
♡Pertemuan Dua Keluarga♡
Kurang lebih satu minggu mengenal Brian. Tentu masih banyak yang belum kuketahui tentang dirinya. Tentang hobi, kebiasaannya di luar pertemuan kami dan hal kecil lainnya. Karena itulah Mama bilang akan menjawab keresahanku saat ini. Soal apa? Ya, apa lagi kalau bukan soal perjodohan.
"Ikut yuk ke pengajian."
Entah ada angin apa Mama mengajak ke pertemuan rutin yang sering diadakan ibu-ibu kompleks. Bahkan dengan lantang Mama mengatakan siapa pun tidak boleh mengajakku pergi, baik Papa, Attala, Vinda bahkan Brian sekali pun. Terakhir kali aku mengikuti Mama dikegiatan tersebut dulu, saat masih SMA.
Lihat sekarang. Dengan sengaja Mama menarikku untuk duduk paling depan bersama ibu-ibu kenalannya dan anak gadis lainnya.
"Hai Kak Lea," sapa Syifa.
Seorang gadis dengan jilbab syar'i berwarna merah muda itu tersenyum padaku. Dia adalah gadis depan rumah yang baru lulus SMA tahun ini.
"Kamu ikutan juga?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Setiap akhir pekan Bunda mengajakku ke sini, Kak."
Syifa bercerita kalau dia senang berada bersama para ibu-ibu. Apalagi mendengar ceramah Ustaz Zain, katanya. Melihat caranya bercerita sekarang aku tahu alasan dia datang yang dapat aku pahami. Dia jatuh cinta. Artinya orang jatuh hati bisa melakukan apa pun.
Rumornya dia putra Kyai Ahmad. Menggantikan Ayahnya untuk menjadi penceramah sampai beberapa bulan ke depan.
Aku duduk dengan manis sambil mendengarkan setiap kata yang Ustaz Zain ucapkan. Tentang pernikahan dan bagaimana menjalaninya. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang bertanya.
"Tad, saya mau tanya perihal perjodohan. Jujur, umur saya hampir 26 tahun dan karena alasan itulah orangtua menjodohkan saya dengan salah satu kenalan mereka."
Pertanyaan yang ingin sekali aku tanyakan.
"Yang aku tahu, pernikahan tidak hanya untuk menyambung silahturahim. Tapi juga sunnah Rasul. Apakah saya bisa hidup bahagia dengannya nanti, padahal kami baru bertemu dan saya yakin belum ada cinta yang jadi salah satu alasan pernikahan."
Ya. Kegelisahan dia denganku sama. Pertanyaan yang sama kugeluti beberapa hari terakhir ini. Tentang bagaimana bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak kamu cintai.
"Saya tidak begitu mengerti. Namun, Abah sering menasihati saya dan saudara yang sudah dan akan menikah. Bahwa menikah itu tidak hanya berdasarkan suka-sama suka. Itu tidaklah cukup.
Poin utama menikah adalah mengantarkan kesempurnaan agama. Di mana tujuan menikah itu ingin menggapai ridho Allah agar bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah.
Akan tetapi, untuk meraih itu, kita harus memilih pasangan hidup yang tepat. Bukan karena harta, ketampanan maupun kecantikan, melainkan karena agama dan hatinya."
Mama langsung menggenggam tanganku. Menyalurkan kekuatan untuk mengikis ketakutan ini. Yang pasti, Mama ingin aku mengerti dan paham tujuan Papa menjodohkanku dengan, Brian. Sekali lagi, seorang Papa tidak mungkin menghancurkan hidup anaknya. Aku percaya itu.
"Lea, dengarkan Mama, Sayang."
Mama memengang kedua tangan ini dan membelainya pelan, dan aku langsung membalas tatapan Mama.
"Awalnya Mama menolak keras keputusan Papamu. Tapi, setelah mendengar penjelasannya Mama menyerah. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, Sayang. Hanya itu. Nak Brian adalah pria yang akan mencintaimu. Mama yakin."
Aku langsung memeluk Mama dan menangis dibahunya. Entah kenapa, ada sesuatu yang menarikku untuk yakin bahwa ini yang terbaik. Jika Brian adalah pria yang mampu menjadi pembimbing, maka aku akan memilihnya.
"Pernikahan itu menyatukan dua keluarga, yang dulunya belum halal, namun ketika ada ikatan pernikahan maka menjadi halal.
