
[Hades POV]
Tidak terasa sekarang sudah waktunya kelulusan, padahal baru rasanya kemarin aku memakai seragam putih abu-abu.
Apa kabar Persephone disana? Apakah dia terus melanjutkan studinya dan juga akan merayakan kelulusannya dalam waktu dekat ini? Andai saat ini kita masih bersama, aku pasti akan mengajakmu untuk menjadi pendampingku dalam acara prom night.
Menyesal? Sepertinya begitu. Seharusnya waktu itu aku menyingkirkan perasaan dan memaksakan sedikit egoku untuk mengikatnya dalam pertunangan. Meskipun nantinya dia akan membenciku, aku tidak peduli. Karena itu lebih baik daripada tidak bisa mendengar kabarnya sama sekali, seperti merindukan orang yang sudah meninggal.
Walaupun rasanya sesak, tetapi entah mengapa aku merasa sedikit lebih leluasa. Tanpa kehadiran Persephone, sesuatu yang sebelumnya membelengguku seakan menghilang begitu saja. Aku sudah tidak pernah mengonsumsi Xanax dan tidak pernah bermimpi buruk lagi. Bahkan kata Dylan dan Nathan sekarang aku lebih ceria, seperti remaja laki-laki pada umumnya.
"Hades, apakah dekorasinya sudah bagus?"
Aku mengarahkan pandanganku pada panggung yang telah dihias dengan tulisan The Next Step dari styrofoam berwarna merah.
"Sudah bagus Chelsea"
Teriakku dari jauh sembari mengangkat jempol ke arahnya. Dia Chelsea, teman seperjuanganku selama di SMA. Sifatnya mirip seperti Persephone, namun bedanya aku tidak pernah merasa tertekan saat berasamanya. Parasnya juga cantik dan sangat berbakat di bagian seni.
"Hades, orang bagian konsumsinya sudah datang!"
Ucap Nathan yang datang bersamaan dengan orang-orang dari katering makanan.
"Oh, langsung ditata aja kalau begitu"
Balasku sembari membantu orang-orang katering untuk menata makanan di atas meja pajang dengan berlaskan taplak putih.
Yah, begitulah kesibukanku sebagai ketua panitia acara graduasi. Sebenarnya aku tidak mau menempati posisi yang merepotkan ini, harus bangun pagi untuk menyiapkan segalanya, sementara murid-murid lainnya masih asik tidur nyenyak di rumah. Kalian pasti sudah tau ini ulah siapa, ya benar si bawel Nasya! Dia lah pelaku yang mendaftarkan diriku untuk menjadi ketua acara graduasi. Sialnya, selama 3 tahun aku selalu mendapati kelas yang sama dengan gadis itu. Demi Dewa Neptunus, itu sangat menyebalkan!
"Angelica, kerja jangan asik pacaran disana!"
Bentakku saat melihat Angelica yang sedang santai duduk, sembari mengandeng tangan pacarnya, Louis. Kaget? Begitu juga aku. Aku pikir Angelica akan berakhir dengan Dylan, tapi nyatanya dia malah jatuh cinta pada Louis. Mereka terjebak dalam cinta segitiga yang rumit.
"Kenapa, iri? Makanya kalau cinta tuh di ungkapin!"
Ledek Angelica sembari menjulurkan lidahnya ke arahku. Dasar menyebalkan, untung saja dia perempuan, kalau tidak kupastikan wajahnya sudah membiru sekarang.
Sebagian dari kalian pasti bertanya, kemana Hazel? Bagaimana kehidupannya setelah kejadian itu? Tenang saja, dia tetap menjalani hidupnya dengan baik kok. Sekarang dia sedang menjalani studinya di Bandung, dan dengar-dengar dia sudah mempunyai kekasih. Mirip seperti Amelie, tapi versi baiknya. Aneh, cinta itu memang dapat berubah seiring waktu.
...
"Happy Graduation kesayangan ibu"
Zetha, ibuku mencium kedua pipiku dan memelukku dengan erat. Tak lama kemudian, ayahku datang bersama dengan keluarga Persephone.
"Selamat kelulusan Hades, hadiahnya bisa kamu lihat sendiri di sana"
Aku mengikuti arah telunjuk Tante Millen, disana berdiri seorang gadis berambut perak yang menunduk malu. Jantungku berdegup, seirama langkahnya yang semakin mendekat.
Rambutnya bergelombang dan terjuntai hingga pinggang. Gaun berwarna putih gading melekat pas di tubuhnya yang ramping. Kulitnya sedikit mencoklat, namun tetap memancarkan aura kecantikan yang tiada taranya. Apakah aku sedang bermimpi?
"Per-Persephone?!"
Persephone tersenyum ke arahku. Dia berlari dan melingkarkan tangannya di perutku. Tubuhku kaku, seakan waktu sedang berhenti.
"Selamat kelulusan Hades"
Suara yang selama ini kurindukan itu kembali memenuhi indra pendengaranku. Perlahan aku mengerjap, diikuti kristal bening yang menetes dari pelupuk mataku.
