
Aku terlonjak kaget saat seseorang menepuk pundakku. Seketika hawa dingin menusuk membuatku merinding, ini pertanda buruk. Aku dengan takut-takut menghadap ke belakang. Aku mendongak menatap wajah Hades yang datar tanpa ekspresi. Dalam hati aku merutuki nasib sialku ini, untuk apa Hades menghampiriku segala.
Aku menatap ketiga orang di belakangnya. Dua dari ketiga orang itu adalah sahabat Hades sejak kecil. Dylan dan Nathan, aku sering bertemu dengan mereka saat berkunjung ke rumah Hades.
"Hai Persephone!"
Salah satu sahabat Hades menyapaku dengan senyum sumringahnya.
"Eh, halo Nathan"
Aku membalas sapaan itu dengan senyum tipis.
"Kami boleh makan bareng kan, ratu?"
Hades membuka suaranya. Angelica tampak semangat mempersilahkan Hades untuk duduk di sampingnya. Tanpa menghiraukan Angelica, Hades berjalan dan duduk di sampingku. Jantungku kembali berdegup kencang, ini sih Hades seperti ingin memancing peperangan.
Aku menatap salah satu teman Hades yang terlihat asing itu dengan tatapan bingung. Nathan yang seakan mengerti dengan ekpresi wajahku menyikut teman di sebelahnya.
"Aduh, apa sih Nathan!"
Aku terkekeh menatap wajah sewot laki-laki itu saat disikut Nathan.
"Tuh, kenalan dulu sama ratunya Hades"
Aku melotot mendengar ucapan Nathan. Astaga, apanya ratunya Hades. Aku melirik sedikit ke arah Angelica yang menatap Nathan dengan tatapan bingung.
"Oh, halo namaku Louis dari 10 IPS 3"
Aku tersenyum tipis menatap Louis yang sedang memperkenalkan dirinya.
"Aku Persephone TEMAN Hades dari 10 IPS 1"
Penekanan kata teman di ucapanku membuat Hades berdengus kesal. Eh, kenapa dia kelihatan kesal begitu. Memang aku harus sebut apa lagi kalau bukan teman. Masa aku harus menyebutnya calon tunanganku, bisa-bisa aku dihabisi oleh Angelica.
"Kenalin juga temanku, Angelica dan Nasya"
Aku menunjuk ke arah Angelica dan Nasya yang terdiam sedari tadi. Angelica menampilkan senyum manisnya, membuat beberapa kaum adam terpesona.
"Angelica minta nomormu dong!"
Dylan tanpa malu menyodorkan handphonenya pada Angelica. Aku menganga tak percaya akan kelakuan laki-laki yang terkenal playboy itu. Angelica terdiam, ia terlihat tak nyaman dan bingung harus bereaksi seperti apa.
"Dylan, kau bisa tidak mengurangi sikap playboymu itu!"
Hades membentak Dylan dengan ketus. Dylan membalasnya dengan decakan kecil. Angelica menatap keduanya dengan wajah sok polos. Dasar Angelica, pasti ia sedang senang dibela Hades seperti itu. Tapi kenapa aku merasa sakit begini ya, masa ia aku cemburu. Tidak, tidak itu mustahil.
"Ehem"
Louis berdehem membuat kami semua menatap ke arahnya. Ia yang menjadi bahan perhatian mengangkat bahu dan dengan santai memakan bakso di hadapannya.
...
Istirahat telah berakhir. Aku dan Angelica kembali ke kelas kami. Aku menatap Angelica yang sedari tadi tak bisa menutupi ekspresi bahagianya. Sebelum istirahat berakhir, ia memang sempat bercakap-cakap dengan Hades. Ia juga sempat menanyakan nomor Hades dan dengan santainya Hades menjawab 'Minta saja sama Persephone'. Tentu aku merasa kesal, aku seperti teseret di dalam hubungan ke dua orang itu.
"Persephone, jangan lupa berikan aku nomor Hades ya"
Angelica berbisik di sela-sela pelajaran. Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.
Pelajaran demi pelajaran akhirnya berakhir. Angelica mengusap pipinya yang sakit akibat terlalu lama tertidur di atas meja. Aku menggeleng menatap kelakuannya itu. Tak ada satupun pelajaran yang berhasil membuat Angelica tak tertidur.
"Hoam, guru adalah pendongeng terbaik"
Angelica merentangkan tangannya ke atas. Aku terkekeh menatapnya, itu sih bukan salah gurunya memang kamu saja yang pemalas.
"Angelica aku keluar duluan ya"
Angelica mengangguk menjawabku. Aku segera memikul tas dan keluar menuju parkiran. Lagi-lagi harus menunggu Hades, menyebalkan sekali.
Tring
Aku menatap handphoneku yang berbunyi, menandakan pesan masuk. Hades mengirimku sebuah pesan singkat.
'Persephone pulanglah sendiri. Aku masih ada urusan di sekolah'
Aku menunjukkan pesan masuk tersebut ke arah Pak Kasim. Pak Kasim yang mengerti segera mengangguk menjalankan mobilnya. Untunglah kali ini aku tak harus semobil dengan makhluk menyebalkan itu.
"Pak, antarkan saya ke rumah Sarah saja"
Tiba-tiba aku teringat akan wajah sarah yang selalu ceria. Aku rindu sahabatku itu, sudah lama kami tidak bertemu. Semoga hari ini dia ada di rumah.
