Persephone And Hades

Persephone And Hades
Chapter 29 - Melarikan diri



"Persephone, ada apa kau kemari dengan membawa koper seperti itu?"


Sarah menatapku dengan tatapan menyelidik. Tentu saja dia heran dengan kehadiranku yang setengah engos-engosan akibat berjalan kaki dari rumahku ke rumahnya. Belum lagi pakaianku yang sedikit compang-camping dan sendal seala kadarnya.


"Aku sedang kabur, cepat sembunyikan aku"


Sarah segera mempersilahkanku masuk, meskipun tak mengubah rawut cemas di wajahnya.


"Kenapa kau kabur, cepat beritahu aku!"


Aku meghela napas, duduk di kursi kecil tanpa penyangga dan segera menceritakan seluruh keluh kesahku beberapa waktu ini. Aku juga menceritakan kematian Amelie akibat tersebarnya vidio yang berbau dewasa itu.


"Itu kan bukan salahmu, Amelie yang menyia-nyiakan hidupnya sendiri!"


Aku terjungkal mendengar pekikan Sarah yang tiba-tiba itu. Suaranya sudah sebelas duabelas dengan toa.


"Tapi seharusnya aku bisa mencegahnya. Lagi pula dari awal ini adalah masalahku. Harusnya aku yang menangani masalahku sendiri, bukan melemparnya pada Angelica"


ucapku sembari menunduk menatap lantai yang terbuat dari keramik. Sarah menghela napas, ia bergerak mendekatiku dan melingkarkan tangannya di leherku.


"Kau kan bukan peramal yang bisa melihat masa depan. Siapa yang tau Amelie akan mengakhiri hidupnya sendiri"


Suara Sarah yang lembut seakan menenangkanku. Dia memelukku, memberikan kehangatan yang menjalar menuju hatiku. Hatiku yang semula membeku dibuat mencair olehnya.


"Tapi Hades membenciku"


Ucapku lirih dengan genangan air mata yang hendak menetes. Sarah menangkup wajahku dan menghapus jejak air mata di kedua sudut mataku.


"Kalau begitu sadarkan dia, mengapa kau malah melarikan diri?"


Aku menggeleng, aku tidak tau. Mengapa aku melarikan diri? Aku hanya tidak ingin Hades terus merasa menderita karena ku. Aku ingin dia bahagia. Aku ingin melihat senyumnya yang jarang itu.


"Aku tidak ingin dia terkekang karena harus bertunangan dengan orang sepertiku"


Sarah tersenyum sembari mengacak rambutku dengan lembut. Sentuhannya itu membuatku nyaman. Aku sangat tidak asing dengan perasaan ini. Ini seperti saat Nathan yang sedang menenangkanku di mobil waktu itu.


"Kalau begitu kau mau pergi kemana? Apakah ada tempat untukmu bernaung?"


Aku mengerucutkan bibir. Aku memang belum memikirkan hingga kesana. Ayo bekerjalah otak, pikirkan suatu tempat yang bisa kau jadikan tempat persembunyian.


"Coba hubungi temanmu yang ada di sekolah khusus, mungkin mereka bisa membantu"


Aku mengangguk. Benar juga, bagaimana aku bisa melupakan Karen? Dia dulu berkali-kali mengajakku untuk berlibur di Jogjakarta bersama keluarga pamannya.


Aku segera mengeluarkan handphone dari dalam saku dan mencari kontak seseorang yang sudah lama tak ku hubungi. Semoga Karen masih menggunakan nomor yang sama, hanya dia satu-satunya orang yang terpikirkan di otakku saat ini.


"Halo ini siapa ya?"


Aku tersenyum senang mendengar suara yang sudah lama tak ku dengar itu. Karen, si anak tuna netra yang sifatnya bagaikan seorang malaikat.


"Karen, ini aku Persephone!"


Pekikku senang sambil meloncat-loncat kegirangan. Sarah yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mungkin dia sudah maklum dengan sikap setengah warasku ini.


"Oh Persephone, bagaimana kabarmu?"


Aku menghela napas memikirkan kabarku saat ini. Sangat tidak baik-baik saja. Sedang berada di ambang dilema antara pergi dan tinggal.


"Aku baik-baik saja. Oh ya, apakah keluarga pamanmu masih tinggal di Jogjakarta?"


Aku menahan napas mendengar jawaban yang akan dilontarkannya. Semoga saja masih, aku benar-benar tidak tau harus kemana lagi selain kesana.


