PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 18




"Untuk pertama kalinya. Aku mengagumi cara mata itu menatapku. Seolah ada cinta yang begitu besar di sana. Membuatku tahu untuk apa aku tersenyum."



Ada banyak hal kecil yang kusukai sejak dulu. Dari membeli bunga, menghabiskan stok apel di kulkas dan juga bermain dengan Ravi. Namun, ada saatnya aku merasa kalau ada bagian yang hilang.


Sesuatu yang terlupakan begitu saja. Sayangnya aku tidak mengerti 'bagian' mana yang telah menghilang, kemudian mencoba mencari tahu. Meski hasilnya selalu nihil.


Terlepas dari itu semua, aku yakin. Keputusan yang Papa ambil bukan hanya karena semata-mata perjodohan. Aku yakin, pasti ada alasannya.


Karena entah bagaimanapun, bagian itu seolah kembali setelah aku menatap matanya. Seperti ada rindu. Keputusasaan sekaligus rasa tak bernama.


Sempat aku berpikir untuk membohongi diri, namun, hasilnya tidak mampu. Aku terlalu lemah. Azlea. Ini seperti bukan dirimu.


Lalu hari ini terjadi, aku menatap diri dengan senyum yang kentara saat sebuah gaun melekat pada tubuh mungilku.


"Kamu memang calon pengantin yang luar biasa! Apalagi saat mengenakan gaun itu, Lea. Aku tidak menyangka bisa sebahagia ini hanya melihat seseorang mengenakan gaun yang telah kubuat."


Almee terus mengoceh tentang berapa banyak lace dari bahan terbaik yang harus ia rangkai bersama penjahit profesional yang ia miliki. Hanya untuk menciptakan satu gaun yang sesuai dengan desain yang telah ia buat.


Hasilnya memang sangat memuaskan. Aku suka dengan model yang Almee buat. Seolah dia mendesain dengan mencurahkan banyak rasa. Ia menciptakan sesuatu untuk kenyamanan pemakainya.


Gaun dengan desain berlengan panjang itu memang sedikit--atau sangat memperlihatkan lekukan tubuh. Aku terlihat--seksi. Ya Tuhan! Benarkah itu Azlea Maheswari?


Apa tidak apa-apa mengenakan gaun yang agak terbuka?


Ya, walau pun pada kenyataannya aku tidak pede untuk meminta pegawai Almee membuka tirai dan menunjukkan pada Brian sambil bertanya manja, "Bagaimana, apa aku kurang seksi?" Oh tidak! Itu memalukan.


Bagaimanapun gaun itu punya belahan yang agak menonjolkan sesuatu--yang membuat pipiku merona karena malu.


Akan tetapi, seperti kata Almee. Aku tidak begitu yakin bagaimana pendapat Brian nanti. Dia pasti akan menolak beberapa gaun yang aku pakai. Itu pasti. Karena, tidak semua perempuan yang rewel. Pria pun bisa lebih rewel.


"Siap?"


Aku mengangguk. Almee meminta salah satu karyawannya untuk membuka tirai. Di sana. Sebuah sofa yang telah di duduki dua orang yang sibuk dengan dunianya masih-masing.


Clarisa mengenakan dress putih polos asyik bermain dengan boneka. Sedangkan Brian tengah sibuk memegang smartphone dan mengetik sesuatu.


Terlihat bagaimana mata itu menatap layar dengan sangat fokus. Menyebalkan. Apakah dia tidak melihat kalau ada bidadari Nawang Wulan yang baru saja terjebak dan sekarang menunggu tindakan Jaka Tarup untuk mengembalikan selendangnya agar bisa kembali ke khayangan? Bedanya ia tengah berdiri dengan gaun putih panjang serta make up natural. Aku tidak pantas diabaikan begitu saja.


Apa aku harus meminta Almee menutup tirai saja? Terus melepas gaun sialan ini dan pergi meninggalkan ini semua? Kemudian pulang ke rumah sambil mengatakan kalau Brian itu pria yang tidak peka sama sekali. Jujur, aku akan melakukan itu jika ini semua bukan untuk pernikahan.


