PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 28





Pernah berpikir untuk menulis surat pada seorang gadis yang dicintai oleh pria yang sudah menikahimu? Pria yang sejak awal hanya peduli akan tanggung jawabnya saja? Entahlah.


Akan tetapi, Syeina malakukannya. Dia menulis surat untukku. Ya Tuhan! Apakah dia berpikir kami akan bertemu? Setelah apa yang pernah Brian perbuat?


Kita tidak tahu masa depan seperti apa. Apakah takdir mempertemukanku dengannya atau tidak. Belum tentu kami akan berakhir seperti sekarang. Namun, Syenia melalukannya tanpa sepengetahuan Brian.


Ada banyak kata-kata yang ingin aku utarakan saat membaca selembar surat bertuliskan tangan miliknya. Antara sedih dan bahagia.


Sedih karena ia mengatakan kalau dirinya hanyalah orang ketiga. Padahal saat kejadian itu terjadi aku sama sekali tidak ingat tentang Brian sampai pria itu datang kembali.


Datang dan mengubah segalanya.


Lalu kenapa aku bahagia? Mungkin jahat jika aku mengatakan mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Namun, kebahagiaan ini tidak ada hubungannya dengan itu.


Aku bahagia karena dia mempercayakan putrinya. Clarisa. Pada seseorang yang tidak pernah ia kenal kecuali ia lihat dari selembar foto yang sempat Attala bahas sepulang acara wisuda.


Foto yang memperlihatkan tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan yang tersenyum ke arah kamera.


Di sana. Di surat itu. Syeina tidak pernah menyebutkan satu pun nama Brian. Tidak menulis sedikit pun rasa untuk pria itu. Bahkan, berulang kali ia menekankan. Kalau ia tidak membenci siapapun. Tidak pernah mengharapkan cinta dari pria tersebut. Karena sejak awal dan berulang kali Brian tekankan, tanpa kata. Brian hanya mencintai satu orang.


Syeina pasti terluka. Aku juga seorang perempuan.


Menikah sebagai tanggung jawab Brian terhadapnya saja sempat membuatku menangis. Seandainya itu terjadi padaku. Mungkin aku akan--kacau.


Atau marah lebih tepatnya. Meski pernikahan itu terjadi karena kesalahan. Perempuan mana yang tidak terluka?



Tepat pada Jumat pagi. Waktu di mana gaun kebaya peace sudah melekat pada tubuh mungilku. Saat itulah aku bertanya, apakah sudah siap? Masih ada waktu untuk menghentikan pernikahan ini.


Tapi tidak. Aku tetap teguh pada keputusan yang kupilih. Aku akan menikah. Seperti kata Papa. Semua manusia tidak ada yang sempurna. Apa yang membuat seseorang itu sempurna? Menerima semua kekurangannya.


Kupikir, menerima kekurangan itu sama sulitnya menerima semua dosa masa lalu. Akan tetapi, lebih sulit lagi mempercayakan hidupmu pada orang yang pernah pergi meninggalkanmu.


Takut terluka. Takut dia pergi lagi. Takut akan banyak hal.


Sementara itu, Clarisa sudah datang dengan gaun kebaya merah muda sederhana. Dia tersenyum saat membuka tirai.


"Mama!"


"Hai Sayang. Sendiri? Di mana Ayah dan Ibu?"


Aku mencari keberadaan mereka namun belum ada satu pun yang muncul. Sebenarnya bukan mereka yang kutunggu kedatangannya. Siapa? Calon suamiku. Tentu saja dia.


"Clalisa datang sama paman dan tante, Mama. Ayah dan Ibu akan datang bersama Papa nanti."


Ingatkan aku untuk tidak lagi cemburu dengan 'ibu' yang sering Clarisa sebut. Dulu, kupikir ibu yang Clarisa maksud adalah ibu kandungnya. Ternyata aku salah besar, dan Brian tidak pernah memberitahuku sama sekali. Ingat? Ibu adalah Tante Maretha. Calon mertuaku.


Ibu yang bisa membuat masakan favorit malaikat kecil-ku ini. Ibu yang sering membuatku iri. Karena Clarisa tidak pernah bisa berhenti jika sekali bercerita tentang bagaimana ibu mendongenginya sebelum tidur.


"Sudah siap?" tanya Vinda. Aku langsung terdiam, menghentikan lamunan yang tak terkendali. Sejak kapan dia ada di sini?


Vinda tersenyum, aku pun ikut tersenyum. Memberi semangat tanpa kata. Namun, dari matanya terlintas sikap jahil seperti biasa.


"Jangan sampai matamu jatuh, Vin. Aku tidak akan sanggup mengambilnya untukmu."


Aku mengangguk.


"Aku cuma menyakinkan diri doang."


"Untuk?"


"Melihatmu menikah. Aku masih belum percaya kalau kamu akan menikah setelah beberapa kali memperkenalkanmu dengan pria di luar sana dari Joshua, Faht dan Bram. Pada akhirnya apa coba? Kamu menolak mereka semua!"


Aku memutar bola mata dengan bosan. Sudah berulang kali Vinda mengatakan sampai menyebut beberapa pria kenalannya. Seandainya dulu aku lebih tertarik dengan salah satu dari mereka, mungkin, sekarang bukan Brian yang akan duduk di depan penghulu.


"Sudah siap?" tanyanya sekali lagi.


"Siap nggak siap harus siap."


"Kamu mencintainya, bukan?"


"Maksudmu?"


"Cinta." Vinda membentuk hati dengan kedua tangannya.


Bukannya menjawab pertanyaannya. Aku malah tersenyum malu. Cinta? Ya. Aku mencintainya. Entah sejak kapan. Mungkin sejak mata itu menatapku penuh binar.


"Tante," panggil Clarisa pada Vinda.


Vinda langsung mendekati Clarisa yang duduk tidak jauh dariku. Ini pertama kalinya mereka bertemu. Aku tidak yakin bagaimana reaksi Vinda.


Ingat bagaimana dia punya mulut ajaib? Vinda-lah yang pernah mengatakan saat aku bilang akan menikah dengan pria yang mampu membimbingku. Dan apa celetukannya, aku akan menikah dengan pria duda beranak lima. Sekarang apa? Terjadi. Meski Brian pria duda beranak satu.


Lalu, Vinda juga sempat bertanya padaku. Perihal sensitif yang tidak ingin kutanyakan pada Brian dulu. Tentang siapa mantan istrinya, kenapa mereka bercerai. Sampai mempertanyakan kehadiran Clarisa. Hasilnya apa? Tebakan tidak terduganya benar!


Apa jangan-jangan dia itu cenayang?


"Cantiknya," seru Vinda. "Dia anaknya Brian, Lea? Ya Tuhan. Jujur nih ya, kalian benar-benar mirip."


"Mirip?" Aku memperhatikan Clarisa.


Vinda mengangguk penuh antusias. "Lihat alisanya," tunjuk Vinda pada alis Clarisa.


"Mata dan cara dia tersenyum. Dia mirip denganmu, Lea. Dia bukan anakmu, kan? Apa jangan-jangan kamu memang mamanya?"


Ya Tuhan! Jangan sampai dia oleng lagi.


"Tante." Clarisa menarik ujung baju Vinda.


"Ya," jawab Vinda.


"Apa benal jika Mama dan Papa ciuman, nanti akan ada dedek bayi?"


What did she just say?! Aku dan Vinda seperti patung saat Clarisa bertanya seperti itu.


Aku harus jawab apa? Pertanyaan itu kulempar pada Vinda yang melihat mimik yang kutunjukkan padanya. Mati kutu!



Next part 29