
Aku menatap langit-langit kamar yang di penuhi dengan stiker bintang yang akan bercahaya di kegelapan. Aku tersenyum, mengingat kejadian beberapa tahun lalu setelah keluargaku pindah ke rumah baru ini.
*Waktu itu Persephone kecil terus saja merengek meminta orangtuanya untuk kembali ke rumah lama. Ia merasa tidak nyaman di lingkungan ini. Tak ada lagi suara sayup-sayup anak tetangga yang berteriak. Saat menatap keluar jendela ia tak dapat lagi menemukan orang-orang berlalu lalang. Kini yang ia lihat hanya pepohonan yang rindang dengan suara angin yang berhembus kencang.
"Pa, ayo kita balik saja ke rumah lama"
Persephone merengek sambil mengoyang-goyangkan lengan Navero, ayahnya. Navero menghela napas melihat kelakuan anaknya itu. Ia akhirnya mengendong Persephone dan mengajaknya menuju atap rumah. Sesampainya di atap rumah, hembusan angin menerpa wajah Persephone.
"Lihat ke atas Persephone"
Persephone menengadah ke atas. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, merasa takjub dengan pemandangan yang ia tak pernah temukan di rumah lamanya. Berbagai kelap-kelip bintang memenuhi langit dengan indahnya. Bulan yang tampak bersinar paling terang membuat Persephone tersenyum dan menunjuk-nunjuknya.
"Bulannya cantik kan? Seperti anak ayah yang satu ini"
Persephone tertawa senang mendengar pujian ayahnya.
"Ayah, aku mau tidur disini menatap langit"
Navero menggeleng menatap anaknya yang kini berbinar-binar.
"Tidak, nanti kamu sakit Persephone!"
Persephohe mengerucutkan bibirnya kesal. Ia turun dari gendongan ayahnya dan bersikukuh untuk tetap disini menatap langit. Navero lagi-lagi dibuat pusing dengan tingkah anaknya. Ia menggaruk tengkunya yang tidak gatal sambil memandang langit.
"Ah, Persephone bagaimana kalau ayah memindahkan bintang di langit ke kamar tidurmu?"
Persephone menatap ayahnya bingung. Tentu saja untuk anak berusia 12 tahun, ia sudah tau bahwa itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan.
"Ayah kau tak bisa menipuku"
Persephone melingkarkan kedua tangannya di depan dada.
"Ayah tidak menipumu Persephone. Kalau malam ini kau tetap tidur di kamarmu, ayah janji besok malam kau akan melihat bintang di langit-langit kamarmu"
Persephone mengoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Kalau ayah bohong?"
Navero tertawa melihat tingkah polos anaknya itu.
"Kau boleh tidur disini selamanya"
Navero menunjuk di tempatnya berpijak membuat Persephone menampilkan senyum sumringahnya. Persephone yakin bahwa ayahnya tak akan dapat memindahkan bintang di langit ke kamarnya.
"Baik ayah, Persephohe mau tidur di kamar hari ini"
Navero kembali mengendong tubuh kecil Persephone dan merebahkan tubuh anaknya di atas ranjang.
"Selamat tidur Persephone"
Navero mengecup kening anaknya.
"Selamat tidur ayah"
Navero keluar dan menutup pintu kamar Persephone. Persephone menutup kedua matanya sembari memeluk boneka beruang kesayangannya.
Keesokan harinya Persephone terus menunggu di halaman rumah hingga ayahnya pulang kerja. Seorang gadis menatap Persephone yang terduduk sendiri di halaman rumah. Dengan senyumannya dia mengayuhkan sepeda mendekati Persephone.
"Kau orang baru yang menempati rumah ini ya?"
Persephone yang tersadar dari lamunannya menatap seorang gadis yang tengah turun dari sepeda dan duduk di sampingnya.
"Aku Sarah, rumahku disana"
Sarah menunjuk ke ujung jalanan. Persephone yang mengikuti arah telunjuk Sarah tak melihat satu rumahpun. Ia kembali menatap Sarah bingung.
"Ah, sedikit lebih jauh kesana"
Sarah mengayun-ayunkan tangannya ke arah yang sebelumnya ia tunjuk. Persephone mengangguk ia tersenyum, ternyata ia masih dapat bertemu dengan orang lain meskipun tinggalnya cukup jauh dari rumahnya.
"Mau ikut aku bersepeda? Akan ku tunjukkan rumahku"
Persephone mengangguk mengikuti Sarah yang kini menaiki sepedanya.
"Kau duduk di belakang sini"
Persephone duduk di kursi belakang sepeda milik Sarah.
"Kita berangkat!"
Sarah mengayuhkan sepedanya dengan kecepatan sedang. Ia terus mengayuhkan sepedanya jauh dari rumah Persephone. Beberapa rumah kini terlihat dengan jelas berjejer dengan rapih.
"Itu rumahku"
Sarah berteriak saat sampai di depan sebuah rumah kecil bercat hitam. Persephone mengangguk, ia tersenyum kecil. Meskipun masih tersisa perasaan takut saat melihat orang-orang yang berlalu lalang, ia memaksakan dirinya untuk tetap bersikap normal.
"Oh ya, siapa namamu?"
"Persephone"
Persephone berbisik di telinga Sarah. Sarah tersenyum walaupun di dalam hatinya ia bingung mendengar nama yang sangat asing itu.
