
"Tunggu, kalian gak bisa langsung nuduh orang tanpa buktikan?"
Nathan membuka suaranya untuk menjunjung tinggi keadilan. Tidak heran, calon dokter yang satu ini memang anti sama tuduh menuduh. Ibunya adalah salah satu pengacara yang terkenal di negara ini, membuat dia sangat berhati-hati dalam berbicara maupun bertindak.
"Selebaran itu adalah bukti, tapi udah di musnahkan sama satu orang ini!"
Hades melirik ke arah Angelica dengan kesal. Angelica hanya bisa berdecak kecil dan mengalihkan padangannya pura-pura tidak tau.
"Kan ada CCTV Mall"
Aku berusaha membela Angelica yang sedang dipojokkan oleh Hades. Angelica membalasku dengan senyum malaikatnya dan segera bergelayut manja di pundakku. Baiklah, untuk kali ini saja aku akan membiarkannya menempel padaku, meskipun aku sangat merasa risih.
"Tidak mungkin pihak Mall mau memberikan rekaman CCTV pada anak SMA seperti kita"
Celetuk Hazel yang tidak setuju dengan ideku. Mendengar hal itu aku memasang ekspresi sombong. Kau belum tau saja siapa itu Persephone!
"Gampang, aku bisa minta tolong pada ayahku"
Aku masih terus memasang ekspresi sombong. Sementara Hades sudah memutar bola matanya jengkel. Bagaimana tidak jengkel, dia sudah tau latar belakang keluargaku yang tidak biasa ini.
"Sombong!"
Teriak Nathan sembari ikut memutar bola matanya jengkel. Aku membalasnya dengan cekikikan. Bukan salahku kan kalau terlahir di keluarga yang tidak biasa. Kapan lagi bisa menyombongkan hal seperti ini.
"Kau mau beralasan apa pada paman Navero?"
Hades memasang wajah curiga. Cih, dia sudah tau niatku untuk menjual namanya ternyata.
"Aku tinggal bilang tas Hades menghilang saat kami sedang jalan-jalan"
Jawabku tanpa dosa sembari mengangkat bahu. Hades menghela napas, ia manatapku sekan berkata 'aku sudah tau niat busukmu'.
"Sana telepon dulu ayah kesayanganmu itu"
Aku segera mengangguk dan beranjak menjauh dari ruang tamu. Aku mengambil handphoneku yang kutinggalkan di atas meja makan. Setelah itu aku menekan tombol hijau di kontak bernama 'Ayahku tercinta ❤'.
"Halo, Apa kabar ayah!"
Aku memekik senang saat nada dering telepon berganti dengan nada tersambung. Suara bising keramaian membuatku menautkan alis. Apakah sekarang ayah sedang berada di luar.
"Halo Persephone! Ayah baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik-baik saja ayah"
Aku tersenyum kecut. Bagaimana bisa aku merasa baik-baik saja disaat masalah sedang menimpaku saat ini. Meskipun begitu aku harus berbohong agar dirinya tidak merasa khawatir.
"Ayah, aku mau meminta bantuanmu"
Ucapku dengan nada memohon.
"Katakan saja apa yang kau butuhkan sayang"
Aku tersenyum senang, memang ayahku Navero yang terbaik. Tidak perlu bersusah payah, dia akan mengabulkan semua permintaanku.
"Kemarin aku dan Hades jalan-jalan ke Mall XXX, lalu tanpa sadar Hades meninggalkan tasnya di salah satu bangku Mall dan saat kami kembali, tas itu sudah menghilang ayah!"
Pekikku seakan menjiwai peran drama yang sedang kumainkan.
"Kau ingin ayah mencarikan tas Hades?"
Aku spontan menggelengkan kepala, walaupun hal itu sudah pasti tidak akan terlihat oleh ayah.
"Aku tidak mau merepotkanmu ayah, aku hanya memerlukan rekamanan CCTV untuk menangkap pelakunya"
Ucapku dengan suara memelas. Sepertinya aku harus masuk ke ekstrakulikuler theater agar tak menyia-nyiakan kemampuan mendrama ini.