Setidaknya aku tidak mau mengecewakan semua orang. Terutama Papa. Beliaulah orang pertama yang telah mengubah cara pandangku terhadap Brian. Papa begitu yakin, kalau dia akan menjagaku. Konyol sekali. Menjaga dari siapa? Aku tidak punya musuh seperti dalam film-film yang sering Vinda tonton tiap akhir pekan.


Lalu, saat mata kami bersirobok, aku menyadari satu hal. Brian itu patung hidup! Dia bahkan tetap diam. Sedangkan aku menunggu reaksinya. Hasilnya? Abaikan.


Melihat bagaimana mata itu menatapku dari bawah sampai ke atas, aku tahu. Brian tidak menyukai gaun yang kukenakan. Ini awal yang buruk!


"Bagaimana? Kamu suka, kan? Dia nampak berbeda kalau kamu tahu."


Almee tidak tahu bagaimana Brian mencetak dengan jelas kata TIDAK COCOK di jidatnya sekarang. Seharusnya dia tidak perlu bertanya pada pria satu itu. Harusnya. Karena itu percuma.


"Kamu suka, kan? Aku nampak cantik mengenakan gaun ini. Kalau tidak suka jangan diam, Brian. Biar aku mengerti arti tatapan itu."


Pada kenyataannya, aku berpura-pura tidak mengerti dengan kode yang Brian lemparkan lewat ekspresi datarnya.


"Ganti."


Aku dan Almee hanya terbengong mendengar satu kata tanpa penjelasan. Ganti. Oke. Di sini aku akan menikahi pria yang tampan dan keren. Terdengar sangat luar biasa. Mungkin dunia akan berseru bahwa aku gadis beruntung karena akan menikah dengan pria seperti dia. Namun sayang sekali, pria itu punya mulut pedas dan menyebalkan.


Pria dingin yang irit bicara. Sepertinya aku bisa menghitung berapa kali Brian berbicara panjang.


Sial! Dia terus melihatku.


Pada akhirnya aku menurut. Tirai kembali tertutup, semantara aku memilih gaun mana yang akan kukenakan.


Dalam beberapa menit tirai tersebut kembali dibuka. Brian dan Clarisa sudah menatapku dengan tatapan yang berbeda. Clarisa tersenyum lalu berseru kalau aku seperti putri dengan gaun putih tulang berenda, serta mahkota kecil sebagai pemanisnya.


Namun, orang yang kutunggu tetap bergeming--lalu satu gerakan saja aku sudah tahu. Brian meminta tanpa kata untuk segera mengganti gaun yang lain.


"Setidaknya beri aku satu alasan kenapa harus mengikuti perintahmu, Brian. Kamu nggak bisa bilang 'ganti' dengan sangat datar maka aku akan menunurut begitu saja. Do you think this is easy?"


Brian tetap diam selama mulutku terus mengomel.


"Aku capek, tahu nggak sih? Brian! Kamu dengerin aku ngomong nggak, sih?"


Dia tersenyum. "Terus?"


Ya Tuhan.


"Aku akan ganti gaun yang lain. Jika tidak setuju katakan alasannya."



Ada banyak sekali alasan yang Brian ucapkan sejak aku berganti gaun yang kesekian kali. Yang katanya terlalu terbukalah dan juga terlalu tertutuplah.


Hampir semua gaun sudah kucoba. Hasilnya tetap sama. Saat kembali mengganti gaun entah yang keberapa, aku menggerutu sambil sesekali menarik napas panjang.


Maka, satu komentar lagi benar-benar membuatku muak. Gaun yang kukenakan cukup nyaman meski lebih terbuka dari sebelum-sebelumnya. Bahkan Brian bisa lihat bagaimana tulang punggung ini dengan sangat nyata. Sayangnya dia berkata, "Aku tidak suka orang lain melihatmu seterbuka itu." Ayolah.


"Aku ingin ini segera berakhir," gumamku.


"Oh tidak, Lea. Masih ada satu gaun lagi yang belum kamu coba."


Aigoo!


Ketika tirai kembali terbuka, sepasang mata Brian langsung menatapku. Tidak. Dia mengatakan tidak! Bahkan Almee hanya tersenyum melihat bagaimana menanggapi tingkah Brian yang kelewatan.


"Ini yang terakhir." Aku menatap diri pada sebuah cermin. Berdoa semoga ini benar-benar yang terakhir. Jika dia memaksaku untuk kembali memilih gaun. Aku akan melempar semua gaun ke wajahnya saat itu juga.


