
Sekarang hari minggu, kuliah Tari libur dan juga kerja Zayn juga libur.
Hari ini adalah hari kebahagiaan Fahri dan Kirana, tetapi tidak dengan Tari.
Tari masih berharap bahwa pernikahan antara Fahri dan Kirana ini tidak ada, yang ada hanya pernikahan Tari dan Fahri.
Tetapi takdir merubah segalanya, Tari hanya bisa berdo'a dan berharap yang terbaik kepada tuhan.
Tari sadar bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi, dan sebagai manusia lemah hanya bisa bertawakkal.
Dirumah Tari.
"Sayang.. kamu jadi berangkat sama Zayn?" Tanya mama Zoya.
"Jadi ma, katanya dia mau kesini" jawab Tari.
"Syukurlah.. kamu harus bisa menghargai Zayn ya sayang". Tutur mama Zoya.
"Iya ma" jawab Tari sambil tersenyum manis.
Setelah menunggu Zayn, 3 menit kemudian Zayn sampai di rumah Tari dengan membawa mobil mewah berwarna merah mengkilap.
"Assalamualaikum, tante" sapa Zayn setelah sampai dihalaman rumah Tari dan melihat ada Zoya di depan rumahnya.
"Waalaikum salam Zayn" jawab Zoya dengan tersenyum menyambut kedatangan Zayn.
"Mau berangkat sekarang?" Tanya Zoya.
"Iya tante, biar tidak telat" jawab Zayn sambil melihat jam yang melingkar ditangan kirinya.
"Baiklah, aku panggil Tari dulu" jawab Zoya.
Lalu Tari keluar dari dalam rumah. Zayn yang melihat penampilan Tari, dia memandangi Tari dengan mulut terbuka.
"Kak, berangkat sekarang?" Tanya Tari.
"Oke" jawab Zayn lalu berdiri dari duduknya dan berpamitan ke Zoya.
"Hati hati ya sayang" teriak Zoya ketika Zayn melajukan mobilnya dengan normal.
Ketika dijalan, Tari terlihat gelisah, dan Zayn menyadari itu.
"Muka kamu jangan ditekuk gitu, nanti malah membuat Fahri semakin merasa bersalah" kata Zayn dengan suara yang hampir tidak bisa didengar.
Lalu Tari langsung tersenyum manis kearah Zayn pertanda kalau dia akan baik baik saja.
"Kalau senyum manis kayak gitu ke aku aja, jangan ke orang lain" kata Zayn dengan tatapan tetap dilayar kaca mobil
"Kenapa?" Tanya Tari.
"Aku takut nanti orang lain malah mencintai kamu, dan aku kalah" kata Zayn.
Tari yang mendengar perkataan Zayn, tiba tiba muka nya mersemu merah seperti kepiting rebus.
Zayn hanya tersenyum samar ketika melihat Tari malu malu.
***
Ketika Fahri melihat Kirana dengan menggunakan hijab warna putih, tiba tiba dia teringat dengan Tari.
"Kak.." panggil Kirana lagi yang membuat Fahri tersadar dari lamunannya.
"Iya.. ma-maaf Na, tadi kamu bilang apa?" Tanya Fahri dengan gugup.
"Aku tadi tanya aku udah cantik apa belum?" Tanya kirana.
"Udah kok,, kamu udah cantik.. cantik banget" jawab Fahri dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
***
"Ayo masuk, udah rame tuh kayaknya" kata Zayn ketika sampai di halaman tempat acara Fahri dan Kirana mengucapkan ijab kabul.
"Sebentar lagi kak" jawab Tari, sekarang Tari memanggil Zayn dengan sebutan 'kakak' karena Tari merasa tidak sopan jika memanggil langsung dengan namanya.
"Aku akan menemani kamu"
Tari hanya menunduk tidak menjawab kata kata Zayn.
"Ayo masuk!" Ajak Zayn lagi, lalu Tari keluar dari mobilnya Zayn, seketika itu tamu undangan langsung memandang Tari dengan 'wah'.
"Jangan senyum manis kayak tadi, biasa aja" bisik Zayn ketika menyadari para tamu lakilaki yang melihat Tari dengan 'wah'.
Tari hanya melirik kearah Zayn, lalu mereka berdua berjalan menuju ruang para tamu.
***
"Fahri, penghulu sudah datang" kata Luna, ibu Fahri.
"Iya bu" jawab Fahri lalu dia mengikuti langkah Luna.
Kirana masih didalam kamar rias, dia terlihat sangat gugup, sampai sampai tangannya sudah berkeringat dingin.
"Mbak, saya keluar dulu" pamit orang yang merias Kirana. Lalu Kirana menjawabnya dengan anggukan kepala.
Tari terlihat semakin gugup dengan adanya Fahri yang sudah duduk dihadapan penghulu, Zayn yang ada di samping Tari hanya bisa melihat Tari dengan tatapan was was.
"Kamu boleh gugup, tapi jangan nangis. Tunjukin ke semua orang kalau kamu kuat" bisik Zayn.
Tari hanya melihat kearah Zayn dengan menarik nafas.
*Tari.. apapun yang bisa membuatmu bahagia, aku akan lakukan itu, tapi tolong kamu jangan pergi dari aku* kata Zayn didalam hati.
Ketika ijab kabul sudah di kumandangkan, dan sekarang suara 'sah' sudah nyaring diruangan tersebut yang membuat Tari meneteskan air matanya.
"Kamu udah janji, jangan nangis" bisik Zayn lagi, lalu Tari langsung menghapus airmatanya.
"Maaf" kata Tari dengan suara yang hampir tidak bisa didengar, Zayn hanya menjawabnya dengan senyuman. Sungguh senyuman itu dari hati Zayn yang sakit. Namun Zayn tetap terlihat tegar dengan senyuman yang membuat Tari semakin merasa bersalah kepada Zayn.