Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 12 - Mulai Baper



Aku turun dari motor Hazel yang sudah terparkir rapih di dalam Mall XXX. Hazel menggenggam tanganku dan menarikku masuk ke dalam Mall. Aku tersipu malu melihat tangannya dan tanganku kini menempel erat layaknya sepasang kekasih.


"Kau mau cobain bubble tea yang lagi hits itu gak?"


Sesampainya kami di dalam Mall, Hazel menunjuk salah satu stand bubble tea yang bernama Kokoro. Ini merupakan minuman yang sedang hits di kalangan selebgram maupun food blogger.


Aku pun segera mengangguk dengan antusias, tentu saja aku penasaran dengan bubble tea yang sedang hits ini. Hazel yang mendapat respon anggukan dariku kembali menarik tanganku berjalan beriringan menuju antrian.


"Antriannya panjang kak, tidak apa-apa harus menunggu?"


Aku menatap antrian di hadapanku yang akan memakan waktu cukup lama. Hazel tersenyum melingkarkan tangannya di pundakku. Aduh, kalau gini terus lama-lama aku bisa baper.


"Gak apa-apa kok, kan bareng Persephone nunggunya"


Untuk kesekian kalinya aku tersipu malu. Tunggu jangan kepedean dulu Persephone, siapa tau Hazel itu cowok playboy. Setelah tersadar aku melepaskan tangannya yang melingkar di pundakku, membuat Hazel menatapku bingung.


"Kak tanganmu berat, nanti aku makin pendek"


Hazel tertawa mendengar ucapanku. Aku bernapas legah, syukurlah alibiku berhasil.


Hingga tiba giliran kami untuk memesan Bubble Tea. Aku menatap menu minuman di hadapanku dan memilih untuk memesan minuman yang paling populer yaitu Kokoro Boba Creme Brulee. Sementara Hazel memesan minuman yang tidak terlalu berat yaitu Beri Beri Kokoro.


"Totalnya Rp73.000, mau di bayar cash atau pake aplikasi OFO?"


Hazel segera mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan selembar uang pada pelayan kasir. Aku juga ikut membuka dompetkku dan menyodorkan uang kepada Hazel, untuk membayar minuman yang ku pesan.


"Tidak usah, biarku traktir"


Aku menghela napas. Untuk yang kedua kalinya aku memaksanya menerima uang yang kuberikan.


"Kau ini aneh sekali Persephone, kalau gadis lain pasti senang di bayari oleh laki-laki"


Aku menatap Hazel yang kini berdecak sebal. Kasihan sekali Hazel, kau ini korban gadis matre ya?


"Tidak semua gadis seperti itu"


Aku menyelipkan uang yang ku genggam di saku celananya. Hazel tidak bisa kembali monolak, dengan pasrah ia mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam dompet.


"Nah, gitu dong kak"


Aku tersenyum puas melihat Hazel yang menuruti keinginanku.


Saat nomor minuman kami di panggil, Hazel berjalan mengambil dua minuman yang sebelumnya kami pesan dari pelayan.


"Ini punyamu"


Hazel menyodorkan minuman milkku. Dengan sigap aku mengambilnya dan menyedot minuman tersebut dengan sendotan berlubang besar.


"Enak, kakak mau coba?"


Aku secara reflek menyodorkan minumanku di hadapan Hazel. Hazel tersenyum kecil ia mengangguk dan menyedot minum yang ku pegang. Saat mulutnya menyentuh sedotan milkku, aku tersadar. Aduh, kalau begini namanya kami ciuman secara tidak langsungkan.


"Enak, kau mau coba punyaku juga?"


Kini giliran Hazel yang menyodorkan minumannya di hadapanku. Aku tersenyum dan menjawabnya dengan gelengan. Aku tidak mau mengulang ciuman secara tak langsung kami untuk kedua kalinya.


"Baiklah, kau mau kemana habis ini?"


Aku mengentuk-ngetuk jari di daguku sambil berpikir. Tiba-tiba saja terlintas permainan virtual di otakku.


"Mau coba main di VR Theme Park tidak?"


Hazel tertawa kecil mendengar ide yang ku lontarkan. Aku menatapnya bingung, kenapa dia tertawa? Apa menurutnya hal ini terlalu kekanak-kanakan.


"Kau ini benar-benar berbeda dengan gadis yang pernah ku temui sebelumnya"


Lagi-lagi aku di buat bingung. Memangnya dia ini mengencani gadis seperti apa sih.


"Maksud kakak?"


"Kebanyak gadis pasti mengajakku untuk berbelanja dan menghabiskan uang milkku"


Aku menepuk-nepuk bahu lebar miliknya sembari menatapnya dengan tatapan iba. Kasihan sekali laki-laki ini bertemu dengan perempuan matre yang tidak tau malu.


