PerfectMatch

PerfectMatch
Butik Jakarta



"Ma, Tari ingin melihat butik papa yang di Jakarta". Kata Tari setelah mereka berdua makan.


"Boleh, kapan kita mau kesana?". Tanya Mama Zoya.


"Sore ini boleh ?". Tanya Tari.


"Boleh, jam 4 setelah sholat ashar ya". Ajak mama Zoya.


"Iya ma, eeemm perusahaan papa apa aja dan dimana aja sih?" Tanya Tari. Memang selama ini yang di ketahui Tari hanyalah butik yang ada di Jakarta.


"Papa kamu termasuk CEO di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, papa mempunyai perusahaan di Amerika, Italia, dan London,. dan mempunyai beberapa Vila di Bali, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Mesir yang di kelola kamu sekarang. Butik Papa kamu juga termasuk butik terbesar di Indonesia, Papa kamu punya 4 butik, Di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bogor". Jawab Mama Zoya


"Subhanallah.. Banyak sekali ya Ma".


"Alhamdulillah sayang, nantinya juga kan untuk kamu, mama ngga punya siapa siapa lagi selain kamu sayang. Maka dari itu mama sama papa sepakat untuk menyantrikan kamu di pondok pesantren biar mengerti masalah agama dan mengelola nya dengan benar atas dasar agama juga sayang..". Jawab mama Zoya.


"Ma, aku minta satu permintaan boleh ? Aku ngga mungkin nantinya mengelola sendiri ma".


"Apa sayang? Jangan jangan kamu mau nikah yaa??" Goda mama Zoya.


"Maa.. apaan sih". Jawab Tari dengan senyum.


"Apa permintaan nya dong?".


"Boleh ngga aku membuat panti asuhan di Jakarta?". Tanya Tari.


"Subhanallah.. boleh banget sayang, mama setuju".


"Beneran Ma?".


"Iya dong sayang.. mama setuju banget,"


"Alhamdulillah kalau mama setuju.. Selama Tari di Indonesia Tari akan mewujudkan nya dengan waktu 2 minggu saja".


"Kamu yakin 2 minggu sayang..?".


"Tari yakin ma, Tari ingin sekali ma, jadi pengen semua nya singkat, boleh kan ma?".


"Sangat di bolehkam sayang.. ngomong ngomong kamu di Indonesia berapa bulan sayang?".


"Hanya satu bulan ma, lalu Tari kembali ke Mesir satu bulan untuk semester dan sidang, lalu 3 hari untuk wisuda ma. Jadi Tari sebentar lagi wisuda ma".


"Alhamdulillah, kamu anak mama yang hebat sayang". Kata mama Zoya sambil memeluk Tari dengan menangis karna bahagia.


"Berkat doa mama sama papa dong ma.. hehe".


"Kamu ngga mau masuk ke dalam?"


"Boleh ma?"..


"Boleh banget, kamu tadi ngga nanya jadi mama lupa".


"Waah ayuk masuk ma".


Mereka berada di samping ranjang papa Fadli.


"Pa, papa cepet sembuh ya.. biar bisa lihat Tari sukses dan ngebahagiain papa". Kata Tari sambil mengelus tangan papa Fadli.


Setelah lama mereka di kamar rawat Papa Fadli yang VVIP itu, lalu mereka memilih pulang untuk bersih bersih badan.


"Sus, saya titip papa saya ya.. jaga papa baik baik. Saya tinggal pulang dulu".


"Nanti insyaallah di gantikan oleh asisten bapak". Lanjut mama Zoya.


"Dengan senang hati". Jawab Suster ramah.


Lalu Tari dan mama Zoya pulang. Dirumah mereka yang bisa dibilang super mewah tersebut ada 3 penjaga gerbang, 2 sopir pribadi, dan 5 ART.


"Lho.. ada Fahri". Kata Mama Zoya.


"Siapa ma?".


"Sekretaris pribadi papa sayang".


Fahri adalah sekretaris pribadi papa Fadli yang masih muda, umurnya 28 tahun, dia gagah dan tampan, selain itu dia juga pekerja keras dan tanggung jawab.


Fahri dari keluarga yang bisa dibilang sederhana, tapi dia tidak pernah malu dengan keadaan nya.


