Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 17 - Keanehan Hades



[ANGELICA POV]


Aku menghela napas, sepatutnya aku tidak berhak untuk marah pada Persephone bukan? Hanya saja saat menatap wajahnya itu perasaan iri seakan menyelimutiku. Aku merasa marah kepada Tuhan, mengapa dia begitu sempurna sementara aku harus bersusah payah seperti ini.


Aku merasa kesal tapi kepada siapa aku harus mengadu? Siapa yang harus aku salahkan? Apakah aku harus menyalahkan takdir, atau ini semua adalah salah diriku yang tidak mau bersyukur. Percayalah aku lelah dengan semuanya.


Aku beranjak dari atas kasur. Tepatnya kasur lantai, aku tidak seperti mereka yang memiliki ranjang mewah bak tuan putri atau pangeran. Aku berjalan untuk membersihkan diri dan memakai seragam putih abu-abuku. Aku memasukkan dua buku ke dalam tas, setelah itu aku memikulnya keluar dari kamar tidurku.


"Angel, ini nenek siapkan bubur untukmu"


Aku memasang senyum paksa kepada nenekku. Aku berjalan mendekatinya dan melahap bubur yang telah ia siapkan untukku. Enak, seperti masakan ibu.


"Temanmu kemarin yang rambutnya perak itu sangat baik ya. Kalau sempat ajak lah dia main ke sini, nenek ingin membuatkan cookies untuknya"


Aku tersenyum kecut. Bagaimana ya nek, menurutku Persephone tidak mungkin akan suka dengan keadaan rumah kita yang kecil dan kumuh ini. Lagi pula cookies buatan nenek tidak bisa disandingkan dengan cookies buatan toko kue mahal.


"Hm nek, Angel pamit pergi ke sekolah dulu ya"


Aku segera beranjak mengecup kedua pipi nenekku dan bergegas menuju halte bus. Aku menutup wajahku dari terpaan sinar matahari. Hari ini mengapa cuacanya sangat panas, membuat moodku semakin jelek saja.


Aku menaiki bus berwarna biru usang. Aku menjatuhkan diriku di bangku kedua dari depan, tepat di samping jendela. Aku menatap jalanan yang dipenuhi anak-anak berseragam sekolah.


Ah, aku jadi ingat dengan Persephone. Bagaimana bisa aku menghadapinya nanti? Terlebih tempat duduk kami berletak sebelahan. Apa aku bertukar tempat duduk saja? Tapi kalau seperti itu bukannya malah membuat hubungan kami tambah canggung. Ah, sungguh rumit sekali.


Aku mengacak rambutku sembari mengerucutkan bibir. Saat bus yang ku naiki ini berhenti di depan halte sekolah, aku segera turun dengan terburu-buru. Aku melirik ke arah jam di handphoneku. Pukul 06.45, 15 menit sebelum bel sekolah berbunyi. Aku harus cepat sebelum gerbang sekolah ditutup.


Aku memasuki area sekolah yang dipenuhi anak-anak berseragam kembar sepertiku. Aku melirik kepada beberapa orang yang tampak bergosip ria. Karena aku adalah gadis yang cukup kepo, aku dengan sigap mencoba menguping pembicaraan tersebut.


"Adik kelas yang rambutnya perak itu kan?"


Eh, itu mereka lagi ngomongin Persephone? Adik kelas yang rambutnya perak kan cuman dia.


"Kegatelan sih lagian"


Kegatelan? Apa sih maksudnya. Persephone kegatelan ga mungkin banget, orang anaknya lugu dan polos begitu.


"Ketua osis kita kok mau ya digatelin sama dia"


Aku meremas rok abu-abuku dengan gemas. Ketua osisi itu Hazel kan? Ada hubungan apa Persephone dengan Hazel? Setauku Persephone selalu menghindari kakak kelas itu.


"Angelica, cepat lihat ini!"


Aku terlonjak kaget dan menoleh menatap Nasya yang sedang melambaikan tangan kepadaku. Ia bediri di antara kerumunan orang di depan papan informasi. Aku yang merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi segera melangkahkan kaki mendekati Nasya dan kerumunan orang itu.


