
Persephone merupakan anak dari pasangan Millen dan Navero, sementara Hades merupakan anak dari pasangan Zetha dan Bennedict. Orangtua mereka merupakan sahabat sejak masih di bangku sekolah. Siapa sangka persahabatan mereka terus belanjut hingga sekarang.
...
20 tahun yang lalu
"*Zetha, Akhirnya Navero melamarku!"
Millen tampak berseri-seri menceritakan bagaimana cara Navero melamarnya tadi pagi. Zetha yang mendengar hal itu dari telepon pun ikut merasa senang. Millen telah menunggu lama untuk momen ini, Zetha adalah satu-satunya sahabat yang selalu mendengar keluh kesah Millen akibat ketidakpekaan Navero. Syukurlah baginya, hari bahagia untuk Millen akhirnya datang juga.
"Kau harus mentraktirku bukan?"
"Apapun akan kuberikan untukmu, sahabatku"
Millen menjawabnya dengan mantap. Tampak jelas sekali ia seperti gadis yang paling bahagia di dunia saat ini.
"Bagaimana dengan liburan bersama? Kau, aku, Navero, dan Bennedict"
Zetha dan Bennedict sudah terlebih dahulu menikah beberapa bulan yang lalu. Dengan berlatar belakang pantai, kedua pasangan itu mengikat janji sehidup semati. Tentu momen itu menjadi hal yang paling membuat Millen iri. Ia ingin segera cepat-cepat menikah untuk menyusul sahabatnya.
"Bagus juga idemu! Mari kita ke Florida setelah aku menikah"
"Kapan pernikahanmu diselenggarakan?"
Zetha nampaknya sangat tak sabar melihat sahabatnya itu terbungkus gaun putih, Millen pasti akan sangat cantik mengenakannya.
"Satu bulan lagi, cepat sekali bukan?"
"Wah, bagaimana kalian akan menyiapkannya dengan waktu yang sangat singkat?"
"Tenang saja Zetha, aku dan Navero akan membuatnya sesederhana mungkin, namun tetap berkesan"
"Baiklah Millen, jangan lupakan aku menjadi pendampingmu ya!"
Waktu terus berjalan, kenangan persahabatan mereka terus terukir. Momen indah ketika Zetha menangis saat pernikahan Millen dan Navero, Perjalanan panjang mereka bersama ke Florida, Tangis pilu Millen dan Zetha yang sama-sama mengandung anak pertama. Semua itu merupakan kenangan yang sangat berarti untuk persahabatan mereka.
"Millen, kupikir akan baik bila kita menjodohkan anak kita. Mengingat anak yang ku kandung adalah laki-laki dan anak yang kau kandung adalah perempuan"
"Itu akan menyenangkan! Anakku Persephone dan anakmu adalah Hades"
"Mitologi Dewa Yunani?"
"Benar, Persephone dan Hades mereka adalah sepasang kekasih yang kuat, cinta mereka tak akan goyah"
"Terdengar menarik, mari kita bicarakan ini pada Bennedict dan Navero"
Hari yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Kelahiran Hades dan Persephone membawa suka cita yang tak terkira bagi sepasang sahabat itu. Mereka berharap akan menjadi satu keluarga yang besar nantinya, dengan menggabungkan anak pertama mereka, Persephone dan Hades*.
...
Namaku Persephone, aneh bukan? Sepertinya aku satu dari sekian juta orang yang memiliki nama aneh ini. Berkali-kali aku menatap diriku di cermin, dan berkali-kali juga aku membetulkan posisi rambutku. Aku merasa tak percaya diri dan gugup.
