Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 7 - Tinggal Bersama



Angin menerpa wajahku kala Sarah mengayuhkan sepeda bututnya. Setelah satu jam aku menghabiskan waktu di rumah Sarah, kini ia mengantarku pulang menggunakan sepedanya.


"Aku jadi ingat waktu kita bertemu dulu, kamu juga memboncengiku seperti ini"


Sarah tersenyum kecil menanggapi ucapanku.


"Kau dulu gadis yang pendiam"


Aku tertegun mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Sarah. Waktu itu bahkan aku hanya menanggapi Sarah dengan anggukan atau gelengan saja. Tetapi kenapa dia betah yah berteman denganku.


"Lalu kenapa kau mau berteman dengan gadis pendiam ini?"


Aku yang penasaran akhirnya melontarkan pertanyaan padanya. Sarah masih saja tersenyum tipis menikmati angin yang menerpa wajahnya.


"Buktinya sekarang kau bawel sekali"


Aku memanyunkan bibirku kala mendengar jawaban dari gadis itu. Padahal bukan ini jawaban yang ku inginkan.


"Haha, aku bercanda Persephone. Kau gadis yang lugu dan polos tentu saja aku suka padamu"


Aku tersenyum, ini jawaban yang ingin ku dengar. Tapi tunggu, lugu dan polos? sepertinya Sarah salah menilaiku. Aku tidak lugu dan juga tidak sepolos yang Sarah pikirkan. Bahkan bisa dibilang aku ini orang yang munafik.


"Nah, sudah sampai tuan putri"


Sarah memberhentikan sepedanya tepat di depan rumahku. Aku segera turun dan menepuk pelan bahu Sarah.


"Makasih sudah mengantarku"


Aku tersenyum kecil. Sarah memutar arah sepedanya dan melambaikan tangan padaku.


"Sampai jumpa Persephone!"


Sarah berteriak dan kembali mengayuhkan sepedanya menjauhi rumahku. Setelah Sarah dan sepeda buntutnya menghilang dari pandanganku, aku segera berjalan masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang!"


Suaraku menggema ke seisi rumah. Merasa tak ada balasan aku membuka pintu kamar ibu dan ayah. Kosong, kemana semua orang pergi? aku segera mengambil handphone dari sakuku dan menelepon ibu. Selang beberapa menit akhirnya telepon ku tersambung.


"Halo Persephone, maaf ibu lupa mengabarimu sebelumnya. Ibu, Ayah, dan Penelope sedang berada di luar kota"


"Apa?! kenapa ibu meninggalkanku sendiri?"


"Ini mendadak sayang, ayahmu ada pekerjaan disini. Kau juga harus sekolahkan, mana mungkin ibu mengajakmu"


"Tapi ibu-"


Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, ibu langsung memotongnya.


"Menginaplah di rumah tante Zetha, ibu akan mengabarinya"


"Baiklah, sampai jumpa bu"


Aku mematikan telepon dengan kesal. Kenapa Ibu berbuat seenaknya begini sih. Tentu saja aku merasa takut sendirian di rumah sebesar ini. Apa aku harus menginap di rumah Tante Zetha. Sebenarnya Tante Zetha dan Paman Bennedict akan menyambutku dengan baik, tapi bagaimana dengan Hades. Pasti ia akan merasa kesal dan terganggu akan kehadiranku. Ah, menyebalkan!


Aku segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi. Yang pasti aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu.


Selesai membersihkan diri, aku menatap pesan masuk di handphoneku. Aku membuka pesan dari Hades.


'Ratu menginaplah di rumahku'


Setelah membaca pesan singkat itu aku membanting handphoneku ke atas kasur. Aku membulatkan mata tak percaya akan pesan yang baru saja ku baca. Ini benar pesan dari Hades kan? aku memeriksa nama pengirim pesan untuk memastikan. Dan benar saja nama Hades tertera disana. Apa-apaan pesannya itu bikin ku merinding saja.


You call me on the telephone, you feel so far away~


Nada dering telepon yang masuk membuyarkan lamunanku. Aku menatap nama penelepon yang muncul. Sudah mengirimkan pesan yang membuatku merinding sekarang dia meneleponku. Aneh sekali seperti bukan Hades saja. Tanpa berlama-lama aku segera mengangkat telepon masuk itu.


