
Ada yang aneh saat Ravi berdiri di sampingku. Dia tidak bisa berhenti memperhatikan Clarisa dari A sampai Z. Bahkan Ravi sempat mengacak-acak rambut Clarisa sampai anak itu mengadu padaku karena sebal.
"Tukang adu." Ravi mencibir.
Terus, hal pertama yang dilakukan Clarisa adalah dia langsung menarik baju Ravi meminta tanpa kata untuk menjauh dariku. Tipikal Brian sekali. Jelas kalau darah lebih kental daripada air, dan Clarisa seperti jelmaan Brian dalam bentuk perempuan. Tidak mau mengalah.
Anehnya, Clarisa terus merengek tidak jelas. Di saat Ravi malah dengan senang hati menarikku ke dalam pelukannya. Dia sengaja membuat Clarisa menatapnya tidak suka atau bahkan marah?
"Lepasin, Ravi. Kamu nggak malu sama anak kecil? Kalau kamu udah nggak waras ya, maklum saja" bisikku.
"Biarin. Aku memang lagi nggak waras sekarang."
Dengan sangat tidak tahu malu, Ravi malah membuat ini semakin sulit. Bukannya terlepas, Ravi malah dengan sengaja semakin memelukku. Dia menjulurkan lidahkan ke arah Clarisa lalu terkekeh pelan saat berhasil membuat gadis kecil itu marah sambil mencak-mancak layaknya anak seusianya yang di larang saat meminta sebungkus permen.
Namun, siapa sangka. Clarisa adalah anak yang sangat posesif pada mereka yang sudah ia anggap penting. Paling tidak itu yang aku tangkap saat anak itu terus memanggilku Mama dan mengomeli Ravi.
Dengan tangan mungilnya, ia menarik lengan Ravi dan langsung menggigitnya.
Ravi berseru sakit. Sementara aku bingung sendiri mau menolong siapa. Akhirnya kuputuskan untuk menenangkan Clarisa daripada pria yang saat ini malah terlihat mencari simpati. Huh! Aku lupa siapa Ravindra Lee. Pria dengan banyak tingkah tak beda jauh dengan Attala.
"Clarisa. Sudah cukup. Jangan diulangi lagi," ucapku tegas.
"Mama malah sama Clalisa?"
"Tidak, Sayang. Hm ... Ma-ma nggak marah. Hanya saja kamu nggak boleh begitu sama Om-om kek dia. Mau bagaimanapun, Clarisa lebih kecil."
Ya, ya. Aku tahu, Ravi pasti punya banyak pertanyaan. Soalnya dia terlihat menatap kami dengan sorot penuh tanya.
"Tapi Om Jelek nakal, Mama. Clalisa nggak suka."
♡
Tidak peduli bagaimana aku mengeluh tentang situasi aneh dalam keluarga ini. Aku tetap menikmatinya. Kenapa juga aku di kelilingi orang-orang seperti ini coba? Tidak Mama, Attala dan sekarang ada Ravi.
Clarisa lagi sensitif saat bersama Ravi atau dia memang takut dengannya. Rasa takut dengan sesuatu yang biasa anak kecil cemaskan di umurnya keempat tahun. Clarisa bahkan dengan sengaja mengoyangnya jari telunjuknya dan mengatakan sesuatu dengan gaya anak-anak yang paling menggemaskan yang pernah kulihat.
"Om Jelek nggak boleh dekat-dekat sama Mama. No, no, no."
"Kenapa? Dia nggak nolak," balas Ravi tidak mau mengalah.
"Nggak boleh! Mama punya Clalisa. Mama punya Papa."
Astaga! Aku hidup bukan untuk melihat peperangan seperti ini. Jika tadi Attala dan Mama, kini Ravi dan Clarisa. Kenapa hidup begitu semenggemaskan ini coba?
"STOP!"
Ravi dan Clarisa langsung diam. Attala terkejut saat aku berteriak untuk menghentikan dua orang yang beda generasi. Bahkan Mama dan Papa yang sibuk dengan pekerjaannya langsung mendatangi kami.
"Kalau kalian masih berantem, aku bakal turun tangan. Oke? Ravi dan Clarisa, kalian harus berbaikan."