"Hehehe, aku tidak tahu kalau dia sangat menyebalkan. Aku berdoa untukmu, Lea. Semoga kamu kuat menghadapinya nanti," ungkap Almee.


Ya, ya. Kuat menghadapi sifatnya.


Dari sekian banyak gaun di Beutique Lovella Almerane. Brian ingin aku mengenakan gaun seperti apa? Gaun berwarna peace yang saat ini kukenakan adalah gaun yang paling kusukai. Tidak terlalu menonjolkan bahu, tidak terlalu terbuka dan tertutup. Cocok. Model sabrina yang menawan.


Bahannya pun halus. Aku benar-benar terpesona dengan gaun yang satu ini. Sekarang tergantung pada Brian. Dia suka atau tidak.


Namun, aku buat kaget dengan sepasang lengan kokoh yang melingkari pinggang ini dari belakang. Dari aroma parfum dan juga caranya mendekapan aku kenal betul akhir-akhir ini.


"Cherie." Brian berbisik lembut.


"Hmmm?"


Gugup. Bahkan aku hanya bisa menatap cermin bagaimana telapak tangan Brian semakin mempereratku ke dadanya. Jemarinya mengantarkan getaran emosional dan juga daya tarik yang kuat saat tanpa sengaja aku mendesah karena geli.


Brian terkekeh. Aku merasa tersinggung. Dia mempermainkanku sekarang. Tidak! Brian tidak melakukan itu, Azlea. Dia hanya--entahlah. Aku malu untuk menggambarkannya.


Yang pasti aku tidak tahu, kami terlihat begitu serasi. Brian mendekapku dari belakang. Dagunya bertempu di pundak lalu mencium tengkukku dengan sengaja.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanyaku.


"Lalu?"


"Hanya itu."


"Benarkah?"


"Ya."


"Hanya itu saja?" Aku mengerucutkan bibir.


Brian masih memelukku dari belakang. Sedangkan aku sendiri menatap pantulan kami dari cermin. Kami terlihat--entahlah.


Kemudian aku angkat bicara untuk menghilangkan degup jantung ini. Jangan sampai Brian tahu bagaimana aku sangat gugup. Jika hal itu terjadi mau ditaruh di mana ini muka? Ya Tuhan!


"Ti-tidak ingin mengatakan sesuatu gitu, itu sebagai bayaran atas kerja kerasku? Maksudku--kamu itu sangat menyebalkan, Brian. Ada banyak gaun yang harus aku kenakan sementara kamu hanya berkomentar itu tidak cocok, itu terlalu terbuka dan yang satu lagi terlalu tertutup."


Aku langsung memutar tubuh dan menatap Brian dengan perasaan campur aduk. Dia mendengkus saat aku menatap matanya.


"Brian."


Dia tetap diam menunggu kelanjutannya.


Sedangkan aku membingkai kedua sisi wajahnya. Membawanya semakin dekat supaya aku bisa melihat dengan jelas sepasang permata onyx miliknya.


Mencari cela yang bisa menjadi alasan bahwa dia adalah orang dari masalalu yang terlupakan. Aku ingin tahu, apa yang bisa mengingatkanku pada dirinya.


Matanya kah? Senyumnya, atau cara dia memelukku? Aku ingin tahu semua itu.


Tidak ada yang istimewa. Matanya tetap sama, tajam dan dingin. Namun, aku menemukan sedikit dari sorot mata Brian, ada rindu di sana bersamaan dengan senyum tipis--tipis sekali. Sampai kupikir itu hanya garis lurus.


Kilasan hitam putih memainkan peran saat itu juga. Tubuhku agak tengang. Bukankah ini yang kamu inginkan, Azlea?


Membuka sekali lagi puzzle itu. Lalu, sebuah ingatan samar-samar mulai terbentuk dari senyum tipis, pelukan dan juga geraman syarat akan keputusasaan yang kentara. Sayangnya, semua itu menghilang dengan sangat cepat tergantikan dengan suara riak air. Ada yang berseru, ada juga yang hampir sekarat. Terjebak dengan namanya kegelapan, sampai kilasan itu memudar membentuk gelombang tak beraturan.


