Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 27 - Merindukanmu



[Hades POV]


Aku mengerjap, menyusuri seisi ruang bernuansa putih dan berbau obat-obatan. Kepalaku pusing sekali, sekan diajak berputar-putar.


"Hades, are u okay bro?"


Aku menoleh menatap sepasang mata cemerlang itu. Ia menyodorkan ku segelas air, dan mengambil tempat duduk di sebelah ranjangku.


"Ya, mana Persephone?"


Tanyaku langsung tanpa basa-basi. Nathan tersenyum, ia membantuku beranjak dari posisi tidur hingga duduk menyender di bantal.


"Ada di suatu tempat yang aman"


Aku mengernyitkan dahi mendengar jawabannya itu. Apa Nathan sedang bermain rahasia-rahasian padaku?


"Dimana?"


Aku menatapnya tajam membuat Nathan membuang muka sambil menggaruk tengkunya yang tidak gatal. Cih, anak itu gelisah. Dia pasti dipaksa oleh ibu atau Tante Millen untuk berbohong padaku.


"Nanti dia akan kembali, pulihkan saja dirimu dulu"


Aku menghela napas kasar. Percuma saja aku bertanya padanya, pasti dia tetap tidak akan memberitahukannya padaku.


Ceklek..


"Hades, kamu sudah bangun? Apakah ada yang sakit?"


Aku menggeleng kecil memperhatikan gerak-gerik wanita paruh baya yang baru memasuki ruanganku. Wajahnya ditekuk cemas dan terlihat gusar dengan dua kantong plastik di tangannya.


"Ibu habis beli bubur, apakah kau mau?"


Aku mengangguk sembari menerima sekotak bubur yang disodorkannya. Aku mulai menyendokkan bubur dengan suiran ayam itu dan memasukkannya ke dalam mulutku. Aku langsung menelan bubur itu bulat-bulat tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Menikmati sensasi hangat yang perlahan masuk ke dalam kerongkonganku.


"Pelan-pelan, kau kelaparan sekali ya?"


Nathan berdengus sembari membuka kotak bubur miliknya. Aku membalasnya dengan mendelikkan mata, membuatnya cengar-cengir salah tingkah.


"Ibu, dimana Persephone?"


Aku menolehkan pandanganku menatap pada ibu yang terduduk di sofa. Ia beranjak dan mendekatiku sembari mengelus rambutku lembut. Dia terdiam, tidak mau mengatakannya. Sebenarnya ada apa dengan Persephone? Sungguh aku bisa dibuat mati penasaran.


"Bu?"


Aku menatap ibu dengan tatapan memelas, biasanya dia tidak akan tahan dengan ekspresi ini.


"Kita tunggu sampai Persephone kembali ya?"


Aku menautkan kedua alisku, bingung. Menunggu hingga Persephone kembali? Memangnya dia ada dimana? Apakah di luar kota? Dia meninggalkanku disini sendirian, menyebalkan sekali. Aku harus menunggunya sampai kapan, kapan dia akan kembali?!


"Jangan berfikir terlalu jauh bro, dia baik-baik saja kok"


Nathan menepuk-nepuk bahuku untuk menenangkan, namun bukan ketenangan yang kudapat melainkan rasa sakit akibat pukulannya yang cukup keras.


"Sakit bodoh!"


Pekikku sembari menjauhkan tangannya. Nathan tertawa membuat matanya kian menyipit, begitu juga ibu yang sudah tidak heran lagi dengan tingkah kami. Seperti kucing dan tikus, selalu bertengkar namun tidak bisa dipisahkan.


...


Sudah satu bulan berlalu dan aku masih belum mendapatkan kabar tentang Persephone. Entah dimana gadis berambut perak itu, aku benar-benar merindukannya.


Aku sudah berusaha mencarinya, bahkan memohon pada Tante Millen. Membuntuti keluarganya, namun tidak pernah menemukan jejak keberadaan Persephone. Ibu dan ayahnya tidak pernah mengunjungi gadis itu, apakah dia benar-benar berada di tempat yang jauh saat ini?


Nasya berulang kali bertanya padaku mengenai keberadaan dan kabar Persephone, membuatku bertambah geram karena tidak bisa menjawabnya.


Bel pulang sekolah berbunyi. Aku merapihkan buku-buku dan segera memikul tas keluar dari dalam kelas. Biasanya aku selalu disambut oleh Persephone dengan wajah mengemaskannya di parkiran. Namun, kali ini tanpa dirinya membuat hatiku terasa amat hampa.


"Louis ayo, semoga hari ini kita bisa bertemu dengan Persephone!"


Aku mengintip dibalik pilar-pilar gedung parkiran. Suara Angelica bergema dengan jelas masuk ke dalam pendengaranku. Bertemu dengan Persephone? Apakah mereka tau dimana gadis itu?


