
"Kepercayaan itu tidak didapat dalam satu hari. Kamu butuh lebih dari itu. Lebih dari siapa pun yang mampu kamu bayangkan untuk mempercayakan segalanya hanya untukmu." -- Papa
♡
Setiap kali bangun di pagi hari, hal pertama yang menarik perhatianku cuma satu, kalender yang terpajang di sisi ranjang. Benda itu menjadi tanda atau pun pengingat sekarang. Yang paling sering kulihat. Kalau satu minggu lagi acara wisuda di gelar dan setelah itu aku akan menyandang gelar sarjana S1.
Namun, bukan itu yang jadi daya tariknya sekarang. Tanggal yang tertera dari satu minggu setelah itu menjadi fokusku beberapa hari ini.
Hari di mana aku dan Brian akan melangsungkan pernikahan. Maka, selain menyandang sarjana aku juga akan menyandang sebagai istri Brian Wijaya.
Istri?
Aku akan menikah. Apa rasanya semenakutkan dan secemas ini? Yang aku bayangkan adalah bagaimana jika nanti kami tidak bisa menjaga arti dari pernikahan itu sendiri? Tidak. Jangan berpikiran aneh, Azlea.
Tapi tetap saja. Meski sudah berulang kali menyugesti diri sendiri. Sesuatu yang terselip di hati lebih tajam dan merasuk sampai membuatku sangat gugup. Aku harap-harap cemas. Bagaimana jika aku tidak bisa jadi istri yang baik? Maksudku, seperti kata Vinda dan Dina yang lebih dulu menikah. Mereka selalu mengeluh dan juga memberiku petuah ini dan itu.
"Lea."
Sampai panggilan Mama menghentikan lamunan ini. Aku menarik napas pelan lalu bangkit dari ranjang. Saat membuka pintu, wajah antusias Mama menjadi melodi tersendiri. Asal bukan melodi kiamat akan datang. Itu mengerikan.
"Mama?"
"Kamu mau dengar kabar baik atau kabar buruk, Sayang?"
Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti. Apa ini semacam ramalam cuaca? Tentu pilihan buruk di awal akan lebih baik daripada di akhir. Tapi tidak jika kabar buruk itu seperti momok yang sering kali aku tonton di film-film.
"Mau dengar yang mana dulu?"
"Terserah Mama, deh. Aku nurut aja. Daripada nanti kena omel kek Attala."
Soalnya pernah ada kejadian. Di mana pertanyaan semisal ramalan cuaca dan Attala sampai diomelin hanya karena dia memilih pertanyaan kedua bukan yang pertama atau sebaliknya.
Mama itu memang aneh. Dia yang tanya dan menyuruh memilih yang mana. Habis itu, ngomel nggak jelas.
"Kabar buruknya ...."
Aku masih menunggu Mama melanjutkan. Sambil mengamati wajah cantiknya yang tak lagi muda itu dengan tenang. Mama benar-benar punya alis simetris seperti dalam lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci. Meski senyum Mama tidak lebih manis dari lukisan itu. Yang pasti, Mama bisa sangat menghanyutkan mata. Tentu saja bagi Papa. Tidak dengan Attala atau aku.
Bahkan, kalau boleh jujur. Senyum itu akan sangat mengerikan seperti milik Medusa, dewi dalam Mitologi Yunani. Wanita berambut ular.
"Dengarkan baik-baik apa yang Mama katakan. Pertama, kabar buruknya itu Brian harus ke luar negeri."
Apa? Brian keluar negeri? Kok--
"Iya, Sayang. Brian harus ke Jepang membahas tender besar. Jadi fitting baju pengantin kalian diundur beberapa hari."
"Kenapa dia nggak ngasih tahu aku? Kok malah Mama?"
Mama tersenyum jahil. "Mana Mama tahu, tanya sendiri sama dia."
"Nggak. Aku nggak bakal mau menelponnya dulu. Mama ingat apa yang pernah Mama katakan dulu? Kita sebagai perempuan harus jual mahal."
Mama hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum.
Aku mendesah. Apa gunanya punya nomor dan smartphone canggih kalau tidak digunakan. Brian sialan! Dia bahkan tidak meninggalkan pesan WhatsApp atau miss call satu pun. Menyebalkan.
"Kenapa? Galau ya? Mama tahu kamu pasti sedih," goda Mama.
"Siapa? Aku? Jangan harapkan itu, Ma. Aku nggak akan galau hanya karena dia pergi."
Hanya kesal!
Ketika aku ingin kembali ke kamar, Mama mencengkal pergelangan tangan sambil menunjukkan senyum misterius. Membuat bulu kudukku sedikit meremang. Jangan sampai ada setan yang tahu kalau aku semerinding ini sekarang.
"Jangan pergi dulu. Mama belum selesai."
"Apa lagi?"
"Kabar baiknya belum."
Oh iya.
Mama menatapku dalam diam. Aku ingin tahu apa yang ingin Mama katakan sampai melihatku seserius ini.
"Kamu ingat, Ravindra?"
Ravi?
