
♡
Saat jemari Brian bermain di atas pundak, membelainya berulang kali sebelum ia menurunkan jajahannya semakin ke bawah. Tubuhku meresponnya. Ada getaran aneh yang malesat. Tubuh ini meremang akan sentuhannya. Kemudian Brian menyentuh pinggul dan masuk ke dalam pakaian. Dia menarikku sekali lagi. Kali ini aku bisa merasakan napasnya. Ya Tuhan. Ini semakin dekat. Aku mendesah karena geli akan jemari Brian dan juga, betapa hangatnya tubuh Brian.
Awalnya ada sedikit rasa takut saat tangan Brian mulai menyingkap ujung pakaianku ke atas. Antara tidak percaya diri dan merasa aneh saja.
Atau memikirkan sesuatu yang lain? Aku tidak ingin berakhir di sini. Maksudku, aku tidak mau melakukannya di mobil. Ini yang pertama untukku. Bahkan kami berada di pinggir jalan. Siapa pun bisa melihatnya.
Di sisi lain jemari Brian sibuk membelai bibir ini sebelum ciuman bertubi-tubi ia berikan pada rahang lalu turun ke bawah. Sampai aku meneriaki nama Brian karena ulahnya. Untuk apa dia menggigit leherku! Vampir sialan.
"Sssst," desisnya.
Aku bertanya-tanya. Apakah kami akan berakhir di dalam mobil? Bercinta seperti orang gila dalam film Fifty Shades of Grey?
"Azlea. Jika kita tidak segera berhenti. Mungkin kita akan bermalam di mobil," bisik Brian.
"Kalau begitu. Menjauh dariku," omelku agak serak.
Aku tahu. Suara Brian terdengar sangat berat. Seperti menekan sesuatu yang ada pada dirinya. Dia bergairah! Ya Tuhan. Bagaimana bisa? Maksudku. A-aku tidak mengerti kenapa dia bisa--bisa. Tidak, tidak. Jangan diteruskan lagi. Jangan.
"Aku tidak ingin bercinta di sini, Azlea. Ini pertama untukmu."
Oh! Blak-blakan sekali dia mengatakan 'bercinta' di hadapanku.
Ya. Ini pertama untukku. Itulah kenapa aku ingin menjadi perempuan spesial jika hari itu datang. Tapi tidak di sini. Di tempat dan waktu yang kurang tepat.
Lagi pula, apakah dia tidak sadar bagaimana reaksi yang kuberikan setelah mengatakan kalimat itu? Pasti pipi ini memerah sekarang.
"Jangan sedih, Sayang." Aku mencebik mendengar nada menggodanya.
Ketika dia berhasil membuatku kesal, Brian malah dengan entengnya merapikan pakaianku yang agak berantakan hasil dari tangannya yang sedikit tak sabaran. Dia menatapku dengan senyum yang kentara.
"Jangan menatapku seperti itu."
Abaikan dia, Azlea! Abaikan.
"Jangan marah."
"Apanya?" Aku hanya menatap wajah lalu jatuh ke bibirnya tanpa sengaja.
"Cara matamu menatap seolah menginginkan lebih. Jangan tertawa!"
Aku langsung menutup mulutku. Takut Brian akan marah setelah aku menertawakan pengakuannya.
"Aku bisa memakanmu kapan saja," bisik Brian dengan sengaja.
"Iss ... dikira aku ini lemper bisa di makan?"
"Kamu itu ibu dari anak-anakku," ungkapnya dengan intonasi yang terdengar sangat menjengkelkan.
"Cepat atau lambat. Di sini," tunjukkanya. Aku mengikuti arah telunjuk Brian. Perut?
"Clarisa minta kado katanya."
"Terus? Apa hubungannya?" tanyaku.
Sungguh. Brian hobi sekali memberiku banyak pertanyaan penuh teka-teki yang harus aku tebak. Tidak tahu saja, aku terlalu bodoh untuk menjawab pertanyaannya.
"Nanti kita buat bersama-sama." Brian terkekeh saat aku memukulnya dengan keras.
"Berhenti main kode-kodean. Aku nggak ngerti apa yang kamu omongin, Brian!"
Bukannya memberi jawaban, Brian malah menghidupkan mobil. Oke. Sekarang aku harus mencari tahu jawabannya sendiri. Perut? Clarisa dan kado?
Dan apa Brian bilang tadi? Buat bersama-sama? Apanya? Aku tidak bisa berhenti memikirkan jawabannya.
Dua menit setelah itu aku sadar. Mungkinkah itu jawabannya?
"Brian!"
"Iya, Sayang."