Hari ini merupakan hari pertama aku menduduki jenjang SMA, dan hari pertama juga aku akan bersekolah di sekolah umum. Benar, selama ini aku belajar melalui sekolah khusus atau homeschooling. Bukan karena aku cacat fisik, melainkan karena aku takut untuk berbaur dengan orang lain. Aku adalah anak introvert, teman yang kumiliki dapat terhitung dengan jari. Ah, bahkan hanya 1 atau 2 orang saja kalau dihitung. Yang pertama, gadis cilik bernama Karen yang merupakan pengidap tuna netra. Kami bertemu saat sekolah khusus kami mengadakan kelas berkelompok. Selain Karen, teman ke dua ku adalah anak tetangga kami yaitu Sarah. Parasnya sangat cantik dan memiliki hati yang lembut. Ini membuatku nyaman saat bersamanya.
Ah, jangan lupakan juga orang yang paling tak ingin ku temui di dunia ini, Hades namanya. Ia adalah anak tante Zetha, sahabat ibuku semenjak SMA. Aku tau betul kami akan dijodohkan orang tua kami setelah lulus namun, aku sangat-sangat tak menginginkan hal itu sampai terjadi. Aku bersikeras menolak di hadapan orang tuaku. Ayahku, Navero yang akhirnya mengalah mengajukan syarat agar aku dapat terbebas dari perjodohan ini.
Syarat yang pertama aku harus bersekolah di sekolah umum dan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik daripada Hades. Jangka waktu yang diberikan ayah yaitu 3 tahun, tepat pada waktu kelulusanku. Syarat yang terakhir aku akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Hades.
Tentu dengan percaya diri aku menyanggupi syarat tersebut. Maka disinilah aku sekarang, di depan cermin dengan seragam putih abu-abuku. Aku kembali menghela napas, bersiap untuk turun dan sarapan bersama kedua orang tuaku, serta adikku yang berumur 5 tahun. Aku hanya mengambil sepotong roti dengan selai stroberi, setelah itu berpamitan pada kedua orang tuaku.
"Pa, ma, aku berangkat sekarang"
Dengan anggukan dari mereka aku segera beranjak menuju garasi mobil. Pak Kasim, supir pribadi keluarga kami sudah siap mengantarku menuju sekolah. Aku masuk dan menyenderkan badanku di bangku mobil. Perasaan menyerah sebelum memulai perang menyelimuti diriku.
...
Lalu lalang murid berseragam putih abu-abu memenuhi penglihatanku. Aku memaksakan diriku terus mengabaikan tatapan sekitar dan bergegas menuju papan informasi. Setelah menemukan namaku, serta kelas yang akan ku tempati, aku mengalihkan pandangan untuk mencari nama laki-laki yang membawa kesialan untuk hidupku, Hades. Perasaan legah menghampiri saat aku mengetahui bahwa kami berada di kelas yang berbeda. Aku tersenyum senang dan kembali melanjutkan langkah kakiku menuju kelas yang telah ditetapkan.
Bunyi pintu yang berdecit saat kubuka membuat berbagai pasang mata memperhatikanku. Beberapa dari mereka terlihat berkelompok dan asik bercakap-cakap satu sama lain. Aku mengarahkan pandanganku pada bangku yang tersisa. Dengan berbagai pertimbangan aku melajukan langkah kakiku menuju bangku kosong yang berada di pojok kelas. Sebisa mungkin aku berprilaku tak mencolok dan menyembunyikan wajahku dengan menunduk.
"Hey, namaku Angelica"
Seseorang tampak berbisik di telingaku. Dengan ragu aku mengangkat wajahku dan menatapnya.
"Hmm, aku Persephone"
Aku mengucapkan namaku gugup. Ia yang berada di sebelahku tersenyum dengan manis menampakan kedua lubang di pipinya.
Aku hanya mengangguk dengan kikuk. Aku sangat bingung harus merespon seperti apa padanya. Bahkan aku tak mengerti ucapannya barusan adalah pujian atau hinaan untukku.
"Kau terlihat pendiam, mari kita berteman!"
Aku kembali mengangguk seraya ikut tersenyum dengan paksa. Entah mengapa aku merasakan hawa tidak nyaman saat berada di dekatnya. Apa karena parasnya yang sangat cantik membuatku seperti bebek yang berada di sebelah angsa.