"Fahri, kapan kamu datang?" Tanya mama Zoya.


"1 jam yang lalu Bu". Jawab Fahri


"Kenalin, ini Tari".


"Jangan panggil Non, panggil aja Tari karna kan kamu sekretaris papa". Kata Tari dengan senyum manis nya.


Seketika Fahri langsung terpanah dengan senyuman Tari.


Siapa sih yang ngga tergila gila jika melihat senyum Tari yang mempesona itu.


"Ah ya ngga enak lah Non".


"Benar kata Tari, umur kalian kan ngga beda jauh".


Kata mama Zoya yang disetujui Tari.


"Benar itu, jadi bolehkan aku memanggil kamu Kakak?, karena Tari ngga punya kakak, hehe". Tambah Tari


"Boleh, dengan senang hati Tari".


"Aku suka ngobrol dengan kakak, nanti kita lanjutkan ya". Kata Tari yang hanya di jawab Fahri dengan anggukan dan senyuman.


Begitulah Tari, tidak seperti santri pada umumnya yang tidak akrab dengan kaum adam. Karena Tari pikir selama pergaulan itu benar, Tari bebas memilih teman.


Lalu mereka berjalan masuk "ganteng ya Fahri". Kata mama Zoya sambil berjalan masuk.


"Mama mulai deh". Jawab Tari dengan muka datar.


"Hehe.. yaudah kita mandi dulu ya, kamu langsung kebawah kalau udah mandi".


"Siap mama". Kata Tari dengan gaya nya seperti penghormatan bendera, mama Zoya langsung terkekeh dengan sikap putrinya tersebut, dan langsung berjalan menuju kamar mereka masing masing.


Selesai mandi, mereka sholat Ashar, karena sudah menunjukkan pukul setengah 4. Setelah sholat Tari langsung kebawah untuk berangkat ke butik papa nya.


Mama Zoya masih berdandan, jadi otomatis Tari menunggunya di ruang keluarga sambil membaca ayat ayat alquran yang telah dihafalnya.


Mama Zoya menemui Tari di ruang keluarga.


Melihat Tari yang memakai gamis warna Ungu dan kerudung dengan warna senada membuat Tari makin terlihat sangat cantik dan natural.


"Subhanallah cantik banget putrinya mama". Kata mama Zoya setelah melihat penampilan Tari.


"Mama apaan sih.. yuk berangkat". Kata Tari dengan wajah yang sudah memerah.


Lalu mereka keluar, di depan masih ada Fahri dengan asisten asisten yang lainnya sambil berbincang bincang.


"Fahri". Panggil mama Zoya, Fahri langsung menoleh ke belakang. Lagi lagi Fahri terpanah dengan kecantikan Tari, dia melihat Tari sampai sampai tidak berkedip. "Subhanallah, bidadari sempurna ciptaan Allah" kata Fahri dalam hati.


"Fahri". Panggil mama Zoya yang membuat Fahri tersadar.


"Astaghfirullah". Kata Fahri ketika sadar dengan lamunannya.


"Ngeliatnya sampai ngga kedip gitu". Kata mama Zoya membuat Tari tersipu malu lalu menunduk.


"Ada apa ya bu? Ibu mau pergi kemana ?" Tanya Fahri mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sibuk ngga?" Tanya mama Zoya.


"Engga bu".


"Nanti malam tolong jagain pak Fadli ya sama pak Agus".


"Iya bu pasti".


"Oh iya, anterin kita dong ke butik saya".


"Yang di Jakarta?"


"Iya".


"Mari bu saya antar".


Lalu mereka ke Butik diantar oleh Fahri.


Butik mereka mempunyai nama LESTARI, hampir semua perusahaan di atas namakan Tari.


Sesampainya di butik, Tari dan mama Zoya dan juga Fahri disambut baik dengan para karyawan nya.


"Selamat datang Nyonya". Kata para karyawan dengan sopan pas mama Zoya berjalan melewatinya.


"Selamat datang Nona". Kata para karyawan kepada Tari.


"Selamat datang Pak Fahri". Kata para karyawan menyambut Fahri.


Mereka sangat sopan sekali dengan majikannya, dan juga para pembeli.