Mobil putih milik Louis melesat keluar dari gedung parkiran, membuatku cepat-cepat menyalakan mesin mobil dan membuntutinya.


Perjalanan memakan waktu 20 menit, hingga mereka berhenti di sebuah gedung putih yang merupakan Rumah Sakit Jiwa. Aku mengernyitkan dahi, merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Aku mempunyai ingatan buruk di tempat ini, aku tidak menyukainya. Ada apa dengan Persephone, mengapa dia bisa kembali ke Rumah Sakit Jiwa? Bagaimana mungkin dia baik-baik saja di tempat yang bagaikan neraka itu?


Aku memutar balikkan mobil dan melaju untuk pulang. Percuma saja, kalau ku paksakan masuk ke dalam gedung itu yang ada aku akan merasa amat sesak dan rentenan memori pahit itu kembali menghantuiku.


...


"Ngapain kalian ada disini?"


Aku menatap sinis kedua orang yang tengah asyik duduk di atas sofa rumahku sembari masing-masing menggenggam stik PS.


Mereka menatapku dengan senyum khas anak kecil dan menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Mau tak mau aku ikut duduk di samping mereka dan mengambil stik PS berwarna abu-abu yang disodorkan Nathan.


"Kita nginep ya"


Aku mengernyitkan dahi sembari menatap tajam Dylan. Mengapa mereka jadi menempel padaku begini, menyusahkan.


"Pulang sana kayak gak punya rumah aja"


Jawabku sinis sembari fokus menggerak-gerakkan jemari di atas stik PS.


"Kalau kamu kalah, kita boleh nginep ya?"


Nathan menaik-naikkan satu alisnya sembari tersenyum menantang. Aku ikut mengangkat kedua sudut bibirku dan dengan sigap memfokuskan diri pada layar televisi. Meskipun Nathan adalah raja gamers, kemampuanku juga tidak kalah dengannya.


Entah sudah berapa kali kami mengulang permainan dan hasilnya seperti yang kalian pikirkan, Nathan lah pemenangnya. Aku mengacak rambut frustasi, duo pengganggu itu akan menginap di rumahku, lengkap sudah penderitaanku.


"Aku keluar bentar ya?"


Nathan dan Dylan serempak menatapku dengan tatapan ragu.


"Bentar doang kok, ke taman komplek"


Ucapku meyakinkan sembari tersenyum. Akhirnya dengan sedikit terpaksa Nathan dan Dylan mengangguk.


Setelah mendapat persetujuan, aku segera menyambar jaket boomber berwarna hitam dan memakainya. Aku berjalan dengan lunglai menuju taman komplek, taman ini menjadi saksi bisu kejadian waktu itu. Andai waktu itu aku tidak melakukannya, saat ini aku dan Persephone akan baik-baik saja. Tidak saling menyiksa diri seperti ini.


Aku menduduki ayunan dari kayu yang sudah usang, sembari memejamkan kedua mata menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku. Aku jadi ingat waktu kecil Persephone sangat suka duduk disini. Rambut peraknya yang terkena sinar mentari, benar-benar seperti permata yang berkilau. Senyumannya yang menampilkan kedua lesung pipi benar-benar sangat imut. Aku bahkan lupa sejak kapan aku mulai menyukai gadis itu, yang ku tau aku memang suka apapun yang dia lakukan.


Aku menyukai ayunan, karena dia menyukainya. Aku menyukai semua yang dia sukai. Apakah memang sejak awal aku sudah jatuh cinta padanya? Cinta monyet anak kecil yang terus terbawa hingga saat ini. Aku kesal bila dia mengabaikanku, maka dari itu aku terus mencari perhatiannya. Mulai dari mengganggunya, merebut semua hal yang dia sukai, menjadi Hades yang menyebalkan di mata Persephone. Lucu bukan? ini semata-mata agar dia selalu memandang ke arahku.


Aku berharap kau segera keluar dari tempat yang bagaikan neraka itu Persephone. Aku ingin kembali melihatmu, merangkul tubuh kecilmu, mencium bibirmu secara diam-diam. Apakah kau tidak merindukanku? Aku disini sudah hampir frustasi memikirkanmu setiap waktu. Percayalah aku ingin membawamu keluar dari sangkar itu, tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya keberanian untuk menghadapi kejadian pahit waktu itu. Aku dan Rumah Sakit Jiwa karena kamu.


Ketika kau melihat ke belakang


Selalu di tempat yang sama


Ada seseorang


yang melindungimu


Sulit bagiku untuk melupakanmu


Bagaimana memori bisa dengan mudahnya dilupakan?


Sulit bagiku untuk membencimu


Bagaimana aku bisa membencimu?


Jangan pergi


Jangan pergi dulu


Aku belum siap


Untuk melepaskanmu


[Hades POV - END]


.


.


.


.


TBC 🖤