
"Kamu kenapa?" Tanya Vara ditengah tengah perjalanan pulang kerumah Tari.
"Eh.. e-enggak papa kok kak" jawab Tari dengan nada gugup.
"Aku lihat cara pandang kamu ke Kirana dan Fahri.. ada yang beda" kata Vara menyelidiki Tari.
"B-beda kenapa kak?" Tanya Tari lagi dengan nada gugup.
"Tuh kan kamu gugup, aku tau itu" kata Vara sambil menunjuk kearah muka Tari.
"Enggak gugup kok" jawab Tari
"Kamu sebelumnya punya hubungan sama Fahri?" Tanya Vara yang membuat Tari salah tingkah.
"Aku tau jawaban kamu meskipun kamh tidak menjawab lewat suara" lanjut Vara.
"Kak.. maafin Tari ya" kata Tari sambil meminggirkan mobilnya untuk menghentikannya sebentar.
"Cerita sama kakak" kata Vara dengan posisi berhadapan dengan Tari.
"Memang iya, aku sebelumnya menyukai kak Fahri" kata Tari dengan suara yang hampir tidak bisa didengar.
"Terus?"
"Karena kak Fahri menyukai Kirana dan aku tidak bisa berbuat apa apa dan akhirnya aku mengalah kak. Aku tau cinta nggak bisa dipaksakan" kata Tari sambil meneteskan air matanya.
"Tar, kakak ngerti sama perasaanmu, apa ini alasannya kamu menerima lamarannya Zayn supaya kamu bisa melupakan Fahri?"
"Kak... jujur Tari belum bisa melupakan kak Fahri seutuhnya, tapi Tari akan terus mencoba untuk melupakannya dan mencintai Zayn" kata Tari sambil menghapus air matanya.
"Kakak yakin kamu pasti bisa" kata Vara menyemangati Tari dengan mengepalkan tangannya didepan dadanya tanda kata 'semangat'.
Lalu Tari menjawabnya dengan senyuman dan melanjutkan perjalanan nya menuju rumahnya.
***
"APA!!?, KAK FAHRI MAU NIKAH?" kata Manda, Lisa, Virly dengan teriak setelah Tari memberi tahu mereka jika Fahri mau menikah dengan Kirana.
"Mulai dehh alay nya" jawab Tari.
"Kita nggak alay Tar, kita hanya kaget" kata Lisa dengan nada berbisik yang disetujui oleh Manda dan Virly.
"Kok kamu diduluin sih, harusnya kamu dulu biar kapok tuh orang!!" Kata Manda dengan kesal.
"Nggak boleh gitu dong sayang sayang nya Tari.. kan Tari juga belajar buat melupakan dia, kalau Tari duluan terus dia belum nikah eehhh dia nembak Tari gimana? Berabe dong urusannya hehe" kata Tari dengan nada bercanda.
"Tar kita serius ya. Kamu jangan pura pura bahagia deh depan kita bertiga, kita itu ketemu nggak satu atau dua hari Tar" kata Virly dengan serius.
"Iya deh iya Tari minta maaf" kata Tari dengan mata melihat kearah masjid yang bersebelahan dengan kantin meskipun agak jauh sih.
Tiba tiba Tari melihat sesuatu di depan masjid tersebut, Tari yang melihatnya langsung melototkan matanya karena terkejut.
"Matanya biasa aja dong!!" Kata Lisa dengan nada sedikit tinggi.
"Tuh liat!! Ada preman tuh!!" Jawab Tari dengan teriak dan sambil lari kearah preman tersebut yang sedang berkelahi dengan seseorang.
Preman tersebut berjumlah 4 orang sedangkan orang yang dilawan hanya seorang diri, bisa dibilang dikeroyok.
Bruukk!!
Preman tersebut jatuh tersungkur karena ditendang Tari dari belakang. Tari membantu lakilaki yang sedang dikeroyok oleh preman preman tersebut.
Aww!!
