
Akhirnya aku sampai juga di sekolah. Bersebelahan dengan Hades dalan waktu yang lama membuat energiku terkuras. Aku berjalan dengan lunglai menuju kelas, meninggalkan Hades di belakang.
Aku duduk sama seperti kemarin di pojok kelas dekat jendela. Angelica masih belum nampak batang hidungnya. Setelah kupikir-pikir, aku merasa tidak nyaman dengan gadis itu karena ia mirip sekali dengan Agnes. Mulai dari cara bicaranya, gayanya, hingga ekspresinya benar-benar mirip sekali dengan Agnes. Bahkan nama mereka sama-sama berawalan huruf A. Menyebalkan, aku harus menjauhi gadis itu. Tetapi di satu titik aku merasa ragu. Mungkin saja Angelica berbeda dengan Agnes. Ia tak akan menusuk ku dari belakang seperti kejadian waktu itu. Bahkan aku bisa menghilangkan trauma ini dengan mulai berteman dengan Angelica. Benar, biarlah untuk kedua kalinya aku menjadi bebek di sebelah angsa. Mungkin angsa yang kali ini akan berbeda dengan yang sebelumnya.
"Hai Persephone"
Baru saja aku memikirkannya orang ini sudah muncul di sebelahku. Ia menaruh tasnya di atas meja dan tersenyum menatapku.
"Ada apa Angel?"
Aku menatapnya bingung, ia tampak bahagia sekali.
"Sepertinya ada laki-laki yang tipeku banget di sekolah ini"
"Oh ya, siapa?"
Aku memasang wajah penasaran, meskipun sebenarnya aku tidak begitu peduli. Apa perempuan semurahan itu selalu membicarakan laki-laki dimana saja.
"Entahlah, aku bertemu di koridor kelas"
Aku mengangguk sembari membulatkan mulutku membentuk O.
"Kau sudah menghafal lagu mars sekolah?"
Aku mengangguk, sedari awal masa pengenalan sekolah pun aku sudah menghafalnya.
"Adik-adik mari berbaris di lapangan, upacara akan segera di mulai"
Suara yang tidak asing di pendengaranku membuatku menoleh dengan cepat. Hazel, namanya Hazel kan kakak kelas yang galak itu. Ia menatapku tajam membuatku tanpa sadar menarik tangan Angelica untuk segera berbaris di lapangan.
"Mana topimu!"
Belum saja aku melangkahkan kaki keluar dari pintu kelas, suara itu kembali mengagetkanku. Aku menatap tatapannya yang tajam menusuk. Sembari mengangguk aku kembali ke tempat dudukku mengambil topi dan keluar dari kelas dengan secepat kilat. Angelica turut berlari kecil menyesuaikan langkahku.
"Persephone tunggu, jangan cepat-cepat begitu"
Aku menghentikan langkahku menunggu Angelica yang tengah berlari ke arahku. Ia menatapku bingung, deru nafasnya yang kelelahan membuatku merasa tidak enak hati.
"Eh maaf, aku takut sama kakak kelas yang tadi itu"
Aku menunjuk ke arah Hazel yang kini berdiri di depan pintu kelas dengan memasukan tangannya ke dalam saku celana bak model.
"Kau benar, aku juga sedikit takut. Tampangnya itu seperti preman kan?"
Angelica berbisik di telingaku. Aku pun mengiyakan ucapannya. Meskipun Hazel memiliki wajah yang tampan, tetapi ekspresi wajahnya selalu tegas dan tatapan tajamnya itu membuatnya terlihat mengerikan.
"Persephone!"
Suara teriakan seorang gadis membuatku dan Angelica menoleh secara bersamaan.
"Ah, Nasya ada apa?"
Nasya merangkul bahuku dengan akrab. Aku yang merasa tidak nyaman berusaha menyingkirkan tangannya dari bahuku.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin menyapamu"
Ia tersenyum senang sambari menatap Angelica yang berada di sebelahku.
"Namaku Nasya dari kelas 10 IPS 2, kamu?"
Nasya mengulurkan tangannya ke hadapan Angelica. Tentu saja Angelica menjabat uluran tangan itu dengan senyum manisnya.
"Aku Angelica dari kelas 10 IPS 1"
Aku menatap kedua orang itu yang kini berbincang-bincang dengan asiknya. Sekarang aku menjadi bebek di antara dua angsa, menyebalkan.
"Nasya, kembalilah ke barisan kelasmu. Upacara akan segera dimulai"
Nasya mengiyakan ucapanku. Ia melambaikan tangannya dan kembali ke barisan 10 IPS 2. Aku dapat bernafas lega sekarang. Upcara pembukaan ajaran baru telah dimulai. Aku berbaris mengikuti rangkaian upcara hingga selesai. Keringat telah membasahi kemeja putihku. Angelica yang berbaris di belakangku terus saja mengeluhkan terik matahari yang kian menusuk.
"Akhirnya selesai juga, ini upacara terpanjang seumur hidupku!"
Angelica mengerutu kesal. Aku mengangguk mengajaknya kembali ke kelas untuk mendinginkan tubuh.
"Kepala sekolah kita bicara lambat sekali seperti kungkang"
Aku tertawa meskipun kata-kata Angelica terdengar jahat namun benar kenyataanya.
"Aku juga berfikir seperti itu"
Kami kembali ke tempat duduk menunggu pelajaran pertama dimulai.
...
