Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 24 - Tersiksa



[Hades POV]


Aku beranjak dari atas ranjang, menatap jam yang terus bergerak di atas nakas. Aku ingin sekali menghentikan waktu, menikmati pemandangan yang langka ini.


Seorang gadis berambut perak yang tertidur nyenyak di pelukanku. Sesekali ia bergumam, mungkin dia sedang memimpikanku? Apa aku terlalu percaya diri, biarlah yang penting aku suka.


Bibirku dengan kurang ajarnya menempel di bibir mungil yang semanis cherry itu. Aku terperanjak, jujur tubuhku bergerak sendiri. Bagaimanapun aku adalah laki-laki normal yang akan terbuai bila di sungguhkan dengan hidangan lezat ini.


Aku *******, menikmati benda kenyal yang mengiurkan itu. Manis, aku menyukainya. Bagaikan seorang anak kecil yang sedang mengemut yupi kesukaannya.


"Eughh"


Dia bergerak dan melenguh pelan. Mengemaskan, bagaimana bisa aku tahan dengan pemandangan ini. Secepatnya aku beranjak, keluar dari kamar Persephone. Kalau lebih lama lagi, sepertinya aku akan khilaf.


Aku merentangkan kedua tanganku ke atas. Fajar belum menampakkan wujudnya, tapi aku sudah tidak ingin kembali ke pulau kapuk. Aku memilih mendudukkan diriku di atas sofa ruang tamu. Suara detikan jam, dan bunyi binatang merayap memenuhi indra pendengaranku.


Aku menghela napas mengingat kejadian kemarin malam. Apakah Persephone kembali teringat kejadian waktu itu? Jujur, aku merasa sakit saat melihat tatapannya yang menyiratkan kebencian terdalam, dan lebih sakit lagi mengetahui bahwa tatapan itu ditunjukkan untukku.


Aku sadar memang ini semua salahku yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku berharap Persephone selalu memiliki penyakit itu, Anxiety Social Disorder. Kalian mau tau mengapa? Karena saat Persephone memiliki penyakit itu, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Semakin Persephone menutup diri dari dunia luar, semakin pula dia akan baik-baik saja. Aku pikir, aku tidak memerlukan obat itu lagi. Namun, saat mengetahui dirinya telah sembuh dan bahkan dapat bersosialisasi dengan kakak kelas membuatku harus kembali mengonsumsi obat itu.


Mungkin Persephone tidak pernah sadar bahwa sakitnya adalah sakitku juga. Bahwa deritanya adalah deritaku juga. Bahwa dukanya adalah dukaku juga. Mungkin keegoisanku untuk menyimpan semuanya sendiri, tak sadar perlahan melukainya. Membuatnya menyimpan bekas ingatan kelam waktu itu. Taman Bermain dan Agnes, sepupunya.


Mungkin terdengar jahat kalau aku ingin kau menutup diri dari dunia luar. Menjadi gadis introvert yang lugu dan polos. Tapi percayalah, ini semua untuk melindungimu. Maaf Ratu, aku terlalu menyayangimu.


"Hades, kamu sudah bangun?"


Aku terperanjak menatap seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar utama. Ibuku, Zetha dengan tatapannya yang sayu ikut mendudukkan diri di sampingku.


"Kamu baik-baik saja?"


Aku mengangguk sembari memaksakan senyum. Ibu mulai melayangkan tangannya memberikan sentuhan kasih sayang di pucuk kepalaku.


"Kamu tau kan kalau kamu ini tidak bisa membohongi ibu?"


Aku tersenyum kecut. Ibu benar, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku padanya. Berbeda saat bersama Persephone yang dengan mudahnya aku dapat mengelak.


"Hades, kau tak perlu memaksakan diri. Ibu rasa lebih baik kau jujur pada Persephone"


Aku terdiam tak berekspresi. Aku tidak mau sampai Persephone mengetahuinya, apakah aku egois? Aku hanya ingin menjadi sosok laki-laki yang gagah di matanya. Bukan laki-laki lemah yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya.


"Tunggu aku siap bu"


Ibu mengangguk sembari membelai lembut kepalaku. Aku menyenderkan kepala di bahunya dan mulai memejamkan mata. Menikmati perasaan damai sebelum malapetaka menghancurkannya.


...