Angelica terus saja berceloteh tanpa peduli pada ku yang tak bergeming. Aku menatap keluar jendela berharap hari ini segera berakhir.
...
Perkenalan sekolah mulai dari visi misi hingga fasilitas tak habis-habisnya masuk ke pendengaranku. Aku benar-benar cukup muak mendengarnya. Waktu istirahat ku pakainya untuk membasuh muka di toilet. Baru hari pertama masuk di sekolah umum membuatku ingin menyerah saja. Aku ingin merengek pulang meminta ayah membatalkan perjanjian kami. Biarlah aku menikahi laki-laki tak tau diri itu, aku pun tak begitu peduli soal hati.
"Kau pasti lelah ya mendengar kakak kelas kita berceloteh selama 3 jam tanpa henti"
Aku melirik ke arah seorang gadis yang sedang membuka keran air membasuh tangannya.
"Sangat.. sangat membosankan"
Penekanan sangat di ucapanku membuatnya tertawa.
"Namaku Nasya, kamu?"
"Persephone"
Ia tersenyum ramah padaku. Ini membuatku lebih nyaman daripada saat berkenalan dengan Angelica.
"Persephone, pasangan Hades dari kelasku ya?"
Aku memutar bola mataku kesal. Kutarik kata-kata ramah dan nyaman dari otakku. Ternyata gadis yang baru ketemui ini adalah teman sekelasnya Hades.
"Eh jadi beneran?"
Aku mengerucutkan bibirku tambah sebal dengan pertanyaan yang kembali di ajukannya. Ia tergelak menertawai ekspresiku.
"Tak lucu tau, kami musuh berbuyutan"
Kini Nasya menatapku dengan bola matanya yang tampak penasaran akan ceritaku dan Hades.
"Ceritakan dong, kalian lucu sekali hahaha"
Lagi-lagi ia tertawa dengan sangat keras. Aku yang menahan kesal tak mengubrisnya dan terus berjalan keluar dari toilet. Baru saja beberapa langkah dari toilet mata kami bertemu. 'Sial, dia panjang umur sekali' gerutuku dalam hati.
"Ratu underworld!"
Teriakannya yang mengelegar membuat seluruh pasang mata menatapku dan Hades secara bergantian. Aku sebisa mungkin melangkah mundur dan menutupi keseluruhan wajahku. Aku malu sekali, mengapa dia memanggilku seperti itu sih.
Sebelum sempat aku berlari kebelakang ia sudah sigap menangkap pergelangan tanganku. Kini kami menjadi bahan tontonan seluruh murid-murid di koridor. Bahkan Nasya yang baru saja keluar dari toilet kembali mengeluarkan sejuta tawanya.
"Ratu kau sombong sekali pada raja"
Rasanya aku ingin sekali menyumpal mulutnya itu. Seenaknya saja menyebutku ratu dan dirinya sendiri raja. Orang-orang yang mendengar mulai berbisik satu sama lain. Ahh.. menyebalkan.
"Kau, Jangan ganggu aku!"
Aku membentaknya dengan keras dan diikuti hentakan melepaskan genggamanya dari tanganku. Aku berlari menjauh dan masuk ke dalam kelas. Aku merebahkan kepala ku di atas meja dengan kasar.
"Menyebalkan sekali!"
Aku bergumam dengan keras membuat Angelica yang berada di sebelahku mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa sih?"
Mendengar suaranya membuatku bertambah kesal. Bisa diam tidak kau angsa, aku juga tidak menyukaimu. Kau sebelas dua belas dengan Hades menyebalkan.
.
.
.
.
**Cerita ini ku buat di saat gabut melanda :'( semoga kalian menyukainya, akan ku usahakan novel Persephone dan Hades update 2 hari sekali. Makasih, jangan lupa like dan komennya🖤