
"Pundak kamu tadi pasti sakit kan? Maka dari itu aku bawa kamu ke sini" kata Zayn setelah sampai di puskesmas terdekat kampus.
"Ini udah masuk jam pelajaran aku, gimana dong!" Kata Tari cemas.
"Aku udah ngizinin kamu ke pak Dimas, sekarang jamnya pak Dimas kan?"
Tari menjawabnya dengan anggukan "Makasih ya" lanjut Tari sambil tersenyum.
***
"Tari kemana ya sama pak Zayn tadi, sampe sekarang kok belum balik juga?" Gumam Lisa setelah pak Dimas datang.
"Tugas kumpulkan, dan tolong Revan nanti ambilkan tugas Lestari ya" kata pak Dimas.
"Emang Lestari kemana pak?" Tanya Revan.
"Dia izin ke puskesmas" jawab pak Dimas.
"Baik pak" jawab Revan mengerti dengan kejadian tadi.
"Revan, aku ikut kamu ke Tari ya" kata Virly setelah pelajaran selesai.
"Boleh, ayuk kita kesana sekarang" jawab Revan sambil berdiri dari duduknya.
"Kita berdua juga ikut ya" kata Manda dan Lisa setelah Revan berdiri.
Lalu mereka pergi ke puskesmas.
***
"Ini resep obatnya, silahkan diambil ya bu" kata dokter sambil menyodongkan kertas kepada Tari.
"Baik dok" jawab Tari sambil menerima kertaa tersebut.
"Biar aku aja yang ambil" kata Zayn mengambil kertas yang dipegang Tari dan pergi meninggalkan Tari.
"Tar.." sapa Virly ketika sampai di puskesmas dan menemui keberadaan Tari.
"Hai.. kok kalian disini" tanya Tari.
"Kita mau ambil tugas dari pak Dimas" jawab Revan.
Lalu Tari mengasihkan tugas tersebut kepada Revan, dan Revan mengangguk lalu meninggalkan Tari dan para sahabatnya.
"Kamu nggak papa kan?" Tanya Manda khawatir.
"Nggak papa kok, cuman cedera aja dikit" jawab Tari sambil menyunggingkan senyumannya.
"Nih obatnya" kata Zayn sambil menyodongkan sebungkus plastik kearah Tari lalu Tari menerima nya.
"Pak.. kita permisi dulu" kata Lisa berpamitan kepada Zayn karena mereka merasa keberadaannya mengganggu mereka berdua, lalu Zayn menjawab dengan anggukan "Bye Tar" lanjut mereka bertiga sambil melambaikan kedua tangan.
"Boleh aku bicara sebentar?" Tanya Zayn kepada Tari.
Tari menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.
"Ngga enak kalau ngomongnya disini, kita ke--"
"Ke kantin aja, aku laper" kata Tari memotong pembicaraan Zayn.
Tanpa persetujuan dari Zayn, Tari langsung berjalan menuju kantin yang diikuti oleh Zayn.
"Kamu keberatan menikah denganku?" Tanya Zayn setelah memesan makanan dikantin kampus. Pertanyaan tersebut membuat Tari gemetar.
"Eemm.. e-enggak kok" jawab Tari dengan gugup.
"Aku sudah tau apa yang ada antara kamu dan Fahri"
Tari hanya diam tidak menjawab Zayn.
"Kamu mau melanjutkan pernikahan dengan orang yan tidak kamu sukai?" Lanjut Zayn.
"Apa kamu akan membatalkannya?" Tanya Tari.
"Aku tidak akan membatalkan, jika kamu ingin membatalkan maka aku akan membatalkannya" jawab Zayn.
"Aku tidak mau mengecewakan orangtua kita" jawab Tari.
"Aku akan menunggu kamu sampai kamu mencintai aku" kata Zayn membuat air mata Tari berjatuh.
"Maafkan aku" kata Tari dengan menunduk.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena ini masalah hati"
"Apa benar Fahri mau menikah?"
Tari menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Aku akan menemanimu besok" kata Zayn
"Jangan"
"Kamu tidak berhak melarangku, karena aku pun diundang keacaranya"
Tari tidak bisa menjawab apa apa, dia hanya pasrah atas semua yang Zayn lakukan.