Sengaja dia tidak memperhatikan saat aku memanggilnya. Melirik sedikit kek, tersenyum kek atau apa. Dasar pria es. Untung sudah jadi suami. Meski baru beberapa jam yang lalu. Sekali pun belum. Mungkin aku akan mendiaminya tiga hari tiga malam.
"Brian," panggilku sekali lagi.
"Hem."
"Yuk! Kita buat," bisikku.
Dia langsung menghentikan mobil dan menatap mata ini sekali lagi. Kena kamu, Brian. Rasanya puas sudah mengerjainya.
♡
Saat dia mengulurkan tangan padaku, aku meraih tangannya namun gagal. Brian sudah lebih dulu menarik tubuh ini ke belakang.
"C'est ma femme, Nick." (Dia istriku, Nick)
"Vraiment? Ne plaisante pas avec moi, Brian." (Benarkah? Jangan bercanda denganku, Brian.)
"Suis-je une blague?" (Apa aku sedang bercanda?)
Mr. Nick terlihat kaget sesaat setelah Brian mengatakan sesuatu, entah apa artinya. Aku tidak tahu. Yang pasti Mr. Nick terlihat meminta maaf padaku dan Brian.
"Ravi de vous rencontrer, madame." (Senang bisa bertemu dengan Anda, Nyonya."
Aku tersenyum seperti orang sinting. Maksudnya, bagaimana aku harus membalas perkataannya sementara aku tidak tahu dia bilang apa.
"Mr. Nick ngomong apaan?" Aku langsung bertanya pada Brian sebelum dia menarikku ke arah tangga menuju pintu pesawat jet pribadi.
"Dia bilang kamu cantik."
Iyakah? Kenapa aku meragukannya ya?
"Coba deh diulangi apa yang Mr. Nick katakan. Aku mau denger."
"Elle est belle," kata Brian.
Elle est belle? Sebelumnya bukan itu. Kek vraiment, vermen atau permen? Ada kata plaisenta atau apaan tadi. Kenapa aku malah meragukan Brian coba?
Tidak mungkin suamiku ini bohong, bukan? Lagi pula untuk apa? Tunggu.
Aku langsung tersenyum pada Mr. Nick yang dari tadi cuma diam melihat interaksi antara aku dan Brian. Seandainya tuh pilot bicara bahasa inggris aku pasti tahu perkataannya.
"Mr. Nick. Nice to meet you. I am Azlea Maheswari."
Kuulurkan tangan padanya. Dia langsung menyambutnya meski sekilas aku bisa melihat gelagat aneh dari Mr. Nick. Seperti meminta persetujuan seseorang.
Brian, kah?
♡
Selama kami melayang di langit malam menuju bandara I Gusti Ngurah Rai. Aku menghabiskan dua puluh menit untuk melihat seisi jet pribadi milik keluarga Wijaya. Aku tahu mereka bukan orang kaya biasa. Namun, mana tahu kalau mereka juga punya pesawat pribadi.
"Cherìe."
"Ya."
Brian membuka selimut dan meminta tanpa kata padaku untuk duduk di sampingnya.
"Ini sudah malam. Aku tahu kamu lelah. Tidurlah," bisik Brian.
Aku tersenyum melihat perlakuan manisnya.
"Tidur, Azlea. Atau ingin aku menciummu dulu?"
Aku mendorong tubuh Brian saat ia sengaja mendekat dan bersiap menciumku. Jika hal itu terjadi, bukannya menjadi pengantar tidur. Malah menjadi nyamuk yang terus berterbangan di pikiran.
"Tidak usah. Aku jadi takut padamu," balasku.
Brian malah terkekeh. "Takut tapi mau."
Mungkin benar. Tidak. Aku terlalu lelah. Sampai tidak membalas perkataan Brian.
Hampir sepuluh menit berlalu. Tidur belum menyambut. Namun dengan sengaja memejamkan mata. Tidurlah, Azlea. Kenapa sudah sekali ya?
"Selamat malam, Cherìe," bisik Brian.
Lalu ia mengecup pipi ini sambil membenarkan selimut.
Rasa hangat menerobos masuk ke jiwa ini sesaat setelahnya. Entah kenapa, hal kecil seperti barusan mampu membuat hatiku terasa sangat penuh. Penuh akan kasih sayang.
Tidak apa. Menaruh hati pada sepasang tangan yang rapuh. Selama kedua tangan itu saling menguatkan.
"Selama malam, My Husband."
Aku mengecup bibir Brian dalam diam. Kemudian kami terlelap dalam keheningan.
♡
Bersambung
Typo di mana-mana.
See you next part, guys!