"Masih, apakah kau mau berkunjung kesini? Aku juga sedang berada di Jogjakarta saat ini"


Aku tersenyum lebar. Untunglah jawabannya sangat sesuai dengan harapanku. Bahkan melebihi ekspetasi.


"Aku mau, aku akan berangkat kesana besok pagi"


Aku dan Sarah saling melemparkan senyum satu sama lain.


"Kau akan kesini naik apa?"


Aku menepuk keningku tanpa sadar. Benar juga, tak mungkin aku minta Pak Kasim untuk mengantarkanku. Aku harus ke Jogjakarta naik apa? Aku tidak pernah menaiki angkutan umum. Waktu itu saja aku baru mencoba menaiki bus untuk yang pertama kalinya.


"Ada apa Persephone?"


Aku menoleh pada Sarah yang menatapku dengan tatapan bingung.


"Aku tidak tau bagaimana cara ke Jogjakarta"


Ucapku sembari tersenyum kecut. Sarah tergelak, ia menertawaiku hingga terpingkal-pingkal di atas sofa. Dasar menyebalkan, untung kita teman.


"Makanya anak manja sepertimu jangan sok-sokan kabur"


Aku menepuk lengannya sembari mengerucutkan bibir, sebal. Bisa-bisanya dia meledekiku di saat genting seperti ini. Aku juga sebenarnya tidak mau kabur, tapi bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Aku juga tidak mau harus balik lagi dan melihat wajah Hades yang memandangku rendah.


"Halo Persephone, bagaimana?"


Aku segera kembali menempelkan handphone di telinga kananku. Karen masih setia menunggu jawabanku di sana.


"Besok biar aku antar kau ke stasiun kereta api"


Aku tersenyum lebar seraya merangkul tubuh Sarah.


"Kau memang terbaik Sarah"


Ucapku berbisik di telinganya. Sarah membalasku dengan senyum manis penuh arti.


"Karen, besok pagi aku kesana dengan kereta. Kau kasih tau saja stasiun yang paling dekat denganmu"


Karen segera memberitahuku nama stasiun kereta api yang paling dekat dengan rumah pamannya.


Setelah mematikan panggilan, aku segera berlari memeluk Sarah. Aku senang sekali bagaikan tertimpuk emas 24 karat. Gelisah yang sebelumnya menyelimutiku seakan menguap begitu saja. Sekarang aku tidak ragu lagi untuk melangkah pergi.


"Ayo bersihkan dirimu dulu di kamarku"


Sarah menarik tanganku untuk menaiki satu persatu anak tangga hingga sampai di lantai kamar tidurnya. Sarah duduk di depan meja belajar sembari menungguku selesai membersihkan diri.


Ting.. Tong..


Suara bel yang dibunyikan membuatku menghentikan aktifitas dan segera melilitkan handuk menutupi tubuhku. Perasaanku jadi tidak enak. Pasti keluargaku sudah sadar bahwa anak kesayangannya saat ini melarikan diri dari rumah.


Aku membuka pintu toilet dan menemukan Sarah yang berdiri di hadapanku dengan wajah cemasnya.


"Persephone, ada ibumu bersama satu wanita paruh baya di depan"


Aku menghela napas, tuhkan aku sudah mempunyai firasat bahwa ibu akan mencariku disini. Bersama satu wanita paruh baya, sudah pasti itu Tante Zetha.


"Sarah tolong sembunyikan aku"


Aku menatap Sarah dengan kedua alis yang terangkat. Sarah segera mengangguk dan kembali menutup pintu toilet rapat-rapat.


"Jangan ribut, bersembunyilah di dalam sana"


Setelah mendengar suara teriakkannya dari luar, aku segera meringkuk di pojok kamar mandi dan merapalkan berbagai doa di dalam benakku. Semoga aku tidak ketahuan. Aku benar-benar tidak ingin kembali. Tuhan, tolong kali ini saja berpihak lah padaku.


Aku tidak tau sudah berapa menit aku meringkuk di dalam sini. Keringat sudah bercucuran membasahi handuk yang menutupi tubuhku. Kenapa Sarah lama sekali, memangnya mereka sedang arisan apa?!


"Persephone"


Aku beranjak berdiri menghampiri Sarah yang membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Bagaimana apakah mereka sudah pergi?"


Tanyaku sembari celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Sarah mengangguk, ia menarik pergelanganku keluar dari kamar mandi.