Clarisa menolak dengan menggelengkan kepala, pipinya mengembung dan bibirnya sedikit merengut. Dia imut. Jujur saja. Akan tetapi aku tidak mau diam saja kalau mereka terus ribut sendiri.
Bahkan Ravi juga, dia lebih tua dariku. Dengan sengaja malah menggoda Clarisa dengan meraih tanganku.
"Ceritakan padaku," pinta Ravi.
"Apanya?"
"Tentang awal mulanya kamu bisa mengenal ayahnya bocah ini," liriknya pada Clarisa yang masih menatap penuh kesal pada Ravi.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"
"Banget."
"Ceritanya panjang. Intinya kami bertemu karena perjodohan," jawabku.
"Gila! Perjodohan?"
Aku mengangguk dan menunggu apa yang ingin Ravi tanyakan selanjutnya.
"Dan kamu setuju begitu saja?"
"Nggak semudah itu, Ravi. Tentu kamu tahu aku kek gimana. Aku nggak mungkin mengambil keputusan sesulit itu begitu saja. Mengorbankan hidup untuk memilih keputusan yang salah itu kadang--aku nggak bisa jelasin. Pokoknya, ceritanya panjang."
"Kamu berpikir itu keputusan yang salah?"
Aku melotot tidak suka dengan kesimpulannya, "Di awal doang, keles! Kalau sekarang--entahlah. Aku malah berpikir ini memang jalan yang benar."
"Benar menurutmu beda dengan benar menurut Tuhan."
"Kenapa jadi bawa-bawa Tuhan?"
"Emangnya kenapa?"
"Aku nggak suka kalo bawa Tuhan jika ngomongin benar atau salah, Ravi. Menurutku, selama itu benar dan kamu yakin, Tuhan akan memberi kesempatan pada ciptaannya untuk mencari tahu jawabannya."
"Kalau gitu ceritakan. Jangan buat aku terus berdecak karena kesal sejak tadi."
Ravi tidak mengerti bagaimana aku marah saat mengetahui bahwa Brian itu seorang duda. Tentu dengan segala hal yang paling luar biasa kami alami akhir-akhir ini. Yang pasti aku memahaminya sekarang. Waktu itu aku bereaksi sangat wajar untuk seorang gadis--yang mendapati dirinya akan berakhir dengan pria yang di luar ekspektasi.
"Kesal? Marah? Tentu. Siapa pun yang berada diposisiku pasti akan begitu tertekan. Kecewa dan sedih. Tidak tahu harus melakukan apa selain menatap penuh keterkejutan dan kabur adalah solusi yang dapat diambil begitu mudah--"
"Dan aku tahu, kamu pasti kabur ke kamar. Bukan kabur dalam artian yang sesungguhnya," sambung Ravi.
"Benar!" Aku terkekeh sendiri saat mengingatnya.
"Sekarang?" Ravi masih terus mencari sesuatu di kedua mataku. Entah apa.
"Aku nyaman. Hanya itu. Dia memang bersikap sedikit apatis dibeberapa kesempatan. Namun, dia bukan tipikal orang yang bakal mengabaikan orang sepertiku begitu saja. Selain karena aku cantik--itu bukan poinnya. Poinnya aku gadis keras kepala. Yang kata Attala, sih kek Lisa BlackPink. Hahaha. Yang pasti dia bisa sangat dingin dan tidak peduli. Namun, di sisi lain dia membuatku merasa seperti--di rumah."
Ya. Rumah! Dia menang tidak sehumoris Papa atau semenyenakan Mama. Brian itu seperti punya medan magnet. Di mana aku terus berusaha mengabaikan, namun gagal. Brian malah menarikku lebih jauh dari yang kuharapkan.
Aku terjebak padanya.
Aku tidak tahu apakah ini termasuk dari ketertarikan atau sebuah perasaan yang perlahan bisa mengebu-ngebu.
"Awalnya aku menolak keputusan sepihak Papa. Karena--terdengar tak masuk akal bagiku. Sampai aku ingin menangis malam itu. Namun, Papa selalu mengatakan jika Brian bisa menjagaku--"
"Menjagamu?" tanya Ravi dengan nada meremehkan.
"Yup! Menjagaku."
Ravi malah mendengkus penuh dengan kekehan ketidaksukaannya pada jawabanku. Memangnya kenapa? Meski Brian belum pernah menunjukkan kejagoannya dalam bertarung ala film laga atau semacamnya. Menjaga tidak harus dengan otot.
