
Ketika aku bangun dan sadar sepenuhnya dari mampi. Dengan tenang mengatur napas dan berdehem sebentar untuk menetralisir degup jantung ini.
Aku baru saja bermimpi aneh lagi. Mimpi itu terlihat begitu nyata. Bahkan sampai membuatku berkeringat dingin. Di mana aku berdiri di lantai dua melihat semua orang tengah sibuk mengelilingi seseorang di lantai bawah. Jika mengingat lagi bagaimana dekorasinya gedung itu, seperti baru saja merayakan pesta ulang tahun. Dan di sanalah awal mulanya ketakutan ini terkuak.
Ketakutan dan juga kecemasan.
Dalam mimpi itu, aku semakin yakin, punya 80 persen kemiripan dengan mimpi di masa lalu, saat di mana Ravi membantuku bangkit dari keterpurukan.
Di saat aku tidak mengenal siapa pun kecuali Mama dan Papa.
Maksudnya, aku sempat mengalami trauma. Walau tidak begitu mengerti alasan mimpi itu datang lagi setelah sekian lama.
Takut tanpa alasan. Tubuh gemetar ketika berdiri di dekat tangga. Itu memang tidak berlangsung lama. Dulu ada Ravi bersamaku.
Bukankah aku pernah mengatakan kalau Ravi adalah alasan kenapa aku bisa menjadi Azlea Maheswari yang sekarang? Karena dialah orang yang selalu mendukung dan memotivasiku selama ini.
"Ingat? Aku Ravi, sepupumu. Tidak apa, Lea. Kamu akan baik-baik saja."
Awalnya aku takut saat Ravi memperkenalkan diri sebagai teman. Namun, setelah beberapa hari di rawat hampir setiap hari dia datang menjengukku atau paling tidak, menemani kesendirianku saat Mama dan Papa sibuk dengan urusannya.
"Jangan sedih. Kamu punya aku. Aku akan menjagamu."
Sayangnya tidak. Pada akhirnya, Ravi harus pergi untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.
Masa itu adalah masa paling kelam dalam hidupku. Ya, mungkin aku memang lupa segalanya. Namun, kadang ada situasi yang membuatku kembali masuk dalam ingatan itu. Salah satunya saat menatap sepasang permata hitam milik Brian.
♡
Aku baru sadar jika ada lengan melingkar di atas perut. Moment ini mengingatkanku kembali pada pagi di mana ada Clarisa di atas tempat tidur sambil memelukku seperti ini. Hanya saja, apa yang kulihat sekarang bukanlah tempat yang punya banyak warna merah muda dengan dekorasi manis. Meski aku tidak begitu menyukai warna merah muda.
Karena Mama sering mengatakan warna pink cerminan dari seorang perempuan.
Lagi pula ini bukan kamar Attala atau kamar tamu. Kamar ini lebih terkesan dingin, kaku dan juga mengintimidasi. Tidak ada poster atau gambar berupa seni yang tertempel di dinding. Malah ada rak yang berisikan empat deret buku.
Apalagi dari pelukan itu membawa sensasi aneh. Lagi pula aku bisa membedakan tangan siapa yang saat ini ada di sana. Bukan milik Mama apalagi Clarisa.
Itu tangannya. Ya Tuhan!
"Please, jangan gugup," gumamku.
Mungkin karena takut atau apa--kuputuskan mengalihkan pandangan ke jendela berkorden abu-abu yang terlihat tidak jauh dari ranjang tempatku tertidur. Namun, ketika dengkuran halus dari sisi kanan mengubah perasaan biasa saja mendadak berubah menjadi pekikan tertahan. Ingin berteriak bahkan membangunkannya. Tapi tidak. Jangan! Aku tidak bisa bernapas dengan benar jika dia sadar.
Sedangkan sekarang saja aku sudah terlalu susah untuk bernapas.
"Bagaimana aku bisa berakhir di sini? Di kamarnya. Dan dia ada di sini bersamaku di atas ranjang yang--" Tidak. Aku tidak mampu melanjutkannya lagi.
