Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 23 - Kejutan



Hari ini aku berangkat berdua bersama Hades, tanpa Pak Kasim. Ini terpaksa, karena istri dari supir pribadiku itu tiba-tiba jatuh sakit. Aku tidak suka di situasi ini. Kami terdiam, diselimuti keheningan. Hades fokus pada jalanan yang disinari cahaya pagi. Fajar yang seharusnya menenangkan, tapi tidak untukku.


Aku mengerinyit, cemas. Merapalkan berbagai doa agar hari ini berjalan seperti biasanya. Jantungku berdegup dan tanganku dibasahi keringat dingin. Kenapa aku seperti ini? Perasaanku sangat buruk. Aku mohon, semoga hari ini tidak terjadi apa-apa. Aku cukup lelah. Bukankah kemarin sudah cukup membuatku letih? Teringat masa kelam yang telah ku kunci rapat itu. Bukankah itu sudah cukup menyiksaku? Ku mohon jangan tambah lagi penderitaanku.


"Kau baik-baik saja Ratu?"


Aku mengangguk tanpa menoleh pada Hades. Aku tidak ingin ia melihat wajah cemasku. Sudah cukup kemarin aku merepotkannya.


"Aku tidak suka pada Angelica"


Aku terdiam mendengar keluhnya. Aku tidak mau ikut campur. Lagi pula perasaanku pada Angelica kian membaik. Aku nyaman bergantung padanya. Hanya saja emosi perempuan itu memang sedikit berlebihan. Aku takut dia akan berbuat sesuatu yang kejam akibat amarahnya itu.


"Kau sudah yakin pada rencananya? Bukankah lebih baik kau selesaikan masalahmu sendiri?"


Aku menghela napas. Aku ingin, tapi aku ini tidak mempunyai keberanian. Aku juga tidak bisa mempercayai sepenuhnya pada rencana Angelica. Kenapa sih aku selalu di tempatkan pada posisi yang sulit.


"Aku percaya padanya"


Lagi-lagi aku mengucapkan hal yang bertentangan dengan hatiku. Aku ini pengecut sekali, mengesalkan.


Kami kembali terdiam, hanya suara hembusan nafas dan detak jantung yang dapat ku dengar. Hades mulai memasuki parkiran SMA Nusantara. Lumayan besar dan luas, setidaknya cukup untuk menampung seluruh kendaraan siswa-siswi disini.


Aku melangkah keluar setelah mobil hitamnya terparkir rapih pada parkiran lantai 2. Aku berjalan dengan enggan memasuki gedung sekolah. Tatapan murid-murid belum berubah padaku. Mereka masih saja menatapku sinis dan jijik. Mereka menganggapku perempuan penggoda dan murahan, seperti itulah yang ku dengar dari desas-desusnya.


Aku melirik ke arah papan informasi takut sesuatu menempel disana. Kosong, tidak ada apapun. Aku melengkungkan senyum, mungkin Angelica lebih baik dari perkiraanku. Rasa cemasku beranggsur menghilang. Aku masuk ke dalam kelasku dan menjatuhkan tasku di samping jendela. Teman sebangku ku masih belum menampakkan batang hidungnya. Sebenarnya apa yang sedang disiapkan oleh Angelica.


Bel tanda masuk berbunyi, tetapi Angelica tak kunjung hadir. Apakah gadis itu baik-baik saja?


"Persephone, dimana teman sebangkumu?"


Ah, wali kelasku sudah masuk ke kelas, sejak kapan? Aku bahkan tak menyadari kehadirannya.


"Persephone?"


Aku tersentak, menatap wali kelasku dengan tatapan bingung. Oh ya, aku belum menjawab pertanyaan yang diajukannya tadi.


"Saya tidak tau Pak"


Wali kelasku mengangguk. Ia mencentang tanda Alfa di papan kehadiran milik Angelica. Duh, kemana sih gadis itu.


Saat aku mulai terhanyut dalam pelajaran, tiba-tiba saja televisi di kelasku menyala. Televisi itu biasanya menyala untuk mengumumkan sebuah informasi seperti pemenang lomba dan olimpiade.


Tapi saat ini semua menatap televisi itu dengan tatapan bingung. Ini masih awal tahun, dimana tak ada murid yang mengikuti perlombaan. Aku menautkan kedua alisku. Persaanku buruk. Ini pasti kejutan yang telah Angelica dan Hazel persiapkan untukku.


Televisi itu menampilkan sebuah vidio tak senonoh seorang gadis berambut coklat dengan laki-laki bertato. Aku menutup kedua mataku. Aku tidak bisa menyaksikannya lebih lajut. Tubuhku gemetar. Aku sungguh tak menginginkan hal ini sampai terjadi.


"Itu.. kakak kelas kita kan!"


"Kak Amelie?!"


"Menjijikan sekali!!"


Wali kelasku mulai gusar. Ia menyuruh salah satu dari kami untuk mematikan televisi itu di ruang kontrol. Aku dapat merasakan tetesan demi tetesan peluh membasahi wajahku. Aku takut, bagaimana bila Angelica dan Hazel tertangkap karena melakukan hal ini.


Tak lama, televisi itu mulai mati dan murid yang diperintahkan wali kelasku kembali masuk ke dalam kelas.


"Tak ada siapa-siapa di ruang kontrol Pak"


Ucapnya membuatku menghela napas lega. Syukurlah Angelica dan Hazel tidak tertangkap.


"Bisa-bisanya hal ini sampai terjadi!"