"Oh ya! Sebelum kamu pergi ke Amerika, aku berumur dua belas tahun, 'kan? Apakah aku punya teman selain kamu? Maksudku, di sekitar umur sepuluh tahunan, mungkin ada beberapa yang aku lupakan?"
Ravi tetap diam. Tidak ada reaksi yang berarti. "Ravi!
"Apa?"
"Apa aku amnesia?"
Hening.
"Mana aku tahu." Ravi menggelengkan kepala.
"Soalnya, saat melihat Brian. Segalanya terasa aneh. Namun, menyenangkan. Dia seperti sosok masa lalu. Membuatku merasakan sesuatu." Seperti cinta.
"Terus?"
"Aku bertanya padamu!"
"Sini." Ravi memintaku mendekat.
"Mau ngapain?"
"Katanya ingin tahu kamu amnesia apa nggak."
"Terus?"
"Malah balik tanya. Sini kamu."
Aku mendekat padanya. Tiba-tiba satu pukulan mendarat di jidat membuatku menjerit karena kesakitan.
"Kamu gila!"
Ravi tertawa. "Ampuh nggak? Itu metode ala Sun Go Kong."
"Aku nggak nyangka. Ternyata semua pria itu sama saja. Kejam, kasar dan nggak tahu gimana perasaan perempuan nanti. Brain juga kek gitu. Menyebalkan."
"Lea."
"Hmm?"
"Aku benci saat kamu bercerita tentang pria lain saat aku di sini." Ravi mengalihkan segalanya.
Dia menatap mataku dengan sorot yang terbilang lembut. Aku tersenyum dan terkekeh. Menertawakan leluconnya yang tidak garing sama sekali.
"Jangan bercanda. Hidup bebas di Amerika pasti membuat jiwa humormu sedikit menyusut."
"Aku tidak sedang bercanda."
Maksudnya?
"Aku tidak lagi bercanda, Lea. Brian bukan orang yang akan dengan suka rela--"
Lagi-lagi Clarisa menarik ujung baju Ravi dan menghentikan perkataannya dalam sekejap. Clarisa dengan pipi menggemaskan menjadi sorotan kami. Bagaimana dia memajukan bibirnya sambil berpura-pura marah.
Tanpa kata. Clarisa mengambil tempat di antara aku dan Ravi.
"Kata Papa, nggak boleh ngoblol berdua . Nanti ada setan di tengahnya. Dalipada nanti Mama kesulupan, aku halus duduk di sini. Om Jelek, jauh-jauh dali Mama," ucap Clarisa dengan suara cadelnya.
Om Jelek? Ravi? Astaga anak ini. Dia menuruni sifat jahil dari siapa? Brian? Aku tidak percaya kalau pria satu itu punya sisi seperti itu. Atau pamannya? Kak Dimas punya sifat yang sama menyebalnya seperti Attala, sebelas dua belaslah. Meski mereka mampu menghidupkan rumah dengan ledekan, ejekan dan sisi kekanak-kanakannya.
"Aku tahu dia senekat itu," gumam Ravi.
"Dia? Dia siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
"Siapa?"
"Orang gila, Lea."
"Bukan orang yang tergila-gila denganmu, kan?"
"Bukan."
"Oh! Kirain banyak cewek ala Marimar yang tergila-gila denganmu selama tinggal di Amerika." Aku mencibirnya.
"Kalau itu, nggak usah ditanya, Bayi Kukang. Ravindra Lee itu cowok terkeren, terkece dan tercakep sejagat. Cewek sekelas Selena Gomez udah aku embat."
Dih! Pede banget.
Aku terus melirik Ravi dengan tatapan tidak percaya. Dia menyimpan banyak misteri dariku di balik sikap konyolnya. Dia? Pacar? Tentangga? Atau siapa?
"Mama, Om Jelek nakal!"
Clarisa terus memukul-mukul Ravi sampai keduanya jatuh di atas lantai. Aku tidak tahu siapa yang pertama kali memulai. Tetapi aku menyakini itu ulah Ravi sendiri.
"Aku akan memanggil orang gila kalau begitu," cetusku pada mereka.
♡
Bersambung