Pipi ini memanas menahan rona malu.
Hari sudah mulai sore saat aku melihat dari cela jendela. Bangun dan melangkah menuju pintu kaca. Aku membuka pintu balkon dengan pelan supaya tidak mengganggu seseorang yang masih terlelap di sana.
"Apa yang terjadi?" tanyaku pada diri sendiri.
Sedikit merileksasikan diri setelah menerima terpaan angin sore. Dingin.
Pandangan ini jatuh pada view yang kudapat setelah menatap lebih jauh dari sini. Di mana, ada banyak pepohonan yang menjulang tinggi mengelilingi rumah Brian. Bahkan ada suara kicauan burung yang sesekali bertengger di reranting sambil berlenggak-lenggok mencari sesuatu.
Namun, itu semua tidak mampu bertahan lebih lama saat ingatanku kembali. Tentang apa yang terjadi sebelum tangan Brian berhasil meraih dan membawaku ke atas. Bahkan, aku bisa mendengar bagaimana suaranya bergetar penuh khawatiran. Menyebut namaku berulang kali.
Brian berusaha agar aku segera sadar. Akan tetapi pusing lebih menyakitkan. Aku tidak ingin membuatnya cemas, namun, aku tidak bisa melakukan apa pun selain pingsan.
♡
Siapapun pasti akan berpikiran sama denganku. Jika apa yang hilang kembali datang, padahal kamu berpikir itu bukan bagian dari hidupmu. Memaksa untuk menyugesti diri kalau apa yang ia ingat hanya bualan atau omong kosong semata.
Tapi itu tidak benar!
Sebelum semua itu berakhir, dengan pelan ingatan penuh omong kosong itu memaksa masuk. Terus mendorong seolah memaksa untuk membuka pintu lebar-lebar sekali pun pemiliknya menolak untuk membukanya.
Bagaimana banyangannya terasa begitu nyata walau aku mengabaikannya untuk tidak percaya. Berulang kali--bahwa 'mereka' adalah bagian masa lalu orang lain.
Bukan aku!
Masa lalu yang tidak pernah diingat sebelumnya. Lagi pula, jika mengingat kembali serentetan kilasan tersebut, ada bagian yang punya kecocokan dengan beberapa moment. Dari kecelakan, rumah sakit, Andre, Kak Dimas dan Ravi. Bahkan sikap Papa terhadap Brian.
Atau penolakan Mama. Seolah ada rahasia besar yang berusaha mereka tutup-tutupi.
Di hari itulah, aku mengenal Ravi. Atau aku sudah mengenalnya sebelum itu? Lalu kenapa Attala tidak tahu? Attala selalu bilang kalau hanya Ravi teman masa kecilku.
Papa pernah dua kali mengatakan kalau aku jatuh dari tangga tepat di pesta ulang tahun temannya. Ketika aku bertanya teman siapa, Papa hanya diam membisu. Apalagi Mama. Aku tidak bisa mengharapkan jawaban darinya kala itu.
Apa kecelakaan itu berakibat aku divonis amnesia?
Aku yakin itu. Ini hanya praduga yang belum tentu benar. Akan tetapi, mau praduga atau bukan, pada kenyataannya gejala yang kualami memang merujuk ke sana.
Dan satu lagi, apakah Brian adalah bagian dari masa lalu yang terlupakan? Lalu kenapa ia tidak mengatakan apa pun padaku.
"Apa yang kamu pikirkan, Cherìe?"
Sebuah pelukan dari belakang menghentikan semua pertanyaan. Dia kembali mengejutkanku. Kenapa aku tidak bisa mendengar suaranya langkahnya?
"Brian," panggilku.
"Hm."
"Aku ingat semuanya." Bohong. Aku tidak ingat semuanya.
"Ingat apa?"
Pertanyaannya terdengar biasa saja. Tidak ada reaksi berlebih seperti yang kubayangan. Seperti tubuh mematung karena terkejut, melepas lengannya atau menjauh dariku.