Seharian Persephone habiskan dengan bersepeda bersama Sarah. Persephone yang jarang membuka suaranya, seakan menjadi tak masalah bagi Sarah. Gadis manis yang baru Persephone tamui hari ini terus bercerita sepanjang perjalanan. Hingga matahari yang kian menurun membuat Sarah kembali mengantar Persephone pulang.
Persephone melambaikan tangannya ke arah Sarah yang kembali mengayuhkan sepedanya menjauh. Ia masuk ke dalam rumah dan disambut orang tuanya yang sedang panik menganggap Persephone menghilang.
"Kau dari mana saja Persephone!"
Teriakan Millen, ibunya membuat Persephone tertunduk.
"Aku bersepeda bersama Sarah"
Millen memandang Navero yang sama bingungnya dengan nama yang baru di lontarkan Persephone.
"Siapa itu Sarah?"
Navero bertanya sambil mengelus pundak anaknya.
"Anak yang rumahnya jauh disana"
Persephone menunjuk ke arah rumah Sarah. Millen menghela napas, disatu sisi ia merasa senang karena Persephone sudah mau bersosialisasi dengan orang asing.
"Baiklah, kau masih ingat dengan janji ayahkan?"
Navero mengeluarkan sebuah bungkusan berisi tempelan berbentuk bintang. Persephone mengangguk dengan senang mengikuti langkah ayahnya menuju kamar tidurnya.
Ayah persephone menempelkan berbagai stiker bintang tersebut di langit-langit kamar Persephone. Setelah itu Navero mematikan lampu membuat Persephone takjub menatap langit-langit kamarnya yang kini bercahaya dengan bintang-bintang.
"Ayah kau hebat"
Persephone memeluk tubuh ayahnya dengan erat. Navero tersenyum puas membalas pelukan anaknya*.
...
Kini aku tengah duduk di meja makan bersama dengan ayah, ibu, dan adik kecilku. Aku menyendok nasi goreng buatan ibu dan melahapnya dengan cepat.
"Haduh, aku akan telat ibu"
Sebelum nasi goreng dihadapanku habis, aku segera beranjak mengambil tas. Millen yang menatap kelakuan anaknya itu menggeleng sembari menghela napas.
"Lagian ibu sih, kenapa aku harus jemput Hades terlebih dahulu?"
Aku berdengus dengan kesal mendengar titah ibu pagi ini yang menyuruhku untuk menjemput Hades dan berangkat bersama ke sekolah.
"Persephone, bahaya Hades harus mengendarai mobilnya sendiri. Ia belum memiliki SIM"
Ah, itu hanya alasan ibu saja untuk mendekatkanku dengan Hades. Padahal sebelumnya tak ada masalah bila Hades mengendarai mobilnya sendiri.
"Terserah, Persephone pergi"
Aku menjawab ibu dengan ketus. Sebelum Milllen kembali membuka suaranya, aku sudah berlari kecil menuju garasi dan masuk ke dalam mobil.
"Pak, ayo jalan!"
Pak Kasim mengangguk menajalankan mobilnya menuju rumah Hades. Saat aku memasuki komplek rumah yang tak asing itu tiba-tiba saja jantungku berdegup dengan kencang. Aku kenapa sih dari kemarin, ini aneh sekali kenapa aku merasa gugup begini.
Aku menatap rumah Hades yang sudah di depan mata. Hades yang menunggu di depan rumahnya, berjalan mendekati mobilku. Ia membuka pintu mobil dan duduk di sampingku seperti kemarin. Pak Kasim kembali menjalankan mobilnya. Kami diam membisu dan tak menatap satu sama lain. Jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya, membuatku keringat dingin.
"Kau kenapa? kau sakit?"
Aku terlonjak kaget dan menggeleng dengan cepat. Aduh, bahkan Hades menyadari tingkah laku ku yang jadi aneh begini.
"Kemari"
Hades menarik lenganku mendekat ke arahnya. Ia mengarahkan tangannya menyentuh keningku. Saat tangannya menyentuh keningku seperti ada sengatan listrik mengalir ke tubuhku. Tanpa sadar aku mendorong tubuhnya menjauh. Aku memegang dadaku yang kian berdegup dengan kencang.
"Kau ini kenapa sih? aneh"
Hades menatapku dengah tatapan bingung sambil berdengus sebal. Aku menjawabnya dengan gelenggan dan melemparkan pandanganku ke luar jendela. Aku menatap jalanan sembari berusaha untuk menetralkan detak jantungku.
Aku melirik ke arah Hades yang sedang memejamkan kedua matanya. Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama, membuat pipiku memanas. Kenapa dia jadi tampan begini sih.
"Ratu, jangan-jangan kau suka padaku ya?"
Hades membuka matanya, kini kami beradu pandang membuatku malu setengah mati. Astaga, apa dia sadar kalau aku memperhatikan wajahnya sedari tadi.
"Hah, jangan harap!"
Aku kembali melemparkan pandanganku keluar jendela. Terdengar decakan kecil dari mulut Hades.
"Aku juga tak berharap kau akan menyukaiku"
Aku mengepalkan kedua tanganku kesal mendengar balasan yang dilontarkan Hades. Sampai matipun aku tak akan menyukai pria menyebalkan sepertimu!
.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, DAN KOMENNYA YA. SEMAKIN BANYAK YANG LIKE, SEMAKIN CEPAT JUGA NOVEL INI UP. MAKASIH 🖤