"Baiklah, katakan saja kapan waktu rekaman CCTV yang kau perlukan"
"Hari sabtu kemarin Ayah, sekitar.. pukul 12 siang!"
Ucapku cepat setelah menemukan waktu yang pas dimana aku dan Hazel sampai di Mall XXX.
"Oke, ayah akan mengirimkannya lewat email"
Aku tersenyum puas. Misi pertama sudah terselesaikan dengan mudah. Sebentar lagi aku akan mengetahui siapa biang dalam permasalahan ini. Aku akan membuat orang itu menanggung bayaran yang setimpal.
"Terimakasih ayah, aku merindukanmu!"
"Aku lebih merindukanmu sayang**"
Aku segera mematikan telepon dan berlari menuju ruang tamu. Beberapa pasang mata sudah menatapku meminta jawaban.
"Sudah beres!"
Ucapku sembari menjatuhkan bokong di samping Angelica.
"Bagaimana bisa begitu mudah?"
Hazel menatapku dengan wajah penasaran. Aku tersenyum kecil. Kalau aku beritahu akan dianggap sombong, kalau tidak diberitahu akan dibilang sok misterius. Ah, lagi-lagi aku berada di posisi yang serbasalah.
"Ayahnya adalah usahawan komersial terbesar di negara ini"
Ucap Nathan mewakilkanku. Aku tersenyum membalasnya. Terimakasih Nathan, kau memang laki-laki yang super peka.
"Wah benarkah? Pantas saja kau tidak suka kalau aku traktir"
Hazel berdengus menatapku, membuatku jadi salah tingkah. Padahal alasan utamanya karena aku tidak mau berhutang budi padanya.
"Oh ya, jaketmu kak"
Aku menyodorkan jaket jeans berwarna biru muda di hadapannya. Ini adalah jaket yang dipijamkannya saat mengantarku pulang dari Mall XXX.
"Makasih Persephone"
"Ehem, Ayo tanding PS!"
Ucap Nathan dengan penuh penekanan sambil menyalakan PS. Hades, Hazel, dan Nathan sudah siap dengan stick PSnya masing-masing. Tidak perlu menunggu hingga akhir permainan untuk menentukan pemenangnya. Karena sudah pasti si raja gamer Nathanlah yang akan mendapatkan juara satu.
Kami terus asik bermain PS hingga tak sadar waktu semakin larut. Bahkan Tante Zetha dan Paman Bennedict sudah pulang dengan wajah letihnya sehabis bekerja.
"Wah ramai sekali"
Tante Zetha menyambut kehadiran kami dengan senyum hangatnya. Ia mengajak kami untuk makan malam bersama-sama. Tanpa malu kami melangkahkan kaki mencari tempat duduk yang nyaman di meja makan.
"Masakan tante enak sekali"
Angelica mengangkat jempol sembari mengunyah makanan yang masih berada di mulutnya. Tante Zetha yang medengar pujian itu, tersipu malu. Ia tampak menyukai sikap Angelica yang manis dan ceplas-ceplos.
"Aduh, tante jadi pengen punya anak perempuan seperti kamu"
Kini Angelica yang dibuat tersipu oleh balasan tante Zetha. Ah, mereka cocok sekali seperti mertua dan menantu. Tidak apa tante Zetha, aku benar-benar sangat ikhlas untuk memberikan Hades pada Angelica.
Kami menghabiskan makanan kami dengan sesekali bercanda gurau. Bahkan tak segan-segan Nathan menyindir Hades dihadapan Tante Zetha dan Paman Bennedict.
"Hades, Persephone buatku saja ya. Sepertinya Tante Zetha lebih suka Angelica untuk menjadi menantunya"
Tante Zetha hanya menanggapi gurauan tersebut dengan gelak tawa. Berbeda dengan Hades yang sudah menampilkan ekspresi berapi-apinya pada Nathan. Aku menghela napas melihat tingkah keduanya, pertengakaran Raja Es Balok dan Raja Matahari kembali dimulai.
...
Aku keluar dari kamar mandi dan segera mengganti handuk yang melilit di tubuhku dengan piyama berwarna biru laut. Aku menjatuhkan badanku dengan kasar di atas ranjang, sembari meraih handphone di atas nakas.
