Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 25 - Monster



Aku menghirup udara yang tidak asing, bau obat-obatan terkutuk yang paling ku benci di dunia ini. Aku mengerjapkan kedua mataku. Saat aku hendak bangun, tiba-tiba saja kepalaku seakan tertiban batu yang amat berat. Sakit, rasanya sakit sekali membuatku meringis tak tertahankan.


"Persephone, akhirnya kau sadar!"


Aku menatap seorang wanita paruh baya yang memelukku erat. Ia menitihkan air mata hingga membasahi baju pasien yang ku kenakan.


"Si-siapa?"


Aku mendorong wanita paruh baya itu dengan cepat. Aku tidak mengenalinya, lagi pula aku dimana? Ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang membuatku mual.


"Ini ibu sayang, Millen"


Aku mengernyitkan dahi, Millen? Ibuku? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun. Tunggu, aku siapa?


"Ini minumlah dulu"


Ia menyodorkan segelas air. Dengan cepat aku mengambil dan meneguk air itu hingga tak bersisa. Perlahan aku mulai merasakan sakit di kepalaku datang lagi. Sakitnya lebih parah dari yang pertama kali, sakit sekali hingga aku menjambak rambutku sendiri.


"Persephone, Persephone! Ada apa?!"


Wanita paruh baya itu terlihat panik. Ia menguncang-guncang tubuhku dan segera menekan alat panggil darurat.


Sayup-sayup aku bisa melihat seorang perawat dan dokter yang memasuki ruanganku. Ia menyuntikanku sebuah obat, entahlah apa itu. Aku memberontak, tapi tak lama kemudian aku merasakan sekujur tubuhku melemah. Perlahan semuanya kembali menjadi gelap.


...


Aku merasakan tubuhku mengigil, dingin seakan di masukkan ke dalam lemari es. Aku mengerjap, memandang sesisi ruang yang tampak tak asing bagiku. Aku bukan lagi berada di ruangan putih dengan bau obat-obatan yang menyengat. Tetapi, berada di sebuah ruang bernuansa coklat dengan bau obat-obatan yang lebih minim.


Seorang wanita berpakaian rapih dengan menggunakan kaca mata mendekatiku. Ia tersenyum, sepertinya aku pernah melihat senyum itu. Aku sekilas melirik ke arah tanda pengenal di dadanya, Dr. Sylvia Dymintri Sp.KJ.


"Sayang, kamu sudah bangun?"


Suaranya yang lembut masuk ke dalam pendengaranku. Aku mengangguk lemah, sambil mencoba bangkit berdiri dari posisi tidurku.


"Pelan, pelan saja. Ini minumlah dulu"


Aku mengambil gelas yang ia sodorkan dan segera meneguknya hingga habis. Aku menarik dan menghembuskan napas secara perlahan berusaha untuk mengingat sesuatu, tetapi nihil. Aku tidak bisa mengingat apapun, seperti tv statis yang dipenuhi kerubunan semut-semut hitam.


"Perlahan coba ingat namamu sendiri, apakah kau dapat mengingatnya?"


Aku termangu, memikirkan namaku sendiri. Siapa namaku? Aku siapa? Darimana? Dan mengapa aku bisa berada di tempat ini?


"Lihat kesini, tidurlah Persephone"


Aku menatapnya yang mulai membakar sebuah kertas dan menghitung mundur angka. Perlahan rasa kantuk menyerangku. Membuatku menutup kedua mata dan terombang-ambing di dalam kegelapan.


Aku dapat melihat setitik cahaya disana, dan perlahan cahaya itu semakin besar. Seperti rentenan memori yang telah ku lupakan.


Kisah perjalanan hidupku. Cerita kelam masa kecilku, bersama Agnes dan juga Hades. Pindah rumah ke pinggiran kota. Kelahiran adik perempuanku, Penelope. Awal masuk Sekolah Menengah Atas. Teman-temanku, Angelica, Nasya, Nathan, Kak Hazel, Dylan. Hingga tragedi pahit kematian Amelie, perempuan berambut coklat yang pernah menamparku.