Namun, sebelum semua itu menghilang. Aku bisa merasakan satu dorongan kecil untuk menyambut sesuatu dalam kehampaan. Ketika membuka mata, aku bisa melihat Brian tersenyum miring dan tubuhnya semakin condong, bahkan aku bisa merasakan helaan napas. Entah dorongan apa sehingga aku ikut terhanyut dalam belaian yang Brian kirimkan. Aku terus menatapnya.


Membalas sinyal aneh yang Brian beri.


Sampai aku bisa merasakan satu kecupan. Hanya kecupan. Sedangkan lengannya memeluk posesif, bahkan ia menekan tubuh ini semakin dekat dan dekat padanya. Aku terjebak.


Terjebak ke dalam sesuatu yang tabu. Inikah yang namanya rumah? Seperti menemukan tempat.


Brian kembali mendekat setelah dia menarik diri. Lalu, ia menciumku sekali lagi.


Awalnya hanya kecupan. Lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi lumatan. Aku mendesah dan jatuh ke dalam jurang berkabut bersamanya. Yang jadi penganganku satu-satunya adalah mencengkeram jas hitam Brian, dan ikut menikmati pekatnya kabut dalam diam.


Membiarkan pria itu memperdalam ciuman ini dan menyalurkan banyak rasa. Aku bisa merasakan itu walau samar-samar.


Saat semua kembali, aku dan dia sama-sama terpaku. Atau lebih tepatnya terjebak oleh sesuatu yang tak kasat.


Brian tersenyum dan mengusap pipi dengan lembut lalu berpindah pada bibirku sambil berbisik, "Tarik napas, Azlea."


Shit. Dia benar-benar pria yang menggoda iman.


Masih ada kabut yang baru saja kulihat dari mara Brian menatapku. Bibirnya kembali mengecup bibir ini sebelum ia benar-benar menarik diri tergantikan dengan pelukan hangat yang terasa nyaman.


"Tarik napas, Sayang."


Aku menarik napas pelan. "Ya Tuhan," gumamku.


Brian mengernyitkan dahi.


"Jangan gugup gitu, Cherìe. Aku janji, setelah ini kamu akan terbiasa."


"Brian!" Dia langsung terkekeh dan tubuhnya agak merunduk lalu membenturkan kepalanya ke dahi.


"Aku akan mengajari banyak hal--"


"Termasuk untuk mencintaimu? Dan juga--"


"Salah satunya itu. Kamu boleh melakukannya, Azlea." Brian langsung memotong perkataanku.


Kemudian satu ciuman panjang kembali kurasakan untuk kesekian kali. Bagaimana bibirnya melumat dan membelai bibir ini dengan sangat manis. Aku tidak tahu jika berciuman bisa sangat menghanyutkan seperti ini.


"Kamu milikku," bisik Brian.


"Tidak peduli dulu atau ataupun sekarang, Azlea. Kamu tetap akan menjadi milikku."


Tidak ada reaksi berarti untuk membalas bisikannya. Aku jatuh.


"Stay with me."


"Hm ... Brian."


"Biarkan seperti ini dulu, Azlea."


"Tidak. Katakan dulu bagaimana dengan gaun ini." Aku berbisik. Sementara tanganku balik memeluknya. Bolehkah aku tersenyum?


Rasanya begitu damai. Aku menikmati aroma khas Brian dan menyimpannya rapat-rapat dalam memori. Moment berharga ini.


"Nanti," bisiknya.


"Jawab pertanyaanku sekarang!"


"Cium dulu."


"Huh?"


"Satu ciuman untuk satu jawaban."


"Mesum!"


"Setelah menciummu kurasa warna hitam tidak masalah."


What? Hitam?


"Kamu pikir itu hari pemakaman?"


"Hitam belum tentu tentang kematian, Cherìe. Bisa jadi, hitam adalah awal yang baru. Kita tidak harus terpaku dengan namanya kepercayaan. Karena kita bisa membuat kepercayaan sendiri. Bahwa hitam itu baik."


"Pokoknya aku nggak mau pakai gaun hitam."


"Terserah apa maumu. Yang penting kamu yang jadi calon pengantinnya."


Apakah Brian baru saja kemasukan arwah gentayangan?



Bersambung