
Aku menarik koper keluar dari dalam kereta. Sesekali aku merenggangkan otot pinggangku yang sakit akibat terlalu lama duduk.
Aku melambaikan tanganku pada Carolina yang beranjak menjauh. Dia membalasku dengan senyum manis sembari menenteng tas punggungnya. Kami berpisah, aku ke arah penjemputan di pintu A, dan dia keluar lewat pintu B.
"Persephone ya?"
Aku menoleh menatap seorang laki-laki yang lebih dewasa dariku. Di sebelahnya ada seorang gadis bertubuh mungil yang memegang tongkat penuntun.
"Karen!!"
Pekikku sembari berhamburan memeluk tubuh mungilnya. Dia terkaget, namun sedetik kemudian dia membalas pelukanku seraya tersenyum lebar.
"Persephone, sini biar ku lihat wajahmu"
Karen meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya. Mulai dari dahi, kedua mata, hidung, bibir, pipi, dan daguku. Sejak dulu dia selalu melakukan hal ini saat dia bilang ingin melihat wajahku. Aku tidak tau apakah semua orang tuna netra melakukan hal ini?
"Kau bertambah cantik"
Aku tersenyum malu mendengar pujian yang keluar dari mulut Karen. Hanya Karen yang memujiku cantik selain kedua orangtuaku, terdengar menyedihkan.
"Oh ya, ini kenalkan saudara sepupuku, Michael"
Laki-laki yang bernama Michael itu tersenyum hangat padaku. Perawakannya mirip seperti Nathan yang meneduhkan, namun dengan fisik yang lebih dewasa.
"Halo kak, namaku Persephone"
"Unik, aku baru pertama kali melihat orang yang berambut perak asli"
Aku tersenyum dan tak sadar memegang rambutku sendiri. Apakah aku terlihat seperti Alien dengan rambut perak ini?
"Iya kak, ibuku juga memiliki warna rambut seperti ini"
Michael mengangguk. Setelah itu dia membantuku menarik koper dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Aku dan Karen duduk di belakang, sementara Michael yang mengendarai mobilnya.
"Karen, kenapa kau menjadi sangat mungil begini"
Aku menggenggam lengan Karen yang amat kecil dan rapuh. Dia seperti anak yang tidak pernah diberi makan.
"Tuh denger apa kata Persephone, kamu harus lebih banyak makan Karen"
Michael ikut berceletuk mengiyakan ucapanku. Karen tertawa kecil sembari menyender di sofa mobil.
"Aku memang terlahir mungil begini mau diapakan lagi"
Aku tertawa mendengar tanggapan Karen yang amat pasrah itu. Memang sih Karen memiliki tulang yang sangat kecil dan rapuh. Sejak lahir Karen memang bukanlah anak yang sempurna. Tetapi, menurutku dia sangat sempurna karena memiliki hati seperti seorang malaikat dan kepedulian melebihi bunda Teresa.
"Kau bukan sedang kabur dari rumah kan, Persephone?"
Aku mendelik lalu tersenyum kecut. Aku tidak tau harus berkata jujur atau bohong pada Karen.
"Kalau kau ada masalah katakan saja"
Aku mengangguk. Pada akhirnya aku menceritakan segalanya pada Karen dan Michael. Mereka terlihat terkejut saat mendengar kisah kematian Amelie dan aku yang pernah mendekam di Rumah Sakit Jiwa selama 2 bulan.
Mereka masih terdiam saat aku mengakhiri cerita tersebut. Jantungku berdegup kencang, aku merasa cemas. Lagi pula keluarga mana yang mau menampung orang setengah gila sepertiku.
"Aku merasa iba mendengar ceritamu Persephone, tapi tenang saja kami akan menerimamu disini"
Ucapan Michael membuatku meneteskan air mata. Akhirnya ada tempat untukku bersandar. Mereka mau menerimaku yang penuh kekurangan ini.
"Kau tidak perlu menangis Persephone, dimataku kau adalah gadis yang sangat baik"
Karen memeluk sembari mengusap lembut bahuku. Aku terus saja menumpahkan air mata yang selama ini kubendung itu. Rasanya seperti campur aduk, aku tidak tau aku sedang merasa bahagia atau sedih.
"Kau adalah sahabatku Persephone, aku akan selalu ada untukmu"
Aku tersenyum mendengar bisikian Karen di telingaku. Benar, aku tidak pernah sendiri. Banyak orang yang menyayangiku, aku hanya baru menyadarinya sekarang.
...
"Selamat datang Persephone, ayo duduk disini"
"Kata Karen kau adalah sahabatnya selama di sekolah khusus"
Aku mengangguk padanya. Seorang wanita paruh baya ikut bergabung bersama kami dengan membawa nampan berisi secangkir teh dan kue kering.
