
"Papa serius?"
"Insyaallah papa serius ma, ini mungkin yang terbaik untuk anak kita" tutur papa Fadli dengan memegang punggung tangan istrinya.
"Mama yakin sama papa, mama percaya sama papa. Lakukan apa pun yang terbaik buat anak kita ya pa".
"Pasti ma pasti. Bantu papa ya ma, papa butuh mama".
Mama zoya membalas dengan anggukan kepala dan tersenyum. Meskipun umur nikah udah puluhan, tapi keharmonisan harus tetap ada.
***
2 minggu kemudian.
"Tari.. ikut kebawah yuk nak, papa udah nunggu dibawah". Ajak mama Zoya kepada Tari setelah sampai dikamar Tari.
"Iya ma, habis ini Tari kebawah".
Lalu mama Zoya kebawah duluan, setelah itu disusul oleh Tari.
"Sayang.. makan dulu, habis itu papa mau ngomong sama kamu". Kata papa Fadli setelah Tari sampai dimeja makan.
Setelah makan.
"Papa mau ngomong apa sama Tari?" Tanya Tari setelah selesai makan dan minum.
"Kamu masih mengingat kejadian waktu itu?" Tanya papa Fadli kepada putrinya.
"Tari ngga papa kok pa, Tari sadar kalau tidak semua keinginan harus terpenuhi. Dan mungkin Tari sama kak Fahri ngga jodoh".
"Papa minta maaf ya belum bisa memenuhi yang kamu inginkan".
"Papa ngga perlu minta maaf, ini salah Tari karna ngga nurutin perkataan mama sama papa waktu itu"
"Udah udah kamu ngga salah... papa to the point ya".
"Iya, Tari nungguin itu pa hehe" kata Tari. Membuat mama Zoya dan papa Fadli tersenyum girang.
"Papa mau kamu segera menikah". Kata papa Fadli to the point.
"Papa serius? Terus kuliah Tari gimana?" Jawab Tari terkejut.
"Sayang.. kuliah setelah nikah kan bisa, yang bener itu sama siapa". Kata mama Zoya membuka suara.
"Hehe iya ya ma. Sama siapa pa?" Tanya Tari memecah kegugupannya sendiri.
"Nanti kamu pasti tau sayang.. yang penting kamu siap nikah apa ngga ?" Kata papa Fadli.
"Pa.. sebenernya Tari belum siap nikah, Tari takut cinta lagi sama seseorang yang bukan muhrim Tari".
"Sayang.. papa sama mama menjodohkan kamu itu biar kamu ngga jatuh cinta sama laki laki yang bukan muhrim kamu, biar jatuh cintanya sama suami kamu aja". Tutur mama Zoya.
"Tapi apa bisa bahagia menjalin hubungan serius tanpa adanya cinta ma ?"
"Sayang.. cinta pasti tumbuh dengan berjalannya waktu. Mama sama papa dulu juga ngga pacaran, kita juga dijodohkan, yakan pa?"
"Iya sayang.. lebih baik nikah dulu baru pacaran hehe".
"Tari boleh tau siapa orangnya?".
"Nanti kamu pasti tau, yang penting kamu siap nikah?" Tanya papa Fadli mengulangi nya.
"Iya sayang.. setelah jawaban kamu matang, kita akan mengundang calon suami mu dan keluarganya makan malam bersama".
"Ma, kan belum tau Tari mau apa ngga.. udah nyebut calon suami". Protes papa Fadli membuat mereka semua tertawa bersama.
***
"Tahun depan aku nikah". Kata Virly setelah mereka berempat sampai di kantin kampus baru mereka.
"Kamu serius Vir?" Tanya Lisa memastikan.
"Insyaallah aku serius, ini kan buat kebaikan aku dan Revan juga. Biar kemana mana udah halal".
"Ini udah bulan akhir, berarti sebentar lagi dong" kata Manda.
"Iya sebentar lagi, mungkin bulan 3 an. Nungguin kakak nya Revan pulang ke Indonesia". Jawab Virly.
"Kamu habis ini punya anak dong" Kata Tari membuat mereka semua tertawa bersama.
"Siapa yang mau punya anak?" Mereka berempat dibuat terkejut dengan suara yang mengagetkan sekaligus tidak asing lagi.
"Revan? Kok disini?" Tanya Viry gugup dan merasa malu. *Revan denger nggak ya, malu akuuu* kata Virly dalam hati.
"Mau pesen makanan, lanjutin ngobrolnya, aku ngga denger apa apa kok". Kata Revan lalu berjalan untuk memesan makanan untuk dirinya dan Radit.
Tari berencana untuk tidak ber cerita kepada sahabt sabahat nya tentang perjodohan tersebut, Tari akan cerita setelah jawaban istiharah nya baik.
Jam kedua.
"Eh waktunya pak Adam ya, haduh dosen killer itu yaa, untung ganteng.". Kata Manda setelah sampai dikelas mereka.
Tari tidak merespon nya, karena Tari sibuk dengan novelnya.
"Selamat sore.. berhubungan dengan kesibukan pak Adam, beliau meminta untuk saya menggantikannya". Kata Dosen baru yang wajahnya dan suaranya tidak asing bagi Tari.
Kedatangan dosen baru tersebut membuat satu kelas sorak histeris karena ketampanan nya dan pesonanya. Suara nyaring satu kelas membuat Tari angkat kepala dan melihat dosen baru tersebut.
"Itu bukannya...." gumam Tari setelah melihat wajah dosen tersebut.
"Perkenalkan nama saya Zayn Adrian Sapoetra, dosen cadangan di kampus ini" lanjut dosen tersbut yaitu Zayn.
"Oohh.. iya itu kak Zayn anak nya om Yusuf" kata Tari dalam hati.
"Pak.. boleh minta nomor ponsel nya?" Kata salah satu teman cewek Tari yang berumuran dengan Tari yang membuat satu kelas kembali berteriak.
Respon Zayn hanya tersenyum kearah cewek tersebut tanpa berkata apa apa.
"Oke.. tugas dari pak Adam silahkan dikumpulkan didepan". Kata Zayn.
Lalu Zayn memeriksa jawaban tugas setelah semua siswa mengumpulkan tugasnya.
"Ini ada jawaban yang salah. Anita Anandita, Prima Ridha, Puput Berlian, Wafa Siska, Dian Putra, dan Lestari Akbar"
"Lestari? Wah baru pertama kali ini tuh si anak jawabannya salah". Kata salah satu teman Tari cowok yang bernama Brian"
Tari terkejut, karena Tari merasa jawabannya yang sudah disiapkan itu benar tidak ada yang salah.
"Wah lebih killer dari pak Adam ini" gumam Puput yang dekat dengan Tari sehingga Tari bisa mendengar.