephone tetap merasa tidak enak harus bergantung pada keluarga itu tanpa membantu sedikitpun. Setidaknya dia bisa mengurangi pekerjaan Paman Brian dengan membersihkan kandang kuda dan memberi makan kuda-kuda peliharaannya.


"Persephone, ada orang yang mencarimu di depan"


Persephone menoleh, tampak seorang gadis berparas imut dengan rambut yang terkuncir dua. Dia adalah Gabriella, adik angkat dari Michael. Entah mengapa Paman Brian dan Tante Elena menamai semua anaknya dengan nama malaikat, apa mungkin karena keluarga ini sangat taat pada agama? Bahkan Persephone tidak pernah melihat mereka melewatkan ibadah sekalipun.


"Ah iya, tunggu sebentar Erika"


Persephone dengan sigap membersihkan pakaiannya yang terkena kotoran. Dia juga melepaskan sarung tangan dan mencucinya terlebih dahulu, sebelum kembali masuk ke dalam rumah.


"Astaga Persephone!"


Persephone terkejut, menatap kedua wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Tiba-tiba saja air matanya menetes, saat salah satu dari mereka mulai memeluk tubuh mungilnya.


"Ibu"


Ucap Persephone dengan suara yang bergetar. Millen tersenyum dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, setelah 2 tahun akhirnya dia menemukan anak sulungnya yang menghilang.


"Persephone, ibu sangat merindukanmu"


Gumam Millen sembari terus memeluk anaknya itu.


"Persephone, kau tidak mau memeluk tantemu yang satu ini?"


Persephone menoleh pada Tante Zetha yang tengah asyik memangku Gabriella sembari mengemili kue kering. Dimanapun dan kapanpun wanita paruh baya itu selalu bersikap santai.


"Mengapa ibu dan Tante Zetha bisa sampai kesini?"


Tanya Persephone yang sudah mendaratkan bokongnya di salah satu sofa yang berhadapan langsung dengan Tante Zetha.


"Tentu saja untuk mencarimu, untung saja Karen dengan baik hati mau memberitahu kami"


Persephone menghela napas, ternyata bersumber dari Karen. Sahabat tuna netranya itu memang sudah kembali ke Jakarta beberapa bulan yang lalu, untuk melanjutkan sekolahnya yang sempat tertunda. Sementara Persephone, dia belum berniat untuk melanjutkan pendidikannya saat ini.


"Persephone, dengarkan tante. Ada hal yang seharusnya kamu tau dari awal, ini mengenai kamu dan Hades"


Persephone menahan napasnya. Apakah ini menganai rahasia yang selalu Hades kunci rapat itu? Apakah Persephone sudah siap menerimanya? Persephone takut kebenaran ini akan membuatnya merasa bersalah.


"Memberi nama anak Persephone dan Hades adalah sebuah kesalahan. Kau tau Persephone, waktu kecil kau adalah anak yang memiliki kondisi fisik lemah. Kau sering jatuh sakit dan membuat Hades juga sakit karenamu"


Persephone mengernyit, dia tidak mengerti apa maksudnya? Apakah karena Hades tertular penyakitnya?


"Bukan tertular, tetapi kalian seperti terhubung. Disaat kau sakit, Hades juga akan jatuh sakit. Disaat kau merasa sedih, Hades juga sama menderitanya"


Persephone terdiam, dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Tante Zetha tersenyum, sebelum melanjutkan ceritanya.


"Apa kau ingat kecelakaan yang menimpamu waktu kecil, saat kau terjatuh dari ayunan karena Hades?"


Persephone melonggo, itu sudah lama sekali. Bukankah hanya dia yang mengetahui bahwa Hadeslah penyebabnya? Waktu itu Hades kan berbohong dan menyebutkan bahwa kecelakaan itu adalah ulahnya sendiri.


"Hades selalu dihantui rasa bersalah akibat kejadian itu, dia bahkan harus mendekam di Rumah Sakit Jiwa untuk meredam kecemasannya"


"Lalu, mengapa Tante dan ibu harus berbohong pada Hades saat aku mendekam di Rumah Sakit Jiwa?"


Tanya Persephone yang masih merasa janggal dengan sikap Tante Zetha dan Millen, ibunya.


"Hades pengidap Anxiety Attack yang cukup parah, sehingga dia harus mendekam di Rumah Sakit Jiwa lebih lama dari yang seharusnya. Waktu itu ada seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dia gila Persephone, dia menginginkan Hades. Pernah sekali dia mencoba membunuh Hades dengan mencekik lehernya"


Persephone membelalak, dia tidak tau bahwa Hades memiliki cerita kelam seperti ini. Lagi-lagi Persephone salah, ternyata selama ini Hades lebih menderita darinya. Hanya saja laki-laki yang meminjam nama Raja Underworld itu pintar sekali menyembunyikan emosinya. Berpura-pura baik-baik saja di hadapan orang lain, pasti sangat menyakitkan.


"Semanjak itu Hades memiliki trauma pada Rumah Sakit Jiwa dan gangguan kecemasannya bertambah parah setiap melihatmu"


Ibu Persephone mengusap rambut perak anaknya yang sedang menundukkan kepala. Persephone merasa terkejut harus menerima kenyataan ini secara tiba-tiba. Hatinya seakan diremas dan hancur berkeping-keping. Memorinya terulang, dimana dia sering memperlakukan Hades dengan buruk. Padahal selama ini Hades selalu menahan diri saat bersamanya. Hades menahan rasa sakitnya sendirian, betapa mengharukannya itu.


