PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 9




"Azlea. Lihat aku." Aku sedikit mendongak untuk bisa menatap langsung sepasang permata onyx milik Brian.


Matanya hitam pekat seperti kegelapan malam. Brian punya pasang mata yang tajam menurutku. Tak berdasar. Seolah menarikku jatuh begitu dalam untuk mencari tahu apa yang ada di sana. Tidak ada kata. Olehnya aku dibuat terpana. Mengagumi tanpa akhir. Azlea! Sadarkan dirimu sendiri sekarang.


"Dengar. Aku tidak mau kamu mengambil keputusan ini hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Atau merasa kasihan denganku dan Clarisa. Aku tidak bisa," kata Brian menjelaskan.


"Brian." Aku sungguh tidak mengerti dirinya.


"Tidak, Azlea. Kamu yakin dengan ini? Setuju menikah denganku?"


"Ya." Tanpa berpikir panjang aku berseru. Hanya saja dia malah bersikap defensif.


Aku tidak mengerti kenapa kedua telapak tangan Brian mengepal. Apakah dia tidak ingin aku menikah dengannya? Atau dia merasa bahwa aku hanya mempermainkan banyak perasaan selain dirinya. Lalu kenapa jika aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini? Tentu aku akan membuka diri dan belajar untuk mencintainya.


"Apa kamu menyukaiku?" tanyanya.


"Ya."


"Kamu mencintaiku?"


"Itu ... aku tidak tahu," balasku agak bimbang.


"Makna dari menyukai dan mencintai itu jelas berbeda, Azlea."


"Aku tahu. Mungkin, untuk saat ini perasaanku berada dalam tingkatan di mana aku menyukaimu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."


Sekarang giliran aku yang bertanya padanya.


"Apa kamu menyukaiku?"


Hening. Diamnya adalah satu hal yang tidak kuharapkan. Aku tidak tahu bagaimana perasaan atau apa yang tengah dia pikirkan. Bahkan tidak ada jawaban sampai semua orang datang, membawa kami untuk masuk ke dalam. Membahas tentang pertunangan bahkan menentukan tanggal kami akan menikah.


Tangan ini agak gemetar dan tatapanku sedikit sendu saat mendengar satu persatu percakapan mereka. Brian bahkan tidak mengatakan apa-apa, dia tetap duduk dan bermain dengan Clarisa. Apa dia memiliki orang yang dia cintai? Atau dia masih mencintai ibunya Clarisa? Apa dia memang tidak menginginkanku? Semua pertanyaan itu meluncur begitu saja.


Dia duduk tidak jauh dariku. Akan tetapi bisa kulihat wajahnya nampak datar seperti pertama kali aku melihatnya. Mata itu jelas berbicara banyak dalam diam. Brian meragukanku. Meragukan apa yang kukatakan padanya.


Artinya, ada banyak hal yang harus dipertanyakan sekarang.


Ketika kedua mata kami bersirobok. Aku mencoba membaca jalan pikirannya. Lalu, di waktu yang sama aku juga bisa melihat sosok anak kecil ketika bibirnya melengkung ke atas. Memperlihatkan senyumnya. Aku tidak mengerti jenis senyum macam apa yang dia tunjukkan padaku, pada mereka.


"Ya, aku setuju dengan pendapatmu, Fendi. Lebih cepat lebih baik. Setelah Lea wisuda. Mereka menikah. Itu artinya, satu minggu lagi kita mengadakan pertunangan."


Pamam Romi langsung setuju dengan keputusan akhir. Semantara aku, masih tetap bergeming menatap jemari yang terlihat lebih menarik daripada harus melihat satu persatu wajah antusias mereka.


Aku ingin menangis. Ingin berteriak bila perlu. Atau menjauh dari semua ini. Berulang kali aku mempertanyakan pada diri ini. Apakah keputusanku benar? Sekarang aku dilema. Bagaimana kalau keputusan yang aku ambil ini malah melukai perasaan Brian? Dia sudah mengatakannya waktu itu. Bahwa dia melakukan ini hanya untuk Clarisa. Dia tidak menyukaiku.


Brian memberi peluang untuk menjauh. Memilih untuk tidak melanjutkan. Akan tetapi, aku tidak pernah tahu bahwa Tuhan terlalu pandai melakukan semua ini.


Karena tidak tahan pelan-pelan aku menjauh, lebih memilih pergi dari semua tawa penuh kebahagiaan. Aku tidak tahu ke mana kaki ini melangkah. Rumah keluarga Wijaya benar-benar besar seperti gambaran banyak orang. Mereka tidak membesar-besarkan. Rumah ini layaknya istana.


Jauh berbeda dengan rumah kami. Meski terlahir dari keluarga yang biasa saja, punya rumah minimalis dan hangat. Aku sadar betul. Dia dan aku berbeda.


"Mama?"


Suara penuh keceriaan itu terdengar di balik pintu mahoni. Clarisa? Aku langsung mendekat dan mendapatinya tersenyum. Dia sendirian? Di mana baby sister? Tunggu. Bukankah tadi dia duduk bersama Brian. Lalu sekarang kenapa dia ada di sini?