"Baik non"
Pak Kasim terus melajukan mobilnya memasuki kawasan pinggiran kota. Hingga kami berhenti di depan rumah sederhana bercat hitam.
-Ilustrasi rumah Sarah-
Aku mengucapkan terimakasih pada Pak Kasim dan segera turun memencet bel rumah tersebut. Aku memang tidak mengabari Sarah bahwa akan berkunjung ke rumahnya. Aku mau ini menjadi kejutan untuknya.
Ceklek
Seorang wanita paruh baya keluar menatapku sambil tersenyun manis. Ah, ibu dan anak sama-sama memiliki wajah yang manis.
"Halo tante, sarahnya ada di rumah tidak?"
Tante Hana, ibu dari Sarah mempersilahkanku masuk. Aku mengangguk dan mengekorinya dari belakang.
"Naik aja sayang, Sarahnya ada di kamar"
"Baik tante"
Tok.. tok..
Aku mengetuk pintu kamar Sarah. Merasa tak ada jawaban aku kembali mengetuk dengan lebih keras.
Sarah dengan kasar membuka pintu. Ia tampak kaget menatapku yang kini berdiri di hadapannya.
"Persephone!"
Ia memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya seraya tersenyum senang.
"Kok kamu gak kabarin dulu kalau mau datang?"
Sarah menatapku meminta penjelasan sembari menarik tanganku memasuki kamar tidurnya.
"Kejutan dong!"
Aku menjawab dengan penuh semangat. Sarah tertawa, kini kami duduk bersampingan di pinggir ranjang.
"Bagaimana kabarmu Persephone? Apakah sekolahmu lancar?"
Aku mengangguk menceritakan awalku masuk sekolah hingga hari ini. Aku dan Sarah memang suka bertukar cerita. Tak ada rahasia di antara persahabatan kami.
"Temanmu Angelica suka sama Hades?"
Sarah memekik kaget saat aku selesai bercerita. Aku dengan cemberut mengangguk membuat sarah menghela napas.
"Harusnya kau bilang saja pada Angelica bahwa kau adalah calon tunangannya Hades!"
Aku menggeleng dengan cepat mendengar saran dari Sarah.
"Tidak, aku masuk ke sekolah umum untuk membatalkan perjodohan kami. Masa sekarang aku malah mengakui bahwa Hades adalah calon tunanganku. Aku tidak mau!"
Aku mengerutu kesal sambil mengembungkan pipiku. Sarah mengangguk tanda bahwa ia mengerti.
"Oh ya, aku lupa memberikan nomor Hades ke Angelica"
Aku menepuk jidat sembari mengambil handphone dari kantong rok putih abu-abuku. Aku melihat belasan pesan masuk dari Angelica.
'Persephone mana nomor Hades'
'Kasih aku nomor Hades'
'Persephone!!'
'Nomor Hades!"
Aku menggeleng saat membuka isi pesan dari Angelica. Merepotkan sekali angsa yang satu ini. Dengan cepat aku mengirimkan kontak Hades padanya.
"Astaga dia sampe spam chat begitu"
Sarah yang melirik ke arah handphoneku kini mengerutu kesal. Kalau Sarah saja merasa kesal bagaimana denganku yang menjadi korban.
"Aku bingung memangnya Hades setampan apa sampai semua wanita mengejarnya"
Aku menatap Sarah yang tampak bingung. Benar juga, Sarah belum pernah melihat rupa dari manusia menyebalkan itu. Aku segera membuka gallery di handphoneku dan menunjukkan wajah seorang laki-laki tanpa ekpresi kepadanya.
"Ini Hades?"
Sarah melihat wajah seseorang di foto itu dengan wajah penasaran. Aku mengangguk menjawabnya.
"Pantes! ini sih tampan banget"
Aku mengerutkan dahi menatap foto Hades di handphoneku. Apanya yang tampan, muka triplek datar begini di bilang tampan sama Sarah. Apa sahabatku ini sudah katarak?
"Hah?! dimana letak tampannya?"
Aku menatap Sarah dengan wajah tidak setuju. Sarah hanya menghela napas dan menatapku penuh arti. Apasih maksud dari tatapannya itu, aku jadi bingung.
"Kau hanya tidak mau mengakui ketampanannya Persephone"
Aku mengerucutkan bibirku kesal. Orang memang tidak tampan. Wajah triplek seperti itu bukan tipeku banget.
Seketika saja terlintas wajah Hades tadi pagi saat kami berangkat bersama ke sekolah. Wajah teduhnya saat memejamkan mata, cukup tampan sih. Ah, aku pasti sudah gila. Untuk apa aku mengakui ketampanannya.
"Tuh kan bengong mikirin Hades"
Aku memukul pundak Sarah dengan kesal.
"Tidak!"
Sarah meringis, mengusap-ngusap pundaknnya yang ku pukul.
"Sakit tau, jangan main fisik dong"
Kini sarah menatapku dengan wajah yang di tekuk.
"Salah sendiri nuduh sembarangan gitu"
Aku yang tidak terima kembali membuka suara untuk membela diri. Hingga beberapa menit setelah pertengkaran kecil itu aku dan Sarah sama-sama tertawa, merutuki kebodohan masing-masing.
.
.
.
.
Hayo jangan lupa vote, like, dan komennya ya! Makasih 🖤