Artinya apa? Menikah itu melengkapi satu sama lain, saling menasehati, tolong menolong, jujur, menjaga kepercayaan masing-masing dan terbuka. Pesan saya satu. Cintai pasanganmu karena Allah," kata Ustaz Zain sebelum mengakhiri pengajian.
"Sayang," panggil Mama.
"Sekarang aku tahu apa yang harus aku pilih, Ma."
♡
Aku melihat diriku lewat cermin. Bulu mata lentik dan juga wajah oval membuatku terlihat seperti Mama. Sekarang aku tahu, kenapa Papa sering mengatakan kalau aku begitu mirip dengan Mama. Dari segala hal.
Saat aku berdiri dan berlagak sok cantik di depan cermin, aku tersenyum. Membayangkan jika suatu saat nanti berdiri dengan sebuah gaun yang melekat pada tubuh mungilku. Gaun putih pucat dengan desain elegan berenda, tentu dengan sebuket bunga mawar putih dalam genggaman.
Membayangkan saja mampu membuatku terbang. Lalu siapa mempelai prianya?
"Lea, ayo. Kita harus cepat. Papamu seperti lebah, tidak bisa berhenti mondar-mandir tidak jelas," intrupsi Mama.
Membuat lamunanku langsung buyar begitu saja seperti ribuan koin perak yang berjatuhan. Ingatkan aku untuk memungutnya.
Saat aku turun, Papa sudah mengenakan baju formal yang sering digunakan saat acara-acara penting. Sore ini adalah moment penting bagi Papa. Mungkin untuk semua orang. Tidak terkecuali aku.
Karena kami akan datang ke kediaman Wijaya. Untuk membahas perjodohanku dengan Brian.
♡
Ketika kami tiba di sebuah rumah megah aku terkagum-kagum dengan desain dan interior bagunan klasik bergaya eropa dan jawa. Papa terlihat biasa saja, bahkan Mama sekali pun. Sepertinya hanya aku korban ketidakelitan ini. Karena baru sadar bagaimana reaksi mereka ketika melihat mata penuh binar yang aku tunjukkan. Itu artinya mereka terlalu sering melihat bagunan yang sama indahnya dengan ini.
Saat aku turun dari mobil, satu-satunya orang yang menyambut kami dengan sangat antusias adalah Tante Maretha. Beliau dengan senyum hangatnya langsung mendekat dan menarik Mama untuk masuk ke dalam rumah.
Ada satu pintu utama yang tingginya bisa mencapai tiga meter dengan ukiran unik di setiap sudutnya. Tidak heran, jika keluarga besar Wijaya begitu dikagumi banyak orang.
"Mama!"
Clarisa. Gadis kecil itu langsung berlari dan berseru memanggilku. Pipinya yang cubby semakin menggemaskan saat dia menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. Membuat kedua kelopak matanya membentuk bulan sabit bersamaan kata yang meluncur darinya.
"Tangkap Clalisa, Ma!"
Tanpa menunggu intrupsi, bocah itu sudah meloncat dan aku menangkap tubuh mungilnya. Memeluk Clarisa seperti saat terakhir kami bertemu.
"Clalisa kangen."
Papa dan Mama langsung memperhatikan interaksi kami. Apa lagi saat mendengar cara Clarisa memanggilku.
"Mama nggak nyangka, kalian sudah sejauh itu," goda Mama.
Tante Maretha mengangguk menanggapi celetukkan Mama.
"Bagaimana kalau kita langsung ke dalam. Suamiku sudah menunggu kalian," kata Tante Maretha.
Dengan sengaja Clarisa meminta turun saat aku mengeratkannya. Katanya, Brian tidak mengizinkan dirinya terus berada dalam gendongan. Apa lagi denganku.
"Kenapa? Tante nggak keberatan sama sekali loh. Yang penting Clarisa jadi anak yang baik."
Sebelum aku kembali bertanya, Brian sudah lebih dulu memanggil Clarisa. Ada yang aneh padanya sore ini. Brian terlihat agak menjauh dan berharap aku tidak mengetahui ekspresinya.
"Apa Papa bilang barusan, Clarisa."
Aku tidak tahu kenapa Clarisa sampai begitu takutnya. Terlebih saat aku mendekat. Brian sudah lebih dulu memberi kami jarak.
"Kenapa kamu menghalangiku?"
"Nggak ada yang harus aku jelasin," balas Brian dingin.
"Aku juga nggak butuh itu, Brian. Setidaknya Clarisa--"
"Azlea."
