
Hal pertama yang kuingat setelah satu minggu kami bertunangan adalah bagaimana tingkah polah Brian yang berhasil membuatku kesal setengah mati. Meski begitu, Brian adalah pria yang diam-diam sangat pengertian. Kadang mulutnya sedikit lebih tajam dan menyebalkan dari biasanya. Seperti pagi ini, dia datang dengan setelan jas hitam formal. Tidak lupa bagaimana dia menyapaku. Tentu dengan gaya yang tidak mengurangi pesonanya sedikit pun.
"Pendek," sapa Brian di pagi hari.
"Idih. Panggilan macam apa tuh."
"Panggilan sayang."
"Seenggaknya yang cute dikit kenapa, sih? My sweety atau Honey gitu. Masa pendek."
"Karena kamu jelek. Nggak ada panggilan yang cocok selain itu."
"Kok gitu, sih. Aku nggak mau tahu, pokoknya ganti."
Aku mendengkus sebal. Kadang dia bisa lebih parah dari sekadar panggilannya untukku yang kelewat aneh. Dia juga sangat irit bicara. Kalau tidak karena aku yang mengomel seperti kereta ekspress, kami bakal berakhir seperti patung selamat datang.
Walau begitu, Brian cukup mampu menempatkan diri dalam segala situasi. Setidaknya dia tahu bagaimana harus menanggapiku di luar topik pertunangan. Kami bisa menjadi teman yang baik. Meski tidak semua berjalan lancar seperti jalur Tol Cipularang.
"Jelek-jelek gini banyak yang suka," balasku dengan bangga.
"Contohnya?"
"Joan."
"Terus?"
"Senior di kampus."
"Hm."
"Dan satu lagi. Andre."
Mau tidak mau Brian langsung menatapku penuh tanya. Aku tidak tahu, apakah Brian mengenal Andre atau tidak. Karena aku juga tengah mempertanyakan kenapa Andre pernah memperingatiku.
"Apa?" Aku memandang Brian dengan santai.
"Bukannya cuma teman."
"Dia memang cuma teman. Kalau boleh lebih juga nggak apa 'kan?"
"Terserah."
Brian malah mengabaikanku. Baiklah.
"Ayolah! Bilang kek kalau cemburu."
"Siapa?"
"Kamu. Ayo ngaku aja. Nggak usah malu," pancingku.
Siapa tahu kemakan. Membuat Brian kesal itu susah-susah gampang. Meski aku tidak tahu bagaimana isi hatinya. Paling tidak, dia tahu kalau aku bukan sekadar kenalan, teman atau orang asing baginya sekarang. Aku tunangannya.
"Kamu belum mandi?" tanyanya.
"Belum." Dengan polosnya aku menjawab.
Brian langsung mendorong tubuh ini untuk pergi ke atas. Ayolah! Lagi pula ini masih pagi. Siapa suruh dia datang saat yang lain masih asyik bergumul dengan selimut dia malah pergi ke sini.
"Makanya bau. Cepat mandi sana!"
"Aku nggak bau!"
"Jangan banyak membantah. Aku tidak mau membawamu pergi jika baumu kek durian busuk."
Ck! Mulutnya pedas sekali jadi orang. Untung saja orangnya cakep ala model celana dalam. Dasar. Hanya saja, entah kenapa aku bisa begitu nyaman di dekatnya?
"Ngapain?" tanyanya.
Aku masih memandang Brian sebelum dia terus mendorong tubuh ini untuk masuk ke kamar lebih dalam.
"Apa? Mau dimandiin? Oke."
"What?! No!" Aku langsung berteriak.
Sedangkan Brian terkekeh sambil melangkah lebih dekat. Dia tahu, kalau dirinya cukup tinggi untuk mengintimidasi.
"Udah sana mandi. Kalau nggak, aku bisa mandiin kamu."
"Ck! Siapa juga yang mau dimandiin--"
"Nanti, Azlea."
"Apanya?"
"Mandi bersama." Brian mengedipkan mata sok merayu.
"Dalam mimpi!"
Tanpa berpikir panjang aku mendorong Brian untuk keluar dan langsung menutup pintu dengan rapat. Gila! Jantungku. Jangan mati, Azlea. Tidak dalam keadaan seperti ini.
