PerfectMatch

PerfectMatch
53



Beberapa menit kemudian Zayn sampai di kantornya, Zayn kaget dengan kehadiran Vara sang kakak nya dengan wajah yang kesal dan marah dihadapannya.


"Zayn!" Bentak Vara kepada adiknya.


"Kak, ada apa ?" Tanya Zayn


"Kamu jangan macam macam sama Tari! Atau kakak yang akan maju kedepan!" Kata Vara dengan mata melotot kearah adik nya.


"Kakak kenapa sih? Ada apa kak?" Tanya Zayn bingung dengan sikap Vara kepadanya.


"Zayn, kakak takut kalau hubungan kamu dan Tari dihancurkan sama Shinta" kata Vara lembut penuh ke khawatiran.


"Kakak ketemu Shinta?" Tanya Zayn


"Jangan bodoh! Tadi dia kan meeting sama kita Zayn!" Bentak Vara lagi karena Zayn belum juga mengerti


"Astaghfirullah iya ya.. terus kakak bicara sama dia?" Tanya Zayn bingung.


"Iya tadi Shinta ngomong sama aku" jawab Vara masih dengan wajah khawatir dan takut


"Apa?" Tanya Zayn penasaran


"Tadi dia ngomong kalau kantor ini akan jadi miliknya" kata Vara jujur.


"Nggak akan pernah! Aku tau dia hanya menakut nakuti kita" jawab Zayn dengan geram


"Aku tau Shinta Zayn, dia akan sungguh² dengan ucapannya" jawab Vara yang membuat Zayn tersenyum miris


"Sungguh²? Benarkah? Bahkan dia pernah berkata akan menua bersama ku, namun kenyataan nya?" Kata Zayn dengan senyum kecut.


"Zayn! Ngertiin situasi ini! Ini bukan hanya kantor kita! Tapi juga kantor mertua kamu Zayn!" Bentak Vara jengkel kepada Zayn, lalu Vara meninggalkan Zayn yang masih berdiri, entah apa yang dipikirkannya.


'semuanya akan baik baik saja!' batin Zayn dengan berpikir positif.


***


"Non, bibi udah buatin non jus jambu" kata Bi Romlah dibalik pintu kamar Tari.


"Iya bi. Habis ini saya keluar" saut Tari dari dalam kamarnya.


"Bibi permisi dulu non" lalu Bi romlah meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju dapur.


Setelah Tari keluar dan menghabiskan jus jambu nya, dia duduk santai di depan televisi sambil menunggu azan Maghrib tiba.


Tidak lama kemudian azan Maghrib berkumandang, Tari mematikan Tv dan bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan shalat berjama'ah dengan bi romlah dan juga bi Dia (asisten kedua).


Itulah kebiasaan baru Tari jika Zayn belum pulang dari kantor atau Zayn memilih untuk jama'ah di mushalla.


Selesai jama'ah bi romlah dan juga bi Dia melanjutkan pekerjaan nya yang terpotong karena ibadah shalat Maghrib.


Namun Tari masih setia dengan sajaddah nya dan membuka mushaf Alquran dan memulai muraja'ah nya.


Sebagai umat Islam yang menghafal Al-Qur'an, wajib untuk muraja'ah tiap hari.


Mulai dari keperluan mandi, keperluan makan, dan lain sebagainya.


Tidak terasa azan isya berkumandang dengan merdu, namun Zayn belum juga pulang. Itu membuat Tari khawatir.


"Katanya kak Zayn pulang untuk makan malam, tapi kok belum juga pulang?" Gumam Tari setelah menunaikan Shalat isya'.


"Non, makan malam sudah siap" kata Bi Romlah kepada Tari yang sedang menunggu Zayn sambil menonton TV.


"Iya bi, saya masih nunggu Kak Zayn" jawab Tari.


"Saya kebelakang lagi ya non" pamit bi Romlah yang diberi anggukan oleh Tari.


10 menit kemudian, Tari mendengar ketukan pintu dari luar, dengan semangat Tari membuka pintu setelah menggunakan kerudungnya.


"Kak, kok baru pul...." Kata kata Tari tersendat, Tari sangat kaget dengan orang yang bersama Zayn dan penampilan Zayn yang acak acak an.


"Tari, mas Zayn mabuk" kata seseorang yang bersama Zayn.


Tari masih berdiri mematung dengan sejuta pertanyaan yang terlintas di pikirannya.


"Tari, apa boleh aku bawa masuk?" Tanya nya lagi, dan sukses membuat Tari tersadar dari lamunannya.


"Tidak usah! biar saya sendiri" tolak Tari lalu mengambil alih tangan Zayn yang berada di pundak Shinta. Ya, itu Shinta, mantan kekasih Zayn.


Tari langsung membawa Zayn masuk kekamar mereka dan Tari kembali menemui Shinta.


"Ceritakan!" Kata Tari setelah sampai dihadapan Shinta tanpa menyuruhnya untuk duduk.


"Tadi dia menemui ku sudah dalam keadaan mabuk" jawab Shinta enteng.


"Lalu?"


"Dia memintaku untuk tidur bersamanya, jelas saja aku menolak dan membawanya ke rumah kalian"


"Sungguh?"


"Aku tidak akan main main dengan apa yang aku katakan!"


"Saya akan mempercayai apa kata suami saya"


"Cih! Bahkan dia menghianati janji makan malam dirumah bersama istri nya dan memilih untuk tidur bersama mantan pacarnya, tapi sayangnya sang mantan pacar menolak"


"Terima kasih telah membawa suami saya pulang"


"Suatu hari akan saya terima permintaan suami kamu barusan!" Ucapan Shinta membuat telinga Tari panas dan dengan gerakan cepat Tari langsung menutup pintu.


Tari langsung berlari menemui Zayn yang sudah pingsan dengan tetesan air mata yang deras.


"Kak!! Kamu utang penjelasan!!"