
♡
Undangan pernikahan sudah di sebar. Begitu pula dengan persiapan lainnya. Entah itu gedung, dekorasi, tamu undangan dan gaun pengantin. Lagi pula, aku pun tidak tahu siapa yang sudah merancang konsep indoor and outdoor.
Mungkin Brian, Mama atau siapa pun. Entahlah.
Yang pasti. Hari pertama setelah pesta wisuda. Aku menghabiskan waktu untuk melihat sendiri hasil akhir gedung resepsi tanpa kehadiran Brian. Intinya, semua persiapan sudah mencapai sembilan puluj persen. Tinggal menunggu kedua mempelai. Itu saja.
Hari kedua, bersantai ditemani setoples camilan. Cukup jadi pengamat saja sudah sangat melelahkan. Coba bayangkan. Bagaimana rempongnya rumah ini sekarang. Semua orang begitu antusias layaknya penyambutan tahun baru.
Begitu juga keluarga jauh Mama. Entah yang keberapa kali, om dan tante yang datang khusus ke pernikahan ini bertanya padaku. Apakah aku suka dengan bunga mawar putih di atas meja atau berapa banyak bunga yang kuinginkan untuk kamarku sendiri. Dengan dalih malam pertama yang mengesankan.
Mereka sungguh luar biasa! Sangat. Peduli dengan malam pertama ponakan yang sekarang ketar-ketir membayangkan sesuatu yang tabu.
Sebenarnya aku ingin bilang, bahwa kami tidak akan pulang ke rumah melainkan bermalam di hotel. Atau ya, kami akan pulang ke rumahnya. Jika dia menginginkannya. Oh tidak. Tidak. Apa yang baru saja aku katakan?
Membayangkan saja membuatku seperti seorang anak yang akan di suntik di hari pertama ia masuk sekolah. Cemas.
♡
"Papamu lagi sibuk ngomong sama Pak Dana, Attala. Buat benerin kran yang rusak. Jadi Mama memanggilmu."
Saat Mama dan Attala berbincang seru seperti biasanya, aku tengah duduk di ruang tamu. Sementara beberapa orang yang tidak kukenal berseliweran di rumah ini untuk mempersiapkan beberapa hal.
"Attala. Mama udah nyuruh kamu buat ngasih undangan ke keluarga Atmajaa. Kenapa sekarang malah enak-enakkan nonton tv?"
"Nanti, Ma. Lagi pula aku juga ada janji dengan Cetta. Jadi, Mama tenang saja. Nanti aku kasih undangannya," balas Attala.
"Jangan lupa juga, nitip salam ke Delfina. Udah lama dia nggak main ke rumah."
"Ngapain?"
"Kok ngapain."
"Iya. Ngapain nitip salam buat tuh cewek. Mama mau aku dijadiin tempe penyet sama abang-abangnya?"
Bagaimanapun, Delfina satu-satunya perempuan di keluarga mereka. Jadi, bisa aku bayangkan. Pasti dia kerepotan menghadapi ketiga abangnya yang somplaknya nggak ketulungan.
"Ciee! Yang mau nikah." Attala tersenyum sebelum bantal sofa kulempar padanya. Lalu ia tertawa lebih keras.
"Berisik!"
"Aku mau punya lima," ungkap Attala.
"Apanya?"
"Lima ponakan! Hahahaha." Attala sudah lebih dulu kabur saat aku bersiap memukul kepalanya. Sial. Lima? Dia pikir aku ini kucing anggora?
♡
Menikah. Artinya terikat. Menjadi istri sekaligus ibu. Entah. Rasanya terdengar impossible. Maksudnya, aku tidak percaya! Dahulu, saat baru lulus SMA. Aku punya mimpi akan menjadi apa, melakukan apa dan juga ingin pergi ke mana.
Yang pasti melakukan banyak hal. Tapi lihat sekarang.
Bahkan sudah ada sosok yang memanggilku mama dengan bangga tiap kali kami bertemu. Tidak hanya itu. Dengan cara paling sederhana Tuhan mengirimkanku takdir, bahwa mereka adalah akhir dari sebuah muara.
Jika masa lalu terlalu pahit untuk diingat. Maka, biarkan waktu yang membuatnya lebih manis. Seperti cara Brian datang.
Dari cara lengannya yang kokoh saat ia memeluk, merengkuh dan melindungiku, semuanya begitu pas. Seolah kami memang diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi.
Begitu juga mata itu menatap. Seperti mengatakan sesuatu tanpa kata. Ia sudah jatuh dalam pesona Azlea Maheswari. Atau, akulah yang jatuh ke dalam dekapannya?
Aku menggelengkan kepala menjauhkan banyak angan-angan. Karena Brian itu pria dengan segala kerahasiaannya. Itulah kesan pertama kali bertemu dengannya. Baik dulu mau pun sekarang.
Brian seperti sebuah kotak dengan banyak kotak di dalamnya.
♡
Next part 27