
Aku kembali menaiki bus menuju rumahku yang terletak di pinggiran kota. Letak Halte dan rumahku jaraknya ternyata cukup jauh. Mau tidak mau aku harus menghubungi Pak Kasim untuk segera menjemputku.
"Halo Pak Kasim, tolong jemput Persephone di halte XXX"
Ucapku saat nada dering telepon sudah berganti dengan nada tersambung.
"Loh non, kok bisa ada di halte bus?"
Aku menggaruk tengkuku seraya memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaan Pak Kasim.
"Hm, saya iseng coba naik angkutan umum Pak"
Aku pura-pura tertawa kecil membuat Pak Kasim menghela napasnya. Aduh, kalau sudah seperti ini ia pasti akan melaporkannya pada ibu.
"Pokoknya jemput saya sekarang pak, jangan pake lama!"
ucapku sembari mematikan panggilan. Aku menduduki bangku kayu panjang yang berada di halte menunggu Pak Kasim untuk menjemput.
Aku menunggu selama hampir 15 menit hingga Pak Kasim tiba. Aku segera berjalan masuk ke dalam mobil dan merebahkan kepalaku ke kursi penumpang. Pak Kasim melirik ke arahku lewat kaca spion. Ia menunjukkan rawut kekahwatirannya padaku.
"Aku sudah dewasa Pak Kasim, aku bisa menjaga diriku sendiri"
Aku tersenyum kecil memasang wajah ceria agar Pak Kasim tidak bertambah curiga. Lagipula aku sudah bukan anak kecil yang kemana-mana harus didampingi orang dewasa.
"Lain kali telepon saya saja non. Kalau nyonya sampai tau non naik kendaraan umum bisa-bisa saya dipecat"
Aku terkekeh melihat Pak Kasim yang ternyata takut pekerjaannya menjadi terancam akibat ulahku. Aku pikir dia kahwatir akan keselamatanku, ternyata bukan itu ya.
"Lagi pula non habis dari mana sampai naik bus umum segala?"
Ayolah Persephone pikirkan suatu tempat yang tidak akan membuat Pak Kasim curiga.
"Hm, saya habis dari rumah teman saya Pak. Perginya dianterin Hades tapi pulangnya saya iseng naik angkutan umum"
Aku kembali melukiskan senyum di wajahku. Betapa baiknya aku tidak mengadukan perbuatan Hades yang menuruniku sendiri di jalanan. Kalau sampai ibu tau pasti dia akan marah besar dan membuat perpecahan antaranya dan Tante Zetha. Sebenarnya aku ingin saja mengadukan hal ini. Kalau ibu sampai tau sifat asli Hades maka ia tidak akan jadi menjodohkan aku dengannya. Namun, kalau sampai merusak persahabatan ibu aku akan menjadi merasa bersalah nantinya.
"Baguslah kalau begitu, ini mau saya antarkan ke rumah Hades?"
Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku. Kalau balik ke rumah Hades sama saja seperti kembali ke kandang macan, aku tidak mau!
"Aku mau pulang saja Pak"
Pak Kasim tanpa bertanya-tanya lagi segera menjalankan mobilnya menuju rumahku. Aku memejamkan mata menikmati alunan musik dari radio mobil. Lagu Ocean Eyes - Billie Eilish seakan menghipnotis diriku masuk ke dalam alur lirik yang menyentuh.
No fair~
You really know how to make me cry
When you gimme those ocean eyes
I'm scared~
I've never fallen from quite this high
Falling into your ocean eyes
Those ocean eyes
Entah mengapa alunan musik itu membuatku membayangkan tatapan dingin Hades yang menusuk hati. Seakan tatapannya meyiratkan perasaan terluka yang dalam. Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dariku Hades. Kau tidak perlu menutupi segalanya untuk terlihat sempurna. Hal itu hanya membuatmu terlihat sangat menyebalkan.
"Kita sudah sampai non"
Aku segera mengangguk keluar dari dalam mobil. Aku menghirup udara segar dari rimbunnya pepohonan yang mengelilingi rumahku. Aku menghela napas sembari tersenyum kecil. Tersenyumlah Persephone seakan tidak ada beban yang menimpa dirimu.
Aku melangkah masuk ke dalam rumahku. Sunyi senyap membuatku merindukan kehadiran Ibu, Ayah, dan Penelope. Aku jadi kangen soto Ibu, apa mereka tidak bisa pulang lebih cepat. Rasanya aku ingin menyusul mereka ke sana sekarang.
"Hahh.."
Aku menghela napas mengambil seribu langkah menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarku. Aku merebahkan badanku di atas ranjang. Wangi buah kesukaanku, peach memenuhi indra penciumanku. Ternyata pewangi ruanganku masih belum habis juga ya.
