
Pernikahan Zayn dan Tari telah mencapai 1 bulan.
"Kak, aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Tari sambil menonton tv bersama sang suami.
"Apapun sayang" jawab Zayn.
"Apa kamu mempunyai masa lalu dengan wanita sebelum aku?"
"Kenapa kamu bertanya hal itu?"
"Kamu mengetahui masa lalu aku, nggak adil jika aku nggak tau masa lalu kamu kak"
"Punya" jawab Zayn memandang mata Tari.
"Lalu?"
"Aku pernah jatuh hati kepada seorang wanita, dan aku tersakiti karena dia menyakiti aku dengan dia hamil dengan laki laki lain" kata Zayn dengan tatapan mata Tari.
Tari hanya manggut manggut mendengar perkataan Zayn.
"Kamu jangan cemburu" kata Zayn sambil mengalihkan pandangannya ke tv.
"Mana mungkin, kamu suami" jawab Tari sambil memeluk tangan Zayn. Zayn hanya tersenyum karena sifat Tari yang semakin manja kepadanya.
***
Setelah menonton tv, mereka kembali ke kamarnya.
"Aku boleh minta itu?" Pinta Zayn dengan menarik dagu Tari dengan lembut.
Tari menjawabnya dengan anggukan dan tersenyum kearahnya.
Seperti biasa, Zayn akan mendahulukan ber'doa dan mencium kening Tari dengan mesra.
Dan malam panjang telah terjadi kembali.
***
Pagi hari.
"Kak.. bangun" Tari membangunkan Zayn saat azan shubuh berkumandang.
"Kamu mandi dulu sayang.. nanti aku habis kamu" jawab Zayn setelah bangun dari tidurnya.
Beberapa menit kemudian Tari keluar dari kamar mandi.
"Kak, cepet mandi" perintah Tari, lalu Zayn langsung masuk kedalam kamar mandi, dan Tari menyiapkan baju ganti untuk dipakai suaminya.
Beberapa menit kemudian Zayn keluar dari kamar mandi lalu ganti baju, sementara Tari telah memakai mukenah nya.
"Astaghfirullah!! Aku lupa belum mengambil wudhu" gumam Zayn.
"Ada apa kak?" Tanya Tari membalikkan badannya menghadap kearah Zayn.
Zayn berjalan kearah Tari, lalu Zayn memegang kedua pipi Tari.
"Kalau wudhu itu yang sempurna sayang" kata Zayn lalu berlali masuk kedalam kamar mandi.
"Kak! Wudhu Tari jadi batal kan!" Teriak Tari jengkel.
Setelah sholat shubuh, Tari pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi, karena Zayn akan meeting.
Memang Tari meminta kepada Zayn untuk tinggal dirumah yang sederhana dan tanpa pembantu, awalnya Zayn menolak karena itu akan membuat istrinya kerepotan. Tapi Zayn mana bisa jika melihat Tari yang memohon mohon kepada nya. Lalu Zayn pun mengizinkannya.
"Kak.. kamu mau sarapan apa?" Tanya Tari sambil memegang penggorengan.
"Mungkin jamur krispi seperti saat pertama kali aku memakan masakan kamu sayang" jawab Zayn sambil menarik kursi meja makan.
"Baiklah" jawab Tari.
Lalu Tari mengambil jamur yang ada di kulkas, dan memulai memasaknya.
Ditengah tengah kegiatan Tari, dia tiba tiba terasa mual dan kepala nya sangat berat. Tanpa disadari, piring yang ia bawa terjatuh dengan keras hingga pecah. Zayn terkejut, dan langsung berdiri dari duduknya untuk menolong istrinya.
"Sayang.. kita ke kamar" ajak Zayn yang disetujui oleh Tari. Setelah mengantar Tari ke kamar mereka, Zayn langsung menghubungi kakaknya.
15 menit kemudian, Vara sampai di rumah Zayn bersama dengan Intan.
"Aku akan memeriksa Tari sekarang" kata Vara yang berlali kecil kearah kamar Tari.
"Sayang... ada apa dengan Tari?" Tanya Intan panik.
"Tari tadi masak tapi tiba tiba dia menjatuhkan piring dan badannya sangat lemas" jawab Zayn dengan panik juga.
Beberapa menit kemudian Vara keluar dari kamar Tari dengan senyuman yang menyeringai.
"Gimana kak?" Tanya Zayn yang masih panik.
"Selamat Zayn" jawab Vara sembari memeluk Zayn dengan erat.
"Sayang.. ada apa?" Tanya Intan bingung.
"Tari hamil ma" jawab Vara dengan senyuman bahagia nya.
Zayn yang mendengar tersebut dia langsung lari ke kamarnya. Saat ia masuk, Tari memperhatikannya dengan senyuman.
"Sayang.. trima kasih" kata Zayn sambil memeluk badan Tari yang masih lemas dengan erat, Tari meneteskan air mata bahagia nya, lalu dia mengangguk kan kepalanya.
"Anak papa" kata Zayn sambil mencium perut Tari yang masih rata.
"Anak kita" jawab Tari dengan mengelus perutnya.
Zayn tersenyum bahagia.
"Kak, berangkatlah. Aku takut kamu terlambat"
"Aku sudah menelfon Gio (sekretaris pribadi Zayn) untuk menggantikanku"
"Baiklah" jawab Tari lalu dia bangkit dari baring nya, karena merasa sudah enakan, Tari sudah bisa berdiri dan kepalanya pun sudah tidak berat lagi seperti tadi.
"Antar aku menemui kak Vara kak" pinta Tari, lalu Zayn mengantar Tari untuk ke ruang tamu.
"Sayang.. mama bahagia" kata Intan sambil memeluk Tari.
"Mama kamu 5 menit lagi sampai disini, aku batu saja menelfonnya" kata Vara
"Iya kak" jawab Tari dengan senyuman.
5 menit kemudian Zoya dan Fadli dan juga Yusuf sampai di rumah mereka.
"Lho papa?" Sapa Zayn heran.
"Tadi papa di kantor sama Fadli, eh mama nya Tari nyusul ke kantor, lalu kita pergi bersama" jelas Yusuf.
"Sayang... mama sangat sangat bahagia" ucap Zoya sembari memeluk Tari dengan begitu erat.
Mereka berbincang bincang, dan ditengah tengah percakapan mereka, Fadli membuka suara.
"Tari.." panggil Fadli ditengah tengah banyaknya orang.
"Iya pa?" Jawab Tari.
"Papa nggak selama nya muda sayang, papa akan menua, jadi mungkin ini sudah saatnya papa mewariskan semuanya kepada kamu nak"
"Papa, kok sekarang?" Tanya Tari bingung.
"Sayang.. mama sama papa hanya punya kamu, kamu harus menerima nya ya nak" tutur Zoya.
"Tari baru lulus kuliah ma, Tari belum bisa"
"Zayn akan mengajari kamu sayang" jawab Fadli.
"Kak Zayn akan sibuk dengan karier nya sendiri pa" protes Tari.
"Papa tau sayang.. tapi kepada siapa lagi kita mewariskannya?" Kata Fadli.
"Papa tenang saja, Zayn bisa membantu Tari" kata Zayn menenangkan.