Pelajaran pertama, kedua dan ketiga terasa berakhir dengan cepat untukku. Mungkin karena pelajaran yang cukup menyenangkan dan berbeda sekali dengan sekolah khusus yang sebelumnya ku ikuti.
Aku mengangguk mengiyakan ajakan Angelica.
"Sebentar, aku mau ambil bekal dulu"
Aku berbalik mengambil sekotak bekal di dalam tasku dan mengikuti Angelica yang terlebih dahulu berjalan di depanku. Sebelum sampai di kantin kami kembali di kejutkan oleh suara nyaring milik Nasya.
"Aku mau ikut makan bareng kalian"
Permintaan Nasya sesungguhnya membuatku tidak nyaman. Menjadi bebek di antara dua angsa itu cukup membuatku gugup. Namun, aku tetap memaksakan diri tersenyum dan mengangguk kepadanya. Aku harus mulai bersosialisasi kembali, mari lupakan semua tragedi pahit yang sudah berlalu. Persephone yang sekarang bukan lagi seorang pengecut.
"Wah, kau juga bawa bekal Nasya"
Angelica menunjuk-nunjuk bekal berukuran besar yang di bawa Nasya. Aku ingin sekali tertawa melihat bekal yang di bawanya. Terlalu banyak seperti ingin piknik saja.
"Ini disuruh ibu untuk membagikannya pada teman-teman baruku"
Angelica menatap Nasya dengan berbinar-binar setelah mendengar ucapan gadis itu. Aku tersenyum tipis, ibu Nasya pasti orang yang sangat baik hati.
"Ayo duduk disini"
Aku mengangguk mengikuti Nasya yang terlebih dahulu duduk di salah satu meja. Aku membuka bekal yang dibuat ibuku. Wangi nasi goreng menyeruak membuat perutku semakin meronta-ronta. Aku menatap bekal Nasya yang berisi onigiri (nasi kepal khas jepang). Bentuk onigirinya imut sekali membuatku tak tega untuk melahapnya.
"Astaga ini imut sekali"
Angelica kembali menatap bekal Nasya dengan berbinar-binar. Nasya hanya tersenyum kecil menahan malu, aku mengerti ia pasti merasa seperti anak TK dengan bekal seimut itu.
"Ayo makan"
Nasya mengambil onigiri dari tempat makannya dan mengulurkannya padaku. Aku mengangguk menerima onigiri dari tangannya. Aku menatap onigiri yang imut itu dengan tatapan malang. Maafkan aku onigiri yang imut aku akan melahapmu.
"Astaga aku tak tega melahap onigiri seimut ini!"
Angelica menatap nanar onigiri yang diberikan Nasya padanya. Ternyata bukan aku saja yang merasa tak tega memakan onigiri yang imut ini.
"Sudahlah makan saja, rasanya seenak bentuknya kok"
Aku dan Angelica mengangguk dan melahap onigiri pemberian Nasya secara bersamaan. Astaga, onigiri ini enak sekali. Rasanya seperti meleleh di mulutku.
"Ini enak banget!"
Aku dan Angelica bergumam bersamaan. Nasya yang melihatnya hanya terkekeh kecil dan melahap onigiri miliknya sendiri.
"Ini ambil lagi onigirinya"
Aku menolak saat Nasya kembali menyodorkan kotak bekalnya. Aku menatap nasi goreng di hadapanku yang belum ku sentuh.
"Kalian mau coba nasi goreng ibuku?"
Aku menawarkan bekalku dan disambut dengan anggukan antusias dari Angelica dan Nasya. Aku tersenyum tipis menyodoran tempat makanku kepada mereka. Mereka melahap nasi goreng buatan ibuku dengan senang.
"Ini juga enak sekali! Astaga ibu kalian pintar memasak ya, aku jadi iri"
Aku tersipu malu mendengar ucapan Angelica. Meskipun ibuku yang dipuji namun entah mengapa aku juga merasa bangga.
"Eh, itu.. laki-laki yang ku bilang tipeku banget"
Angelica menunjuk ke arah belakangku. Aku menoleh mengikuti arah telunjuknya. Apa! aku tercengang melihat sepasang mata dingin itu kini menatap ke arahku. Sial, ini sih dejavu. Aku kembali menatap Angelica yang terlihat senang memandangi Hades. Aku meneguk air liurku, aku tidak ingin kembali jatuh ke lubang yang sama!
"Itu kan bukannya Hades pasanganmu Persephone?"
Aku merutuki Nasya dalam hati. Kini aku menatap Nasya dengan tatapan memohon kepadanya untuk tidak kembali berbicara.
"Pasangan Persephone?"
Kini Angelica menatapku dengan bertanya-tanya. Aku menghela napas sembari mengenggam jemariku satu sama lain. Sial, kejadian suram waktu itu seperti menari-nari di otakku.
"Ah bukan begitu, Hades itu anak dari teman orang tuaku"
Aku menahan ekspresi wajahku agar terlihat lebih tenang. Jantungku tidak bisa di ajak kompromi, ia sudah seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Kalau gitu kenalkan aku dengannya dong!"
Aku kembali menghela napas, astaga penderitaan apa lagi ini. Aku hanya dapat mengangguk pasrah mengiyakan permintaan Angelica. Tenanglah Persephone, lagipula kau hanya mengenalkan mereka berdua. Akan untung bagiku bila Hades sampai menyukai Angelica, perjodohan kami bisa saja di batalkan. Aku tersenyum miris, semoga saja tindakanku ini tak akan membawa malapetaka.
.
.
.
.
Aku butuh vote, like, dan komennya ya. Makasih!🖤