Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 16 - Awal Masalah



Hari Senin, merupakan hari kedua dalam satu pekan setelah hari Minggu. Hari Senin adalah hari yang paling dibenci oleh seluruh manusia di muka bumi. Terutama bagi mereka yang harus memaksakan diri untuk bangun dari mimpi yang indah. Tak terkecuali diriku sendiri. Alarm yang berbunyi nyaring itu adalah musuh berbuyutanku. Ia selalu menghancurkan khayalan indahku dan menimpanya dengan sebuah kenyataan pahit.


Aku beranjak dari atas ranjang. Mematikan alarm dengan kasar dan berjalan menuju kamar mandi. Aku membersihkan diri sekedarnya, yang penting kelihatan cantik dan wangi.


"Persephone, ayo sarapan!"


Suara Tante Zetha yang nyaring masuk hingga ke kamar tidurku. Bau nasi goreng yang menyeruak juga membuatku tidak bisa untuk tidak tergoda. Aku segera memakai dasi berwarna abu-abu khas anak SMA. Setelah itu berjalan keluar menuju ruang makan.


Aku mengambil tempat duduk kesukaanku, di samping Hades. Bukan berarti aku suka berdekatan dengan Hades ya, namun posisi ini sudah menjadi kebiasaanku saja.


Senyuman Tante Zetha menyambutku yang telah duduk di hadapannya. Ia mengambil sepiring nasi goreng dan memberikannya kepadaku. Tanpa malu, aku menghabiskan nasi goreng buatan Tante Zetha hingga tak bersisa.


"Ini bekal kalian, jangan sampai kelupaan"


Tante Zetha menyodorkan dua kotak makan kepadaku dan Hades secara bergantian. Aku menerimanya dengan senyuman yang menyiratkan terimakasih.


Aku dan Hades berjalan beriringan menuju mobil putih yang sudah terpakir di depan rumah Hades. Pak Kasim yang melihat kami sudah duduk rapih di kursi penumpang segera menjalankan mobilnya.


"Kamu bawa jaket siapa itu?"


Hades memecah keheningan sambil melirik ke arah jaket jeans yang berada di atas pangkuanku.


"Oh ini, punya kakak kelas mau aku balikin"


Jawabku santai yang menambah rasa penasaran Hades. Tolong jangan tanya kakak kelasnya cewek atau cowok. Aku sangat malas harus menjelaskan padanya dan juga Pak Kasim yang siap melaporkan segalanya pada Ibu.


"Kakak kelasmu itu cewek atau cowok?"


Aku mengigit bibirku, gemas. Pak Kasim sudah melirik ke arahku dan Hades lewat kaca spion. Kalau aku berbohong sekarang Hades malah akan bertambah curiga. Tetapi kalau aku tidak berbohong Pak Kasim akan mengadukannya pada Ibu. Serbasalah.


"Keduanya"


Ucapku mencari jalan tengah. Kalau begini aku tidak akan mendapat masalahkan.


"Kau mau aku percaya bahwa pemilik jaket itu ada dua orang?"


Aku ingin sekali menyumpal mulut Hades sekarang. Bisakah dia tidak kembali bertanya yang aneh-aneh. Apa dia tidak sadar Pak Kasim sudah memasang seribu telinga untuk mendengarkan.


"Mungkin"


Hades berdecak sebal. Aku tersenyum puas. Tuhkan dia sudah tidak tau harus mengajukan pertanyaan apa lagi untuk memancingku.


"Dari ukurannya, jaket itu pasti punya cowok"


Kini aku menatapnya sebal. Sudah tidak bertanya sih tapi kenapa dia jadi sok tau begitu.


"Ini jaket oversize, jangan sok tau"


Aku memasang senyum sinis memandangnya. Hades hanya bisa terdiam, tetapi dari sorot matanya ia menyimpan rasa penasaran.


Aku turun dari atas mobil setelah Pak Kasim memberhentikannya di depan gerbang sekolah. Aku mempercepat langkahku untuk meninggalkan Hades. Namun Hades malah ikut-ikutan mempercepat langkahnya untuk menyamaiku. Kami seperti adu jalan cepat dan memancing berbagai pasang mata menatap kelakuan aneh kami.


"Jangan ikuti aku!"


Aku memberhentikan langkahku dan menatap Hades kesal. Namun bukannya ikut berhenti Hades melengos begitu saja tidak memperdulikan ucapanku. Aku menghentakkan kakiku kesal, sialan bocah itu mempermainkanku ternyata.


Sepajang aku berjalan di koridor, aku merasakan hawa-hawa buruk sedang menimpaku. Berbagai pasang mata menatapku dan mencibir. Tak hanya satu orang namun semuanya seperti mencibir diriku. Aduh, apa ini perasaanku aja?


Aku menatap sekrumunan orang-orang yang berdiri di depan papan pengumuman. Aku dengan rasa penasaran melangkahkan kaki mendekati krumunan tersebut. Aku melihat sebuah selebaran bertuliskan 'Adik kelas genit yang menggoda Ketua Osis SMA Nusantara' bersamaan dengan foto-fotoku dan Hazel di Mall XXX. Aku mengigit bibirku menahan amarah. Sial, siapa yang mengambil fotoku bersama Hazel dan melakukan hal kekanakan kayak gini!