Berulang kali aku bertanya pada Persephone, namun berulang kali juga jawabannya tetap sama. Apakah dia sebegitu percayanya pada Angelica? Sungguh aku tidak bisa mempercayai gadis itu. Dia terlalu tempramental bahkan terkadang ulahnya malah memperkeruh keadaan.


Aku memberhentikan mobilku di parkiran lantai 2. Aku melirik ke arah Persephone yang terburu-buru keluar dan masuk ke dalam gedung sekolah. Aku tau pasti, anak itu sangat gugup dan cemas. Bahkan peluh sudah membasahi kemejanya yang putih. Tapi bagaimana lagi, dia sendiri yang memang mau menyerahkan misi balas dendam ini pada Angelica. Aku pun sudah berulang kali memperingatinya tapi tak digubris. Dasar meyusahkan.


Kring kring~


Aku menekan tanda hijau di handphoneku. Suara Nathan terdengar dengan nyaring disana.


"Hades, aku sedang bersama Louis!"


Ah, benar Louis. Aku sampai melupakan anak itu. Aku akan membuatnya berlutut meminta maaf di hadapan Persephone.


"Dimana?"


"Kelas 10 IPS 3"


Aku segera mematikan panggilan dan beranjak memasuki gedung sekolah. Tanpa mau memperhatikan sekitar, aku berjalan dengan cuek menuju 10 IPS 3, kelasnya Louis.


"Hades, sumpah aku dipaksa"


Baru saja aku menginjakkan kaki di depan kelas 10 IPS 3, Louis secara tiba-tiba berjalan mendekatiku dan menggenggam erat tanganku. Tatapannya memelas, meminta pengampunan.


"Cih, kau tau tidak perbuatanmu ini membuat Persephone hampir menjadi gila!"


Aku memukul kepala Nathan sembari menatapnya tajam. Sembarangan bilang Persephone gila, membuatku geram saja.


"Minta maaf pada Persephone"


ucapku singkat tanpa mau menatap tatapan melasnya. Aku tidak mau mengambil resiko memulai baku hantam kalau menatapnya lebih lama. Wajahnya yang memelas itu benar-benar membuatku geram. Apakah dia tidak sadar perbuatannya ini sudah keterlaluan. Mempermalukan Persephone yang notabenya gadis kesayanganku. Eh? aku ngomong apa barusan, gadis kesayanganku. Hm, boleh juga.


"Apa?! Hanya semudah itu?"


Nathan melebarkan padangannya tidak setuju. Aku menghela napas menariknya keluar dari kelas 10 IPS 3.


"Sudah tidak usah dipermasalahkan lagi, dia juga terpaksa melakukannya"


Nathan terdiam tak membantah, meskipun tatapannya menyiratkan ketidakpuasan. Kami kembali ke kelas masing-masing, menunggu bel pelajaran dimulai.


...


"Pst.., Hades"


Aku melirik dengan malas pada Nasya. Dia pasti sudah mau mengajukan seribu pertanyaan tentang Persephone. Percayalah, teman Persephone yang satu ini diam-diam selalu mengkhawatirkannya. Ia tak henti-hentinya menanyakan kabar Persephone padaku.


"Apa Persephone baik-baik saja?"


Aku memutar bola mataku jengah. Dengan enggan aku mengangguk sekilas dan kembali menatap papan tulis yang berisikan rumus-rumus matematika.


"Kira-kira apa yang akan dilakukan Kak Hazel dan Angelica?"


Aku mengeryitkan dahi, kesal. Memangnya aku cenayang sampai tau apa yang dilakukan Angelica dan Hazel.


"Pstt.., Hades"


Aku berdehem kecil tanpa menoleh padanya. Nasya yang sudah lelah karena ku acuhkan akhirnya terdiam dan memfokuskan dirinya pada papan tulis.


Saat kami fokus mengerjakan soal latihan Matematika, tiba-tiba saja televisi di kelas kami menyala dengan sendirinya. Aku mengepalkan kedua tanganku melihat vidio yang terputar di televisi itu. Sial, Angelica dan Hazel ingin sekali aku mengubur kedua orang itu hidup-hidup. Bagaimana bisa memutar vidio tak senonoh ini di hadapan guru-guru dan murid-murid sekolah. Apa mereka tidak punya otak!


