
Aku mengambil handphone di atas meja dan melihat jam yang tertera. 05.00 AM, masih terlalu pagi untuk bangun. Aku kembali memejamkan mata. Tentu saja aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Wajah Hades terus saja bermunculan di benakku.
"Ah, sudahlah aku bangun saja"
Aku bangkit dari atas ranjang. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Setelah itu aku keluar dari kamar tamu dan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
"Persephone sudah bangun?"
Aku menatap Tante Zetha yang tengah memasak sarapan untuk kami. Aku mengangguk dan berjalan mendekatinya.
"Biar aku bantu juga Tante"
Tante Zetha dengan senang hati memberiku pisau untuk memotong wortel. Aku mengambil pisau tersebut dan memotong wortel menjadi kotak-kotak kecil.
"Persephone bukannya lebih baik kau dan Hades cepat bertunangan? tak perlu menunggu hingga kalian lulus"
Aku terlonjak kaget mendengar ucapan Tante Zetha. Hampir saja pisau yang ku genggam melayang di udara.
"Persephone belom siap tante, lagi pula Hades belom tentu mau bertunangan denganku"
Aku berbicara sambil tersenyum kecut. Bukan hanya Hades yang tak mau bertunangan denganku, aku sendiri tak sudi disandingkan dengan laki-laki yang meyebalkan itu.
"Tuna..ngan?"
Aku dan Tante Zetha serempak menoleh ke belakang. Nathan berdiri memegang gelas berisi air dengan tatapan bingung. Sial, baru saja kemarin ku pikirkan, kini menjadi kenyataan. Aku harus menutup rapat-rapat mulut cowok itu.
"Aku tau kalau kau dan Hades sudah dekat dari kecil, tapi aku gak tau kalau kalian sudah dijodohkan"
Aku terdiam, begitupun Tante Zetha. Kami bingung harus merespon seperti apa. Lagi pula memang kenapa kalau aku dan Hades dijodohkan. Kenapa pula raut Nathan seperti tak terima begitu.
"Ehem"
Aku tercengang menatap Hades yang baru keluar dari kamarnya. Masih menggunakan baju tidur dan rambut sedikit acak-acakan, terlihat sexy.
"Memang kenapa Nathan, kau cemburu?"
Hades berjalan mendekati Nathan. Atmosfir di ruangan ini menjadi sedikit sengit. Aku menatap keduanya yang adu pandang. Raja es balok vs Raja matahari, ini bisa ku jadikan bahan novel.
"Dasar anak muda"
Tante Zetha berdengus kesal. Ia kembali memasak tanpa meperdulikan urusan anaknya. Aku menatap Tante Zetha tak percaya, astaga tante yang satu ini bukannya melerai malah membuat suasanya tambah runyam.
"Harusnya kau beritahu hal ini padaku kan Hades?"
Nathan membalas ucapan Hades dengan sama dinginnya. Astaga kemana si matahari, kenapa berubah jadi es balok juga.
"Memangnya kau siapanya Persephone hingga aku harus memberitahumu?"
Aku spontan mengangguk mengiyakan ucapan Hades. Benar juga, memang kenapa hal seperti ini haru diberitahukan ke Nathan. Aku dan Nathan saja tak punya hubungan se-khusus itu.
"Terserahlah, padahal kau yang paling tau bahwa aku suka Persephone"
Aku melotot menatap Nathan yang sudah berjalan meninggalkan dapur. Apa dia bilang, suka padaku? kami saja tak sedekat itu. Mengapa dia bisa suka padaku.
"Haha, Persephoneku banyak yang suka begini ya ternyata"
Tante Zetha tertawa memandang wajah polosku yang kebingungan.
"Cepatlah kalian tunangan, nanti keburu Persephone kecantol dengan laki-laki lain"
Aku menjawab ucapan Tante Zetha dengan gelengan. Maaf Tante Zetha, niatku dari awal memang ingin mencari laki-laki lain pengganti Hades.
"Hades lapar ibu"
Hades merengek, ia terlihat berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai pertunangan kami. Aku kembali tersenyum kecut, pasti Hades juga tak sudi bertunangan denganku. Entah mengapa memikirkannya malah membuat hatiku sakit. Aku ini sedikit egois ya.
Aku segera berjalan menjauh dari sepasang ibu dan anak itu. Aku mencari-cari keberadaan Nathan. Selang beberapa menit akhirnya aku menemukannya sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Nathan!"
Aku menepuk pelan bahunya. Ia menoleh dan mempersilahkanku duduk di sampingnya.
"Ada apa?"
Aku menatap kedua bola matanya yang menatapku bingung. Aduh, kenapa aku jadi gugup begini ya.
"Hm, kau bisa tidak merahasiakan hal ini"
Aku berbicara dengan suara yang amat kecil. Aku takut sekali kalau Nathan akan menyebarkan soal perjodohanku. Terlebih dia sedang bertengkar dengan Hades.