"Hades tidak bisa melihatmu sakit ataupun sedih. Karena dia akan menderita dua kali lipat darimu. Dia bisa sampai kejang-kejang saking cemasnya"


Persephone sudah tidak bisa mendengarnya lebih lanjut. Dia berdiri sembari menutup wajahnya yang sudah berlinang air mata. Sebelum benar-benar meninggalkan ruang tamu, dia mengusir kedua wanita paruh baya itu dari rumah Paman Brian dan Tante Elena.


"Ibu dan Tante Zetha pulanglah, Persephone masih belum bisa menerima semuanya"


"Hanya ini yang bisa tante sampaikan padamu, semuanya tergantung padamu Persephone. Apakah kau masih mau menerima Hades atau tidak, itu pilihanmu"


Persephone berlari menuju kamarnya dan menutup pintu itu rapat-rapat. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan mulai terisak. Rasanya sangat sakit, hingga tangannya ikut mati rasa. Hades, mengapa kita harus saling menyiksa diri seperti ini?


- Flashback off -


"Kak Michael, bisakah kau meninggalkanku sendiri?"


Michael terlihat enggan meninggalkan kamarku, namun setelah melihat wajah memohon di wajahku dia akhirnya mengangguk juga.


"Baiklah, kau masih berhutang cerita padaku"


Setelah Michael hilang dari pandanganku, aku menghela napas panjang. Sial, rasanya dadaku sesak sekali.


Mataku kembali beralih pada sebuah buku mitologi yunani yang berjudul Persephone and Hades. Aku mulai membaca kisah itu satu persatu untuk mencari kutukan itu. Kutukan yang membuatku dan Hades saling terbelenggu satu sama lain.


Dalam mitologi Yunani, Hades digambarkan sebagai seorang yang berkepribadian gelap, tertutup, kejam, dan hampir selalu diidentikkan dengan kematian, walaupun dia bukanlah dewa kematian.


Penggambaran fisik Hades dalam gambar-gambar dewa Yunani adalah seseorang yang besar, bertubuh gelap, berjanggut lebat, memakai mahkota di kepalanya, dan memegang tongkat yang melambangkan kekuasaannya atas dunia bawah. Hades hampir selalu dibenci dan ditakuti oleh manusia. Bahkan boleh dikatakan tidak ada satu tempat pemujaanpun yang diperuntukkan khusus untuk Hades.


Hiih.., mengapa jadi mengerikan begini. Hades di sini tampan kok bahkan banyak gadis yang menyukainya.


Ratu Underworld adalah Persephone, putri dari Zeus dan Demeter, sang dewi kesuburan bumi. Hades tidak menikahi Persephone dengan cara yang baik-baik. Dia menculik Persephone dan menyekapnya dalam Tartarus. 


Ah, Hades memang meyebalkan dan semaunya sendiri tapi dia tidak sekejam itu kok!


Hades adalah satu-satunya dalam sejarah para dewa yang hanya mencintai satu wanita saja, yaitu Persephone. Hades tidak memiliki kekasih dan istri lainnya selain Persephone seperti poligami atau perselingkuhan yang sering dilakukan oleh para dewa lainnya.


Kalau yang ini aku tidak tau kebenarannya. Aku bahkan sudah tidak mendengar kabarnya selama 2 tahun. Apakah dia masih setia menungguku? Atau dia sudah memiliki pasangan disana?


Akhirnya aku kembali menutup buku mitologi yunani itu dan menaruhnya di atas nakas. Buntu, tidak ada jawaban yang bisa ku temukan. Pada akhrinya kami memang bukanlah Raja dan Ratu Underwold. Kami hanyalah seorang anak yang dipaksakan oleh kedua orangtuanya untuk saling bersama, namun malah terbelenggu satu sama lain akibat paksaan itu. Psikis sepasang anak kecil yang sangat rapuh dan karena tertiban kejadian yang mengerikan di masa kecil, mereka merekamnya hingga menjadi mimpi buruk yang selalu menghantui di sepanjang hidupnya.


Aku dan Hades memang seharusnya tak bersama, kami adalah sepasang anak kecil yang malang. Bukankah aku baik-baik saja selama berjauhan dengannya? Memang sih rindu, tetapi aku tidak tersiksa seperti sebelumnya. Aku bahagia, dan Hadespun seharusnya begitu. Dia tidak merasa kesakitan lagi karena harus berdekatan denganku. Mungkin kami memang ditakdirkan harus berjauhan.


Ini bukanlah cerita Persephone dah Hades di dalam mitologi Yunani yang selalu bersama. Kami hanyalah sepasang remaja yang kebetulan meminjam nama dari Dewa Olympus itu.


Ah, terus memikirkan hal seberat ini membuat kepalaku sakit. Lebih baik aku melupakannya, kisah kami cukup sampai disini sebelum ada malapetaka yang kembali menghampiri. Aku dan Hades memang tidak seharusnya bersama. Maafkan aku Hades, aku menyanyangimu mungkin karena kau adalah teman masa kecilku. Mungkin kau juga merasakan hal yang sama sepertiku.


Seandainya nanti kita bertemu lagi, ayo kita berbincang dengan benar. Mari kita bertukar perasaan sehingga tak ada lagi hal membelenggu kita. Ayo kita menentukan kisah hidup kita dari sekarang, kita bukan lagi anak kecil yang harus menuruti perintah kedua orang tuanya bukan? Kita akan tentukan jalan hidup kita sendiri. Aku adalah Persephone dan kamu adalah Hades.


.


.


.


.


Chapter selanjutnya dari sisi Hades, jangan sampai ketinggalan ya! 🖤