Aku memejamkan kedua mata untuk mengistirahatkan otak dan hatiku. Selama 10 menit aku berada di posisi yang sama. Setelah itu aku kembali bangkit dari atas ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku merendam tubuhku ke dalam bak mandi berisi air panas.
Setelah merasa puas, aku memakai jubah mandi dan keluar mengantikannya dengan piyama bermotif teddy bear. Aku mengambil handphone dari atas meja dan menatap beberapa panggilan masuk dari Hades. Untuk apa laki-laki ini masih mencariku? Apa dia tidak puas telah menuruniku sendiri di jalanan.
Dengan kasar aku meletakkan handphoneku kembali di atas meja dan mengabaikan panggilan tersebut. Aku berjalan turun menuju dapur untuk membuat teh rasa mint kesukaanku.
Aku terlonjak kaget mendengar bel rumahku dibunyikan beberapa kali. Siapa sih yang datang ke rumahku sore-sore begini. Dengan terpaksa aku melangkahkan kaki membuka pintu untuk menyambut tamu yang tidak diundang itu.
"Mau apa kau kesini?"
Aku melontarkan pertanyaan dengan ketus saat melihat sosok yang paling tidak mau ku temui itu. Ia menatapku dengan tatapan menyesal, namun sayangnya itu tidak mempan untukku. Aku tetap merasa kesal dengan kehadirannya yang menganggu ketenangan hatiku saat ini.
"Maaf, ayo kembali ke rumahku"
Aku tersenyum sinis membalasnya. Maaf? kau tidak pernah mengatakan kata ini sebelumnya. Kau selalu berbuat seenaknya dan menyakitiku. Apa kau pikir dengan kata maaf semuanya dapat terselesaikan begitu saja.
"Seragam dan buku-buku sekolahmu masih ada di rumahku"
Aku memaksakan tawa mendengarnya yang tengah mencari-cari alasan untuk membuatku kembali ke rumahnya.
"Kalau hanya itu aku bisa meminta Pak Kasim untuk mengambilkannya nanti"
Hades menghela napas dengan ragu ia memegang kedua tanganku dan terus menatapku dengan tatapan 'tolong kasihani aku'.
"Aku minta maaf Persephone, maafkan aku yang telah membentak dan menurunimu sendirian di jalanan"
Aku melihat pancaran penyesalan dari dalam matanya. Kalau sudah begini aku mana tega untuk tidak memaafkannya.
"Baiklah, ayo masuk"
Hades tersenyum kecil ia mengikuti langkahku masuk dan mengambil tempat duduk di pinggir sofa berwarna krem. Aku mengambil dua buah cangkir yang berisi teh dari dapur dan menaruhnya di atas meja ruang tamu.
"Terimakasih"
Hades tersenyum mengambil salah satu cangkir dan dengan cepat menyesap teh tersebut hingga tersisa setengah.
"Sebenarnya tadi kenapa kau marah padaku?"
Aku membuka suara memecah keheningan. Hades tampak terdiam masih berusaha untuk merahasiakan sesuatu dariku.
"Apa kau tidak mau memberitahukannya padaku?"
Tanyaku lagi dengan suara yang lirih. Hades mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tampak gugup dan takut untuk memberitahukannya padaku.
"Bukan seperti itu, aku hanya takut kalau kau akan pergi dariku"
"Maksudmu?!"
Aku menaikkan nada suara ku satu oktaf mendengar jawaban dari mulut Hades. Takut aku pergi darinya? Sepertinya dia sudah tidak waras.
"Maksudku aku takut kehilangan sahabatku"
Aku menghela napas mendengar kelanjutan dari ucapannya itu. Ternyata maksudnya takut kehilangan sahabat, baru saja mau berpikir yang aneh-aneh.
"Oh begitu, kita kan sudah dekat dari kecil mana mungkin aku akan melupakanmu"
Hades tersenyum senang. Sorot matanya memancarkan perasaan teduh yang membuatku merasa nyaman. Tapi ada satu titik yang membuatku masih merasa ragu. Seakan bukan itu yang menjadi alasan dari kemarahannya.
"Kau akan kembali ke rumahku kan?"
Aku mengangguk mengiyakan ucapannya. Setelah teh mint yang ku buat tak lagi bersisa, aku segera bangkit berdiri mengikuti langkah kaki Hades untuk masuk ke dalam mobil kesayangannya.
"Pasang seat beltmu ratu"
Aku mengangguk segera memasang seat belt yang menjadi pelindungku. Panggilan ratu yang diucapkan Hades menjadi penanda bahwa kami telah berbaikan. Aku tersenyum manis menatap jalanan yang dihiasi rintik hujan. Ternyata tak selamanya hujan membawa cerita duka.
.
.
.
.
**Cie! Persephone dan Hades udah baikkan.
Yuk tinggalin vote, like, dan komennya untuk mendukung novel ini. Terimakasih! 🖤**