"Sayang, kamu sendiri?"


Dia mengangguk. Lalu tangan mungilnya meraih jemariku, menggenggamnya begitu erat. Aku tidak tahu Clarisa membawaku ke mana. Dia terus menarikku lebih jauh dari tempat di mana semua orang berkumpul.


"Mama, kita belmain yuk? Clalisa bosan duduk sama Papa dali tadi," ucap Clarisa.


"Memangnya Clarisa mau bermain apa?"


"Hmm ... petak umpet!"


Aku dibuat terkekeh olehnya. Saking gemasnya aku langsung berjongkok dan membingkai wajah Clarisa dengan telapak tanganku, menggelengkan kepalanya dan aku tertawa saat dia tertawa senang. Bolehkah aku memeluk malaikat mungil ini? Dia teramat sangat menggemaskan. Aku menatap Clarisa dengan kagum. Tanpa kata aku langsung menarik Clarisa ke dalam pelukan. Mengelus dengan sayang ujung kepala dan tidak lupa mencium pipi chubby-nya.


"Mama, geli."


"Aku bukan Mamamu, Sayang. Panggil Tante, ya?"


"Mama."


"Tidak, tidak. Tante, panggil Tante, Sayang."


Clarisa menggelengkan kepalanya. Wajahnya langsung mendongak untuk melihatku dan mendapati mata itu berkaca-kaca. Aku tidak tega melihatnya bersedih.


"Mama ...."


"Baiklah. Aku menyerah. Sekarang, jadi main nggak?" tawarku.


"Mama jangan pelgi. Mama di sini sama Clalisa," pintanya lirih.


"Iya, Mama akan tetap di sini. Bersamamu, Clarisa."


"Janji?"


"Ya."



Pelan, kepala Clarisa mengangguk menegaskan bahwa ia ingin bermain sebelum mengusap matanya yang berair.


Oke. Sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa. Clarisa benar-benar berpikir kalau aku Mamanya. Apakah aku harus berpura-pura menjadi Mama untuknya? Kecuali jika aku dan Brian me--Azlea! Apa yang sudah kamu pikirkan, huh? Tidakkah kamu lihat reaksinya tadi?


Lupakan dia. Abaikan, Azlea.


Setelah Clarisa mulai ceria lagi, kami akhirnya bermain. Di mana Clarisa yang tutup mata menghadap dinding disertai menghintung. Aku tertawa saat gadis itu melewati angka 3 begitu saja.


"Azlea," bisik seseorang dari belakang.


Saat aku berbalik. Ya Tuhan! Aku dibuat terkejut dengan kehadiran Brian di sini. Dia ada cukup dekat denganku. Sampai aku bisa mencium aroma parfum yang ia kenakan. Takut-takut aku memberanikan diri mengamatinya lebih dekat.


Brian membalasku tidak kalah intens. Bersamaan dengan berakhirnya hitungan Clarisa. Aku mengisyaratkan dengan mata padanya untuk pergi sebelum Clarisa menemukan aku di sini, bersama Brian dalam posisi yang bisa membuat orang melihatnya berpikir aneh.


"Mama," panggil Clarisa dari seberang.


Tangan Brian membungkam bibirku dengan cepat sebelum sebuah jawaban meluncur untuk membalas panggilan Clarisa. Aku menatap Brian tidak mengerti. Sayangnya semua itu tidaklah berarti selain betapa dekatnya Brian sekarang. Dia mengurungku di sudut dinding. Sementara telapak tangan yang lain berada di pinggangku.


"Brian," bisikku. Jujur, aku mulai tidak menyukai situasi seperti ini.


Begitu aku menatapnya lagi, mata kami sama-sama menyelami satu sama lain. Terlebih dengan kesengajaan Brian menekan lengannya pada pinggang ini membuat kami semakin dekat. Bahkan aku bisa merasakan hembusan napas Brian yang teratur.


Setelah dia melepaskan lengannya dariku, ia langsung mengarahkan kedua tanganku yang bebas pada dada bidangnya yang terbalut kemeja dongker.


Ada detak yang seirama dengan milikku.


"Mama ...."


Aku sedikit menggeliat untuk melepaskan diri namun, bukannya lepas, Brian malah menghapus jarak di antara kami. Sebuah kecupan di pipi membungkam segalanya. Brian menangkup kedua pipiku dengan sorot mata yang begitu lembut. Seolah ingin mengatakan sesuatu namun, tak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata.


"Brian, ... ada Clarisa di sana," ungkapku.


"Jangan bergerak," bisiknya di dekat telingaku.


Rasa geli langsung menyebar membawa getaran aneh yang baru kurasakan selama ini. Bagaimana kedua tangan Brian semakin membawaku ke atas angin. Dia semakin dekat, saat itulah aku bisa tahu bagaimana rasa dari yang Vinda dan Dina ceritakan tentang berciuman. First kiss. Brian melakukannya dengan kehati-hatian. Seolah aku akan hancur jika dia tidak menggunakan rasa.


Aku bisa mendengar dia mendesah lega ketika kembali memelukku. Ini salah.


