PerfectMatch

PerfectMatch
Meeting



"Itu tanggung jawab aku" jawab Fahri dengan menghadap Tari dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.


"Tanggung jawab ? Maksud nya ?" Tanya Tari penasaran.


"Maaf aku belum cerita ke kamu sama Ibu Zoya" lalu Fahri memberi jeda "sebelum bapak Fadli kecelakaan, dia pernah berpesan supaya aku menjaga ibu Zoya dan kamu. Aku bingung mau jawab apa, dan aku hanya menjawab dengan tersenyum kepada nya" lalu Fahri menarik nafas nya dan melanjutkan "itulah salah satu alasan yang membuat aku merasa bersalah dengan kalian dan juga pak Fadli". Jelas Fahri


"Ngomong apa sih kak, kakak itu ngga salah di sini ngga ada yang salah.


"Eh-ehm.. maaf kak" ucap Tari setelah sadar dari tangannya dan langsung melepaskannya.


Fahri hanya menjawab dengan senyuman yang manis kepada Tari. Tari merasakan ada yang berbeda dengan Fahri kepadanya akhir akhir ini, entah apa??!.


***


Setelah sampai di parkiran kantor, Fahri langsung keluar disusul oleh Tari dengan membawa kotak makan yang dibeli direstoran tadi untuk Fahri.


Setelah mereka sampai di dalam kantor, langkah Fahri menjadi perlahan membuat Tari menjadi di sebelahnya.


Di tengah tengah bekerjanya karyawan, Fahri berteriak sehingga membuat semua karyawan melihatnya dan Tari.


"Selamat pagi semuanya" Teriak Fahri


"Pagi pak" Jawab semua karyawan dengan berdiri.


"Perkenalkan ini putri dari pak Fadli Akbar yang mempunyai saham disini" Jelas Fahri memperkenalkan Tari "Namanya Lestari Akbar, dia baru pertama kali kesini karena dia kuliah di Mesir"


"Selamat pagi Bu Lestari" sapa semua Karyawan dengan hormat


"Pagi" jawab Tari.


"Yasudah, hanya itu yang saya sampaikan, kalian bisa kembali bekerja. Terima kasih atas waktunya" Kata Fahri tanpa senyum dan tegas.


Lalu Tari mengikuti langkah Fahri yang menuju ruangannya.


***


"Kak, meeting nya jam berapa?" Tanya Tari pas mereka sampai di ruangan papa nya yang sekarang sementara ditempati Fahri.


"Jam 9, sekarang masih jam set 8" kata Fahri sambil melihat jam tangannya sambil tetap membalik-balikkan berkas berkas. "Masih ada waktu 1 jam setengah buat aku mandi" lanjutnya


"HA!?" Teriak Tari membuat Fahri terkejut.


"Astaghfirullah.. dijaga mulut nya, adikku" tutur Fahri yang menatap Tari tajam membuat Tari merinding takut, lalu dia merasa lucu dengan ekspresi Fahri yang ganteng.


"Maaf.. hehe" kata Tari malu dengan wajah menunduk "Jadi kakak belum mandi dari tadi?" Tanyanya dengan mata melotot.


"Udah tadi pagi sebelum sholat shubuh, tapi sebentar lagi kan mau ketemu klien jadi harus segar lagi dong.."


"Makan dulu, kak. Sayang makanannya" kata Tari sambil mengarahkan kotak makan ke meja kerja Fahri.


"Sayang makanannya apa sayang sama aku?" Ledek Fahri sambil senyum meledek.


"Apaan sih!" Tiba tiba muka Tari menjadi seperti kepiting rebus, dia malu.


"Idih!! Langsung merah gitu muka nya.. hahhaha" Fahri tetap meledek Tari, malahan dia tertawa dengan kencang.


***


Setelah Fahri makan dan mandi, dia mengajak Tari untuk ke ruangan meeting.


"Aku boleh ikut meeting?" Tanya Tari sambil mengikuti arah kalan Fahri.


"Siapa yang berani ngelarang kamu ? Kamu itu anak nya pak Fadli yang memiliki kantor ini" Jawab Fahri dengan tetap memandang kedepan berjalan ke ruangan meeting.


"Aku nanti ngapain dong?"


"Kamu diem aja duduk disini" jawab Fahri sambil menepuk kursi samping Fahri setelah mereka sampai di ruangan meeting.


"Ini meeting bahas apa ?" Tanya Tari lagi sambil mendudukkan dirinya di kursi yang Fahri tepuk tadi.


"Membahas hotel yang ada di malaysia" Jawab Fahri sambil tetap membolak balikkan berkas berkas nya.


"Tau ngga, ini itu kerja sama sama perusahaan besar, ya kira kira bisa menghasilkan puluhan milyar. Salah satu alasannya adalah kita sama sama dari perusahaan yang besar, doain ya semoga semuanya lancar" lanjut Fahri.


"Aamiin.. Aku pasti doain dong" jeda sebentar "aku jadi ngga pengen jadi desainer deh, jadi kayak papa aja ya biar bisa bantu papa" lanjutnya.


"Iya, kalau kamu ke desainer itu kamu hanya ke butik aja, mendingan jadi kayak pak Fadli yang bisa mengurus dua duanya" jawab Fahri dengan wajah yang menghadap Tari membuat Tari menunduk.


Setelah beberapa menit menunggu di ruangan meeting sambil memepersiapkan semuanya, lalu klien pun datang.


"Selamat datang di perusahaan Akbar" sapa Fahri sambil mengulurkan tangannya dengan klien tersebut yang dibalas oleh klien.


"Silahkan duduk" suruh Fahri lagi, sekarang Tari menjadi berhadapan dengan klien tersebut.


Tari terlihat canggung karena sesekali klien tersebut melirik ke arahnya.


"Sebelumnya saya mohon maaf, karena ayah saya tidak bisa hadir dalam meeting ini. Jadi, saya yang menggantikan ayah saya" kata klien tersebut


"Kami juga minta maaf sekali dengan bapak Zayn, karena bapak Fadli tidak bisa hadir dalam meeting ini, dan saya sebagai gantinya. Saya sekretaris bapak Fadli". Jelas Fahri kepada klien yang bernama Zayn tersebut.


"Apakah ini istri anda?" Tanya klien tersebut dengan melihat kearah Tari


"Maaf saya belum mengenalkannya kepada anda. Ini Lestari Akbar putri satu satunya dari bapak Fadli Akbar"


"Maaf. Senang bertemu dengan anda" kata klien tersebut sambil mengulurkan tangannya.


"Senang bertemu dengan anda" jawab Tari sambil menjawab uluran tangan dengan gugup.


"Kalau boleh tau, mengapa bapak Fadli tidak bisa hadir dalam meeting ini. Bukan kah bapak Fadli seorang yang disiplin ?" Tanyanya kepada Tari


"Maaf, papa saya sedang berada dirumah sakit. Beliau koma" Jawab Tari.


"Eemmm..... maaf saya tidak mengetahui itu" klien memberi jeda "Apa boleh nanti sepulang dari meeting ini, saya menjenguk bapak Fadli?"


"Tentu sangat boleh bapak Zayn" Jawab Tari dengan senyum manis kepada Zayn.


"Baiklah, mari kita mulai meetingnya" Ucap Zayn sambil membuka map yang berada didepannya.