Wali kelasku menggebrak meja dengan geram. Wajahnya menampilkan kerutan demi kerutan amarah. Aku membuang pandanganku keluar jendela. Balas dendamku selesai, tapi aku tak merasa bahagia. Untuk apa aku melakukan hal ini?


...


Pelajaran tak berjalan semestinya. Hingga bel istirahat berbunyi, guru-guru masih saja sibuk melakukan rapat. Mereka sudah pasti membahas kejadian yang baru saja terjadi. Dan aku yakin, mereka juga sedang mengambil tindakan untuk kakak kelas itu. Kakak kelas yang baru ku tahu Amelie namanya.


"Persephone?"


Aku mendongak, menatap Nasya, Nathan, dan Hades yang berdiri di sampingku. Aku tersenyum, lagi-lagi menyembunyikan wajah cemasku. Sampai kapan aku harus memainkan drama ini.


Nathan panik dan mendudukan dirinya di bangku Angelica yang kosong. Aku menggeleng, tentu saja aku tak sanggup melihatnya. Percayalah umurku 16 tahun, tapi jiwaku masih seperti anak 10 tahun. Polos akan hal-hal yang tabu itu.


"Sumpah si Angelica sama Hazel gak gitu juga kali!"


Nasya mendumel disambut anggukan Nathan. Sepertinya mereka mempunyai pemikiran yang sama denganku. Aku memang kesal dan ingin membalas perlakuan kakak kelas itu, tapi tak sampai berlebihan begini.


"Yayasan sampai ikut turun tangan untuk masalah ini"


Aku menahan napasku mendengar ucapan Nathan. Haduh, bagaimana bila penyelidikan ini sampai berlanjut. Bagaimana bila Angelica dan Hazel tertangkap. Aku tidak mau sampai itu terjadi.


"Tenang saja Persephone, Angelica dan Hazel tak mungkin sebodoh itu"


Ucap Nasya menenangkanku. Aku mengangguk kecil sembari memaksakan senyum. Sepertinya ucapan Nasya ada benarnya. Mereka tidak sebodoh itu. Apa lagi bersama Hazel, ketua osis yang sudah tau seluk beluk sekolah ini.


"Ayo makan"


Aku menengadah menatap Hades. Ia menatapku penuh arti, tapi aku tak mengerti maksudnya. Apa dia sedang khawatir? Tapi raut wajahnya biasa saja tuh.


"Mau makan tidak?"


Aku mengangguk sembari mengambil bekal dari dalam tas. Saat aku hendak berdiri, Hades menggenggam tanganku. Aku membelalak, tanganku digenggam Raja Es Balok. Apa aku sedang berhalusinasi?


"Kenapa? Ayo"


Dia menarik tanganku menuju kantin. Entahlah, sepertinya semburat merah mudah sudah memenuhi kedua pipiku. Wajahku memanas, malu tapi baper.


"AAAAAA"


Aku terperanjak kaget. Kami semua mencari asal suara teriakan itu. Kotak bekalku bahkan terlepas dari genggaman dan jatuh menghasilkan suara bising.


"Ada apa?"


"Apa itu?"


"Kenapa?"


Semua orang menghiasi wajahnya dengan tatapan bingung. Termasuk aku yang termangu, menatap arah tangga. Suaranya berasal dari atas sana. Lantai dua, kelas untuk anak IPA.


"Tunggu disini"


Aku menggeleng saat Hades menghentikan langkahku yang ingin mendekati asal suara itu. Aku menatapnya, meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja.


"Jangan jauh-jauh dariku"


Aku mengangguk. Tanpa melepaskan genggaman, kami berjalan perlahan menaiki satu persatu anak tangga. Nathan dan Nasya sudah terlebih dahulu meninggalkan kami menuju asal suara itu.


Semua orang berkumpul di depan toilet wanita. Tatapan mereka, ekspresi mereka terlihat kaget dan takut. Sebenarnya ada apa di dalam sana?!


"Tunggu Persephone, jangan melihatnya!"


Nathan menutup kedua mataku dan menarikku menjauh dari pintu masuk toilet. Tetapi dia terlambat, aku sudah melihatnya. Seorang gadis berambut coklat dengan seragam putih abu-abunya yang dipenuhi cairan kental berwarna merah. Matanya terbuka, melotot ke arahku. Dia tak berdaya, tergeletak dengan penggaris besi di sebelahnya.


Tubuhku gemetar. Seakan ikut tak berdaya, kakiku tak sanggup menopang tubuhku dan jatuh berlutut di hadapan Hades. Nathan di sampingku terkejut dan membantuku untuk segera berdiri. Air mataku jatuh membasahi lantai. Lidahku keluh, nafasku tercekat. Semua ini salahku. Aku adalah seorang pembunuh.


Aku menatap sepatu putih itu yang perlahan berjalan meninggalkanku. Hades, meninggalkanku. Untuk kedua kalinya di dalam hidupku, laki-laki itu tak membantuku. Ia membiarkanku tenggelam dalam perasaan kelabu. Apakah dia tidak tau bahwa aku membutuhkannya? Bukan Xanax, tapi dia. Dia obat penenangku, apakah dia tidak tau? Atau dia memang tidak peduli?


Nafasku terengah-engah. Pandanganku berbayang, pusing dan sakit sekali. Kepala ku sakit. Hal terakhir yang ku tau, aku jatuh pada pelukan seseorang. Sebelum semua yang ku lihat berubah menjadi hitam. Cahaya yang tertutup awan kelabu. Sama seperti diriku yang tak pantas untuk dikasihani. Aku seorang pembunuh. Ternyata, aku adalah monsternya.


.


.


.


.


TBC 🖤