"Dia akan pulang," lanjut Mama.
♡
Sebuah janji.
Hal serupa pernah dijanjikan seseorang padaku sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana kabar kepulangannya ke Indonesia pagi ini membuatku bahagia setengah mati. Entah ada angin apa, sampai dia memutuskan untuk kembali.
Jika ada yang mempertanyakan soal kerinduan. Aku merindukannya. Sangat. Bagiku, dia adalah seorang kakak yang tidak kumiliki.
Karena dialah alasanku kembali percaya. Bahwa rasa sakit adalah bagian dari hidup. Alasan yang tidak dia ketahui menjadi awal baru bagi Azlea Maheswari.
Dialah satu-satu orang yang mempertanyakan perihal rasa. Rasa yang mengebu. Menciptakan melodi dan juga euforia. Bahkan aku pernah berharap jatuh hati padanya.
Pernah memikirkan bagaimana kalau di masa depan kami menikah. Punya keluarga bahagia layaknya kisah dongeng.
"Kita nunggu siapa, Kak?"
Sejak kami berangkat menuju Bandara, Attala terus bertanya banyak hal. Dari apa, siapa dan kenapa kami yang menjemput orang yang tidak jelas menurutnya.
"Nunggu artis," balasku cuek.
"Kita nggak lagi nunggu Mpok Eli Sugigi, kan?"
Kenapa dia malah bawa-bawa Eli Sugigi segala? Kebanyakan nonton tv jadi agak sangklek.
"Atau Mpok Alpha?"
Dih! Dia kira aku apaan sampai nunggu mereka di Bandara. "Bukan. Ya kali kita nungguin mereka. Kamu tuh, kalau nyebut nama yang lain kek yang lebih cakepan dikit. Emang mereka Bibimu?"
"Terus siapa? Nggak mungkin Lee Joon Gi. Dia nggak akan mau meski kakak cantik kalau ngomong sama Kak Brian waktu itu katanya mirip Lisa Blackpink. Lisa apaan."
"Attala!"
"Kan? Kek gitu tuh. Cowok mana pun nggak akan betah. Kakak sama kek Mama. Kalau marah seperti hantu Bloody Mary."
Bloody Mary palamu peyang?!
"Kita nunggu siapa?" tanya Attala entah yang keberapa kali.
"Kita nunggu, Ravi, Attala."
"Maksud Kakak tuh, Rafi Ahmad? Ngapain?! Kakak nggak main nikung pan?"
Ya elah tuh anak!
"Ravindra Lee, Attala. Bukan Rafi Ahmad. Itu mah aku tahu, suaminya Nagita yang dulu pacaran sama Mbak Yuni."
Kenapa dari tadi dia nyebutin artis kek Eli Sugigi, Mpok Alpa sama Rafi Ahmad coba? Ketahuan kalau jomlo sukanya nonton komedi.
"Kirain Rafi Ahmad."
"Kirain mau jemput, Scarlett Johansson," gumam Attala sambil mematapku dengan tatapan kesal.
"Ravindra Lee."
"Ya. Aku nggak budeg, Kak!"
Diam-diam aku melirik Attala. Dia pasti tengah mengingat-ingat kembali siapa Ravindra Lee yang aku sebutkan barusan. Sampai dia tersadar.
"Anaknya Paman Lee yang kuliah di Amerika?"
"Yup!"
"Yang kepalanya bocor gegara Kakak pernah lempar batu salah sasaran. Yang itu?"
Aku melotot saat mendengar kata kepala bocor keluar dari bibir Attala. Dia terkekeh pelan. Sebelum dia kembali angkat bicara aku segera memukul lengannya. Namun gagal.
"Jadi benar," ujarnya sambil menghindar, "Kakak memang sesadis itu sejak kecil."
Brekele.
"Aku nggak sengaja, Attala. Lagi pula waktu itu kakak masih sekecil Cessie Lang atau segini." Sambil menunjukkan jari kelingking padanya.
"Kakak bukan lagi anak kecil yang suka ngompol waktu itu. Kakak udah berumur hampir dua belas tahun."
Aku memutar mata dengan bosan. Dia mungkin benar. Sebal sendiri rasanya. Saking malas berdebat aku lebih memilih menguap pelan sambil memandangi seluruh aktifias puluhan orang yang berlalu lalang di Bandara, daripada menanggapi kelakuan iseng Attala.
Ingatan Attala memang tidak perlu di pertanyakan lagi. Entah bagaimana dia masih ingat kelakuan kakaknya dulu. Aku tidak sengaja. Jujur. Lagi pula aku tidak terlalu ingat bagaimana bisa kejadian itu terjadi.
Samar-samar doang. Namun, diperjelas saat Papa sering menjahiliku persis seperti Attala barusan. Membuatku berpikir kalau itu memang perbuatanku di masa lalu.
♡
Saking lamanya menunggu, akhirnya Attala pamit untuk mengisi perutnya yang terus meronta sejak satu jam yang lalu. Berhubung aku lagi baik-baiknya, biarlah dia pergi. Lagi pula tidak butuh beberapa menit setelah Attala pergi, sosok itu muncul.
