
[Hades POV]
Aku menutup kembali buku binder hitam milik Persephone, dan tergesa-gesa menuruni anak tangga.
"Tante, Persephone di-dia kabur"
ucapku gugup sembari menetralkan hembusan nafas yang tersenggal-senggal.
"APA?!"
Semua memasang wajah panik sembari menatapku dengan tatapan tak percaya. Aku menunduk sambil meremas buku binder hitam yang ditinggalkan Persephone. Maaf, tapi aku akan menyimpan buku ini dan aku sendiri yang akan mengembalikan buku ini padanya.
"Coba hubungin nomor teleponnya"
Tante Millen segera berlari menuju telepon rumah setelah mendengar ucapan Paman Navero. Tak berapa lama, Tante Millen kembali dengan ekspresi wajah yang kusut.
"Tidak bisa dihubungi"
Aku menghela napas, begitu juga Paman Navero yang mengacak rambutnya frustasi.
"Tunggu, sepertinya dia pergi ke rumah Sarah!"
Ucapan Tante Millen membuat kami merasa lebih tenang. Aku tidak tau siapa itu Sarah, tetapi sepertinya dia adalah teman baik Persephone. Persephone tak akan sembarang berkenalan dengan orang lain. Dia tipe orang yang sangat pemilih. Bahkan aku sangat terkejut saat mengetahui dia berteman dengan gadis seperti Angelica. Tipe gadis manja yang suka menggantungkan hidupnya pada orang lain seperti benalu.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo cepat jemput Persephone pulang"
Paman Navero berucap dengan tegas sembari menarik Penelope ke dalam pelukannya. Tante Millen segera bersiap, ia mengambil jaket dan memakainya. Ibuku juga ikut nimbrung mengekori Tante Millen yang sedang tergesa-gesa keluar dari dalam rumah.
"Tante, tolong berikan kotak ini pada Persephone"
Aku menyodorkan kotak merah titipan Agnes pada Tante Millen. Tante Millen memandangku dengan rawut bingung, sebelum mengambil kotak itu dari genggamanku.
"Kau tidak mau ikut?"
Aku menggeleng sembari tersenyum tipis. Tentu saja aku tidak akan ikut menjemput Persephone. Aku adalah alasan mengapa dia kabur dari rumah. Kalau aku ikut, dia akan bertambah tertekan. Aku tidak mau sampai hal itu terjadi.
"Tidak usah Tante, aku akan menunggu disini"
Tante Millen mengangguk. Perlahan aku melihat tubuhnya yang menjauh bersama ibuku.
Aku berjalan, mendaratkan tubuhku di atas kursi kayu yang berada di halaman rumah Persephone, sembari menunggu ibu dan Tante Millen kembali. Angin malam berhembus dingin menggelitik kulitku. Aku kembali membuka buku binder hitam milik Persephone. Hanya dengan membaca buku ini, aku bisa mengetahui isi hati gadis itu.
Terlalu banyak perasaan yang dia tutupi dariku. Terlalu banyak hal-hal membelenggu yang ia simpan dan bertumpuk di hatinya. Hingga pada akhirnya hal-hal yang membelenggu itu meledak. Amarah yang tak terluapkan, itu adalah penderitaan yang paling menyakitkan. Aku tau bagaimana sakitnya perasaan itu, karena aku juga mengalaminya. Aku juga sama menderitanya karena hal-hal yang membelenggu itu.
- Flashback on -
Kejadian masa kecil Hades
Hades kecil terus menjerit di dalam tidurnya. Keringat membasahi sekujur tubuh dan ranjangnya. Dia merancau tidak jelas, sesekali dalam rancauannya dia menyebut kata Ratu.
"Hades ada apa?"
Zetha yang mendengar pekikan itu segera mengusap kening anaknya. Dia amat cemas, saat merasakan suhu tubuh Hades meningkat drastis. Baru tadi sore Persephone megalami kecelakaan, sekarang anaknya juga harus menderita sakit seperti ini.
Zetha mengusap keningnya, sepertinya rencana menggunakan nama yang saling berhubungan antara anaknya dan anak Millen malah membawa malapetaka. Mereka benar-benar saling terhubung. Sudah ke-4 kalinya Hades mengalami hal seperti ini. Bila Persephone sakit, Hades juga akan sakit. Apakah ini semua sudah menjadi takdir?
"Ibu"
Hades menggenggam erat lengan Zetha. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya, membuat Zetha kian panik.
"Ibu aku melihat darah dari tubuh Persephone"
Hades mulai terisak. Ia menumpahkan seluruh air matanya pada baju yang dikenakan Zetha.
"Aku berbohong, aku anak yang jahat"
Zetha menautkan kedua alisnya mendengar ucapan lirih dari bibir mungil anaknya itu.
"Aku yang membuat ratu terluka"
Zetha terkejut. Ia mengangkat tubuh Hades agar lebih dekat dengannya. Ia juga menatap kedua mata biru laut itu untuk mencari kebenaran di dalamnya.
