
[ANGELICA POV]
Namaku Angelica, aku adalah gadis berparas manis yang pandai berbicara. Itu mengapa banyak orang yang menyukakiku, terutama laki-laki berhidung belang.
Meskipun di luar aku tampak sempurna sebenarnya aku hanya menutupi sisi burukku. Aku ini bukan anak yang berasal dari keluarga yang sempurna. Ibu dan ayahku telah bercerai dan meninggalkanku hidup berdua bersama nenekku. Aku terbiasa hidup mandiri. Mencari uang sendiri dengan bekerja part time di minimarket setelah pulang sekolah. Tentu saja ini hal yang ilegal, aku memalsukan umurku dan membuat Kartu Tanda Pengenal palsu.
Hari pertama aku masuk di Sekolah Menengah Atas, aku melihat seorang gadis yang turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sekolah. Rambutnya berwarna perak dan terlihat sedikit pemalu. Entah mengapa gadis itu menarik perhatianku. Aku mengikutinya dari belakang dan secara kebetulan kami menempati kelas yang sama. Hal ini tak ku sia-siakan, aku segera mengambil tempat duduk di samping gadis itu. Aku juga mengajaknya berkenalan. Gadis itu menatapku dengan tatapan tidak suka. Baru kali ini aku menemukan orang yang tidak menyukaiku di awal perkenalan.
Hari-hari di sekolah berlalu dengan cepat. Aku dan gadis pemalu bernama Persephone sudah menjadi lebih dekat. Ia selalu pergi dan pulang sekolah menggunakan mobil bersama supirnya. Tas dan barang-barang yang ia bawa ke sekolah juga merupakan barang yang tidak murah harganya. Aku juga selalu memperhatikan bekal yang ia bawa setiap hari. Gadis ini sangat sempurna, ia memiliki segalanya yang tak aku miliki.
Pagi itu bus yang mengantarku menuju sekolah sedikit terhambat. Saat aku telah mencapai gerbang sekolah aku melihat gadis pemalu itu tengah turun dari mobil miliknya. Tetapi kali ini ia tidak sendiri ada seorang laki-laki yang juga turun dari mobil yang sama dengannya.
Aku memperhatikan laki-laki itu. Berparas sama sempurnanya seperti Persephone. Bahkan lebih sempurna karena memiliki wajah yang tampan. Aku menyunggingkan senyum. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku. Aku memang tidak sempurna, tetapi bisa menjadi sempurna bila bersama mereka, terutama untuk laki-laki itu. Selama ini belum ada laki-laki yang bisa menolak pesonaku. Aku sangat percaya diri dapat membuat laki-laki itu menyukaiku.
Namun, setelah bertemu dengan laki-laki yang bernama Hades itu aku tersadar. Laki-laki itu sulit untuk didekati. Ia selalu menempel pada Persephone. Aku berusaha keras memutar otak memikirkan cara untuk lebih dekat dengan Hades. Hingga aku mendapat ide untuk memposisikan Persephone orang terdekat Hades sebagai perantara antara kami. Sejujurnya aku tidak membayangkan bahwa Persephone aku menyetujui ide gilaku yang meminta bantuannya untuk berkencan dengan Hades. Tetapi karena dia sendiri yang bilang akan membantuku, aku pun dengan senang hati menerimanya.
...
Setelah pulang sekolah, Persephone terlebih dahulu meninggalkanku yang masih di dalam kelas. Aku membereskan buku-bukuku dan mengambil baju ganti dari dalam tas. Aku menghela napas, habis ini aku masih harus bekerja sebagai penjaga kasir di minimarket dekat rumahku. Dengan cepat aku segera beranjak untuk menganti bajuku. Setelah selesai aku berjalan menuju halte bus terdekat. Aku menaiki bus menuju tempat kerjaku.
Setibanya di minimarket tempatku bekerja, aku dikagetkan oleh Lyondra penjaga kasir shift pagi.
"Angelica, cepat gantikan aku. Aku sudah hampir terlambat!"
Aku mengangguk segera mengantikannya yang terlihat terburu-buru. Entah apa yang akan di lakukannya setelah ini, tetapi melihatnya yang panik sepertinya itu merupakan hal yang penting.
Hari ini minimarket terlihat sepi pengunjung. Saat aku hendak memejamkan mata tiba-tiba saja handphoneku bergetar bertanda telepon masuk. Aku segera mengangkat telepon dari Persephone. Ia mengabariku bahwa ia berhasil membujuk Hades untuk pergi bersamanya besok. Aku tersenyum puas, kali ini aku pasti akan berhasil mendapatkannya.
...
Aku segera bangun dari tidurku, karena merasa terlalu senang aku jadi tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Aku berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku mengambil pakaian yang baru saja ku beli beberapa hari yang lalu, dan memakainya. Aku merias wajahku semenarik mungkin. Aku menatap diriku yang terpantul di cermin, hari ini aku cantik sekali Hades pasti tidak akan menolakku.