"Hades, Persephone pasti ketakutan"


Mendengar ucapan Nasya membuatku merasa amat geram. Dengan spontan aku berdiri dan meminta ijin pada guru matematika untuk mematikan televisi itu di ruang kontrol.


Saat aku menyusuri koridor, secara tak sengaja aku berpapasan dengan Angelica dan Hazel yang berlari tergesa-gesa. Aku menggeleng menatap kedua manusia itu yang memanjat pagar sekolah dan melompat untuk keluar. Untung saja tak ada satpam yang mengawasi, kalau tidak sudah pasti mereka benar-benar akan dikeluarkan dari sekolah.


"Kak, apa televisinya sudah dimatikan?"


Aku menggeleng menatap laki-laki berkaca mata yang berlari menuju ruang kontrol. Sepertinya dia seangkatan denganku dan mengira bahwa aku adalah kakak kelasnya.


"Belum, aku juga mau mematikannya"


Anak berkacamata itu segera menngangguk dan berjalan mendahuluiku menuju ruang kontrol. Setelah televisi itu dimatikan, aku kembali ke kelas dengan keadaan gusar. Entahlah, perasaanku tidak enak. Apakah Persephone baik-baik saja?


...


"Hades tunggu, aku juga mau ke kelas Persephone"


Aku melipat kedua tanganku di depan dada sembari menunggu Nasya selesai membereskan bukunya.


Baru saja kami melangkah keluar dari kelas, aku melihat Nathan yang tergesa-gesa menuju kelas Persephone. Aku sangat tidak suka melihat perhatiannya yang berlebihan itu. Tapi bagaimana lagi, laki-laki itu memang lebih pantas menjaga Persephone daripadaku.


Aku menatap Persephone yang duduk di pojok kelas sembari menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan di atas meja. Aku dapat melihat getaran di tubuhnya, dia merasa takut. Ingin sekali aku memeluk tubuh mungilnya dan berkata bahwa kau akan baik-baik saja. Tetapi aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukannya.


Saat ia berdiri sembari menggenggam kotak makan, aku secara tidak sadar memegang pergelangan tangannya. Aku membuang muka menyembunyikan wajah maluku. Bisa-bisanya tanganku bergerak sendiri, kurang ajar.


"Kenapa? Ayo"


Aku menarik tangannya menuju kantin mengabaikan tatapan Nathan yang memanas. Kan cemburu, emangnya enak. Siapa suru kau mengingikan punyaku.


"AAAAAA"


Aku terperanjak kaget. Kami semua mencari asal suara teriakan itu. Aku melirik ke arah Persephone yang telah menjatuhkan kotak makannya. Sial, ini pasti berhubungan dengan vidio itu.


"Ada apa?"


"Apa itu?"


"Kenapa?"


Saat Persephone hendak melangkah menuju asal suara teriakan itu, aku menahannya. Percayalah jantungku sudah berdetak tidak karuan. Aku takut hal ini akan menyiksaku dan Persephone.


Persephone menatapku sembari tersenyum kecil, ia meyakinkanku bahwa dirinya akan baik-baik saja. Tanpa melepas genggaman kami, aku berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju deretan kelas IPA.


Aku melihat tatapan orang-orang yang cemas dan takut menatap ke dalam toilet wanita. Aku memberhentikan langkahku, tak berani melangkah lebih dekat lagi. Entah sejak kapan, genggamanku pada lengan Persephone terlepas. Aku melihat Persephone yang sudah berjalan mendekati krumunan itu, hingga Nathan menutup kedua matanya dan menariknya ke arahku.


Persephone tersungkur dengan tubuh yang bergetar hebat, air matanya menetes membasahi lantai. Aku sudah tidak kuat lagi, nafasku mulai tak beraturan. Aku memegang dadaku yang seperti tertusuk puluhan paku. Sakit, sangat sakit sekali.


Sekelibatan kejadian itu, tubuh gadis mungil dengan kepala yang bersimbah darah. Membuatku merasa sesak dan mual. Lebih baik aku cepat pergi sebelum semuanya terlambat.


Dengan kepala yang mulai terhuyung-huyung aku berjalan meninggalkannya. Aku memegang tembok dan menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Aku harus cepat sampai di kelas, aku harus meminum obat itu. Baru saja mencapai pintu kelas, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Tubuhku ambruk dan semuanya berubah menjadi hitam.


[Hades POV - END]


.


.


.


.


TBC 🖤