Brian tidak melakukannya. Kecuali cara jemarinya membelai pinggul ini juga cara ia menjatuhkan dagunya untuk bertumpu pada pundakku.
"Kamu yakin ingin mendengarnya?" Aku bertanya dengan lirih, atau lebih tepatnya gumaman?
Ini tujuanmu. Buat dia penasaran, Azlea. Ya! Aku harus melakukan ini agar semua semakin jelas. Karena aku tidak ingin terus meraba apa yang masih buram, sementara ada orang lain yang tahu kemungkinan besar dari semua pertanyaan itu.
Tanpa menunggu jawabannya aku kembali angkat bicara.
"Kamu tahu, Brian?" Aku menunggu responnya.
"Kamu ada dalam ingatanku. Di sana kamu terlihat masih berumur sepuluh tahun kalau tidak salah. Atau lebih? Dengan sikap dingin tak bersahabat. Perkataanmu juga sesinis saat kita dinner pertama kali dengan Clarisa. Awalnya aku tidak percaya itu kamu."
Briam masih diam. Sedangkan aku mencari sorot kebingungan atau sorot lain.
"Sampai ingatan itu terus berdatangan satu per satu. Sedangkan apa yang aku lihat adalah betapa menggemaskan saat aku mengatakan, kalau aku--" Lalu aku tertawa.
"Aku--entahlah. Rasanya capur aduk, Brian. Ingatan itu menghentuiku sebelum jatuh tak sadarkan diri, juga sebelum terbangun. Saat aku benar-benar sadar sepenuhnya, aku terus mengatakan itu hanya mimpi. Mimpi! Hasilnya? Tidak berhasil. Hatiku berkata lain."
Kenapa aku begitu yakin kalau laki-laki itu Brian? Itu semua karena cara dia memanggil namaku Azlea. Bukan Lea seperti kebanyakan orang.
Karena aku tidak menyukai panggilan itu. Azlea mengingatkan pada, bahwa aku pernah cadel. Alasan yang lucu bukan?
"Brian."
"Tidak, Azlea."
Aku mendesah. Membalikkan badan dan menatap matanya.
"Why? Are you hiding a big secret from me? Katakan. I want to know, Brian. Sure. Rasanya, aku putus asa. Sakit."
Dia langsung bereaksi saat aku mengatakan 'sakit' seraya menyentuh kepala. Aku menggenggam lengan Brian sebagai penguat atau lebih tepatnya menunjukkan kalau aku bersunguh-sungguh. Tidak akan kubiarkan dia mencari alasan lain atau berusaha mengalihkan pertanyaan dengan pertanyaan lain.
"Bukankah aku pernah bilang padamu. Aku bukan gadis bodoh yang hanya akan diam. Please, katakan sesuatu, Brian. Katakan!"
Aku memukul dadanya dengan keras. Berharap ia segera mengatakan semua yang dia tahu.
"Dengar, Azlea."
"Kamu yang harus dengar!"
"Aku tidak bisa."
"Beri aku alasannya?"
"No! Aku tidak bisa menjawab pertanyaan apa alasannya. Because I can not!"
Tidak ada cara lain selain menangis. Karena hanya itu senjata yang kumiliki. Aku memeluk Brian sambil menangis di dadanya.
"Dengar." Brian berbisik.
"Ya! Aku mendengarmu."
Dia terdiam untuk beberapa detik. Sampai tangannya membingkai kedua pipiku. Membelainya lembut lalu ibu jarinya jatuh pada aliran air mata yang sempat jatuh dan mengalir.
Untuk pertama kalinya, mata itu terlihat sendu. Menyimpan banyak penyesalan.
"Seperti kata Andre. Aku bukan pria yang baik untukmu."
Andre? Dari mana Brian tahu kalau Andre pernah memperingatiku?
"Pria buruk sepertiku tidak seharusnya berdiri di sisimu. Atau meminta lebih dari sekadar menorehkan luka. Padahal belum tentu kehadiranku mampu menjadi obat untukmu."
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Karena aku pria yang seharusnya tidak ada di hadapanmu. Setelah semua yang pernah terjadi."