"Liat itu di papan informasi"


Aku menatap ke arah telunjuk Nasya. Aku melihat sebuah selebaran yang cukup besar tertempel di papan informasi. Foto Persephone dan Hazel terpampang jelas di selebaran itu. Aku mengepalkan kedua tanganku kesal. Sial, siapa yang membuat hal kenanak-kanakan gini. Entah mengapa emosiku seakan meluap-luap. Meskipun aku tidak suka dengan Persephone, tetapi melihat dia sedang dihina seperti ini aku merasa amat marah.


Aku tanpa sadar menarik selebaran itu dari papan informasi dan merobek-robeknya menjadi serpihan kecil. Berbagai pasang mata menatapku tajam seakan mereka ingin melahapku. Aku tidak peduli, lagi pula aku bukanlah anak yang penakut. Aku membalas tatapan tajam itu dengan senyum sinis.


"Apa?! Wajah kalian ingin ku robek-robek juga kayak kertas ini?"


Ucapku ketus membuat kerumunan itu segera bubar pergi dari tempatnya. Aku menghela napas, bagaimana dengan Persephone. Dimana gadis mungil itu, apakah dia sedang menangis sekarang?


"Angelica, kau sangat hebat"


Aku tersenyum menatap Nasya yang bertepuk tangan di sebelahku. Eh tunggu, ini bukan saatnya untuk membanggakan diriku. Aku harus mencari keberadaan Persephone. Aku segera berlari meninggalkan Nasya. Entah mengapa hatiku mengatakan bahwa Persephone sekarang berada di kantin.


Sesampainya di kantin, aku melihat Hades sedang berdiri termangu menatap ke arah belakang kantin. Ia berdiri di lorong yang memotong antara kantin langsung ke arah belakang dekat toilet. Sementara orang-orang yang berlalu lalang biasanya lewat jalan utama yang sedikit memutar bila menuju ke sana.


Melihat gelagat anehnya itu, aku berjalan mendekatinya dan melihat arah tatapan yang menjadi tontonannya. Samar-samar aku melihat Persephone tengah di kelilingi tiga kakak kelas yang gayanya bak ratu sosialita. Aku segera kembali melihat ke arah Hades yang masih diam tak bergeming. Apa dia tidak berniat untuk membantu Persephone? Mengapa dia cuman lihatin begitu. Tapi tunggu, ekspresi Hades agak aneh kan. Dia diam termangu bahkan tidak menyadari kehadiranku yang berdiri di sampingnya.


Aku kembali mengalihkan pandangan menatap Persephone, seketika bulu kudukku naik melihat Persephone ditampar dengan keras oleh salah satu kakak kelas itu. Aku meringis mengusap pipi kiriku. Padahal bukan aku yang ditampar, tetapi kenapa aku juga ikut merasakan sakitnya. Sumpah, ini Hades beneran gamau bantu? Dia lihat ga sih Persephone sedang dibully kayak gitu.


Aku memicingkan mataku menatap Hades yang kini napasnya mulai tidak beraturan. Ia memegang dadanya sambil meringis. Aku dapat melihat keringat yang bercucuran membasahi kemeja putihnya. Aku secara spontan memekik kaget saat tubuhnya tumbang ke arahku. Aku sekuat tenaga menahan tubuhnya yang terhuyung-huyung itu. Berat, tapi aku harus membantunya agar tidak terjatuh.


"Hades, sadarlah!"


Aku menepuk-nepuk wajahnya dengan cukup keras. Setelah sadar ia terkejut dan menatapku dengan tatapan tajam. Seketika ia beranjak berdiri dan berjalan cepat menjauhiku. Sumpah itu dia kenapa sih, aneh banget.


Tunggu kayaknya aku kelupaan sesuatu. Aku segera menepuk kasar jidatku, oh ya Persephone! Aku kembali menatap ke arah belakang kantin. Persephone tengah berpelukan dengan Nathan. Syukurlah, dia sudah dibantu oleh laki-laki itu. Aku tersenyum kecil dan berlalu dari kantin menuju kelasku.


Aku menghela napas menjatuhkan diriku di bangku kayu, dalam hati aku berharap agar Persephone baik-baik saja. Bagaimanapun dia adalah teman pertamaku di jenjang SMA ini. Tunggu saja Persephone, aku pasti akan membalas perlakuan orang yang membuatmu seperti ini.


Bel istirahat berbunyi. Aku menatap bangku Persephone yang masih kosong. Apakah dia pulang dengan selamat? Kenapa aku jadi resah begini. Seperti induk ayam yang mencemaskan itiknya saja.