"Syukurlah sekarang kakak menemukan gadis yang berbeda"


Aku tersenyum manis seraya membanggakan diriku sendiri di hadapannya. Hazel tersenyum, ia mengusap kepalaku pelan menyalurkan perasaan nyaman untukku.


"Ayo kita ke VR Theme Park, kebetulan aku juga ingin mencoba permainan virtual itu"


Hazel kembali menautkan tangannya dengan tanganku. Kami berjalan beriringan menuju VR Theme Park.


Sesampainya di sana kami membeli tiket dan memainkan berbagai permainan menggunakan teknologi VR. Aku merasa senang sekali bisa menghabiskan waktu bersamanya seperti ini. Kami sesekali tertawa dan saling mengejek satu sama lain.


"Kau payah kak Hazel"


"Ayo sekali lagi, kau tadi hanya beruntung Persephone"


Aku tertawa melihat Hazel seperti anak kecil yang tidak menerima kekalahannya. Kami kembali mengulang permainan hingga akhirnya tangan kami sama-sama terasa keram.


"Aku cape sekali kak"


Aku memijat-mijat pelan lenganku yang terasa sakit akibat terlalu lama bermain. Hazel pun melakukan hal yang sama, ia mengibas-ngibaskan tangannya di udara untuk mengurangi efek pegal.


"Sekarang temani aku untuk membeli kado"


Hazel mengajakku masuk ke dalam salah satu toko aksesoris wanita. Aku menatapnya bingung, dia ingin membelikan hadiah untuk perempuan ya?


"Menurutmu mana yang cocok untuk dijadikan kado Persephone?"


Aku menatap salah satu jepit rambut dengan beberapa mutiara menghiasinya. Aku mengambil jepit rambut itu dan menunjukkannya pada Hazel.


"Ini sangat cantik"


Hazel mengambil jepit rambut tersebut dan memasukkannya ke dalam keranjang. Ia juga mengambil sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulan. Setelah itu ia berjalan menuju kasir dan membayarnya.


"Untuk teman kakak ya?"


Hazel mengangguk dan mengeluarkan jepit rambut yang tadi ku tunjukkan dari kantong plastik.


"Kalau yang ini untukmu"


Hazel memakaikan jepit rambut tersebut di rambutku. Aku tersipu senang seakan ratusan hingga ribuan kupu-kupu berterbangan di perutku.


"Makasih kak"


Aku tersenyum sembari menunduk menyembunyikan wajah merah meronaku. Hazel kembali mengusap pelan rambutku. Kali ini aku sudah tidak bisa berbohong lagi, aku benar-benar sudah jatuh pada laki-laki di hadapanku ini.


"Ayo pulang"


Hazel menarik tanganku menuju parkiran. Aku kembali menaiki motor ninjanya itu dengan susah payah.


"Masih ada tempat yang ingin kau kunjungi Persephone?"


"Tidak ada kak"


Aku menggeleng. Hazel membuka jaket jeans yang ia kenakan dan memakaikannya di pundakku.


"Udah malam, udaranya akan dingin"


Aku tersenyum dan mengangguk mengeratkan jaket Hazel menutupi seluruh tubuhku. Kini parfume Hazel tercium dengan jelas. Wangi maskulin yang mengoda membuat jantungku berdetak tidak karuan.


Hazel mulai menjalankan motornya memecah jalanan di malam hari. Dengan susah payah aku menahan tanganku untuk tidak memeluk tubuhnya.


"Rumahmu dimana Persephone?


Aku tidak mungkin menyebutkan alamat rumah Hades padanyakan. Ah, aku sebut alamat rumah lamaku saja. Aku tinggal berjalan kaki menuju rumah Hades dari sana.


"Di komplek perumahan XXX kak"


Hadespun mengangguk menuju rumah lamaku. Aku kembali menelusupkan wajahku di punggung lebarnya.


"Kalau mau peluk, peluk saja"


Aku reflek menepuk pundaknya pelan. Samar-samar aku mendegar kekehan Hazel yang mengejek diriku.


"Tidak mau!"


Hazel kembali terkekeh dengan lebih keras. Aku berdengus kesal, meyebalkan juga kakak kelas yang satu ini.


Setelah memakan waktu yang cukup lama di perjalanan, kini aku telah sampai di rumah lamaku. Aku segera turun dari motor milik Hazel dan melambaikan tangan padanya.


"Makasih kak, hati-hati di jalan"


Hazel tersenyum kembali menjalankan motornya meninggalkanku. Setelah batang hidung Hazel tak terlihat lagi, aku berjalan kaki menuju rumah Hades. Udara malam yang dingin menusuk wajahku membuatku mempercepat langkah untuk sampai di rumah Hades.


Karena terlalu asik dengan Hazel aku sampai lupa bagaimana kabar Hades dan Angelica. Apa kencan mereka berjalan dengan lancar? Kenapa firasatku mengatakan hal yang sebaliknya.


.


.


.


.


Yah, Persephone bapernya sama Hazel bukan Hades ataupun Nathan 😳