Aku menggelengkan kepala.
"Sudah saatnya aku mengatakan semuanya padamu. Tidak peduli bagaimana reaksimu nanti. Aku tidak sanggup menyembunyikannya. Pada akhirnya aku harus menerima hukuman atau konsekuensinya."
"Menyembunyikan apa? Sampai kamu takut aku akan bereaksi sebaliknya?"
Brian mengajakku masuk. Meminta tanpa kata untuk duduk di bibir ranjang. Sedangkan ia berjongkok seraya menggenggam tanganku erat-erat.
"Kamu takut? Aku juga. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Pertama, Maaf. Maafkan aku, Azlea. Aku pria penuh dosa. Sungguh. Aku menyesal."
"Maaf untuk apa?" Jujur. Aku tidak tahu kenapa Brian meminta maaf. Dosa? Dosa macam apa sampai Brian mengatakan penyesalan padaku?
"Untuk semuanya. Dari sikap, perkataanku padamu atau bahkan perbuatanku selama ini."
Brian kecil memang sudah sangat menyebalkan. Tetapi, kalau hanya karena itu kenapa dia seperti meminta maaf untuk kesalahan yang besar?
"Kamu berhak marah, Cherìe. Karena kamu harus marah."
Marah? Untuk apa?
Tidak tahu harus mengatakan apa. Karena pada dasarnya aku belum ingat semuanya. Namun, aku harus mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan. Harus!
"Brian--"
"Tidak, Azlea." Brian semakin mengeratkan genggamannya setelah menarik tangannya dari wajahku. "Jangan menyela."
"Ya. Aku tidak akan menyela."
Keheningan ini membuatku berpikir yang tidak-tidak. Bahkan menebak kesalahan apa yang Brian perbuat. Sampai ia berlutut dan terus menatapku tanpa mengalihkannya sedikit pun.
"Akulah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaanmu."
"Kecelakaan apa?"
Sebenarnya apa yang sudah terjadi. Kenapa dia--tidak. Akh! Tidak sekarang. Jangan sampai Brian tahu kalau kepalaku kembali berdenyut sakit. Tahan sebentar lagi Azlea.
"Azlea."
Brian menjatuhkan kepalanya pada pahaku sambil bergumam lirih.
"Dulu, ada anak lelaki yang begitu dingin dengan seorang gadis. Ia mengatakan sesuatu yang kasar dan juga menatap gadis itu dengan benci. Padahal, jika dia mampu melihat lebih dekat sekali lagi. Dia pasti sadar, kalau gadis kecil itu tulus padanya."
"Tepat di pesta ulang tahunnya, ia sadar akan kehadirannya. Gadis itu mengenakan dress putih dengan senyum manis seperti biasa."
Brian terus bercerita sementara aku menangis dalam diam. Dia menceritakan kembali mimpi itu. Namun, terdengar lebih detail daripada apa yang bisa kulihat.
Dari isi hatinya yang mengatakan kalau gadis itu menyebalkan. Cari muka dengan sikap polosnya. Sok manis saat di dekatnya. Atau dengan sengaja melotot galak ketika ada teman sekolah cowok itu mendekat untuk mengucapkan selamat.
Sampai satu kalimat mengakhirinya semuanya.
"Dia membunuh gadis itu dengan tangannya."
Aku tetap setia dalam kebisuan.
Sedangkam Brian kembali bercerita, menceritakan bagaimana lelaki itu kesal dan marah. Lalu mengatakan benci. Sampai satu kalimat 'mati saja kamu!' keluar dari bibirnya.
Dia menuduh gadis itu sambil menunjuk jarinya ke bahunya. Mencemooh semua sikapnya. Sampai tanpa sengaja gadis itu terdorong ke belakang dan terpeleset jatuh.
"Cukup," selaku.
Aku tidak sanggup mendengar Brian menceritakannya lagi. Terlalu menyakitkan.
"Cukup, Brian. Cukup! Aku tidak sanggup kamu melanjutkannya. Rasanya sakit."
♡
Bersambung