
♡
"Tunggu! Kupikir kita akan berangkat beberapa hari lagi? Kenapa harus malam ini? Lagi pula aku belum mempersiapkan koper dan keperluan lainnya. Memangnya kamu nggak capek?"
Brian tetap diam. Fokus pada kemudi. Kami baru saja kabur dari pesta resepsi sendiri. Kemudian langsung mengganti pakaian yang lebih nyaman. Entah apa yang akan dipikirkan semua orang. Jika mereka tahu kelakuan pengantin baru yang pergi begitu saja.
Atau apa yang akan dipikirkan keluarga besar sekarang?
Mungkin akan ada yang mengatakan 'udah nggak sabar' dalan tanda kutip yang sebenarnya. Gilanya, Brian-lah yang tidak memberiku kesempatan untuk berkomentar atau bertanya sesaat setelah kami masuk ke dalam mobil yang saat ini membelah jalanan.
"Brian. Please, jawab pertanyaanku."
"Ini bukan bulan madu, Cherìe. Cuma liburan berdua. Kak Martha akan melahirkan dan klien sudah membuat janji, maka aku menggantikan pekerjaan suaminya."
"Tapi Brian--"
"Lagi pula kita belum sempat menentukan negara mana untuk tujuan honey moon kita. Jadi, kita tunda dulu. Anggap saja ini liburan berdua ke Bali sebagai bonus."
Liburan berdua? Intinya juga sama saja suamiku yang tampan! Astaga. Apakah aku boleh memukul kepalanya sekarang? Gemas sekali rasanya.
"Kenapa nggak kasih tahu aku kalau waktunya mepet kek gini?" tanyaku dengan nada sedikit kesal.
"Hm."
Benar-benar ya! Astaga.
Soal Kak Martha ya? Sekarang aku baru ingat. Alasan kenapa Kak Dimas bilang kalau kami harus berlibur. Tapi tunggu. Jika aku dan Brian sekarang sedang berangkat menuju bandara, lalu bagaimana dengan Clarisa?
"Kita nggak mungkin ninggalin Clarisa, kan? Kupikir lebih baik kita kembali dan membawa Clarisa juga."
"Tanpa Clarisa."
Apa? Papa macam apaan dia. Kalau hanya kami berdua yang berlibur, aku malah merasa ini pra-honey moon. Berdua! Catat. Hanya berdua. Aku tidak mau membayangkannya.
"Tapi--"
"Hanya kita berdua, Cherie. Berdua. Kalau kita membawa Clarisa, semua orang pasti akan ikut berlibur. Ibu dan Ayah tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan cucunya. Hasilnya, mereka akan menyusul."
Aku hanya mengangguk saja untuk menanggapinya. Sejak dia membawaku pergi entah kenapa Brian menjadi lebih cerewet dari biasanya. Apa jangan-jangan dia salah makan? Atau dirasuki arwah gentayangan? Apa mungkin kepalanya baru saja terbentur sesuatu?
Azlea, apa-apaan sih kamu! Mana mungkin bisa kek gitu?
Sekarang, tetap diam adalah keputusan yang tepat. Belum juga selesai ngomongnya. Main potong gitu saja. Kan nyebelin.
"Cherìe."
"Ya?"
Pria yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku itu adalah pria yang susah sekali kubaca arah pikirnya. Boleh jadi, detik ini juga kami akan saling bercumbu.
Oh tidak, tidak. Apa yang baru saja aku katakan? Sekali lagi aku menggigit bibir ini lagi. Menekan perasaan dan pikiran kotor yang baru saja terlintas. Buang jauh-jauh pikiran itu dari otakmu sekarang, Azlea.
"Berhenti menggigit bibirmu, Azlea."
"Eh?"
Mobil berhenti di suatu tempat. Jauh dari keramaian. Lagi pula ini hampir tengah malam. Mungkin hanya ada beberapa pengendara yang sesekali melintas.
Brian kembali menatap padaku. Kali ini lebih intens. Apa ada sesuatu di wajahku sampai Brian memperhatikan sedemikian rupa?
Tidak hanya wajahnya, namun tubuh Brian pun semakin mendekat. Sementara tangannya sudah lebih dulu menyentuh sudut bibir ini pelan.
Apa yang ingin dia lakukan? Ini membuatku gugup.
"Brian," gumamku. "Ada apa?"
Sekali lagi. Aku menggigit bibir saking groginya. Ya ampun. Mimpi apa aku semalam? Jangan mendekat Brian. Jika tidak. Entah bagaimana nasib jantungku kali ini.
Mungkin aku bisa mati saat itu juga jikalau jantung ini tiba-tiba keluar saking kerasnya berdetak.
♡
Setelah mengecup dahi ini, dengan mudah Brian melepas seat belt dan menarik tubuhku untuk mendekat padanya. Awalnya aku menjauhkan diri, namun Brian tak mengizinkannya.
Dengan sengaja Brian menggodaku dengan tangannya yang berkeliaran di punggung. Di tambah kelakuannya yang suka tiba-tiba mencium pipi dan kening. Lalu mengecup bibir ini.
Bisa kurasakan senyum kecil sesaat sebelum ia menjauhkan wajahnya. Dia bisa melihat sendiri bagaimana aku tidak bisa berhenti menatap matanya.
Brian mengecup bibir ini sekali lagi. Aku terpaku dibuatnya. Dia malah tersenyum. Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana menunjukkan padanya bahwa aku mencintainya. Dengan sengaja aku membalas kecupan Brian entah yang keberapa. Memberanikan diri melumat bibirnya meski agak kaku. Aku tidak berpengalaman dalam hal bernama berciuman. Mungkin, Brian akan mengajarkanku bagaimana melakukannya dengan benar nanti.
Atau, bisa dikatakan. Malam ini dia mengajarkanku caranya.
Dia mengulum bibir bawahku ke dalam mulutnya, lidahnya menelurusi bibirku sebelum ia melepaskannya.
Napasnya memburu. Semantara aku terlalu sibuk mencoba menetralisir detak jantung yang berdenyut tiap kali Brian mencium dan melumat bibir ini dengan lembut.
Sekarang aku bisa melihatnya meski agak samar-samar. Di mana, kedua mata itu berkabut. Ada gejolak yang membara. Sementara aku sendiri terlalu jatuh. Apa yang akan terjadi?
Pertanyaan yang konyol sekali. Tapi itulah yang ingin aku tahu jawabannya.
♡
Next part 31
Typo di mana-mana