Aku tidak tahu sejak kapan cara Brian berbicara dan memandangku penuh dengan angin segar seperti barusan. Dia terlihat lebih hidup. Sayangnya, dia malah memperlihatkan sisi kemesumannya dengan terang-terangan kali ini.
[Cepetan, Jelek. Udah siang dan aku punya pekerjaan.]
Sebuah chat via WhatsApp baru saja kuterima sebelum melempar smartphone ke ranjang.
"Siapa suruh datang ke sini? Nggak ada, 'kan. Dia semakin menyebalkan. Terus, apa-apan tadi dia? Mandi bersama? Dasar mesum," omelku.
♡
"Kamu membawaku ke kantor?"
Bukannya menjawab, Brian malah membelokkan mobil ke arah basement yang berbeda.
"Kita tidak masuk lewat lobi," ungkap Brian.
"Maksudmu kita bakal lewat jendela, begitu? Oh! Sori wori, aku nggak mau mati muda."
"Aku nggak akan membuatmu mati muda, Cherie."
Brian terkekeh saat melihat bagaimana aku merengut kesal.
♡
Kupikir, dia akan mengajakku ke suatu tempat yang romantis. Akan tetapi aku lupa seperti apa Brian. Dia benar-benar susah ditebak.
Bahkan aku sempat ternganga saat dia mengajakku ke tempatnya bekerja beberapa jam yang lalu. Bagaimana ruang minimalis dan elegan yang Brian perlihatkan membuatku berpikir, dia pria perfectionis.
Dia sungguh luar biasa untuk pria duda beranak satu. Selain karena gedung ini cukup mengagumkan. Ia juga punya lift pribadi yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki black card, yang hampir membuatku tidak bisa berhenti berdecak kagum. Dasar norak.
(Tuan Sombong)
Aku menamai nomor telepon Brian sambil terkekeh pelan di sela-sela keheningan.
Meski jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh pagi, aku masih setia duduk dan sesekali membuka beberapa foto. Kalau saja Brian mau aku ajak berfoto tadi. Tapi sayang sekali. Sepertinya dia itu pria dingin berwajah datar dengan sok kerennya mengatakan, "Nanti ada waktunya kita berfoto."
"Kapan?"
"Hari pernikahan." Aku mendesah panjang karena harus mengingat kembali perkataan Brian. Sialan!
Sudah dua jam lebih aku duduk dan membuka majalah bisnis yang tidak begitu dimengerti sambil menghela napas entah yang keberapa kali. Coba bayangkan. Kalau kamu di jemput pagi-pagi hanya untuk berakhir duduk santai sampai pegal sendiri.
Sedangkan orang yang mengajakmu asyik duduk dan membuka beberapa dokumen beberapa waktu yang lalu.
Dia bahkan dengan tidak pekanya meninggalkanku karena ada meeting dadakan. Memang benar apa kata Vinda. Kalau sebagian besar pria itu sama persis. Selain karena dia tidak peka di tambah cuek dengan pasangannya. Mereka juga kaku.
Mungkin dia tidak menganggapku pasangannya.
Entah alasan apa Brian membawaku ke kantornya. Apa dia bermaksud pamer? Menunjukkan padaku kalau dia sudah mapan, punya yang semua wanita inginkan? Melihat posisinya memang sangat menggiurkan untuk para pelakor icip. Tapi jangan harap itu terjadi.
Siapa yang akan bertarung dengan Azlea Maheswari? Bukannya aku sok percaya diri. Lagi pula ini bukan drama sinetron lele terbang. Di mana sang istri akan berwajah sok lemah dan menangis sepanjang hari. Budak cinta. Wew. Apa aku baru saja menyebut kata 'istri'? Ralat. Tunangan.
♡
Suara pintu terbuka sedikit mengagetkanku. Terlebih siapa yang masuk tanpa permisi. Kukira Brian ternyata bukan. Dia seorang wanita yang cukup familier. Ah! Ya. Bukankah dia wanita yang menemui Brian saat pesta pertunangan. Untuk apa dia ke sini?
"Di mana Brian?" tanyanya dengan nada skeptis.
"Brian?" Aku berpura-pura mengingat nama itu.