"Aku menendang bola ke arah ratu, la-lalu dia jatuh dan mengeluarkan darah"
"Hades melihat banyak darah dari tubuh ratu. Ibu, apakah aku anak yang jahat?"
Zetha meringis sembari menggeleng. Dia terus mengusap kepala Hades, berharap anaknya merasa lebih tenang.
"Kamu bukanlah anak yang jahat, ayo kembali tidur"
Zetha terus menemani anaknya hingga matahari mulai menyelinap masuk ke dalam sela-sela kamar Hades.
Zetha saat ini sedang merasa amat bingung. Di satu sisi dia ingin memarahi perlakuan Hades yang melukai Persephone, tetapi di sisi lain dia merasa iba. Karena Hades juga merasakan sakit yang sama. Kecemasan Hades pada Persephone sangatlah berlebihan.
Sepertinya dia harus membawa Hades ke Psikiater untuk diobati, setidaknya untuk merendam kecemasannya yang berlebihan itu.
- Flashback Off-
"Hades, apakah kamu tidak kedinginan?"
Aku menoleh menatap Paman Navero yang keluar sembari membawa selimut berbulu. Dia ikut duduk disampingku dan menyelimutiku dengan selimut yang dia bawa.
"Terimakasih paman"
Aku tersenyum pada Paman Navero. Dia menepuk-nepuk bahuku seakan memberi semangat tanpa mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya.
"Paman, mengapa paman pindah ke rumah di pinggir kota seperti ini?"
Tanyaku padanya yang termangu menatap langit. Aku ikut mendongak mengikuti arah penglihatannya. Aku melihat begitu banyak bintang yang berkelap-kelip di atas sana. Cantik sekali, pemandangan ini tidak akan pernah kutemukan di pusat kota.
"Kau sudah tau jawabannya bukan?"
Aku mengangguk. Ternyata jawabannya sangat simple karena di kota, langit tidak akan terlihat seindah ini.
Rumah Persephone berada di kaki sebuah puncak, maka langit tampak lebih terang dari biasanya. Lagi pula lampu jalanan yang digunakan disini sangat redup, sehingga mengurangi polusi cahaya yang menutupi pandangan kita saat melihat langit.
"Hades, apakah kau benar-benar menyayangi anak paman?"
Aku mengangguk tanpa menoleh pada Paman Navero. Beribu kali pertanyaan ini diulang, jawabannya akan tetap sama. Aku sangat menyayangi Persephone, melebihi diriku sendiri.
"Kalau begitu maukah kamu berjanji pada paman?"
Aku menoleh pada Paman Navero yang menatapku serius.
"Berjanji apa paman?"
"Berjanjilah kau akan menjaga Persephone dan tidak akan menyakitinya"
Aku menghela napas, sembari menatap pepohonan rindang di hadapanku. Tanpa disuruh sekalipun, aku pasti akan menjaga gadis itu. Tetapi sayangnya, aku masih banyak kekurangan. Kalau saja aku tidak mengidap Anxiety Attack atau gangguan kecemasan, aku pasti tidak akan kesusahan seperti ini.
"Paman tau masalahmu, tetapi kau harus melawan rasa cemasmu itu untuk melindungi Persephone"
Aku mengangguk, tetapi di dalam hati kecilku aku masih merasa ragu. Apakah aku bisa mengalahkan rasa cemasku ini? Setiap melihat Persephone yang kesakitan, rasa cemas ini akan menyerang dan membuatku kehilangan akal sehat. Aku seakan lupa dan hanya fokus pada kegelisahan yang menggerogoti jiwaku.
"Paman yakin kau bisa melewatinya, asalkan kau benar-benar mencintai Persephone dengan tulus"
Aku tersenyum pada Paman Navero. Apakah aku belum mencintai Persephone dengan tulus? Kalau begitu perasaan yang selalu ingin melindungi ini, artinya apa?
"Sayang belum tentu cinta, tetapi cinta sudah pasti sayang. Pikirkan semua itu dengan baik Hades"
Paman Navero beranjak dari sisiku, meninggalkan aku sendiri yang tenggelam dalam gelapnya malam dan kalutnya perasaan yang rumit. Kalau sayang belum tentu cinta, tetapi cinta sudah pasti sayang. Kalau begitu apakah aku mencintai Persephone? Atau aku hanya sekedar menyayanginya saja? Aku tidak tau. Aku hanya ingin melindunginya dari kerasnya dunia luar, aku tidak mau dia merasakan sakit karena pada akhirnya rasa sakit itu akan menjalar padaku.
Aku semakin tidak mengerti tentang perasaan ini. Mengapa semuanya menjadi sangat rumit?
[Hades POV - END]
.
.
.
.
Kalau menurut kalian, Hades itu sekedar sayang atau betulan cinta pada Persephone?