"Oh ini dia si adik kelas genit"


Aku menoleh menatap kakak kelas dengan rambut coklat yang tidak alami, seragam yang sengaja dikecilkan, dan bibir semerah cabai. Ternyata aslinya kayak gini cabe-cabean yang aku suka liat di sinetron.


"Harus dikasih pelajaran ga sih adik kelas genit yang satu ini?"


Aku mengerucutkan bibirku, sebal. Apa dia tidak mengaca siapa yang lebih genit disini. Aku yang memakai seragam kebesaran dengan rapih, atau dia yang memakai seragam super ketat itu.


Baru saja aku ingin mengabaikannya dan hendak berjalan menjauh, tiba-tiba tanganku ditarik dengan keras dan diseret menuju belakang kantin. Aku meringis saat kukunya yang tajam itu merobek pergelangan tanganku.


Plak...


"Ini pelajaran supaya kamu tidak kegatelan dengan Hazel!"


Bentaknya membuatku terduduk takut. Andai aku punya keberanian untuk membalas tamparan ini. Namun aku adalah seorang pengecut yang hanya bisa berandai-andai. Lagipula 3 lawan 1 siapa yang berani melawan.


"Persephone!"


Aku mengangkat kepala menatap seseorang yang ku kenal berlari mendekat. Ia memasang wajah berapi-api melihat kondisiku saat ini.


"Sialan, berani-beraninya kalian!"


Ia mengangkat tangannya hendak membalas tamparan di wajah kakak kelas itu. Aku menutup kedua mataku tidak mau menyaksikan kejadian ini.


Plak...


Tamparan itu mulus mengenai wajah kakak kelas berambut coklat itu. Ia meringis, aku juga ikutan meringis melihatnya. Tamparan itu lebih keras dari yang ia lakukan sebelumnya padaku. Jelaslah tenaga perempuan dan laki-laki kan berbeda.


"Persephone, apa kau baik-baik saja?"


Aku menggeleng menatapnya yang telah berjongkok di hadapanku. Ia segera menarikku ke dalam pelukannya. Aku kembali meteskan air mata, hatiku sakit. Kenapa aku selalu mendapat perlakuan seperti ini. Sebenarnya apa salahku.


"Mau kugendong?"


Tanyanya yang membuatku melepaskan pelukan kami. Bisa-bisanya mencari kesempatan disaat seperti ini.


"Tidak, makasih Nathan"


Aku beranjak berdiri diikuti Nathan yang membantuku. Tubuhku masih menyisakan getaran ketakutan. Jantungku masih berdetak tak terkontrol. Hatiku masih terasa sakit. Dan pipiku masih memanas akibat tamparan tadi.


"Nathan aku tidak ingin bersekolah"


Rengekku padanya. Ia mengangguk mengambil tasku yang sudah terpental cukup jauh dan menemaniku berjalan keluar dari area sekolah. Beberapa pasang mata menatap kami sinis. Lagi-lagi perasaan takut yang telah lama hilang itu kembali muncul. Tanganku bergetar dengan hebat diikuti kepalaku yang terasa berputar-putar. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku merasa lemas jatuh di pelukkan Nathan.


"Persephone, ada apa denganmu?!"


Nathan mengoyang-goyang tubuhku. Sedetik kemudian ia mengendongku ala bridal style dan membawaku menuju parkiran. Ia mendudukanku di atas kursi mobil. Setelah itu ia memutari mobil dan mendarat di kursi kemudi.


"Aku mengantarkanmu ke rumah Hades saja ya?"


Aku mengangguk kecil sembari memejamkan kedua mataku. Bayangan tatapan mengerikan orang-orang kepadaku membuatku gemetar takut. Aku merasa sangat mual dan pusing.


"Na..than, tolong o..batku"


Aku menunjuk ke arah tasku dengan lemas. Nathan yang melihat hal itu segera mengambil dan mengacak-ngacak isi tasku. Ia memberikanku sebotol kecil berisi obat berwarna putih. Aku mengambil 3 butir obat dan langsung menelannya sekaligus tanpa air.


"Ini minumlah Persephone"


Nathan yang terkejut melihat tindakanku segera menyodorkan sebotol air. Aku mengambil dan meneguk air di dalam botol itu dengan cepat. Lagi-lagi air mataku kembali menetes. Hatiku seperti teriris-iris tanpa hal yang jelas.


"Kemarilah, tenangkan dirimu"


Nathan kembali merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Aku membenamkan wajahku ke dadanya dan mulai terisak. Aku menangis sejadi-jadinya meluapkan semua perasaan yang menyelimutiku.


"It's okay, you're gonna be okay"


Ucapnya menenangkanku. Ia mengusap-ngusap bahuku lembut hingga seluruh bebanku seakan luntur tergantikan oleh perasaan nyaman.


.


.


.


.


Satu kata untuk cabe-cabean? (Tulis di komentar ya guys)