"Namaku Elena, ibunya Michael"
Aku tersenyum pada Tante Elena. Dia duduk di sampingku sembari menyodorkanku secangkir teh beraroma menyengat.
"Aku Persephone tante, sahabatnya Karen"
Aku menyeruput teh hangat itu perlahan. Baunya yang harum seakan mengisi seluruh mulutku. Enak, aku menyukainya. Ini seperti teh yang diolah sendiri, bukan teh kemasan yang biasanya ku minum.
"Iya aku dengar banyak cerita tentangmu dari Karen, katanya hanya kau yang menemani anak tuna netra sepertinya. Dia pasti sangat beruntung memiliki teman sepertimu"
Bibirku melengkungkan senyum. Aku yang merasa diberuntungkan karena memiliki teman seperti Karen. Tante Elena tidak tau bahwa dulu aku pengidap Anxiety Social Disorder, dan hanya Karen dan Sarah lah yang mau menemani gadis kaku sepertiku.
"Michael"
Paman Brian, ayah Michael memanggil anaknya yang baru saja menuruni anak tangga, setelah membantuku mengangkat koper ke kamar tamu. Dia berjalan mendekati kami bersama Karen yang membuntutinya.
"Iya ayah, ada apa?"
"Ajaklah Persephone berkeliling, bawa dia juga ke halaman dan arena pacu kuda"
Aku membelalakkan mata mendengar ucapan Paman Brian. Disini ada arena pacu kuda? Keren sekali. Seumur hidup aku belum pernah melihat arena pacu kuda secara langsung.
"Disini ada arena pacu kuda paman?"
Tanyaku sembari menatapnya berbinar. Paman Brian tertawa melihat ekspresi terkejutku.
"Iya, keluarga kami adalah peternak kuda terbesar di Jogjakarta"
Aku secara spontan bertepuk tangan dengan keras. Mereka semua yang melihat tingkah norakku langsung tertawa terbahak-bahak, membuatku menunduk malu. Bodoh Persephone, mengapa kau tidak bisa mengontrol tingkahmu ini. Lihatlah baru hari pertama kau sudah mempermalukan dirimu sendiri.
"Sepertinya Persephone sudah tidak sabar ingin melihatnya"
Wajahku memanas mendengar ledekkan Paman Brian. Rasanya aku ingin mencopot wajahku dan menyembunyikannya di bawah bantal, memalukan!
"Besok pagi aku akan mengajakmu kesana, sekarang istirahatlah terlebih dahulu. Kau terlihat lelah"
Ucapan Michael membuatku bernapas legah. Aku segera mengangguk dan beranjak menuju kamar tamu yang sudah disiapkan untukku.
Aku membuka pintu kamar tamu dan terkejut melihat nuansa kamar yang berwarna coklat. Banyak foto-foto kuda yang tergantung dan barang-barang unik terpanjang di setiap sudut kamarku. Aku seperti kembali ke jaman 90-an, keren sekali.
Aku merebahkan badanku di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar yang berdebu. Keluarga paman Karen sungguh hangat dan baik sekali kepadaku. Bahkan kamarku cukup besar untuk dibilang sebuah kamar tamu. Mereka menyambutku juga dengan penuh perhatian. Sungguh menyenangkan sekali bisa berada disini.
Tokk... Tokk...
Suara ketukan pintu membuatku kembali beranjak dari atas ranjang. Aku berjalan dengan lunglai untuk membuka pintu.
"Persephone, sebentar lagi turunlah kebawah untuk makan malam"
Aku menatap Karen yang sudah berada di ambang pintu kamarku. Dengan senyum yang merekah di wajahku, aku menarik pergelangan tangannya untuk masuk ke dalam kamarku.
"Iya, kemarilah Karen kita sudah lama tidak mengobrol seperti ini"
Kami duduk berdampingan di atas ranjang. Lagi-lagi kami bertukar cerita seperti dahulu kala. Ia menceritakan kisahnya selama bersekolah khusus tanpaku. Bahkan ia menceritkan sahabat barunya Noel, yang lumpuh akibat kecelakaan.
Sungguh menyenangkan sekali bisa sampai disini. Kalau aku waktu itu tidak sungguh pergi dari rumah, kejadian seperti ini tidak akan pernah ada di hidupku. Aku tidak menyesal karena pergi meninggalkan keluargaku dan Hades. Aku tidak menyesalinya sama sekali. Ini pilihan terbaik untuk kita semua. Akhir yang bahagia memang terkadang memerlukan sebuah pengorbanan, dan sekarang aku percaya itu.
.
.
.
.
Akhir yang bahagia memang terkadang memerlukan sebuah pengorbanan, apakah kalian percaya itu?