
Aku mengernyitkan dahi saat merasakan sesuatu yang berat menimpa diriku. Sebisa mungkin aku berusaha mengambil napas meskipun rasanya amat sesak. Aku menggerak-gerakkan tubuhku berharap sesuatu yang menimpa itu segera menyingkir. Namun, bukannya menyingkir benda itu semakin erat melilit tubuhku.
Aku mengerjapkan kedua mataku dengan perasaan sebal. Hal yang paling ku benci di dunia ini adalah saat tidur tenangku terganggu. Dengan setengah sadar aku menatap sebuah tangan yang melingkar di perutku. Ingin sekali aku berteriak panik, tetapi suaraku seakan tercekat tidak mau keluar. Tenggorokan dan mulutku amat kering menantikan sebongkah air untuk membasuhnya.
Secara perlahan tapi pasti aku menyingkirkan tangan itu dari perutku. Aku berusaha sekuat tenaga, namun hasilnya sia-sia. Tangan kekar itu seakan menempel dengan erat pada tubuhku.
Kali ini aku berusaha untuk membalikkan badan menatap sang pemilik tangan kekar itu. Dengan susah payah dan menahan rasa sesak, akhirnya aku berhasil memutar arah tidurku. Aku menatap wajah seorang laki-laki yang tertidur amat lelap. Bulu matanya yang panjang membuat sosoknya mirip seperti pangeran dalam negri dongeng, tampan. Eh?! Tampan? Aku segera tersadar dan seakan mendapat kekuatan ilahi aku berhasil keluar dari jeratan tangan kekar itu.
Sial, aku lupa kalau semalaman aku tidur satu ranjang dengan Hades. Benar-benar sangat memalukan. Apa aku terlihat jelek saat tidur? Apakah ada liurku yang menetes di bantalnya. Aduh, matilah aku.
Aku cepat-cepat mengendap keluar dari kamar tidur Hades. Namun, karena tergesa-gesa aku tak sengaja menyenggol sesuatu dari atas nakas. Duh, pake nyenggol barang segala lagi.
Aku berjongkok mencari-cari barang yang sebelumnya ku senggol. Aku mengambil sebuah botol kecil berisi pil obat berwarna putih dari bawah ranjang. Aku menatap botol kecil itu sembari menautkan kedua alisku. Aku tau betul obat apa ini. Ini adalah Xanax, obat penenang yang biasanya ku minum saat merasa cemas. Untuk apa obat seperti ini ada di kamar Hades? Tidak mungkinkan Hades memiliki penyakit yang sama denganku. Atau ini obat milikku yang tak sengaja terbawa olehnya ya?
Tanpa ambil pusing, aku kembali menaruh botol kecil itu di atas nakas dan beranjak keluar dari kamar Hades. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Baru saja beberapa langkah dari kamar Hades, aku sudah dikejutkan lagi oleh penampakan Tante Zetha yang kini menatapku penuh arti. Duh, pasti Tante Zetha salah paham.
"Pertunangan kalian sepertinya harus segera dilaksanakan ya?"
Aku meringis mendengar kalimat sarkas itu. Aku ingin membantah, tetapi tenggorokanku yang amat kering ini tidak mau mengeluarkan suaranya.
"Diam artinya iya"
Aku mengehela napas sembari menatap Tante Zetha dengan melas. Sebelum kesalahpahaman ini berlanjut, aku segera berlari menuju dapur untuk mengambil segelas air. Aku meneguk air dengan cepat hingga tersedak.
"Uhuk.. uhuk.."
Aku menepuk-nepuk dadaku yang terasa sakit. Air yang mengalir naik ke hidung membuatku merasa amat tersiksa hingga tak sadar menitihkan air mata.
"Yaampun, pelan-pelan dong minumnya"
Tante Zetha terlihat panik dan ikut menepuk-nepuk punggungku. Saat rasa sakit itu mulai menghilang, aku mengumpulkan seribu alasan untuk membantah perkataan Tante Zetha sebelumnya.
"Persephone sama Hades gak ngapa-ngapain Tante! Semalam Persephone takut makanya numpang tidur di kamar Hades"
Ucapku cepat seperti laju kereta. Tante Zetha menyunggingkan senyumnya. Membuatku merasakan hawa-hawa horor di sekelilingnya.
"Tantekan ga bilang kalian ngapa-ngapain"
Pipiku memanas seakan terjebak oleh perkataanku sendiri. Aku memalingkan wajahku dari hadapan Tante Zetha. Aku yakin 100 persen saat ini wajahku sudah semerah tomat.
"Haha, Tante percaya kok. Tapi cepatlah kalian bertunangan, Tante ini sudah tidak sabar"
Untuk kesekian kalinya aku menghela napas. Apa jadinya kalau Tante Zetha tau niatku yang ingin membatalkan perjodohan ini. Ia pasti akan merasa amat kecewa. Memikirkan Tante Zetha yang memandang sinis ke arahku saja sudah membuat hatiku sakit. Apa lagi kalau terjadi sungguhan.
...
Aku dan Hades tengah duduk manis di kursi penumpang sembari menunggu Pak Kasim memberhentikan mobilnya di depan gerbang sekolah.