"Apa?"
"Bukankah sudah aku katakan padamu? Tolak perjodohan ini."
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Dia malah balik tanya.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Jangan konyol, Azlea! Berhenti mengatakan hal yang nggak harus kamu ucapkan."
Dingin sekali jadi pria tampan.
"Kalau aku nggak mau gimana?" balasku sambil bersendekap.
Dengan sengaja aku berjinjit supaya semakin dekat padanya. Rasanya aku mau tertawa saat dia tidak bisa berkedip. Apa dia terpesona? Atau jangan-jangan dia juga menahan napas sepertiku sekarang?
"Azlea--"
"Apa? Kamu baru sadar kalau aku ini cantik? Imut kek marmut? Atau baru tahu kalau aku semanis gula jawa?"
"Azlea--"
"Oh tidak! Asal kamua tahu, Brian. Aku itu tipe cewek yang nggak akan mudah kamu abaikan. Selain karena aku kek Lisa BlackPink, ada yang bilang kalau aku persis kek Ariel Tatum, yah meski di lihat dari belakang."
Aku menertawakan diri sendiri sambil mengedipkan mata beberapa kali. Hei! Aku bukan menggoda Brian. Hanya menarik perhatiannya.
"Berhenti sekarang atau--"
"Atau apa? Brian. Kali ini kamu yang harus menjadi pendengar ya. Yang pasti, aku tahu apa yang harus aku pilih dan apa yang harus aku lakukan."
Brian memutar bola matanya malas. "Lalu apa maumu?"
"Bagaimana jika aku juga ingin kita masuk kejenjang lebih serius daripada hanya berdebat?"
Aku menatap Brian dengan tenang. Menyalurkan rasa yang ingin aku ungkapkan padanya.
"Aku ingin tahu semua hal tenyang dirimu. Kamu boleh sebut aku apa saja sekarang. Yang pasti, ada sesuatu yang tidak kumengerti saat melihatmu. Saat ada didekatmu. Seperti ini."
Aku meraih bahu Brian. Ingin mencari sesuatu saat aku menatap matanya.
"Kamu melakukan kesalahan, Azlea," bisiknya.
Brian langsung menarikku. Kukira dia akan mendorong tubuh ini untuk menjauh seperti dalam cerita-cerita di buku romansa saat si cowok benci setengah mati dengan si cewek.
Ternyata aku salah.
"Brian." Dia langsung fokus pada satu titik. Pada mata ini.
"Kenapa kamu memanggilku Azlea? Kamu sadar nggak, selama satu minggu ini kurasa hanya kamu yang memanggilku Azlea. Bukan Lea seperti kebanyakan orang."
Brian tetap diam.
"Saat pertama kali kamu memanggilku begitu, ada bagian memori yang memberi peringatan, itu panggilan familiar yang seseorang buat."
"Sayangnya aku tidak tertarik dengan cerita omong kosongmu, Azlea."
Aku mencibir kelakuannya.
"Aku hanya bercerita. Jadi cukup jadi pendengar yang baik. Oke?"
Tidak ada balasan sama sekali.
"Jangan menghindariku. Aku--ingin mengenalmu, Brian."
Di satu sisi aku ingin percaya pada pilihan terakhir. Namun, di sisi yang lain aku tidak tahu apakah pilihan ini benar. Entah untukku atau Brian. Setidaknya aku percaya pada pilihan Papa. Jika berbicara soal hati, siapa yang akan tahu nanti.
Seperti kata Ustaz Zain. Cinta itu tumbuh karena rasa nyaman.
Aku nyaman saat bersama Brian.
Meski aku tidak tahu, apakah Brian nyaman saat aku berada di dekatnya atau tidak.
Sesaat setelah pertemuan singkat yang aneh. Brian langsung memilih duduk berseberangan. Dia bahkan mengabaikan kehadiranku.
Tuan Sombong! Garis bawahi.
Selama Azlea Maheswari masih bisa berdiri. Jangan harap dia mampu mengabaikanku dengan mudah. Akan kubuat, Brian Nanendra Wijaya bertekuk lutut.
Meski tantangan pertama adalah menekan rasa percaya diri ini. Percaya bahwa aku bisa mempercayakan hati padanya. Percaya pada takdir. Terus berdoa saja, semoga yang aku pilih ini adalah jalan yang tepat. Meski harus menanggung konsekuensinya.
♡
Bersambung