"Mereka menitipkan barang padaku, katanya kalau bertemu Persephone tolong berikan ini padanya"


Aku mengambil sebuah kotak merah yang disodorkan Sarah. Sedikit usang dan berdebu, mungkin sudah lama disimpan.


"Yaudah aku mau berpakain dulu"


Aku menaruh kotak berwarna merah usang sembarang di atas meja dan segera membongkar koper mencari piayama bemotif beruang, kesukaanku.


Sarah membuang muka, meskipun sama-sama perempuan sepertinya dia sedikit malu melihatku polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi. Aku sih biasa aja, bahkan dulu aku suka mandi bersama Karen. Tapi gadis itu pengidap tuna netra sih, apa yang bisa dia lihat dari tubuhku hehe.


"Sudah selesai"


Aku berjalan mendekati Sarah dan mengambil tempat duduk di sampingnya. Aku meraih kotak berwarna merah usang itu dan membukanya. Aku menutup hidung saat butiran debu bertebaran ke arah wajahku.


"Apa itu?"


Aku mengangkat bahu sembari mengambil sebuah gelang berbentuk bulan sabit. Gelang ini tidak asing, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi entahlah, aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.


"Itu ada suratnya"


Aku mengambil sebuah amplop yang warnanya sudah berubah menjadi kuning kusam. Aku menatap nama pengirim di pojok kanan amplop tersebut.


From: Agnes


To: Persephone


"Dari Agnes, saudara sepupuku?"


Aku mengerinyit bingung. Kalau ini memang dari Agnes, kenapa baru diberikan padaku sekarang? Kenapa ibu dan Tante Zetha menyembunyikan hal ini padaku. Sungguh aku benar-benar tidak mengerti.


Aku membuka amplop tersebut secara perlahan dan membaca satu persatu tulisan bertinta hitam di atas kertas bergambar winnie the poo, kartun kesukaan kami dulu.


Dear saudara sepupuku,


Maafkan aku Persephone, maaf karena aku telah salah mengira padamu. Aku sangat menyesal telah membuatmu dikucilkan oleh teman-teman komplek. Hades telah menyadarkanku ia mendatangiku dan berkata bahwa perlakuanku padamu telah salah. Ia tidak menyukai gadis pembully sepertiku. Sebagai permintaan maafku, aku memberikanmu gelang kesayanganku. Tolong jaga gelang ini dengan baik, semoga kita bertemu lagi nanti. Sampai jumpa Persephone!


Aku kembali melipat surat itu dan menaruhnya di dalam amplop. Aku menyenderkan badanku di peyangga bangku dan menengadah menatap langit-langit kamar Sarah yang polos.


Saat ini perasaanku campur aduk. Aku bingung dan senang secara bersamaan. Selama ini ku pikir Hades senang bila melihat ku dikucilkan, tetapi diam-diam ternyata dia membelaku. Seberapa banyak lagi rahasia yang sedang dia tutupi. Mengapa ibu dan Tante Zetha harus menyembunyikan kotak ini. Kenapa dia tidak memberitahukannya padaku, bahwa selama ini aku telah salah mengira pada Hades.


"Persephone, ada apa?"


Aku menoleh pada Sarah yang menatapku cemas. Aku menanggapinya dengan gelengan kecil seraya membereskan kotak merah itu. Aku mengambil gelang yang diberikan Agnes dan memakainya di pergelangan tangan kiriku.


Aku ingat ini adalah gelang kesukaan Agnes. Dia tak pernah melepaskan gelang ini dari tangannya. Apakah dia sangat menyesal sampai-sampai memberikan benda berharga ini padaku. Aku jadi rindu wajah manisnya, saat ini dia berada dimana ya? Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi setelah kejadian itu.


Perlahan semua pertanyaan di benakku pasti akan terjawab. Aku tinggal menunggu bom waktu yang akan menyingkap segala rahasia tentang Hades. Mengapa selama ini dia berbohong padaku. Mengapa dia berpura-pura tidak suka padaku. Mengapa dia selalu menghindariku. Mengapa dia meninggalkanku disaat aku sedang terpuruk. Mengapa dia tak pernah mengunjungiku di Rumah Sakit Jiwa. Aku ingin mengetahui jawabannya.


Sulit bagiku untuk melupakanmu


Bagaimana memori bisa dengan mudahnya dilupakan?


Sulit bagiku untuk membencimu


Bagaimana aku bisa membencimu?


.


.


.


.


TBC 🖤