"Halo Persephone, kemarilah. Aku dengar dari tante Zetha kau sedang sendirian disana"


Ah, bukan suara Hades, tetapi Nathan yang sedang meneleponku. Seketika aku merasa kecewa, mana mungkin Hades yang dingin itu berubah perhatian padaku. Aku jadi kegeeran sendiri.


"Oh kau Nathan, kenapa kamu bisa ada di rumah Hades?"


"Baiklah, sampai nanti"


Aku menutup panggilan tersebut. Aku segera mengambil tas dan mengisinya dengan seragam sekolah serta buku-buku yang kuperlukan untuk jadwal pelajaran besok. Setelah merasa tak ada yang tertinggal, aku segera menuruni anak tangga dan meminta Pak Kasim untuk mengantarku ke rumah Hades.


...


Aku memencet bel rumah Hades beberapa kali. Hingga seseorang yang ku kenal membukakan pintu dengan senyum sumringahnya. Kenapa sih Nathan selalu senyum sumringah gitu kalau bertemu denganku. Seperti anak kecil yang bertemu dengan ibunya saja.


"Persephone, ayo masuk! kita semua menunggumu"


Tanpa menghiraukan Nathan, aku melangkahkan kaki masuk seperti pemilik rumah. Setibanya di dalam, aku disambut dengan Tante Zetha yang tengah mempersiapkan makan malam. Aku menatap begitu banyak lauk yang menggungah selera di atas meja.


"Duduk lah Persephone, mari kita makan malam bersama"


Aku mengangguk dan duduk di samping kanan Hades. Sementara Nathan ikut menarik bangku dan duduk di samping kananku. Kenapa aku jadi diapit oleh dua laki-laki ini. Yang satu raja es balok, dan yang satu lagi raja matahari.


"Persephone tambah cantik saja ya"


Aku tersenyum malu mendengar pujian yang dilontarkan Paman Bennedict. Bisa saja paman tua yang satu ini, tidak seperti anaknya yang dingin itu.


"Tidak juga kok Paman"


Aku berusaha merendah. Sekilas aku melirik ke arah Hades yang masih tanpa ekspresi. Menyebalkan, ingin ku tonjok saja muka datarnya itu.


"Mari makan!"


Tante Zetha menyendok nasi dan menaruhnya di atas piringku. Aku menerimanya sambil tersenyum manis. Aku mengambil beberapa lauk dan memakannya dengan lahap. Enak sekali masakan Tante Zetha, tak kalah dengan masakan ibuku.


"Persephone, kau tinggalah dulu disini selama seminggu"


uhuk.. uhuk..


Aku tersedak mendengar kata seminggu dari mulut Tante Zetha. Tinggal bersama Hades selama satu minggu, bisa-bisa aku mati membeku.


"Ini minumlah"


Hades menyodorkan segelas air padaku. Aku segera menerimanya dan meneguk air tersebut hingga tersisa setengah.


"Apa tante, Seminggu?"


Aku bertanya pada Tante Zetha sambil berharap bahwa pendengaranku tadi salah.


"Millen bilang padaku ia akan berada di luar kota selama seminggu, apa dia tidak memberitahumu?"


Aku menggeleng pasrah. Ibu kau menyebalkan sekali, ini seperti sudah direncanakan saja.


"Memang kenapa kalau menginap disini?"


Hades bertanya dengan ketus. Tersirat tidak suka pada ucapannya. Aku meneguk air liurku takut. Kalau sudah berbicara ketus begitu aku mana berani menentang.


"Ehem, makanan buatan tante enak sekali"


Nathan berusaha memecahkan keheningan. Aku membalas ucapannya dengan anggukan dan kembali makan dalam diam.


...


Kini aku berbaring di atas ranjang kamar tamu. Dinginnya AC membuat sekujur tubuhku berbalutkan selimut.


Ah, bagaimana ini tinggal bersama Hades selama satu minggu. Kalau anak-anak sekolah sampai tau pada akhirnya fakta bahwa aku adalah calon tunangan Hades akan membuat usahaku bersekolah di sekolah umum menjadi sia-sia. Aku tidak mau dijodohkan dengan pria dingin itu seumur hidupku. Aku harus mengancam Nathan untuk merahasiakan hal ini!


.


.


.


.


Hayo yang baca tapi gak like dan komen, nanti kena azab loh 😥