
Sudah satu bulan aku mendekam di ruangan yang membosankan ini. Setiap hari melakukan aktivitas yang sama, menatap langit yang selalu berubah-ubah bentuk dan warnanya.
Hari ini awan kelabu menghiasi langit, menutupi cahaya mentari yang biasanya menghangatkan hatiku. Ruangan bernuansa coklat ini terlihat semakin redup dan membuatku berulang kali menahan kantuk.
Apa aku keluar saja dari ruangan ini? Benar-benar membosankan. Tapi, kalau bertemu monster-monster yang lain bagaimana? Aku ini sebenarnya penakut, pasalnya mereka memiliki monster yang lebih ganas dariku. Menghilangkan kewarasan seorang manusia dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Ah, tapi kalau terlalu lama mendekam di ruangan ini aku juga akan mati kejenuhan.
Aku akhirnya tetap memilih untuk keluar dari ruangan bernuansa coklat ini. Melintasi lorong yang remang-remang dengan berbagai pintu kayu di kiri dan kananku. Aku menghela napas, mengambil posisi duduk di bangku kayu taman bunga. Saat ini taman cukup sepi, mungkin karena sebentar lagi akan turun hujan. Atau ini sudah jadwalnya untuk terapi? Entahlah aku tidak begitu mengerti.
Aku bukanlah seorang pasien yang perlu perhatian dan terapi khusus. Aku hanya dititipkan di tempat yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang lain yaitu Rumah Sakit Jiwa. Tapi, aku cukup senang berada disini. Jauh dari keramaian, tenang, dan damai. Seakan aku terhindar dari jeratan kejamnya dunia.
"Persephone!"
Aku menolehkan pandangan ke arah suara yang tak asing di pendengaranku. Lagi-lagi mereka datang, aku sudah sering mengusir mereka dari tempat ini. Namun, mereka tidak pernah mau menyerah. Bahkan sudah puluhan surat mereka kirimkan padaku, dengan isi yang sama setiap harinya. Hanya permintaan maaf yang tidak bisa mengubah apapun.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan mu"
Ia berlutut di hadapanku sembari menaruh tangannya di atas pahaku. Gadis itu menatapku dengan genangan air di kedua sudut matanya. Ah, menyebalkan melihatnya seperti ini, hatiku seakan berdenyut setiap kali mendengar isak tangisnya.
"Aku minta maaf Persephone, seharusnya aku tidak bertindak sembrono dengan menyebarkan vidio itu"
Angelica terus menteskan air matanya membasahi pakaian bawahku hingga, seorang laki-laki yang belum lama ini ku kenal, ikut berlutut di sebelah Angelica sembari menatapku dengan tatapan menyesal. Rambutnya tampak acak-acakan dengan kantung mata yang sudah setebal koin 500-an.
"Aku juga minta maaf Persephone, mohon terimalah permintaan maafku. Aku tau bahwa aku bersalah telah menuruti keinginan Kak Amelie. Aku juga tidak tau bahwa hal yang ku perbuat dapat membuatmu terpuruk seperti ini, maaf. Maaf aku telah mempermalukanmu di hadapan anak-anak sekolah. Andai aku tidak memulainya, semuanya tidak akan jadi serumit ini"
Aku tersenyum sinis menatap mereka secara bergantian. Percuma, percuma saja Angelica dan Louis selalu meminta maaf padaku. Karena aku tidak bisa menghidupkan gadis itu lagi, aku tidak bisa membawa Amelie dari kematian. Aku tidak bisa memutar waktu. Dan aku hanya bisa pasrah menyalahkan diriku yang terlalu pengecut ini.
"Pergilah"
Ucapku singkat sembari beranjak kembali ke ruang bernuansa coklat dengan suhu udara yang dingin. Aku menutup pintu tersebut dengan rapat, setelah itu mendudukkan diri di pinggir ranjang. Aku menarik napas sedalam-dalamnya sembari menjernihkan pikiranku.
Sepertinya aku belum bisa memaafkan mereka, bahkan memaafkan diriku sendiri saja aku tidak bisa. Sampai kapan ini harus berlanjut. Seperti berjalan di tempat tanpa menulis jalan cerita yang baru. Menetap di lembar kertas yang kosong, tanpa setitik tinta yang menghiasinya. Apakah hidupku akan terus sedatar ini? Aku senang karena disini aku aman, tapi aku juga jenuh.
Aku rindu, aku rindu kehangatan rumah bersama ayah, ibu, dan Penelope. Aku rindu sekolah, pelajaran yang menyenangkan bersama teman-teman yang mengasyikkan. Aku rindu Tante Zetha, Paman Bennedict, juga orang yang menempati relung hatiku Hades.
Bagaimana bisa Hades menempati relung hatiku? Kalian pasti bingung. Aku juga sama bingungnya. Tapi, selama berada di sini aku tidak pernah seharipun absen memikirkannya. Aku memimpikan peluk hangatnya setiap malam, aku memimpikan senyum teduhnya, dan tatapan tajamnya yang dapat membuatku tersihir, membatu seakan waktu telah berhenti.
