PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 22




Ada banyak yang bilang padaku, kalau kebohong adalah kejujuran yang terlambat. Jika itu benar, apakah dia juga terlambat?



"Kamu nggak lagi ngambekan, 'kan? Atau cuma perasaanku doang? Cerita dikit kek sama aku, Lea. Aku ini sahabatmu. Masa nggak mau cerita satu kata pun."


Suara dari seberang mengintrupsi lamunan ini sejenak. Vinda tahu atau tidak bagaimana hubunganku dengan Brian, yang pasti dia merasakan efek perubahan suasana hati yang drastis beberapa hari ini.


"Jangan sok tahu deh. Aku baik-baik saja. Nggak ada yang lagi ngambekan."


Bohong. Aku tahu, jika begini terus bisa dipastikan aku tidak akan mampu menyembunyikan semua hal darinya.


"Aku nggak yakin kamu mengatakannya dengan jujur. Bagaimanapun aku sangat mengekenal dirimu, sahabatku ini kek gimana. Kamu memang pandai menyembunyikan perasaan. Tapi kamu beruntung, untuk kali ini aku nggak mau merusak mood-mu lebih jauh. Jadi aku nggak akan berkomentar banyak. Kecuali kamu mau mengatakan sesuatu."


"Ya, ya ya. Vinda-ku. Kamu memang yang terbaik."


"Setidaknya, jangan main perang dingin kalau ada sesuatu yang mengganjal, Lea. Kamu tahu apa maksudku, 'kan? Katakan saja. Kita nggak bisa menebak jalan berpikirnya orang. Baik aku atau kamu pun juga begitu. Tidak tahu apa keinginan itu."


"Kamu benar."


"Aku tidak tahu apa yang berusaha kamu sembunyiin dariku. Akan tetapi, ingat Lea. Kadang mulut memang mengatakan sesuatu tanpa berpikir panjang. Ia lebih condong ke emosional daripada hati."


"Terus?"


"Katakan apa pun yang ingin kamu katakan. Bukannya mengajukan pertanyaan lalu ingin mendengar sesuatu yang kamu ingin dengar. Kadang itu berakhir sangat mengecewakan. Kamu tahu itu. Tidak sesuai dengan yang kamu harapkan."


"Semisal, aku memintamu untuk menjauh dariku apa yang akan kamu lakukan?"


Hening. Aku yakin, Vinda tengah berpikir untuk menjawab pertanyaanku.


"Tentu aku akan melakukan apa yang kamu minta."


Aku terperanjak. "Kok gitu?"


"Itu pilihan. Kalau mau egois, tentu akan tetap di sisimu. Tapi, adakalanya, seseorang berpikir untuk memberimu waktu atau ruang. Supaya kamu tahu, apa yang ingin kamu lakukan."


Kepalaku kembali berdenyut. Padahal aku sudah berusaha sangat keras supaya tidak memikirkan kembali permintaan yang keluar dari mulut ini.


"Makasih udah mau memberiku nasihat."


"Tentu."


"Yeah! Seenggaknya aku punya sahabat yang pengertian kek kamu."


"Iya dong! Sahabat itu harus mendukung sahabatnya. Bukan menghakimi salah atau benar tindakannya. Yang perlu kita lakuin itu tetap ada di sisinya."


Aku tertawa. "Habis baca buku apaan kok tumben lancar jaya memotivasi orang sekarang?"


"Sialan!" Vinda terdengar menggerutu namun, aku tahu selanjutnya tawa mengiringi keheningan kamar ini.


"Gini-gini aku suka baca buku tau," ujarnya tidak terima.


"Emang buku apaan?"


"Buku hamil," celetuknya.


"Kagak ada hubungannya keles! Tunggu. Apa?! Kok buku hamil?"


Bukannya menjawab pertanyaanku Vinda malah menutup telepon. Oh! Main rahasia-rahasian sama aku ternyata. Jangan-jangan dia sudah? Aigoo! Apa sudah jadi?



Setelah menerima pesan dari Vinda. Aku langsung turun ke bawah untuk makan siang. Omong-omong, hari ini adalah hari terakhir sebelum acara wisuda berlangsung besok. Aku menghabiskan waktu dengan berselancar di dunia fantasi. Mengabaikan dering telepon dan juga pesan WhatsApp sejak tiga hari yang lalu. Lagi pula aku tahu siapa pelaku di balik itu semua.


Pasti Brian. Aku sangat yakin seratus persen.


"Orang gila keknya, Ma."


"Kalau orang gilanya mantu mama, nggak apalah. Itu artinya dia tergila-gila sama anak mama."


"Dih. Apaan, sih Ma?"


"Mama, 'kan ngomong apa adanya. Asal kamu tahu, Sayang. Selama tiga hari ini Calon Mantu Mama sibuk ngurusin ***** bengek pekerjaan. Jadi tahulah ya, kalau putriku ini pasti galau."


