PerfectMatch

PerfectMatch
Chapter 28



4 minggu kemudian.


Papa Fadli sudah sehat, dia sudah kerja seperti biasanya. Mama Zoya makin sibuk karena adanya Panti asuhan yang baru didirikan tersebut. Fahri pun tak kalah sibuknya. Dia juga ikut mengatur panti tersebut, dia tidak meninggalkan kewajiban awalnya yaitu seorang sekretaris. Tari? Jangan ditanya lagi, dia pun sudah 4 hari ini menginap di panti tersebut karena saking sibuknya. Yaa benar saja sibuk.. panti asuhan tersebut kan baru baru ini didirikan.


Fahri dan Tari semakin dekat, mama Zoya dan papa Fadli tidak mencemaskan tersebut. Karena mereka tau bahwa kedekatan mereka hanya menyangkut adik dan kakak saja. Meskipun begitu, Tari tetap menjaga dirinya dari yang bukan muhrim.


Papa Fadli sudah mengetahui bagaimana Panti asuhan tersebut, kebanggan papa Fadli terhadap Tari tidak bisa di utarakan. Papa Fadli merasa sukses mendidik anak nya dengan baik, itulah yang dirasakan nya.


Tari sangat akrab dengan pengasuh Panti, apalagi dengan yang namanya Kirana, Tari sudah seperti adik nya saja. Kirana selalu bersama Tari, bahkan dia pernah jalan jalan berdua saja. Tari sangat menyukai Kirana karena kejujurannya.


Kirana Saraswati adalah anak dari seorang petani di desa. Kirana seorang yang cantik dan baik, selain itu dia juga bertanggung jawab. Kecantikannya sebelas dua belas lah sama Tari, tetap cantikan Tari hehe. Sayangnya, Kirana tidak memakai jilbab, meskipun begitu, Kirana tetap sholat lima waktu.


Tari besok akan kembali ke Mesir untuk 1 bulan, dan akan kembali lagi.


"Kamu besok terbang jam berapa, Tar?" tanya Fahri ditengah tengah perjalanan pulang.


"Jam 10 pagi, kamu antar aku kak ?"


"Aku akan bareng Ibu sama Bapak untuk mengantarkanmu"


Setelah sampai rumah, Tari langsung turun dari mobil dan mau masuk kerumah.


"Selamat malam" sebuah kata yang mengagetkan Tari, dia melepaskan gagang pintu dan memutar balikkan badan nya.


Tari sudah mengenal suaranya, dia adalah Fahri.


"Selamat malam juga" jawab Tari dengan gugup.


Tari memang dianggap adik oleh Fahri, tetapi Tari tidak. Tari menginginkan yang lebih dari itu, tapi dia tidak akan mau mengungkapkannya duluan sebelum Fahri menyadari sendiri semuanya.


***


"Kamu baik baik ya disana sayang" Kata mama Zoya di bandara.


"Iya ma, aku yakin mama sama papa pasti doain aku" jawab Tari menyunggingkan senyum manisnya.


"Nanti waktu wisuda papa sama mama nyusul kok" Papa Fadli membuka suara.


"Kak" panggil Tari kepda Fahri


"Iya?" Jawab Fahri gugup, karena ada bosnya (orangtua Tari)


"Aku titip panti ya, kalau ada apa apa bilang. Bisakan setiap hari videocall? Aku ingin selalu melihat anak anak" pinta Tari.


"Pasti, aku usahan untuk selalu Videocall kamu" jawab Fahri dengan senyum. Membuat Tari semakin menyukainya.


Tari juga menjawab nya dengan senyuman yang tidak kalah manis dari senyuman Fahri.


Mama Zoya dan papa Fadli yang menyadari tingkah anaknya.


2 menit kemudian pesawat yang akan membawa Tari mendarat. Semua penumpang masuk kedalam pesawat tersebut setelah di panggil satu persatu.


Nama Tari pun dipanggil, Tari berpamitan kepada mama dan papa nya, tidak lupa juga kepada Fahri.


***


Diperjalanan, mama Zoya memandangi Fahri dari belakangan.


"Kamu cuma ada hubungan adik dan kakak saja sama anak saya?" Tanya mama Zoya tiba tiba, membuat Fahri gelagapan.


"E-e... i iiyaa Bu, memang nyaa... kenapa ?" Jawab Fahri gugup.


"Astaga mama! Mama membuat Fahri gugup" Goda papa Fadli kepada Fahri.


"Sepertinya Tari mempunyai perasaan yang lebih kepada kamu" Kata mama Zoya lagi.


"Apa kamu tidak merasakannya?" Lanjut mama Zoya.


"Ma, Tari masih kecil. Walaupun jika ada perasaan, papa ngga akan menikahkan mereka secepat ini". Sekarang papa Fadli menjadi serius.


Mama Zoya menjawab dengan senyuman sambil mengangguk anggukkan kepala nya pertanda mengerti.