"Merahasiakan apa?"
Aku menghela napas. Nathan sedang pura-pura tidak tau, atau dia tidak tau beneran sih.
"Soal perjodohanku dengan Hades"
Aku menjawab dengan suara yang sama kecilnya. Nathan tersenyum dan menepuk pelan kepalaku.
"Tentu, tapi kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur"
"Apa kau suka dengan Hades?"
Aku menggeleng dengan cepat. Tentu saja aku tidak menyukainya. Hades pun tidak akan menyukaiku.
"Kalau aku? Apa kau suka padaku?"
"Eh?"
Aku menatapnya bingung. Aku bingung harus meresponnya bagaimana. Aku nyaman dengan Nathan sebagai teman, tidak lebih.
"Haha, aku bercanda. Kau mandi sana"
Nathan tertawa dan kembali menepuk kepalaku, seperti anak kecil. Aku mengangguk dan segera bangkit dari sofa ruang tamu. Aku berjalan meninggalkannya dan masuk ke kamar tamu untuk membersihkan diri.
...
Pak Kasim sudah menunggu kami di depan rumah Hades. Aku, Hades, dan Nathan berpamitan pada Tante Zetha serta Paman Bennedict. Kami berjalan berbarengan memasuki mobil. Nathan duduk di depan samping Pak Kasim. Sementara aku dan Hades duduk di belakang seperti biasanya. Masih tersisa atmosfir yang sengit di antara kedua laki-laki itu. Walaupun begitu aku tetap terdiam, aku tidak mau mencampuri urusan pertemanan mereka.
"Oh ya, Nathan kau anak IPA kan?"
Nathan memutar badannya memandangku. Ia tersenyum manis, astaga aku meleleh melihat senyumnya itu.
"Iya 10 IPA 2, kalau kangen datengin aja"
Aku mengerucutkan bibirku. Dasar percaya diri sekali dia.
...
Mobil Pak Kasim berhenti di depan sekolah kami. Aku, Hades, dan Nathan segera turun. Aku berjalan memasuki sekolah meninggalkan kedua orang itu di belakang. Sebisa mungkin aku menjaga jarak, agar tidak ada yang sadar bahwa aku datang bersamaan dengan 2 laki-laki itu.
"Ah, lelah sekali"
Aku menjatuhkan badanku di atas kursi. Angelica yang sudah datang terlebih dahulu menatapku bingung.
"Kau ada masalah?"
Angelica mendekatkan dirinya, aku segera menggeleng dan mendorongnya menjauh.
"Tidak, hanya masalah keluarga"
Angelica mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawabanku. Yah, setidaknya aku tidak berbohong. Perjodohanku dengan Hades juga termasuk masalah keluarga kan.
"Oh ya Persephone, Hades belom membalas pesanku dari kemarin"
Angelica menaruh kepalanya di atas meja dan memasang wajah cemberut.
"Mungkin dia lagi sibuk"
Aku menjawab sambil mengangkat bahu. Padahal kemarin Hades sempat memegang handphonenya tuh, mungkin dia menganggap dirimu tidak penting.
"Hm, begitu ya"
Angelica masih tetap memasang wajah cemberutnya. Aku hanya bisa menghela napas melihat tingkahnya itu. Kenapa kau gigih sekali mendekati cowok yang sudah jelas tidak tertarik padamu, aneh.
"Besok kan akhir pekan, kau mau membantuku berkencan dengan Hades tidak?"
Aku mengerutkan dahi memandang Angelica. Apa dia tidak salah? bagaimana bisa aku membantunya berkencan dengan Hades.
"Kalau kau yang ajak jalan pasti dia mau kan? Kita pura-pura saja tak sengaja bertemu setelah itu kau bisa beralasan sibuk dan meninggalkanku berdua dengannya"
Lagi-lagi aku menghela napas mendengar ide gilanya itu. Belum tentu juga Hades mau kalau aku ajak jalan. Lagi pula dia dapat ide begini dari mana? seperti sinetron saja.
"Tidak mau, Hades belom tentu mau kalau ku ajak jalan"
Aku menatap Angelica yang kini mengatupkan kedua tangannya, ia memohon.
"Coba dulu Persephone, aku mohon"
Angelica mengoyang-goyangkan bahuku. Aku yang kesal karena terus-terusan di ganggu akhirnya terpaksa mengangguk.
"Baiklah, kalau Hadesnya tidak mau jangan salahkan aku ya"
Angelica mengangguk dengan antusias. Ia segera berhamburan memelukku dan mengucapkan beribu terimakasih.
"Sudah, jangan ganggu aku lagi"
Untuk kedua kalinya aku mendorong Angelica menjauh. Aku menatap keluar jendela, berbagai anak murid berlarian masuk. Hingga beberapa menit setelahnya bel tanda masuk sekolah berbunyi.
.
.
.
.
Komen dong kalian tim siapa Hades atau Nathan? 🤔