
Sampai di rumah sakit. Mereka segera masuk ke ruang rawat papa Fadli.
Disana Tari dan mama Zoya dapat melihat wajah lelah Fahri dan pak Agus karena semalaman mereka tidak tidur, seperti biasa Fahri dan pak Agus tidak akan tidur kalau mereka berdua tidak pulang ke rumah masing masing. Karena mereka berdua takut jika nanti papa Fadli sadar mereka tidak mengetahui itu.
Fahri sedang duduk di sofa sambil memainkan hp nya, sedangkan pak Agus sedang meneguk kopinya yang tadi ia pesan di warung dekat rumah sakit tersebut.
Kedatangan Tari dan mama Zoya membuat mereka terkejut dan langsung berdiri.
"Nyonya, mbak Tari" sapa pak Agus
"Bu Zoya, Tari" sapa Fahri
"Kalian pasti capek ya, yaudah gantian biar saya sama Tari yang jagain. Kalian bisa pulang untuk istirahat" kata mama Zoya
"Baik nyonya" jawab pak agus.
"Sebelum saya pulang, saya akan ke kantor bapak Fadli dulu Bu" kata Fahri
"Mengapa?" Tanya mama Zoya
"Hari ini ada meeting penting dengan klien penting, dan saya harus hadir untuk menggantikan pak Fadli" jelas Fahri
"Kamu ngga capek Ri?" Tanya mama Zoya
"Nanti selesai meeting saya langsung pulang untuk istirahat Bu"
"Yaudah kamu hati hati ya, oh iya Ri kamu perginya sama siapa?"
"Sendirian Bu, mengapa ya Bu?"
"Kamu kan capek, jadi biar Tari saja ya yang nyopir. Biar saya tidak khawatir sama kamu waktu dijalan". Kata mama Zoya.
"Tapi Bu–"
"Nolak Ibu? Tari aja mau kok nganterin kamu" kata mama Zoya dengan cepat memotong pembicaraan Fahri, lalu kembali berbicara "Yakan sayang?" Tanya mama Zoya kepada Tari dengan lirikan mematikan yang membuat Tari gelagapan.
"E-emm.. iya kak santai aja laah, lagian aku juga ingin tau kantor papa seperti apa dan bagaimana cara mengelola nya". Kata Tari dengan senyum terpaksa, Tari pasti canggung jika nanti mereka hanya berdua di dalam mobil.
"Saya merepotkan ?" Tanya Fahri yang melihat mama Zoya
"Tidak dong Ri, Ibu minta pak Budi biar nemenin saya disini. Santai aja laah, daripada kamu kenapa kenapa dijalan" jelas mama Zoya
"Saya berangkat sekarang ya Bu, pak Agus saya duluan" pamit Fahri lalu ia keluar kamar
"Ma, Tari berangkat dulu Assalamualaikum" setelah mama zoya menjawab salam Tari, Tari langsung keluar menyusul Fahri
***
"Tar, kamu yakin ngantarin aku ke kantor papa kamu?" Tanya Fahri memecah keheningan.
"Eng..eemm. kenapa ?" Tanya Tari gugup
"Nanti kalau orang orang kantor berpikir yang enggak enggak gimana?"
"Ya biarin aja mereka berpikiran negatif, yang penting kita enggak kan". Kata Tari
Mereka berbicara dengan posisi tetap menghadap ke kaca depan.
Tari tidak tau jalan menuju kantor papa nya, maka dari itu Tari menjalan kan mobil nya pelan pelan dengan ditunjukkan oleh Fahri.
Tari menghentikan mobilnya di depan restoran dekat kantor papa nya.
"Lho kok berhenti? Kan masih didepan kantornya" kata Fahri ketika Tari keluar dari mobil tanpa kata apa apa.
"Disitu aja" kata Tari yang membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu mobil yang hendak dibuka Fahri.
Mendengar kata Tari, Fahri mengurungkan membuka pintu mobil dan kembali duduk.
***
Tari kembali ke mobil dengan membawa makanan.
"Bawa apa?" Tanya Fahri
"Cucian pakaian" jawab Tari sambil duduk ke mobil pengemudi lalu memasang sabuknya. "Ya makanan lah, orang dari dalam restoran" kata Tari lagi sambil menginjak gas nya.
"Kamu belum makan tadi?" Tanya Fahri lagi.
"Udah" jawab Tari santai.
"Terus itu buat siapa?" Tanya Fahri lagi, sekarang tatapan matanya menjadi sangat penasaran.
"Kamu kak, pasti kamu belum sarapan kan" jawab Tari menghadap Fahri lalu kembali menghadap kaca depan mobil untuk konsentrasi.
"Makasih ya Tar". Kata Fahri.
"Sama sama, lagian ini belum ada apa apa nya dibanding dengan kebaikan kakak sama keluarga Tari"
"Itu tanggung jawab aku" jawab Fahri dengan menghadap Tari dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.