"Persephone, hari ini kau harus menempel terus pada Angelica ya"
Aku menatap ke arah Hades bingung. Dia khawatir padaku, tapi malah menyuruhku untuk bergantung pada orang lain. Kenapa dia tidak bilang saja kalau ada apa-apa segera hubungi aku dan sebagainya. Cih, dasar laki-laki es balok sungguh tidak romantis.
"Baiklah"
Aku segera melangkah keluar saat mobil berhenti melaju. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menguatkan diriku. Dengan perasaan takut dan setengah gemetar aku berjalan masuk ke dalam area sekolah. Hades ikut berjalan di sebelahku mengabaikan tatapan sinis orang-orang ke arah kami.
Satu masalah akan membuatmu diingat hingga mati oleh orang lain. Itu mengapa aku sangat membencinya. Gosip-gosip yang tak jelas kebenarannya itu dapat dengan mudah dipercayai oleh manusia.
"Persephone!"
"Ikut aku ke ruang osis, Kak Hazel sudah menunggumu disana"
Aku mengangguk mengikuti langkah kakinya yang sedikit terburu-buru. Meskipun penasaran, aku tetap menutup rapat mulutku hingga kami tiba di ruang osis.
"Aku sudah melihat seluruh rekaman CCTV yang kau berikan. Ini aku sudah mencetak beberapa rekaman yang ada Lucy-nya"
Aku mengambil lembaran cetakan itu. Aku menatap seorang perempuan berparas cantik menggunakan baju yang sedikit terbuka bersama seorang pria. Dari hasil cetakan itu aku tak merasa ada yang perlu dicurigakan. Bahkan sepertinya perempuan ini tak menyadari kehadiranku dan Hazel di sana.
"Apa kakak yakin dia pelakunya?"
Hazel mengangguk dengan yakin. Kalau dia sudah yakin begitu, mau bagaimana lagi.
"Aku yakin, kalau bukan dia siapa lagi. Aku akan segera menemuinya dan meminta pengakuannya"
Aku menghela napas. Sebenarnya dalam hati kecilku, aku merasa amat ragu. Aku merasa ini bukanlah ulah dari perempuan itu. Tetapi melihat keyakinan yang besar dari Hazel membuatku tak bisa berkutik dan terpaksa untuk mengikuti kemauannya.
Aku dan Angelica mengikuti langkah kaki Hazel menuju kelas 11 IPA 3. Katanya ini adalah kelas dari perempuan yang bernama Lucy itu.
"Lucy, ikut aku!"
Lucy tampak kaget bercampur bingung. Ia ditarik secara paksa oleh Hazel untuk keluar dari dalam kelas.
"Jujur, kamu yang buat selebaran tentang Persephone dan menempelnya di papan pengumuman kan?"
Bentak Hazel sembari memojokkan perempuan berparas cantik itu ke tembok koridor kelas. Aku dan Angelica hanya bisa saling berpegangan sambil memperhatikan keduanya. Kami sadar diri saat ini kami adalah adik kelas yang tidak mempunyai hak apapun untuk ikut campur dalam permasalahan kakak kelasnya.
"Hah?! Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?"
Lucy memasang ekspresi tidak terima. Sepertinya ia sudah tau kemana pembicaraan ini akan mengarah. Hazel yang amarahnya sudah diambang batas segera mengeluarkan cetakan rekaman CCTV itu dan melemparkannya ke arah Lucy dengan kasar.
"Cih, ini aku sedang berkencan dengan pacar baruku. Apakah aku perlu menghubunginya agar kau percaya?"
Lucy melipat kedua tangannya di atas dada sembari tersenyum sinis. Tuh kan sudah kuduga bukan perempuan ini pelakunya. Orang di rekaman CCTV dia tidak mengarahkan kameranya sama sekali ke arah ku dan Hazel.
"Jadi bukan kau pelakunya?"
Hazel tampak sudah melunak. Ia menurunkan nada suaranya sambil menatap Lucy penuh harap.
"Bukan, seharusnya kau berpikir ulang wanita mana yang terobsesi padamu!"
Setelah mengatakan hal itu, Lucy segera beranjak kembali masuk ke dalam kelasnya. Hazel mengacak rambutnya frustasi membuatku merasa tidak tega. Ini adalah masalahku, tetapi mengapa Hazel seperti menanggung semuanya sendiri. Apakah dia merasa bersalah padaku? Padahal aku tidak sedikitpun menyalahkan hal ini padanya loh.
"Kak, tidak apa-apa kok. Kita pikirkan lagi masalah ini nanti saat istirahat"
Aku mengelus bahu Hazel lembut untuk menenangkannya. Hazel mengangguk seraya tersenyum kecil ke arahku. Kami kembali ke kelas masing-masing dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Meskipun masih diselimuti rasa penasaran, aku tetap memaksakan diri untuk bersikap tenang. Ibuku pernah bilang, angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam. Artinya, rahasia tidak selamanya dapat disembunyikan, pada akhirnya akan terbuka juga.
.
.
.
.
Ada yang bisa nebak ga siapa pelakunya? (Tulis di komen ya, kalau bener aku kasih piring cantik. Mwah!) 🖤