"Bangunlah"


Aku tersentak dengan nafas yang terengah-engah, aku menatap Dr. Sylvia. Aku ingat dia adalah psikiater yang pernah menanganiku waktu kecil, ia sudah ku anggap seperti ibu keduaku.


"Dr, aku adalah pembunuh. Selama ini monsternya adalah aku, bukan Hades"


Aku menunduk menyembunyikan air mata yang terus menetes. Hatiku hancur berkeping-keping, menahan rasa amarah yang memuncak dan perasaan kecewa pada diriku sendiri. Selama ini aku selalu menyalahkan Hades, tanpa berfikir bahwa akulah yang salah. Dia pergi meninggalkanku, itu sudah sewajarnya. Aku memang sudah tidak pantas untuk dikasihani. Aku ini seorang pembunuh.


"Ini bukan salahmu Persephone. Ini adalah sebuah kenyataan pahit yang memang sudah ditakdirkan"


Takdir? Mengapa sekejam ini padaku. Mengapa harus aku yang terus menerus merasakannya. Apakah Tuhan sudah tidak sayang lagi padaku?


"Percayalah, tidak ada yang menyalahkanmu Persephone. Ini bukan salahmu, kau sudah berusaha sebisamu"


Aku menggigit bibir menahan perasaan yang meluap-luap di dalam diriku.


"Tapi seharusnya aku bisa menghentikannya, seharusnya aku dari awal tidak membiarkan Angelica melakukan hal ini. Kenapa aku sepengecut ini?"


Dr. Sylvia menggenggam tanganku sembari mengusap telapak tanganku dengan ibu jarinya. Aku terisak, meluapkan semua emosi. Membiarkan semuanya mengalir keluar. Bayang-bayang Hades membuat hatiku semakin terguncang. Laki-laki itu pasti membenciku, dia sudah meninggalkanku. Tetapi, aku tidak bisa marah padanya. Semua adalah salahku, kebodohanku, keegoisanku. Aku tak pantas untuk hidup.


Aku mendongak, ibuku Millen perlahan berjalan mendekatiku. Air mata berlinang membasahi wajahnya. Penampilannya acak-acakan seperti tidak tidur berhari-hari. Sakit rasanya melihatnya yang ikut menderita karenaku. Untuk apa aku hidup bila aku hanya membuat orang disekitarku menderita?


"Persephone, maafkan ibu. Seharusnya ibu tidak menyetujui ayahmu untuk menyekolahkanmu di sekolah umum"


Ibu memeluk tubuhku, mengusap-ngusap punggungku dengan tangan kanannya. Lagi-lagi ia membasahi bajuku dengan air matanya. Sesak, aku tidak suka berada di posisi ini. Menyakitkan.


"Ibu, aku ingin sendiri"


Maafkan aku bila ucapanku kali ini menyakitinya. Tetapi aku sungguh tidak bisa melihatnya. Tidak bisa melihatnya menangis karena ulahku. Karena perbuatan kejiku. Untuk apa ibu menangisi monster sepertiku. Aku tidak lagi pantas ibu, maafkan aku.


"Persephone, maafkan ibu"


Aku dapat mendengar suara sesengukkannya yang perlahan menjauh. Ia keluar dari ruangan menyisakan aku di dalam keheningan. Suhu ruangan yang dingin seakan menyatu denganku. Hatiku membeku, tenggelam dalam kalut yang tak ada ujungnya.


...


Entahlah sudah hari keberapa aku setia di ruangan ini. Menatap langit biru yang ditemani surya lewat jendela kamarku. Aku kehilangan ekspresi, lupa apa itu tersenyum, lupa apa itu bahagia. Yang aku tau dan yang aku ingat aku tidak pantas mendapatkannya karena aku adalah monster. Seorang pembunuh.