Dia malah tertawa menanggapi pertanyaanku sebelum membalas tatapan yang aku layangkan dengan sinis. Woah! Kalau aku bisa mengambarkan bagaimana wajah Nenek Lampir itu sekarang, aku bisa membayangkan dia mirip seperti penyihir jahat di film Hansel and Gretel: Witch Hunters.
Dia memang punya dagu dan wajah yang putih mulus. Akan tetapi, tidak dengan matanya. Mata itu seperti belati yang siapa menghunus ke mana saja dalam sekejap mata. Ah! Aku lagi bayangin adegan sadis dalam film psikopat yang sempat aku tonton kemarin malam.
"Seharusnya aku yang tanya. Siapa kamu? Beraninya duduk di ruangan Brian."
Tenangkan dirimu Azlea. Tenang. Orang tenang itu banyak untungnya. Tunggu? Untung atau buntung ya?
"Aku bukan siapa-siapanya," balasku dengan ramah.
Wanita itu mendengkus dan menatapku tajam. Seolah dia tidak percaya dengan jawaban yang aku berikan. Sekali pun mengatakan yang sebenarnya, aku malah tidak yakin dia akan percaya.
"Keluar dari sini. Sekarang!"
Ck! Beraninya dia membantakku. Dia pikir aku bakal diam saja? Aku tidak percaya ini. Apakah dia wanita yang di cintai Brian? Oh! Aku tidak mau menerka-nerka. Namun, melihat situasi saat pesta pertunangan waktu itu, aku mengambil spekulasi seperti itu walau sebenarnya tidak mau. Kalau dia bukan orang di cintai, tidak mungkin Brian berusaha menjauhkannya dariku, kan?
"Kalau aku nggak mau. Gimana?" Aku menantang. Berdiri dengan sorot mata yang tidak kalah sinis.
Dia tidak akan mendapatkan posisi sebagai penindas. Kalau pemeran utamanya adalah Azlea Maheswari.
"Sialan! Dasar jalang tidak tahu diri," cetus Nenek Lampir.
Aku tersenyum manis. Jika Attala melihat ini dia pasti akan mual dan menyebutku menyeramkan.
Dengan percaya diri dia mendekat dan berhasil menamparku sambil membentak tentang sopan satun dan ketidakmalunya aku di hadapannya.
"Ck!" Sakit.
"Walau pun aku tahu kamu siapanya. Di sini aku adalah kekasihnya sebelum kamu hadir. Kamu mau apa? Marah? Jangan berharap lebih. Dia nggak akan jatuh cinta padamu!"
Kekasih? Mantan kali. Aku sedikit meringis sebelum kembali tersenyum.
"Ah! Sekarang aku tahu alasan Brian lebih memilihku yang katanya jelek dan pendek daripada dirimu. Kamu ingin tahu alasannya? Karena kamu nggak secantik kelihatannya. Cantik juga cantikan aku di mana-mana," balasku dengan nada tidak kalah meremehkan.
"Mana mungkin Brian menjadikanmu tunangan. Sementara kelakuanmu lebih mirip wanita penjaja di kolong jembatan."
Sebelum dia kembali melayangkan tangannya aku bersiap untuk membalas namun, Brian datang dan langsung menjadi penengah di antara kami. Aku hanya mendengkus. Tidak percaya dengan drama yang kualami sekarang.
Harusnya tadi ada adegan seru di mana aku balik menampar Nenek Lampir gila itu. Malah ada yang datang. Kurang seru!
♡
Brian berlagak seperti perisai di hadapanku. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya. Yang pasti wanita itu langsung kaget dan tangannya sedikit gentar sebelum menatapku dengan nyalang.
"Siapa yang membiarkanmu masuk ke sini?"
Aku bisa dengar nada bicara Brian kelewat dingin. Brian benar-benar seperti roller coaster. Dia punya emosi yang berubah-ubah dengan cepat.
"Kenapa, Brian? Kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku?"
Wanita itu menatapku dengan kesal sekali lagi. Bahkan dia terlihat akan menangis sebelum bentakan Brian membuatnya langsung diam membeku.
"Pergi. Atau aku akan melakukan lebih dari bentakan."