Aku menatap sebuah email yang masuk dari perusahaan ayahku. Aku membuka email tersebut dan mendapatkan beberapa rekaman CCTV yang ada di Mall XXX. Tanpa berlama-lama, aku segera mengirim rekaman tersebut ke Hazel, karena dialah yang paling kenal siapa dalang dari masalah ini.
Karena iseng, aku juga coba membuka-buka isi rekaman CCTV tersebut. Tetapi setelah beberapa menit ku cari-cari, tidak ada tanda-tanda orang yang mencurigakan di sekelilingku dan Hazel. Apakah orang ini pandai bersembunyi. Aneh sekali!
Aku kembali menaruh handphoneku di atas nakas dan mencoba untuk tertidur. Baru saja beberapa detik aku memejamkan mata, bayangan tatapan mengerikan orang-orang kembali membuat jantungku berpacu dengan cepat. Aku segera bangkit dari atas ranjang dan meneguk segelas air. Aku mengusap kasar wajahku, bagaimana aku bisa tetidur dengan tenang malam ini.
Aku dengan perlahan membuka pintu kamar dan mengendap-ngendap menatap sekeliling rumah yang sudah sepi. Pasti Tante Zetha dan Paman Bennedict sudah tertidur. Bagaimana ini, apakah aku harus meminta Hades untuk menemaniku. Aduh, tapi aku malu sekali. Kalau dia menganggapku aneh bagaimana.
Aku berdiri termangu menatap pintu kamar Hades. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Bodoamat dengan harga diri, kesehatan psikisku saat ini lebih penting.
"Ada apa?"
Aku menatap wajah Hades yang sudah menahan kantuk. Rambutnya sedikit acak-acakkan dengan memakai piyama yang berwarna senada dengan punyaku. Duh, bisa samaan gini jadi tambah malu.
"Hm, apa aku boleh tidur bersamamu?"
Hades mengerutkan dahinya. Ia tampak sedikit kaget dengan pertanyaan yang ku lontarkan. Apa kata-kataku agak ambigu ya.
"Kenapa?"
Aku menghela napas, bukan Hades namanya kalau tidak banyak bertanya.
"Aku takut tidur sendiri"
Ucapku lirih sembari menunduk menahan malu. Bayangkan seorang gadis yang sudah SMA masih takut untuk tidur sendiri, sangat memalukan bukan?
"Masuklah"
"Eh?!"
Aku menatapnya bingung. Aku pikir dia akan menertawaiku, mengusirku, atau melakukan hal kejam lainnya. Benar-benar respon yang tak kusangka-sangka.
"Mau masuk tidak?"
Aku dengan cepat mengangguk dan segera masuk ke dalam kamarnya. Entah mengapa atmosfir di kamar tidur Hades membuat bulu kudukku naik. Apakah karena aku berduaan saja bersama si Raja es balok ini.
"Sini"
Hades menepuk-nepuk sisi ranjang sebelah kanannya. Dengan pipi yang perlahan memanas, aku beranjak naik dan membaringkan diriku di sampingnya. Duh malu banget, posisi kayak gini berasa pengantin baru aja. Apa lagi piyama kami berwarna senada jadi menambah kesan romantis.
"Tidurlah"
Hades mengelus rambutku pelan, membuat jantungku berpacu dengan cepat. Kalau begini sama saja aku tidak bisa tertidur dengan tenang.
"Hades, bisakah kau menyanyikan satu lagu untukku?"
Hades menghela napas, ia segera melantunkan sebuah lagu dengan suara merdunya. Aku memejamkan mata menikmati alunan itu di dalam tidurku. Belaian tangannya di rambutku seakan menghipnotisku untuk semakin larut dalam mimpi. Nyaman, tenang, dan teduh memenuhi hati dan pikiranku. Mengusir semua rasa takut yang sebelumnya ku rasa.
Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik baik saja
Kita hanyalah manusia
Wajar jika tak sempurna
Saat kau merasa gundah
Lihat hatimu percayalah
Segala sesuatu yang pelik
Bisa diringankan dengan peluk
.
.
.
.
Adakah yang bisa nebak lagu apa yang dinyanyiin Hades? (Tulis di komentar ya) 😲💖