"Sayang, ada seseorang yang ingin menemuimu, apakah kau mengijinkannya?"


Aku menatap seseorang yang tak asing masuk ke dalam ruanganku. Sembari membawa nampan berisi makanan yang sama terus menerus setiap harinya.


"Iya, suruh masuk aja Dr. Sylvia"


Aku membalikkan badanku, memandang jendela. Hanya dari sini aku bisa melihat dunia, melihat taman bunga dengan orang-orang yang melakukan hal diluar nalar manusia normal. Ada yang selalu tertawa, ada yang asik menggenggam boneka kesayangannya, ada yang duduk di atas kursi roda, ada pula yang meronta-ronta dan menyakiti satu sama lain. Benar, mereka semua gila mempunyai monster yang sama dengan yang ku miliki.


"Persephone, aku menyesal telah melakukan ini. Kau tau, aku sebenarnya menyimpan dendam pada Amelie. Ini semata-mata balas dendamku padanya, hanya saja aku melibatkan dirimu. Maafkan aku"


Aku tak berniat untuk menatapnya, aku tau siapa pemilik suara ini. Seorang kakak kelas galak yang pada awalnya menakutiku dan tak sengaja bertemu hingga membuatku jatuh hati padanya. Dia Hazel, sosok yang pernah membuatku membuka hati untuk pertama kalinya pada seorang laki-laki.


"Apakah kau mau mendengar kisahku dengannya?"


Aku tak mengubris, masih diam menatap langit biru yang berbanding terbalik dengan diriku yang terselimuti awan kelabu.


"Kisahku dan Amelie berawal dari kelas 10, saat itu kami tak sengaja saling mengenal saat olimpiade sains. Kami menjalani hubungan 1 tahun lamanya, dan aku sangat mencintai sosoknya yang lemah lembut itu. Perlahan kami mulai sibuk, aku sibuk dengan berbagai kegiatan osis, dia sibuk dengan teman-teman barunya yang menyukai ketenaran. Dia mulai berubah, tak lagi menjadi sosok lemah lembut melainkan menjadi sosok yang kasar dan pembully. Dia mulai mencat rambutnya, mengecilkan seragamnya, bertingkah genit pada semua laki-laki"


Ia berhenti mengambil nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Mungkin dia sedang menahan tangis?


"Jujur, aku kesal melihatnya, aku memutuskan hubungan kami sepihak. Aku tau dia masih sangat mencintaku, sama seperti aku yang masih mencintainya. Aku masih menjaganya dari jauh, melihat semua kegiatan yang dilakukannya. Hingga suatu hari aku melihatnya Persephone, aku melihatnya melakukan hubungan dengan orang lain. Mereka berciuman di depan mataku. Aku kecewa dan menyimpan dendam ini padanya. Aku ingin membalasnya, membalas rasa sakit yang ia berikan untukku. Menyiksanya sama seperti ia menyiksaku. Tapi, aku tidak tau bahwa hal ini membuatnya pergi. Pergi untuk selamanya. Kekasihku pergi karena keegoisanku, bukankah itu menyakitkan?"


Aku menggigit bibirku, mendengar semua kisah menyakitkan dari mulutnya. Ternyata dia juga tersiksa, sama sepertiku. Aku dapat mendengar deru nafasnya yang kian berat, ia menangis tetapi menahan sesengukkannya. Aku ingin memeluknya memberikannya kehangatan dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi aku tidak bisa. Karena aku juga sama, kami sama-sama menderita karena monster yang ada pada diri kami. Monster itu menguasai tubuh kami, membuat kami berbuat sesuatu yang tak seharusnya kami perbuat. Balas dendam yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Manusia seperti itu kan?


We drifted to survive


I needed you to stay


But I let you drift away


My love, where are you?


Whenever you're ready, can we surrender?


Can we surrender?


I surrender


.


.


.


.


Stay tune terus ya guys 🖤