
Setelah meeting dengan beberapa clien, Zayn menyempatkan waktu untuk mengantar Tari pulang untuk istirahat. Karena kehamilan Tari yang semakin bertumbuh lah yang membuat Zayn selalu khawatirkan kehamilan istrinya.
"Kak.. kalau kamu masih ada urusan, ngga papa kok aku pulang sendiri aja naik taksi" kata Tari yang berada di ruangan Zayn.
"Sayang.. aku ngantar kamu sampai kerumah hanya membutuhkan waktu 20 menit saja. Dan kalau kamu naik taksi itu malah membuat aku semakin khawatir sayang" jelas Zayn sambil berdiri dari duduk nya.
Meskipun menolak Zayn seperti apapun, Zayn akan tetap menyempatkan waktu untuk istrinya. Tari pun merasa percuma dengan penolakan nya.
"Yasudah lah kak, percuma juga kan aku nolak nya" jawab Tari dengan nada kesal.
"Yasudah, yuk berangkat" Kata Zayn sambil mengambil kontak mobil mewahnya dari meja kerjanya.
Zayn langsung menarik pinggang Tari dengan tangan kanan, dan tangan kirinya berada di saku celana nya.
"Kamu lapar?" Tanya Zayn saat berada di dalam mobil.
"Iya, tapi tadi bi Romlah masak banyak kak" jawab Tari, bi Romlah adalah asisten baru dirumah mereka.
"Yakin ngga mau mampir di restoran?" Tanya Zayn dengan nada menggoda istrinya
"Nggak" jawab Tari singkat dan dingin sambil memainkan ponselnya
"Yasudah iya, nanti kamu pulang langsung mandi terus makan ya, jangan lupa vitaminnya. Dan jangan kecapean, aku ngantar kamu kerumah untuk istirahat sayang.." kata Zayn yang masih menatap kaca depan.
"Bawel ih!" Jawab Tari sambil mencubit pinggang Zayn yang sedang menyetir
"Sakit sayang" jawab Zayn sambil mengelus pinggangnya.
Tari hanya senyum penuh cinta kepada Zayn, Zayn pun begitu.
Adakah yang memisahkan cinta mereka selain maut?
***
Vara yang sedang berada di ruangannya sendirian, tiba tiba ketukan pintu mengagetkan kefokusannya kepada map yang ada di depannya.
Tok,,tok,,tok
*Siapa sih? Ngagetin aja* gumam Vara dalam hati sambil menutup map nya.
"Kak Vara" panggil cewek tersebut dengan senyum kecut.
"Ada apa kamu ke ruangan saya?" Tanya Vara sinis kepada cewek tersebut yang tak lain adalah Shinta.
"Jangan galak galak kak, nanti cepat tua" kata Shinta sambil mendudukkan badannya di sofa besar yang ada di ruangan Vara tanpa merasa bersalah.
"Siapa suruh duduk?" Tanya Vara yang masih sinis sambil menatap tajam kearah Shinta yang ada di hadapannya
"Aku dilarang duduk? Tenang aja kak, kantor ini akan jadi milikku" kata Shinta dengan nada yang berbisik dan diperjelas dengan kata kata akhirnya.
"Cuih! Ngimpi!" Jawab Vara sambil memalingkan pandangan nya dari muka Shinta.
"Kita lihat aja, siapa yang mimpi" jawab Shinta dengan cepat lalu langsung keluar dari ruangan Vara.
*Kok gue jadi takut ya sama omongan cewek ****** tadi?* Gumam Vara dalam hati
*Yaallah apapun yang terjadi, lindungilah keluarga kami Yaallah* imbuh nya.
***
"Kak, nggak mau makan dulu?" Tanya Tari sambil keluar dari mobil yang dituntun oleh Zayn.
"Kayak nya nggak cukup waktunya sayang, nanti kita makan malam aja ya" jawab Zayn sambil menatap jam tangannya lalu mengelus kepala Tari.
"Iya kak, langsung balik?" Tanya Tari lagi.
Zayn hanya menjawab dengan anggukan kepala sembari tersenyum kepada sang istri.
"Yaudah hati hati, cepet pulang" jawab Tari sambil mengecup punggung tangan kanan Zayn.
"Aku berangkat sayang, assalamualaikum" pamit Zayn sambil masuk kedalam mobil.
"Waalaikumsalam" jawab Tari sambil melambaikan tangannya.
*Seberapa deketnya sih kak Zayn sama Shinta?* Gumam Tari dalam hati sambil masuk kedalam rumah.
Pertanyaan demi pertanyaan tentang Zayn dan Shinta membuat Tari semakin penasaran. Tari merasa gelisah dengan kembali hadirnya Shinta sang mantan Zyan yang dulu sangat dicintai oleh Zayn.