"Astaga anak ayah sampai menangis seperti bayi"
Aku mendelik ke arah ayah dan cepat-cepat mengusap air mataku. Persephone ikut terkekeh sembari melepaskan pelukannya dari tubuhku. Sebelum pelukan itu benar-benar terlepas, aku kembali menarik tangannya dan merengkuh tubuh mungil itu dengan erat. Harum buah peach, wangi yang entah sejak kapan menjadi wangi kesukaanku.
"Hades malu"
Cicitnya yang membuatku super duper gemas. Aku melepaskan pelukan kami dan beralih mencubit kedua pipinya yang gumpal. Persephone bertambah gendut!
"Udah dong mesraannya"
Persephone mendorong tubuhku menjauh saat Paman Navero mulai membuka suaranya.
"Maaf paman, kangen habisnya"
Balasku yang membuat kedua pipi Persephone merona. Andai kami hanya berdua, gadis itu pasti sudah habis olehku.
"Kak Hades"
Aku menoleh pada gadis bertubuh mungil yang berdiri di samping Paman Navero. Penelope, dia sudah betumbuh menjadi gadis cilik yang sangat pintar sekarang.
Beberapa hari yang lalu dia selalu merecokiku dengan segala pertanyaannya absurdnya. Seperti, mengapa kita tidak bisa mengonsumsi daging cicak? Atau, apakah vampir dan nyamuk merupakan makhluk satu spesies? Pokoknya sangat absurd dan berhasil membuatku pusing 7 keliling karenanya.
"Ada apa Penelope?"
Aku sedikit menunduk untuk menyamai tinggi badannya.
"Kak Hades sayang sama kakakku ya? Kata mama kalau laki-laki sampai menangis karena perempuan,
berarti laki-laki itu sangat menyanyanginya"
"Penelope, sini sama kakak"
Persephone mengambil alih adiknya, membuatku bernapas legah. Dasar cupu Hades, bahkan sekedar mengiyakan ucapan anak kecil saja kau tidak bisa.
"Kalau kak Persephone sayang sama kak Hades tidak?"
Penelope kini melemparkan pertanyaannya pada Persephone. Aku terdiam, di dalam hati aku sedang berdoa agar Persephone menjawab iya.
"Tentu saja, kakak juga sayang sama Penelope"
Aku tersenyum kecut. Bukan sayang itu yang ku mau!
...
Kini aku dan Persephone tengah berdiri di balkon sekolah. Kami saling terdiam dan menikmati hembusan angin yang menerpa wajah kami.
"Ehem, selama ini kau tinggal dimana Persephone?"
Tanyaku yang berusaha memecahkan keheningan di antara kami.
"Jogjakarta"
Jawabnya singkat tanpa menoleh padaku. Persephone terlonjak, saat aku menggenggam tangannya.
"Persephone, aku rindu kamu"
Aku merutuki diriku sendiri karena hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Sebenarnya aku ingin bilang aku sayang kamu, tapi rasanya kurang pas kalau ku ucapkan sekarang. Aku bahkan belum tau apakah Persephone juga memiliki perasaan yang sama denganku. Atau mungkin saja dia sudah memiliki kekasih di luar sana.
"Hades, mari kita tentukan jalan hidup kita sendiri mulai sekarang"
Aku mengernyit tidak suka saat mendengar ucapannya. Menentukan jalan hidup kita sendiri? Maksudnya apa?!
"Kau yang paling tau bukan kalau kita tak seharusnya bersama? Bila dipaksakan, kita hanya akan menyakiti satu sama lain"
Lanjutnya yang membuat hatiku berdenyut nyeri. Sial, apakah begini rasanya sakit tapi tidak berdarah?
"Persephone aku menyayangimu, sungguh"
Ucapku lirih sembari memandang kedua matanya. Persephone tersenyum getir, tangannya terlihat sedikit bergetar. Apakah dia sedang menahan tangis?
"Tidak Hades, kau hanya menyayangiku karena kita adalah teman dari kecil. Kita tidak saling mencintai!"
Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Perlahan, aku melihatnya mulai menitihkan air mata.
"Omong kosong, buktinya kita saling merindukan satu sama lain"
Balasku sembari menyapu air matanya dengan ibu jari. Aku mulai mengikis jarak di antara kami. Persephone tidak memberontak, dia membiarkan bibirku menempel pada bibirnya ranumnya.
"Ratu, aku mencintaimu, hiduplah bersamaku di Underworld"
Bisikku sembari beralih mencium keningnya dengan lembut.
Separuh jalan pernah dilewat
Meski ada kecewa
Aku yang dulu tak begitu lagi
Takkan ku ulangi
Jangan duluan kau berpaling
Beri ku kesempatan
Aku ingin dirimu
Tetap jadi milikku
Bersama ku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain
[Hades POV - END]
.
.
.
.
OMG Hades, Aku ikutan baper tau! 😳