Aku beranjak dari tempatku menuju kelas 10 IPS 2. Aku menatap ke arah tempat duduk Hades yang sama kosongnya. Kemana orang itu pergi? Apa dia telah menyusul Persephone?


"Angelica, apa Persephone akan baik-baik saja?"


Aku tersenyum dan mengangguk ke arah Nasya yang keluar dari dalam kelas dengan menggenggam sekotak bekal.


"Dia pasti akan baik-baik saja"


Kami berjalan beriringan menuju kantin. Sesampainya di base camp kami, aku melihat Hazel yang tengah menuruni anak tangga bersama perempuan yang tampak elegan dengan rambut hitam legamnya.


"Kak Hazel gak merasa bersalah sama sekali?!"


Aku spontan mengebrak meja dengan kesal. Nasya memekik kaget dan menatap ke arahku bingung.


"Ada apa?"


Tanyanya yang membuatku menunjuk ke arah Hazel bersama perempuan berambut hitam legam itu. Nasya yang melihat hal itu ikut merasa berapi-api. Ia beranjak dari tempatnya dan mengambil seribu langkah mendekati Hazel.


"Kak Hazel!"


Hazel terlonjak kaget dan menatap Nasya yang berjalan ke arahnya. Nasya dengan keras menampar pipi laki-laki itu. Membuatku menyunggingkan senyum puas. Bagus Nasya, kakak kelas itu pantas menerimanya.


"Itu untuk Persephone!"


Geram Nasya sambari meremas ujung rok putih abu-abunya. Aku berjalan mendekat dan berdiri di samping Nasya. Aku menatap tajam bergantian antara Hazel dan perempuan berambut hitam legam itu.


"Apa-apaan sih ini?!"


Perempuan berambut hitam itu berteriak kesal sembari ingin menjambak rambut Nasya. Namun dengan sigap aku menahan tangan itu dan meremasnya dengan cukup keras. Ia meringis menahan sakit, aku tersenyum puas.


"Tanyakan saja pada laki-laki ini apa yang telah dia perbuat pada Persephone!"


Ucapku ketus sembari menarik tangan Nasya menjauhi kedua insan itu. Kami kembali ke tempat duduk kami dan menghabiskan waktu istirahat sambil menahan geram akibat ulah kakak kelas itu.


"Nasya, apakah kau tau dimana Hades?"


Tanyaku sembari menopang dagu di atas meja. Nasya menghentikan makannya, ia meletakkan sendok dan menatapku dengan tatapan serius.


"Apakah kau tidak sadar?"


Aku menautkan kedua alisku bingung. Apa maksudnya tidak sadar?


"Apa kau tidak sadar dengan nama Persephone dan Hades. Bukannya dari sana saja sudah kelihatan bahwa mereka bukan sekedar teman dari kecil"


Aku menghela napas. Tentu saja aku sadar, orang bodoh mana yang tidak sadar dengan kedekatan mereka. Pulang dan pergi sekolah bersama. Selalu berdekatan satu sama lain. Seperti sepasang kekasih yang memang sudah ditakdirkan.


"Yang ku tanyakan dimana Hades sekarang"


Aku kembali mengulang pertanyaanku sembari tersenyum manis ke arah Nasya, membuat ia melemaskan kerutan di dahinya.


"UKS, sepertinya sakit"


Aku segera mengangguk dan beranjak berdiri untuk menghampiri Hades.


"Nasya aku duluan ya, ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan Hades"


Nasya hanya dapat mengangguk pasrah sembari menghabiskan bekalnya sendirian. Sementara aku berjalan dengan cepat menuju UKS. Aku ingin mengetahui segalanya. Segalanya antara Persephone dan Hades. Dan tentunya aku ingin tau alasan mengapa Hades tidak membantu Persephone saat ia sedang dibully tadi. Terlihat dari gerak-geriknya bukannya ia tidak ingin menolong, tetapi ia tidak bisa. Seakan sesuatu menahan dirinya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara mereka?!


[**ANGELICA POV - END]


.


.


.


.


KIRA-KIRA ADA YANG BISA TEBAK GAK SEBENARNYA APA YANG TERJADI SAMA HADES? (TULIS DI KOMEN PENDAPAT KALIAN YA!) 😉**