"Jangan mulai deh."


Mama malah tertawa sambil berlalu.


"Abaikan dia. Jangan angkat dan baca pesan darinya satu pun. Itu pilihan yang bijak untuk dirimu sendiri sekarang," omelku.


Dia memang memberiku ruang untuk sendiri. Meski dalam tanda kutip yang berbeda. Karena pada kenyataannya, Brian masih menerorku dengan macam cara yang paling ngeselin. Dari mengirim pesan, foto cincin, lalu datang langsung ke rumah dengan alasan Clarisa dan juga gaun pernikahan berwarna putih berkilau yang saat ini sudah terpajang rapi di kamar ini.


Yang ada dalam benak ini adalah, kamu akan menikahi pria yang sudah mencapakkanmu! Ingat itu, Azlea. Bagaimana bisa takdir begitu pandai mempermainkanmu? Entah.


Walaupun dia tidak menemuiku secara langsung. Paling tidak, setiap orang pasti menyebut namanya. Dari Kak Brian, Nak Brian, Papa dan juga Calon Mantu.


Semua orang selalu heboh. Sedangkan aku, harus mengabaikan semua bisikan setan dari penjuru rumah untuk segera turun dan menemui satu-satunya pria yang membuatku tidak bisa tidur akhir-akhir ini.


Memang benar, beberapa hari ini terasa begitu tenang dan damai. Tidak ada yang merecokiku tiap kali duduk santai sambil nonton Drama Korea Vagabond yang lagi trending.


Ceritanya memang agak mirip seperti James Bond. Berhubung aku adalah penggemar 007 dan menyukai cerita bergenre action. Vagabond adalah drama yang menyuguhkan ketegangan tersendiri.


Seandainya aku Go Hae-Ri. Ya. Itu hanya sebuah frasa. Baik Go Hae Ri atau Bae Suzy, Azlea Maheswari tetaplah Azlea Maheswari.


Kalau berbicara soal kenapa aku berakhir seperti ini sekarang adalah, karena aku sedang menjauh darinya. Tidak ingin melihat mata atau bahkan suaranya. Sayangnya, suara dan dan wajahnya seperti bergentayangan di otak ini. Mengganggu!



Baiklah. Akan kuceritakan kembali bagaimana akhir dari perang bantal antara Clarisa dan Brian saat itu. Intinya, tepat di jarum jam menunjuk angka sembilan, mau tidak mau aku meminta pada Brian untuk menghentikan permainan kemudian mengantarkanku pulang. Jika tidak. Terserah! Aku bisa memesan ojek online dan masalah selesai.


Sayangnya tidak semudah itu. Brian memang tidak mengatakan apa pun setelah dia menceritakan semua masa lalu kami. Dia hanya berkomentar, "Keputusan ada di tanganmu, Cherìe."


Dia dengan gampangnya melempar keputusan di tanganku. Dasar.


"Kalau begitu. Boleh aku memintamu untuk pergi?"


Saat itu aku masih sangat emosional untuk mencerna lagi permintaan yang kulontarkan. Tapi apa aku peduli? Awalnya tidak. Seperti kata Joya, kalau mulut itu tak bertulang. Tapi sangat menusuk.


"Tentu. Jika itu yang kamu mau. Kembali hanya membuatmu sakit. Maka aku akan pergi jika itu membuatmu senang."


Seperti baru saja dihantam oleh sebuah tangan tak kasat mata. Aku ingin marah dan berteriak padanya. Atau melontarkan sumpah serapah. Betapa tidak pekanya dia.


Sekarang aku tahu kenapa sebagian besar lelaki mengatakan kalau perempuan itu rumit. Karena perempuan ingin sesuatu yang ingin dia dengar tanpa memohon. Meski itu berakhir mengecewakan.


Seharusnya dia mengatakan tidak akan pergi.


Sayangnya tidak begitu. Brian malah mempertanyakan apa yang membuatku senang, ada atau tidak adanya dia. Semua itu mempengaruhiku!


Setelah itu kami tenggelam dalam kebisuan. Aku tidak mau mengatakan sepatah kata pun saat turun dari mobil. Tidak memintanya mampir atau menitipkan salam pada Papa. Aku langsung pergi meninggalkannya. Seperti caranya dulu.


Dia tidak pernah menunjukkan muka setelah apa yang ia lakukan. Maksudku, setidaknya dia datang atau paling tidak menunjukkan diri setelah aku benar-benar sehat. Walaupun, pada kenyataannya saat aku mengalami amnesia, dan tidak bisa mengingat apa pun tentang dirinya. Setidaknya … dia datang. Datang untukku.


Seenggaknya dia menunjukkan rasa bersalahnya. Bukannya lari lalu kembali dengan semua perubahan dan ketidaktahuanku.


Sial! Tapi kenapa? Kenapa wajah Brian masih bermunculan, sih?!



Next part 23