Tanpa disadari, pundak Tari ditendang oleh salah satu preman dari belakang. meskipun rasanya sakit, namun Tari tetap melawan preman preman tersebut, Tari bertambah geram ketika preman tersebut menendang pundaknya.
"TARI!! Udah cukuuuupp!!!" Teriak mereka bertiga dari arah kantin.
Setelah Tari dan lakilaki tersebut mengalahkan preman preman tersebut, preman preman tersebut langsung kabur.
"Kamu nggak papa?" Tanya Tari kepada lakilaki tersebut.
"Lain kali hati hati ya" kata Tari lalu berjalan meninggalkan lakilaki tersebut.
"Eh tunggu" kata laki laki tersebut menghentikan Tari membuat Tari berbalik badan "Makasih banyak ya, kalau nggak ada kamu mungkin aku udah mati tadi". Lanjut laki laki tersebut.
"Sama sama, oh ya aku Tari anak Ekonomi" kata Tari mengenalkan dirinya tanpa berjabat tangan.
"Aku Jidan anak kesehatan, oh ya kayaknya kita pernah ketemu ya" kata laki laki tersebut yang bernama Jidan.
"Kayaknya waktu kamu mau dipukul sama cewek waktu itu deh" jawab Tari.
"Iya bener, kamu udah nolongin aku 2 kali dong ya. Wah berutang budi aku" kata Jidan dengan tertawa.
"Santai aja, yaudah kamu UKS aja" kata Tari.
"Yaudah aku duluan ya" kata Jidan lalu meninggalkan Tari seorang diri didepan masjid.
Saat Tari mau kembali ke kantin yang ditunggu oleh ketiga sahabatnya, tiba tiba ada mobil yang berhenti didepannya.
"Mobil siapa sih!!?" Gumam Tari kesal.
Saat kaca mobil diturunkan, ternyata itu adalah mobilnya Zayn.
"Zayn?" Kata Tari dalam hati.
"Aku tadi ngeliat kamu berantem" kata Zayn yang masih didalam mobil.
"Terus? Kok nggak bantuin aku?" Tanya Tari kesal dengan Zayn.
"Harus?" Jawab Zayn yang semakin membuat Taru kesal.
"Nggak perlu juga sih" jawab Tari dengan mata melihat kearah langit.
"Kalau boleh tau kenapa kamu suka berantem?" Tanya Zayn.
"Aku nggak suka berantem" jawab Tari.
"Itu tadi namanya apa?" Tanya Zayn.
"Kan aku nolongin orang, emang nggak boleh?" Kata Tari dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kalau sama calon suami yang sopan dikit dong" kata Zayn menggoda Tari.
Tari hanya menjawabnya dengan senyuman terpaksa, "Aku bisa beladiri itu buat menjaga harga diriku, anakku kelak, suamiku kelak, dan harta suamiku kelak" jelas Tari sambil menghitung dengan jarinya.
Zayn hanya menjawab nya dengan senyum manis nya.
"Tangan kamu nggak papa?" Tanya Zayn khawatir kepada Tari,
"Biasa" jawab Tari singkat.
"Masuk, ikut aku!" Suruh Zayn.
"Belum muhrim!" Jawab Tari.
"Yaudah tunggu disitu biar aku turun" kata Zayn lalu turun dari mobil.
Saat 3 sahabat Tari melihat orang yang didalam mobil yang ternyata Zayn, 3 cewek itupun mengurungkan niatnya untuk menyusul Tari.
"Mau kemana?" Tanya Tari "Parkirin dulu mobil kamu" lanjut Tari.
"Pak! Mobil saya ya, kontak nya didalam" kata Zayn kepada security yang ada didekatnya dan dibalas jempol oleh security tersebut.
"Jangan macem macem!" Kata Tari sambil menunjuk kearah wajah Zayn.
"Ish! Aku minta hak aku setelah nikah, nggak sekarang!" Jawab Zayn membuat Tari bergidik ngeri.
"Astaghfirullah haladzim" gumam Tari yang bisa didengar oleh Zayn.
"Kok gitu? Udah yuk ikut aku" kata Zayn mendahului langkah Zayn.