"Seharusnya kamu menjauh. Membalas perbuatanku padamu dahulu. Seharusnya kamu tidak memberiku kesempatan," gumam Brian.


Aku tidak tahu apa yang Brian katakan. Sampai dia lagi-lagi memelukku dengan erat. Dengan lembut ia menyandarkan kepalaku ke dadanya.


"Kamu akan menyesal setelah ini, Azlea," kata Brian sekali lagi.


"Untuk?" tanyaku.


"Untuk semuanya."


Wajah ini pasti seperti tomat matang setelah Brian berbisik dengan suara yang dia buat semanis mungkin.


"Aku type pria setia, Azlea. Sekali kamu masuk aku tidak akan pernah melepaskanmu."


Aku tidak tahu itu termasuk kata manis atau sebuah ancaman. Yang pasti, Brian tersenyum. Dia seperti bocah berumur empat belas tahunan jika aku menatap matanya. Brian terlihat lebih berkarisma dan juga tampan. Apakah dia sedang merayuku? Atau ini hanyalah trik?


"Papa, dan Mama? Kalian di sini?" Tiba-tiba suara merdu Clarisa terdengar di balik punggung Brian. Ketika aku ingin mengintipnya, Brian lebih dulu menyela.


"Berbalik, Sayang. Mama akan malu jika ketahuan olehmu," kata Brian tanpa berkompromi.


Clarisa langsung berputar arah memunggungi kami. Dia sangat penurut, teganya Brian mengerjainya. Sesaat setelah itu aku mencoba keluar dari pelukannya. Bukannya melepaskanku, dengan sengaja Brian malah mencuri satu ciuman. Sekarang aku dibuat bingung olehnya. Aku ingin marah. Tentu. Dalam hal ini dia seperti pria mesum.


"Untuk permulaan, Azlea."


"Sialan," dengusku. Tidak percaya dengan sikapnya yang berubah-ubah.


Aku sama sekali tidak bisa menebak caranya bertindak. Jika satu jam yang lalu dia bersikap seolah tidak peduli dan kesannya menghindar. Sekarang dia lebih hangat dalam sekejap mata, dan menjadi perayu ulung.


"Katakan padaku alasan kamu menciumku, Brian. Bukankah kamu diam saja saat aku bertanya padamu. Apa kamu menyukaiku?"


Brian membebaskanku setelah aku mempertanyakan perasaannya. Ah! Dia pasti sedang mempermainkanmu, Azlea. Apa sebagian besar pria memang suka mempermainkan hati perempuan seenak jidatnya? Ya, ya. Sekarang aku tahu, Brian sama saja.


"Papa, boleh Clalisa belbalik?" tanya Clarisa.


"Belum, Sayang."


Aku mencibir kelakuan Brian. Dengan cepat aku menjauh dan pergi meninggalkannya. Dia pikir aku gadis gampangan yang bisa dia cium begitu saja? Sial! Bibirmu sudah tidak perawan lagi. Kali ini kamu naif sekali, Azlea. Kamu naif!


Bagaimana bisa kamu mengartikan tindakan Brian sebagai jawaban tanpa kata. Padahal dia hanya ingin menjatuhkan harga dirimu. Sekarang lihat dirimu. Kamu benar-benar murahan!


"Azlea," panggil Brian.


"Apa lagi?!" Aku berbalik dengan kesal. Menatap Brian dengan galak.


"Kamu berhasil. Mempermalukanku dengan cara yang paling manis, dan aku tidak pernah menyangka kamu akan bertindak senekat itu padaku. Menciumku. Seolah-olah akulah orang yang paling mengharapkan itu padamu."


"Dengarkan aku," pintanya.


"Untuk apa? Tidak lihat apa yang sudah aku katakan padamu untuk kedua kalinya? Aku mempertanyakan perihal isi hatimu, Brian. Sialan!" dengusku.


Dadaku naik turun. Aku sudah tidak tahan lagi. Lalu perasaanku jatuh saat itu juga ketika mendapati Clarisa terisak pelan di belakang Brian. Aku membuatnya takut. Apa yang sudah aku lakukan? Dia menangis.


Cepat-cepat aku mendekat, berlutut dan membawa Clarisa ke dalam pelukan. Tidak seharusnya dia melihat pertengkaran ini. Semua ini karena kecerobohanku dan Brian.


"Clarisa, kamu ingin lihat bagaimana Mama memukul Papamu yang sembrono ini?" Clarisa langsung diam, memperhatikan bagaimana aku ingin memukul Brian.


Sebelum aku bangkit sebuah lengan mengurung kami ke dalam satu pelukan. Clarisa langsung diam dan perlahan tertawa.


"Kalian salah paham. Lihat. Mama benar-benar tidak mengerti bagaimana Papa ingin bilang bahwa Papa sayang kalian semua," ungkap Brian. Aku hanya mencibirnya.


"Kamu salah paham, Azela," bisik Brian padaku.


Lalu mencium pipi Clarisa namun, arah matanya tertuju padaku sambil berkata, "Kamu akan tahu seperti apa kamu bagiku."



Bersambung