♡
Jujur. Wanita bar-baran itu menamparku cukup keras tadi. Rasanya berdenyut-denyut. Namun, aku berlagak biasa saja saat Brian mendekat dan menyentuh sisi wajahku dengan pelan. Menarik helain rambut ke belakang telinga.
Brian tahu pipiku agak merah karena tamparan Nenek Lampir. Dengan cepat dia bangkit menuju lemari pendingin dan memberiku sebotol air mineral.
"Untuk apa?"
"Untuk pipimu," balasnya.
"Makasih."
Dia duduk di sebelah sambil membantuku menekan botol air mineral ke sisi wajah.
"Kenapa kamu diam saat dia menamparmu."
Aku membalas tatapan Brian. "Kamu ingin aku membunuhnya?"
Brian malah menyubit hidungku dengan sengaja. Lalu terkekeh pelan sebelum membawaku ke dalam rengkuhannya.
"Setidaknya pembelaan itu perlu, Azlea."
"Sekarang jadi sok perhatian. Kamu kesambet setan apaan?"
Tangan Brian malah semakin merengkuhku lebih erat. Aku tidak menyangka Brian melakukan sesuatu yang sama sekali tidak bisa kubayangkan.
"Apa pun yang dia katakan. Kamu harus percaya padaku."
"Alasannya?"
"Karena dia berbohong."
"Apa jaminannya kalau ternyata dia nggak bohong?"
"Jaminan?"
Aku mengangguk. "Setidaknya aku nggak mau rugi meski ada seorang pria yang dengan beraninya melukaiku. Harus ada konsekuensinya."
"Tentu."
"Apa?"
"Tetaplah tinggal di sisiku."
"Itu bukan--"
"Apa pun yang terjadi. Stay with me, please."
Tidak mau ambil pusing aku bangkit dan ingin mengambil air mineral yang baru. Namun, sebelum aku benar-benar beranjak dari sofa, Brian lebih dulu mencegahku dengan dengkulnya. Apaan, sih?
"Minggir dulu."
"Jangan marah, Azlea."
Sekarang aku marah padanya. Marah pada keadaan. Jikalau memang dia pernah menjalin hubungan dengan seseorang sebelum kehadiranku harusnya dia mengatakannya. Bilang dengan jujur. Bahkan Brian tidak mengatakan apa pun. Membiarkan bagaimana aku mencerna semua bisikan dan kata-kata orang yang mengenal dirinya.
"Ingin tahu alasan kenapa aku menerima perjodohan ini, Brian?"
Aku membingkai wajahnya yang tengah menantapku. Brian punya rahang yang tidak terlalu menonjol namun, siapa pun akan terpikat saat jatuh pada sepasang permata onyx yang sehitam jelaga miliknya.
"Karena Papa dan Mama percaya padamu. Membuatku harus berpikir ratusan--bukan, ribuan kali."
"Azlea--"
"Tunggu. Biarkan aku menyelesaikan ini. Jangan menyela."
Brian tetap diam menungguku kembali angkat bicara.
"Kamu pernah jatuh cinta?"
"Pernah."
"Maka, ajari aku bagaimana mencintaimu, Brian. Sebagai gantinya aku akan mengajarimu mencintaiku. Ada yang kurang?"
"Ada."
"Apa?"
"Jangan pernah bertanya bagaimana caranya melupakanku. Karena aku tidak akan biarkanmu melupakanku dengan mudah."
Tanganku langsung meluncur dan memukul dadanya cukup keras sampai Brian merintih. Lalu dia terkekeh setelah berhasil membuatku merasa bersalah.
"Udah ah! Kek lagi nonton scane drama romantis. Geli dengernya," gumamku.
Paling tidak aku tidak lihat kebohongan di matanya. Atau aku tidak pandai membaca cara mata itu menatapku.
Sebelum membua lemari pendingin, Brian mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Tentang masalalu, kesalahan dan juga penyesalan.
Aku ingin tahu apa yang Brian ingin utarakan. Namun, di satu sisi aku tahu. Baginya aku bukan siapa-siapa atau lebih tepatnya belum masuk jadi bagian hidupnya. Aku belum bisa mengisi hatinya dengan namaku.
♡
Bersambung