Percayalah aku selalu berharap setiap menit bahwa Hades akan datang dan mengeluarkanku dari dalam sangkar ini. Apakah di luar sana dia sedang bahagia? Apakah dia sedang tertawa dan menikmati setiap momen tanpa diriku? Aku rindu Hades, aku rindu kamu. Banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan padamu, salah satunya apakah kau juga merindukanku?
Aku menarik laci kecil di meja nakas dan mengambil buku binder bersampul hitam. Ini adalah buku pemberian Dr. Sylvia. Dia memintaku untuk menuliskan semua isi hatiku pada buku ini. Banyak yang telah ku tulis. Mulai dari mimpi buruk yang selalu menyerangku setiap malam, hingga perasaan sepi yang selalu menghantuiku. Aku menuliskannya satu persatu kata dengan rapih. Mencurahkan semua keluh kesahku lewat puisi dan lagu.
Bahkan jika kau dingin padaku
Bahkan jika kau mendorongku pergi lagi
Bahkan jika aku menangis seperti aku membencimu
Bahkan jika aku mencoba melupakanmu
Di sudut pikiranku
Di hatiku
Aku masih
merindukanmu
Sulit bagiku untuk melupakanmu
Sulit bagiku untuk membencimu
Bagaimana aku bisa membencimu?
- 30th day in a cage and
still continue to miss you -
...
Sudah dua bulan berlalu, aku merasa lebih baik sekarang. Tubuhku sudah dapat bergerak leluasa, meskipun rasa sakit masih terpendam di dalam hatiku. Aku mencoba untuk menguburnya, sedalam kerinduanku pada Hades yang tak kunjung datang. Mungkin dia sudah melupakanku. Atau mungkin dia sudah menemukan penggantiku di luar sana.
"Persephone, ayo pulang"
Aku mengangguk sembari sedikit mempercepat langkahku ke arah Millen, ibuku. Ada ayah dan Penelope digendongannya yang juga menyambutku dengan senyum hangat. Mereka selalu menerimaku, apapun kekuranganku. Sebenarnya aku cukup bersyukur memiliki keluarga yang harmonis seperti ini.
Aku memberikan ucapan terimakasih dan berpamitan pada Dr. Sylvia. Dia adalah salah satu orang yang selalu mengerti dan tidak pernah menyalahkanku. Dia selalu memberikanku dorongan untuk bangkit kembali dari keterpurukanku. Lewat buku binder hitam yang diberikannya, perlahan aku mulai bisa kembali melanjutkan kisahku. Menulis lagi jalan hidupku di lembar kertas yang sebelumnya selalu kosong.
Aku mengedarkan pandangan pada bangunan putih yang telah menjadi sangkarku selama 2 bulan. Mungkin lebih tepatnya tempat persembunyianku dari dunia. Tempatku mencari ketenangan batin di antara keheningan dan udara dingin yang menusuk.
"Persephone, ayo masuk"
Aku mengangguk segera menjatuhkan diriku di kursi mobil, sembari memangku Penelope. Adikku masih sama mengemaskan dengan tingkahnya yang kian ajaib. Terkadang lidahnya menjulur, terkadang ia memperlihatkan gigi kelincinya, terkadang dia mengembung kempiskan pipinya, dan masih banyak lagi.
"Apa kau ingin sesuatu Persephone?"
Aku menggeleng sembari menatap ayahku yang sedang fokus pada jalanan. Kerutan di wajahnya sepertinya bertambah banyak, apakah dia sangat cemas selama aku di Rumah Sakit Jiwa? Pastilah ya, orangtua mana yang tidak cemas saat anak kesayangannya 2 bulan menetap di tempat yang mengerikan itu.
"Ah, apakah kepalamu masih sakit? Ibu terkejut sekali saat tau kau mengalami amnesia karena syok"
Aku lagi-lagi hanya menggeleng diselingi senyum manis, menandakan bahwa aku sudah baik-baik saja.
Aku sebelumnya sudah dijelaskan oleh Dr. Sylvia, kejadian waktu itu karena aku mengalami Amnesia Psikogenik. Yaitu amnesia yang disebabkan oleh kejadian traumatis atau stress hebat. Sebenarnya saat itu ingatanku tidak menghilang, tetapi tersimpan sangat dalam hingga aku tidak bisa mengingatnya.
"Apa kau mau kembali homeschooling bersama Karen?"
Aku mengatupkan kedua tanganku dan memainkan jemari-jemariku satu sama lain. Aku bimbang, apakah aku harus kembali ke sekolah khusus itu? Padahal aku sudah mulai nyaman dengan sekolah umum. Tapi, kalau aku memaksakan diri di sekolah umum kurasa hal-hal seperti ini akan terulang kembali.
"Iya"
Jawabku singkat sembari mencubit gemas pipi Penelope yang sedang tertidur.
Aku menghela napas, melemparkan pandangan ke luar jendela. Aku menyusuri jalanan padat dengan lalu lalang orang yang menampilkan ekspresi berbeda-beda di wajah mereka. Sebagian terlihat sedih dan marah, sebagian lagi terlihat senang dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Apakah aku sanggup memulai kembali ini semua? Kembali menjalani kehidupan sebagai Persephone.
.
.
.
.
Tbc🖤