Dia mengenakan pakaian hitam berlengan panjang dengan sepatu Nike Air Force 1 Diamond keluaran terbaru. Jika Attala melihat Ravi sekarang. Aku yakin hal pertama yang mampu membuat Attala tercengang bukan penampilannya. Melainkan sepatu apa yang dia pakai.
Entah kenapa melihat warna hitam membuatku ingat pada Brian. Bahkan, Tuan Sombong itu tidak memberiku kabar apa pun sejak keberangkatannya semalam. Aku memang belum pernah ke Jepang, jadi tidak begitu yakin. Apakah pagi ini dia sudah sampai apa belum. Atau malah sudah bekerja?
"Lea?"
Ravi menyebut namaku sambil melambaikan tangannya yang bebas. Dia tersenyum hangat seperti yang aku ingat. Sepuluh tahun tidak bertemu langsung dengannya membuatku merasa--entahlah. Yang pasti aku bahagia.
Seingatku, Ravi seumuran dengan Brian. Yang pasti dia lebih tua dariku.
"Ini kamu?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Masa Attala jadi gadis cantik seperti ini," balasku.
"Tetap pendek ternyata," celetuk Ravi tiba-tiba.
Pendek? Sudah dua orang yang menyebutku seperti itu. Yang jadi pertanyaanku sekarang adalah kenapa semua pria selalu begitu, sih? Nggak, Joya, Brian bahkan Ravi. Aku yakin. Siapa pun, namanya perempuan tidak suka jika di sebut, pendek, gemuk dan bodoh. Ya kan?
"Kamu nggak kangen?"
Tak disangka, Ravi merentangkan kedua tangannya. Seolah memberiku kode untuk memeluknya. Tanpa berpikir panjang aku langsung meraih tubuh Ravi dan dia membalas dekapanku sambil tertawa lepas.
"Aku merindukanmu, Lea. Kupikir kamu akan sejelek beberapa tahun yang lalu," bisiknya sambil mengangkat tubuhku sedikit dan kami berputar layaknya film India.
Menggelikan! Tapi ini sangat menyenangkan.
"Aku nggak jelek," balasku.
"Bagiku kamu itu jelek, Lea. Aku yakin, cuma beberapa orang yang menyebutmu cantik."
"Memang ada."
Andre sering bilang kalau aku itu cantik. Yah, meski tidak tahu itu pujian yang tulus dari hati atau bukan. Bahkan Brian juga menyebutku jelek.
"Aku nggak percaya," balasnya.
"Lihat ini."
Aku memperlihatkan sebuah cincin di jari manisku dengan bangga. Jika Brian ada di sini dan melihat bagaimana aku tersenyum di hadapan Ravi sambil menunjukkan cincin pertunangan kami, aku yakin dia bakal menggelengkan kapala lalu pergi begitu saja. Atau lebih dari itu?
"Aku tidak menyangka kamu--"
"Apanya?" tanyaku.
Sorot mata Ravi sekilas terlihat dingin sebelum kembali menampakkan senyum hangatnya. Ada yang aneh darinya.
"Ada apa?"
"Tidak ada." Dia menggelengkan kepala sambil menyakinkanku kalau ia baik-baik saja.
"Kamu nggak tanya ini cincin apa? Sekarang aku tuh sudah bertu--"
"Kita harus segera pergi, Lea." Ravi memotong perkataanku dengan sengaja. Aku tahu itu. Tapi kenapa?
"Yup! Tapi, sebelum itu. Kita harus cari Attala. Aku nggak mau kena omelan Mama karena meninggalkannya di Bandara," ucapku sebelum tersenyum padanya.
Ravi menarik kopernya dengan pelan sambil menungguku yang sedang mengirim chat pada Attala, untungnya bocah itu langsung membalas WhatsApp dengan cepat. Aku dan Ravi pun meluncur di mana Attala berdiri sambil membawa beberapa kotak di depan restoran.
♡
Selama kami berjalan pulang, Ravi tetap diam membisu. Dia nampak memiikirkan sesuatu dengan sangat serius.
"Terlambat," gumamnya.
Terlambat? Apanya?
"Kamu nggak lagi oleng, kan?"
Ravi langsung menatap mata ini. Sorot matanya begitu tenang.
"Seharusnya aku pulang lebih cepat."
"Terus?"
"Untuk mendapatkan seseorang."
Aku hanya mengangguk. Tidak tahu harus bertanya apalagi.
"Kamu nggak ingin tahu 'seseorang' yang aku maksud?" Ravi menunggu jawabanku.
"Aku? Hm ... maksudku--tidak. Aku nggak mau tahu siapa dia."
Ravi mengangguk lalu terdiam.
"Setidaknya kamu harus berjuang, Ravi. Masa hanya karena terlambat kamu udah nyerah gitu saja? Lucu sekali. Mana Cassanova yang aku kenal, hm?"
Ravi tetap diam sampai ia menyubit pipiku dengan gemas.
"Aku tahu harus melakukan apa," ujar Ravi.
♡
Bersambung