Setelah itu aku mengambil handphone di atas meja dan mengirimkan beberapa pesan untuk Persephone. Aku kembali membaringkan diriku di atas kasur sembari menunggu balasan yang masuk.
Saat Persephone memberitahuku bahwa dia sudah berangkat aku segera berlari keluar memesan ojek online untuk mengantarku menuju taman bermain. Aku juga sempat berpamitan terlebih dahulu dengan nenekku sebelum beranjak pergi.
Setibanya di taman bermain, aku mencari-cari keberadaan dua insan itu. Aku menemukan mereka di salah satu antrian pembelian tiket masuk. Aku tersenyum senang dan berlari menuju mereka.
"Persephone, Hades!"
Mereka menoleh padaku yang memanggil mereka. Persephone menatapku memberi kode untuk memainkan drama, sementara Hades menatapku dengan tatapan bingung.
"Kau keberatan akan kehadiranku Hades?"
Aku memasang wajah sedih saat Hades tidak suka akan kehadiranku di antara mereka.
"Tidak, aku hanya bertanya saja"
Aku tersenyum puas, mendengar ucapan yang di lontarkan Hades. Tentu saja kau tidak akan bisa tak terlena pada wajahku yang manis ini kan.
Saat tiket sudah berada di tangan Persephone, aku segera menariknya masuk ke dalam taman bermain. Aku sekilas melirik ke arahnya yang sedang melamun. Pasti ia sedang memikirkan cara untuk pergi dariku dan Hades.
Mataku menangkap wahana rollercoaster yang menegangkan. Setidaknya kalau aku mengajak kalian kesana, kau jadi ada alasan untuk pergi dariku dan Hadeskan.
Betul saja saat aku mengajak Persephone dan Hades untuk menaiki wahana itu, Persephone segera mencari-cari alasan untuk tidak ikut menaikinya.
Aku melihat Hades yang menatap Persephone dengan cemas. Entah mengapa aku jadi merasa kesal.
Aku segera menarik lengan Hades menjauh dari Persephone. Selama berjalan menuju antrian ia selalu saja menengok ke belakang tempat dimana Persephone duduk. Aku mengepalkan tanganku kesal, kenapa dia tidak melihat ke arahku sama sekali.
"Hm, Hades kau suka ke taman bermain?"
Aku bertanya padanya untuk memecah keheningan di antara kami. Hades kini menatapku dingin, ia tidak berekspresi sama sekali. Apa aku kurang menarik di matanya.
"Tidak, aku kesini karena Persephone yang mengajak"
Hades menjawab pertanyaanku sembari memperjelas bahwa Persephone adalah orang yang spesial baginya. Aku hanya bisa tersenyum kecut, laki-laki ini berbeda. Dia hanya menatap pada satu orang dan orang itu adalah Persephone.
"Kalau begitu kau sukanya kemana?"
Aku berpura-pura tidak tau dan kembali mengajukan pertanyaan.
"Kemanapun yang ada Persephonenya"
Aku menghela napas, terlalu sulit mendekatinya. Ia benar-benar mendorongku menjauh lewat ucapannya.
"Haha benar, kau dan Persephone seperti saudara kembar yang kemana-mana selalu bersama"
Aku masih berpura-pura sambil tertawa kecil. Hades yang mulai kesal karena ketidakpekaanku memutar bola matanya jengkel. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kecut melihat sikap dinginnya itu.
"Ayo, sekarang giliran kita naik"
Aku kembali menarik lengan Hades menaiki wahana rollercoaster. Kami duduk bersampingan. Ingin sekali aku menggenggam erat tangannya itu tetapi lebih baik aku mengurungkan niatku sebelum Hades membenciku.
Setelah berpacu adrenalin di wahana rollercoaster, aku dan Hades melangkah keluar dan kembali ketempat dimana Persephone menunggu kami tadi. Saat kami sampai di sana, batang hidung Persephone sudah tidak nampak lagi. Aku mengigit bibir takut melihat Hades yang tampak marah membaca isi pesan dari Persephone.
"Sial, kau dan Persephone sudah merencanakan ini sejak awal?"
Hades mengumpat sembari menatapku tajam. Aku tertunduk tak berani menjawab ataupun sekedar menatapnya balik.
"Hei jawab!"
Hades mulai membentakku, membuatku meringis takut.
"Kalau kau tidak mau jawab terserah, aku mau pulang"
Hades berjalan meninggalkanku sendiri di taman bermain. Dengan lemas aku mendudukan diriku di atas bangku taman. Tanpa sadar aku menitihkan air mata, ternyata sakit rasanya saat tertolak oleh orang yang ku suka. Aku menghapus jejak air mata di wajahku. Sedari awal ini memang salahku yang terlalu percaya diri. Hades tidak seperti laki-laki yang sering kutemui sebelumya. Ia setia, hanya menatap pada satu wanita. Persephone kau beruntung sekali, aku sangat iri padamu.
[ANGELICA POV END]
.
.
.
.
**Gimana kalian merasa kesal atau malah kasihan sama Angelica, jawab di komen ya!
Jangan lupa tinggalkan like untuk chapter ini, makasih🖤**